Di Amerika, Keputusan Pakai Masker Hingga Jaga Jarak Tergantung Parpol

Pebriansyah Ariefana | Suara.com

Rabu, 20 Mei 2020 | 22:50 WIB
Di Amerika, Keputusan Pakai Masker Hingga Jaga Jarak Tergantung Parpol
Presiden Donald Trump. (BBC)

Suara.com - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan Presiden Brazil Jair Bolsonaro memiliki banyak kesamaan dari segi politik. Namun salah satu kemiripan mereka nampak menonjol di tengah pandemi Covid-19: keduanya meremehkan bahaya yang dibawa oleh virus corona.

Di kedua negara, beberapa kelompok masyarakat menyerukan protes anti lockdown, yang didukung oleh kedua presiden.

"Pandemi ini telah dipolitisasi di Amerika Serikat," kata Costas Panagopoulos, peneliti politik dari Universitas Harvard. "Banyak orang, terutama Presiden Trump, seperti mengatakan bahwa dampak politik virus corona lebih penting ketimbang dampak kesehatan.

Di masa di mana Amerika Serikat sangat terpolarisasi secara politik, konsekuensinya sekarang adalah rakyat akan bereaksi terhadap pandemi tergantung pandangan politiknya."

Sementara itu di Inggris, Perdana Menteri Boris Johnson telah menerapkan lockdown, tapi dirinya dan partai yang dipimpinnya, Partai Konservatif, telah dikritik karena meremehkan penyebaran virus corona.

Pada 10 Mei, Boris mengumumkan tahap awal pelonggaran lockdown di Inggris, namun survei menunjukkan langkah itu lebih disambut baik oleh pemilih Partai Konservatif.

'Perpecahan'

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah mewanti-wanti bahwa perpecahan politik telah menghambat upaya-upaya dalam memerangi virus corona.

"Perpecahan antara warga dan perpecahan antara partai politik memperburuk pandemi," kata Direktur Jenderal WHO Dr Tedros Adhanom Ghebreyesus dalam sebuah pernyataan yang dirilis pada 20 April.

"Jangan memanfaatkan virus ini untuk melawan satu sama lain atau untuk mendapatkan pemilih. Ini berbahaya. Seperti bermain dengan api."

Amerika Serikat sekarang adalah negara dengan jumlah kasus positif virus corona dan kematian tertinggi di dunia.

Pemerintah AS belum menerapkan lockdown berskala nasional dan lebih memilih memberikan kewajiban tersebut ke setiap negara bagian atau kota.

Donald Trump menentang kebijakan lockdown dan mendukung protes yang bermunculan di wilayah-wilayah yang menerapkan karantina.

Di Twitter, ia menyerukan "pembebasan" negara-negara bagian Minnesota, Michigan, dan Virginia.

Namun pandangan dan sikap atas virus ini terbagi dua antara pendukung Partai Republik, partai Trump dan Partai Demokrat.

Dalam sebuah survei yang dirilis 12 Mei, hanya 43 persen warga AS yang mengidentifikasi dirinya sebagai pemilih Partai Republik menganggap Covid-19 sebagai ancaman kesehatan besar bagi masyarakat.

Sementara itu 82% pendukung Partai Demokrat memandangnya sebagai ancaman kesehatan serius. Jajak pendapat lain menunjukkan pendukung Partai Republik lebih mungkin tidak memakai masker saat berada di tempat umum ketimbang pendukung Partai Demokrat, 56% versus 74%.

Kepercayaan publik dipengaruhi partai pilihannya

Pengetahuan publik soal fakta-fakta tentang virus corona juga dipengaruhi oleh partai politik dukungannya.

Pernyataan-pernyataan yang salah atau menyesatkan soal virus corona yang dilontarkan tokoh politik mengakibatkan tingginya level keacuhan soal Covid-19 di AS, Inggris, Jerman, dan Spanyol, berdasarkan hasil analisis Reuters Institute of Journalism yang berbasis di Universitas Oxford.

"Riset kami menunjukkan di negara-negara itu, warga sayap kanan tidak tahu banyak soal virus corona," kata Rasmus Kleis Nielsen, salah satu peneliti. "Ini adalah warga yang sama pintarnya, tapi mereka percaya pada politisi yang telah menggaungkan narasi yang salah tentang virus corona."

Efek Bolsonaro

Presiden Brazil Jair Bolsonaro secara terang-terangan mengacuhkan saran kesehatan guna mencegah terjangkit Covid-19, yang disebutnya sebagai "flu biasa" pada akhir Maret.

Brazil memiliki jumlah kasus positif virus corona terbesar ketiga di dunia, menurut data yang dihimpun oleh Universitas Johns Hopkins.

Bolsonaro masih dekat-dekat dengan pendukungnya di tempat umum, bahkan berpartisipasi dalam sebuah kampanye nasional yang digelar pada 15 Maret.

Periset dari AS dan Italia meneliti jumlah kasus virus corona di Brazil bulan itu dan menemukan jumlah infeksi baru lebih tinggi 20 persen di kota-kota dengan jumlah pendukung Bolsonaro yang besar. Ini termasuk Sao Paulo, kota terbesar di Brazil dan Amerika Selatan. Angka kematian resmi di Sao Paulo- 4.688- lebih tinggi dari angka kematian resmi di China.

"Kami menyimpulkan perilaku Bolsonaro mempercepat penyebaran Covid-19 di Brazil," kata riset tersebut. "Percepatan penyebaran ini bukan hanya karena adanya perkumpulan manusia ketika kampanye, namun juga adanya perubahan perilaku di antara pendukung Bolsonaro yang tidak lagi mengindahkan aturan jaga jarak sosial."

Anthony Pereira, direktur Brazil Institute di King's College London, mengatakan ia tidak terkejut dengan perbedaan perilaku tersebut.

"Respon awal beberapa pendukung Bolsonaro yang terkenal adalah dengan menyebut virus itu sebagai 'hoax'," kata Pereira.

"Jadi ketika presiden menentang saran ilmiah dan medis tentang virus corona, para pendukungnya mendukung argumennya karena mereka tidak mendapatkan informasi dari sumber lain."

Masa-masa suram

Inggris menerapkan lockdown selama tujuh minggu dari Maret sampai Mei. Ada beberapa warga yang protes, tapi dibandingkan negara-negara lain, jumlahnya tidak banyak.

Pada 10 Mei, pemerintah, yang dipimpin Partai Konservatif, mengumumkan pelonggaran beberapa aturan lockdown di Inggris dan respon masyarakat atas pengumuman itu rupanya terbagi, tergantung afiliasi politiknya.

Menurut jajak pendapat YouGov, 61 persen pendukung Konservatif sepakat dengan perubahan tersebut, sementara hanya 32 persen pendukung partai oposisi, Partai Buruh, yang sepakat.

Jika bicara soal sikap seputar protokol kesehatan, mayoritas pendukung dari kedua partai rupanya berpandangan serupa. Sebagian besar pendukung partai Konservatif dan Buruh mendukung langkah-langkah jaga jarak sosial, seperti bekerja dari rumah, menutup sekolah, dan melarang acara-acara besar.

Tim Bale, guru besar politik di Universitas Queen Mary di London, menjelaskan paradoks ini.

"Sikap mereka terhadap saran-saran yang diberikan oleh para ahli tidak ada hubungannya dengan aliansi politik mereka, kiri atau kanan, tapi lebih dipengaruhi oleh populisme, yang dapat ditemukan di keduanya," katanya. "Populis biasanya lebih mempertimbangkan 'akal sehat' daripada pandangan ahli yang 'elit'."

Gender lebih berperan ketimbang politik?

Gender mungkin lebih berpengaruh ketimbang politik, menurut beberapa survei.

Perempuan pendukung Partai Republik di AS lebih mungkin menerapkan social distancing ketimbang pria Republik.

Periset psikologi mewawancarai warga Inggris berusia 19 -24 tahun saat lockdown, dan mendapati lebih dari 50 persen responden pria melanggar aturan berkumpul untuk bertemu dengan teman-temannya. Sementara itu kurang dari 30 persen responden perempuan melakukan hal serupa.

"Pria, secara umum, lebih bersedia ambil risiko," kata Liat Levita, seorang psikolog dari Universitas Sheffield, yang melakukan studi tersebut. "Tapi perbedaannya sangat mencolok jika melihat bagaimana pria muda dewasa lebih melanggar aturan itu ketimbang perempuan."

Saat politik justru salah

Di Jerman, partai sayap kanan AfD mendukung protes anti restriksi karena virus corona.

Jajak pendapat menunjukkan kepopuleran AfD di Jerman merosot ke level terendah sejak 2017.

Sementara itu, partai oposisi terbesar di Korea Selatan, United Future Price, mengkritik penanganan Covid-19 oleh pemerintah, termasuk keengganan mereka melarang warga China masuk ke negara itu pada masa awal pandemi. Mereka sepertinya akan menang dalam pemilu parlemen pada 15 April.

Tapi di hari pemilu, Korea Selatan justru dipuji dunia atas langkah-langkahnya dalam mengurangi penyebaran virus corona. Pada akhirnya, Partai Demokrat pimpinan Presiden Moon Jae-in menang telak dan kini menjadi suara mayoritas di parlemen.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

Miris, Pekerja di Batam Ingin Berikan Bayi yang Dikandungnya ke Orang Lain

Miris, Pekerja di Batam Ingin Berikan Bayi yang Dikandungnya ke Orang Lain

News | Rabu, 20 Mei 2020 | 22:32 WIB

China Bayar Pelaku Bisnis Satwa Liar yang Bersedia Berhenti Secara Sukarela

China Bayar Pelaku Bisnis Satwa Liar yang Bersedia Berhenti Secara Sukarela

News | Rabu, 20 Mei 2020 | 22:03 WIB

Pandemi Covid-19 Hancurkan Industri Surat Kabar Uganda, Beralih Ke Online

Pandemi Covid-19 Hancurkan Industri Surat Kabar Uganda, Beralih Ke Online

News | Rabu, 20 Mei 2020 | 22:04 WIB

Terkini

Cara Mudah Membuat Nama dari Your Name In Landsat NASA Secara Gratis

Cara Mudah Membuat Nama dari Your Name In Landsat NASA Secara Gratis

News | Sabtu, 25 April 2026 | 07:29 WIB

Ukraina Terancam Krisis Senjata Akibat Amerika Serikat Terlalu Fokus Urus Perang Iran

Ukraina Terancam Krisis Senjata Akibat Amerika Serikat Terlalu Fokus Urus Perang Iran

News | Sabtu, 25 April 2026 | 07:16 WIB

Amerika Serikat Kirim Kapal Induk Ketiga ke Timur Tengah, Tekan Iran Percepat Negosiasi Damai

Amerika Serikat Kirim Kapal Induk Ketiga ke Timur Tengah, Tekan Iran Percepat Negosiasi Damai

News | Sabtu, 25 April 2026 | 07:06 WIB

Italia Ganti Patung Yesus yang Dirusak Tentara Israel di Lebanon

Italia Ganti Patung Yesus yang Dirusak Tentara Israel di Lebanon

News | Sabtu, 25 April 2026 | 06:57 WIB

Pengadilan Kriminal Internasional Adili Rodrigo Duterte Atas Tuduhan Pembunuhan Massal di Filipina

Pengadilan Kriminal Internasional Adili Rodrigo Duterte Atas Tuduhan Pembunuhan Massal di Filipina

News | Sabtu, 25 April 2026 | 06:34 WIB

Bahlil: Batas Masa Jabatan Ketum Parpol Tak Perlu Diseragamkan

Bahlil: Batas Masa Jabatan Ketum Parpol Tak Perlu Diseragamkan

News | Sabtu, 25 April 2026 | 00:02 WIB

Tanggapi Santai Usulan KPK, Bahlil: Di Golkar Jangankan 2 Periode, Satu Periode Saja Sering Ganti

Tanggapi Santai Usulan KPK, Bahlil: Di Golkar Jangankan 2 Periode, Satu Periode Saja Sering Ganti

News | Jum'at, 24 April 2026 | 23:59 WIB

YLBHI Desak Presiden dan Panglima TNI Hentikan Peradilan Militer yang Dinilai Tidak Adil

YLBHI Desak Presiden dan Panglima TNI Hentikan Peradilan Militer yang Dinilai Tidak Adil

News | Jum'at, 24 April 2026 | 23:55 WIB

UU PPRT Disahkan, Akademisi UGM Soroti Celah Sanksi dan Kesiapan Jaminan Sosial

UU PPRT Disahkan, Akademisi UGM Soroti Celah Sanksi dan Kesiapan Jaminan Sosial

News | Jum'at, 24 April 2026 | 23:00 WIB

Tragedi PRT Lompat dari Lantai 4 Kos Benhil, Polisi Endus Dugaan Tindak Pidana

Tragedi PRT Lompat dari Lantai 4 Kos Benhil, Polisi Endus Dugaan Tindak Pidana

News | Jum'at, 24 April 2026 | 22:10 WIB