Mendengar Cerita Guru saat Mengajar Murid di Masa Pandemi Corona

Agung Sandy Lesmana, Yosea Arga Pramudita

Selasa, 19 Mei 2020 | 07:05 WIB
Mendengar Cerita Guru saat Mengajar Murid di Masa Pandemi Corona
Ilustrasi belajar di rumah. [Antara Foto]

"Kemudian materi sejarah harus disampaikan secara kreatif. Lewat gambar, video, nanti kami kirim link video biasanya. Entah murid kami suruh review atau buat esai. Mungkin itu treatmennya," ujar GPN.

Kendala lainnya adalah mengumpulkan para murid dalam satu waktu. Tak jarang banyak murid yang telat hadir dalam pertemuan secara virtual. Misalnya saja untuk kelas 1 SMA. Di sekolah tempat GPN mengajar, kelas 1 dibagi dalam tiga kelas. Untuk satu mata pelajaran, misalnya sejarah peminatan, GPN dituntut pihak sekolah untuk mengajar tiga kelas tersebut dalam satu waktu. Alasan cuma satu, mempersempit jam belajar.

Ilustrasi belajar di rumah. [Antara Foto]
Ilustrasi belajar di rumah. [Antara Foto]

"Mengumpulkan anak dalam satu waktu adalah hal yang paling susah. Kebetulan di sekolah saya menerapkan materi sejarah peminatan untuk kelas X, kelas X ada A, B, dan C. Dalam satu waktu saya harus menjelaskan ketiga kelas itu. Misal dalam hari senin pelajaran mulai dari jam 8 pagi sampai jam 10,  ya sudah itu untuk tiga kelas X. Alasannya untuk mempersempit jam belajar," tutur GPN.

Kenyataan tersebut jelas membebani GPN. Baginya, proses belajar dan mengajar seperti itu tidak efektif. Kalau dalam kondisi normal, kata dia, sangat jelas kegiatan secara virtual tidak bisa disebut sebagai pendidikan. Namun, dalam kondisi pandemi corona, dia harus terbiasa dengan kenyataan semacam itu.

"Kalau dalam kondisi kaya gini mau gimana lagi? Guru dituntut harus menguasai teknologi aplikasi yang menunjang pelajaran," bebernya.

Aturan Sekolah

Sekolah tempat GPN mengajar mewajibkan orang tua mengawasi anak-anaknya dalam kegiatan belajar dan mengajar selama ini. Namun, pada kenyataannya aturan itu luput, hanya menjadi sebuah instruksi saja. Pasalnya, pihak sekolah tidak bisa memantau kegiatan para siswa di rumahnya masing-masing. GPN mengatakan, lingkungan sekolah dan lingkungan rumah adalah ruang yang berbeda. Sekolah adalah aturan, sedangkan rumah adalah tempat bernaung --meski ada aturan juga di dalamnya.

"Pada akhirnya ini hanya sebuah instruksi saja, orang tua harus mendampingi anaknya. Pada praktiknya, kami tidak tahu. Ya faktor lingkungan juga sih, bagaimana keseharian mereka di rumah. Kan beda lingkungan sekolah dan lingkungan di rumah," ucap dia.

Soal pendampingan orang tua, kata GPN, yang lebih memahami adalah wali kelas. Dia bukan wali kelas. Tetapi, dia sedikit banyak mengetahui realita yang terjadi. Ada beberapa murid yang tidak mendapat pendampingan selama belajar di rumah karena orang tuanya sibuk.

baca juga

"Itu yang lebih paham wali kelas. Tapi saya sedikit banyak tahu lah. Instruksi sekolah harus, orang tua harus mendampingi. Ada beberapa anak yang tidak didampingi karena orang tuanya sibuk," katanya.

Sebagai tenaga pendidik, GNP juga harus mematuhi aturan yang dibuat oleh sekolah tempat dia bekerja. Pertama, mengajar tepat waktu. Kegiatan belajar dan mengajar selama masa pandemi mulai seperti hari-hari biasanya. Kedua, memberikan materi sesuai porsi. Ketiga, dilarang memberi materi yang terlalu berat. Alasannya sepele, murid tidak boleh terbebani.

"Katanya sih membebani murid. Kemudian jam belajar mengajar dikurangi yang tadinya dua jam jadi satu setengah jam," jelasnya.

Selain itu, porsi tugas bagi para murid harus dikurangi. Karena minimnya pengawasan, tak jarang GPN kerap mendapati beberapa muridnya telat mengumpulkan tugas.

"Ya agak susah juga, namanya anak kita tidak tahu. Kami gak bisa ngawasin. Kadang ada siswa yang gak tepat waktu kumpulin tugas," tambahnya.

Pandangan Guru

Sangat jelas, situasi semacam ini dapat menggambarkan jika dunia pendidikan Indonesia tidak siap. Tidak siap menghadapi pandemi. Tidak siap untuk beradaptasi dengan situasi yang tak menentu. Ingatan GPN melayang pada tahun 2016. Dia pernah menjadi tenaga pengajar di daerah terpencil, yakni Pasaman Barat, Sumatera Barat.

Saat itu, dia harus terbiasa dengan keadaan serba terbatas. Jangankan soal teknologi, sinyal di sana saja susah. Murid-muridnya di Pasaman Barat saja tidak pernah menyentuh laptop. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana kondisi tempat mengajarnya dulu pada saat situasi semacam ini.

"Kondisi di sana (Pasaman Barat) jelas tidak memungkinkan untuk belajar dengan cara ini. Pertama, anak-anak di daerah terpencil aja gak pernah nyentuh laptop, sinyal susah. Sinyal aja gak ada apalagi teknologi lainnya," kata pria 27 tahun itu.

Menurutnya, sistem pendidikan selama masa pandemi corona merupakan bukti kalau Indonesia tidak siap. Jangankan di daerah terpencil, di kota besar masih banyak kendala.

"Kalau Indonesia cuma dilihat sebagai Jakarta, Bandung, Makasar, dan kota besar lainnya mungkin bisa. Tapi kan Indonesia enggak cuma itu saja. Indonesia luas, banyak daerah terpencil yang susah masuk sinyal. Sangat jelas tidak efektif. Menurut saya, Indonesia tidak siap," ungkapnya.

Untuk itu, dia berharap agar pemerintah mampu membuat regulasi yang jelas. Artinya, pemerintah jangan merujuk pada kota-kota besar saja --yang aksesnya mudah. Tetapi, pemerintah harus bisa menyesuaikan kondisi dengan daerah lainnya, daerah yang terpencil. Daerah yang sulit mengakses pendidikan dan teknologi.

"Ya harapannya pemerintah harus buat regulasi yang jelas, misalnya sekolah harus menerapkan protokol seperti apa. Kedua, pemerintah jangan merujuk pada kota-kota besar saja, harus menyesuaikan dengan daerah terpencil. Jangan kota besar saja. Harus ada kebijakan yang harus diterapkan secara nasional," harap dia.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Kini Kasus Virus Corona di Palembang  Paling Banyak se-Sumsel

Kini Kasus Virus Corona di Palembang Paling Banyak se-Sumsel

News | Senin, 18 Mei 2020 | 23:19 WIB

PSBB Palembang Rencana 20 Mei, Jam Operasional Dunia Usaha Cuma 5 Jam

PSBB Palembang Rencana 20 Mei, Jam Operasional Dunia Usaha Cuma 5 Jam

News | Senin, 18 Mei 2020 | 23:14 WIB

Belum Ada Keputusan Soal Subsidi Klub di RUPS Luar Biasa PT LIB

Belum Ada Keputusan Soal Subsidi Klub di RUPS Luar Biasa PT LIB

Bola | Senin, 18 Mei 2020 | 23:10 WIB

Roda Ekonomi Diputar, Hongaria dan Slovenia Sepakat Buka Perbatasan 1 Juni

Roda Ekonomi Diputar, Hongaria dan Slovenia Sepakat Buka Perbatasan 1 Juni

News | Senin, 18 Mei 2020 | 22:53 WIB

Longgarkan Lockdown, Negara di Asia Mulai Terlihat Normal

Longgarkan Lockdown, Negara di Asia Mulai Terlihat Normal

News | Selasa, 19 Mei 2020 | 00:05 WIB

Wabah Corona, Warga Kediri Jangan Silaturahmi ke Rumah Tetangga

Wabah Corona, Warga Kediri Jangan Silaturahmi ke Rumah Tetangga

Jatim | Senin, 18 Mei 2020 | 22:40 WIB

AS dan China Dukung Evaluasi Independen WHO Soal Penanganan COVID-19

AS dan China Dukung Evaluasi Independen WHO Soal Penanganan COVID-19

News | Senin, 18 Mei 2020 | 22:31 WIB

Sampai 18 Mei, 5.996 Orang di Jakarta Terinfeksi Virus Corona

Sampai 18 Mei, 5.996 Orang di Jakarta Terinfeksi Virus Corona

News | Senin, 18 Mei 2020 | 22:15 WIB

Najwa Shihab Unggah Foto Peti Mati Bayi, Netizen: Insya Allah Surga

Najwa Shihab Unggah Foto Peti Mati Bayi, Netizen: Insya Allah Surga

Jogja | Senin, 18 Mei 2020 | 22:04 WIB

Indonesia Dukung Rencana WHO Evaluasi Penanganan Pandemi COVID-19

Indonesia Dukung Rencana WHO Evaluasi Penanganan Pandemi COVID-19

News | Senin, 18 Mei 2020 | 21:52 WIB

Terkini

4 Smart TV 4K 50 Inci dengan Visual Super Jernih dan Termurah untuk Ruang Keluarga

4 Smart TV 4K 50 Inci dengan Visual Super Jernih dan Termurah untuk Ruang Keluarga

Lifestyle | Jum'at, 06 November 2026 | 18:23 WIB

The Enchanted Garden 2: Petualangan Seru Menyelamatkan Kebun Ajaib!

The Enchanted Garden 2: Petualangan Seru Menyelamatkan Kebun Ajaib!

Your Say | Jum'at, 06 November 2026 | 18:15 WIB

KAI Tertibkan 47.537 Meter Persegi Aset di Kawasan Rawan Kampung Bahari

KAI Tertibkan 47.537 Meter Persegi Aset di Kawasan Rawan Kampung Bahari

News | Jum'at, 06 November 2026 | 18:13 WIB

Soal Isu Ketum Partai Terlibat Sadap Presiden, Golkar Kaitkan Kasus Lama: Ujungnya Hoaks!

Soal Isu Ketum Partai Terlibat Sadap Presiden, Golkar Kaitkan Kasus Lama: Ujungnya Hoaks!

News | Jum'at, 06 November 2026 | 18:13 WIB

Belajar dari Ubud, I Made Gunarta Dorong Ekosistem Wellness di JCWF 2026

Belajar dari Ubud, I Made Gunarta Dorong Ekosistem Wellness di JCWF 2026

Your Say | Jum'at, 06 November 2026 | 18:12 WIB

Pembalap Muda Astra Honda Siap Bertarung di Seri Penutup Moto4 Asia Cup Qatar

Pembalap Muda Astra Honda Siap Bertarung di Seri Penutup Moto4 Asia Cup Qatar

Otomotif | Jum'at, 06 November 2026 | 18:10 WIB

Resmi Mulai Bertugas, 11 Dubes Baru Serahkan Surat Kepercayaan kepada Presiden Prabowo

Resmi Mulai Bertugas, 11 Dubes Baru Serahkan Surat Kepercayaan kepada Presiden Prabowo

News | Jum'at, 06 November 2026 | 18:05 WIB

Selamat Kevin Diks! Istri Melahirkan Anak Kedua, Pelatih Gladbach: Dia Kurang Tidur

Selamat Kevin Diks! Istri Melahirkan Anak Kedua, Pelatih Gladbach: Dia Kurang Tidur

Bola | Jum'at, 06 November 2026 | 18:02 WIB

Siap-siap, Harga Pangan Melonjak di Awal 2027 Karena Rupiah Semakin Tak Berharga

Siap-siap, Harga Pangan Melonjak di Awal 2027 Karena Rupiah Semakin Tak Berharga

Bisnis | Jum'at, 06 November 2026 | 17:59 WIB

Final Round Mandalika Racing Series 2026, Pertamina Perkuat Dukungan bagi Pembalap Muda Indonesia

Final Round Mandalika Racing Series 2026, Pertamina Perkuat Dukungan bagi Pembalap Muda Indonesia

Bisnis | Jum'at, 06 November 2026 | 17:54 WIB

×