Jeritan Komunitas Punk di Tengah Lockdown Virus Corona

Dany Garjito | Arief Apriadi
Jeritan Komunitas Punk di Tengah Lockdown Virus Corona
Kelompok atau komunitas punk di China. (AFP/Greg Baker).

"Yang paling penting saat ini adalah menjaga (dunia musik) tetap hidup."

Suara.com - Wabah virus Corona sangat berdampak dalam berbagai aspek kehidupan tak terkecuali musik. Di Wuhan, China, komunitas pecinta musik punk jadi korban di tengah lockdown Covid-19.

Sebelum mewabahnya Covid-19, Wuhan merupakan kota di China selain Beijing yang terkenal dengan geliat musik, khususnya punk.

Namun kekinian, raungan distorsi musik yang kerap menggema di berbagai klub malam maupun lokasi-lokasi gig--acara musik berskala kecil-- otomatis tersumbat.

Sebagai kota pertama yang mendeteksi munculnya wabah virus Corona, Wuhan hingga kini masih takut untuk membuka diri.

Kendati kebijakan 11 minggu lockdown telah berakhir pada April lalu, pemerintah China masih menerapkan berbagai pembatasan sosial demi mengghindari gelombang kedua infeksi Covid-19.

Baca Juga: Haruskah Tetap Pakai Masker di Rumah saat Pandemi Corona? Studi Menjawab

Para calon penumpang beramai-ramai keluar dari Kota Wuhan di Bandara Tianhe setelah status lockdown dicabut.(Foto: AFP)
Para calon penumpang beramai-ramai keluar dari Kota Wuhan di Bandara Tianhe setelah status lockdown dicabut.(Foto: AFP)

Kondisi itu amat berdampak pada kelompok atau komunitas punk Wuhan. Mereka tak diizinkan menggelar pertunjukan musik. Masa depan kian buram.

"Dampak akhirnya pada kita masih belum diketahui," kata Zhu Ning, anggota pendiri band punk Wuhan dan pemilik VOX indie live house dikutip Channel News Asia, Selasa (2/6/2020).

"Yang paling penting saat ini adalah menjaga (dunia musik) tetap hidup."

Baca Juga: Redam Kerusuhan di AS, Presiden Trump Kerahkan Ribuan Tentara Bersenjata

Tak ada pertunjukan musik mengakibatkan berbagai lokasi hiburan dan gig-gig di Wuhan sepi pengunjung. Mereka tak mampu mengais pendapatan.

"Kalau tak ada yang tampil berarti tak ada pengunjung, itu berarti tidak ada pemasukan," kata Zhu.

"Kami semua sudah siap (menggelar acara) dan tiba-tiba harus menghentikannya. Apa yang salah dengan dunia?" tambahnya.

Demi menyambung hidup dan menjaga muruah musik punk tetap menggeliat, Shu lewat Vox indie live house berencana untuk memindahkan pertunjukan langsung ke ranah streaming online.

Semasa muda, Zhu adalah mantan drummer perintis band punk Wuhan, SMZB yang muncul pada akhir 1990an. Mereka membuat Wuhan punya reputasi sebagai kawasan Punk di samping Beijing.

Vokalis dan gitaris SMZB, Wu Wei bahkan diakui sebagai ayah baptis punk di China. Dia kerap menulis lirik provokatif yang menyerang kebijakan pemerintah.

Salah satu musisi punk muda di Wuhan, Ingmar Liu mengaku pandemi Covid-19 amat berdampak untuk dirinya. Energi punk sulit tersampaikan di tengah kebijakan pembatasan sosial.

"Ini adalah tempat di mana banyak orang berkumpul bersama dan meneruskan energi mereka," kata Liu, vokalis berusia 21 tahun dan juga karyawan Wuhan Prison --landmark punk-- lainnya di Wuhan.

"Epidemi telah berdampak pada seluruh industri konser dan bar, bukan hanya kita."

Liu tak menampik sempat kesal dengan cara pemerintah China menangani pandemi Covid-19. Namun sekarang, dia paham bahwa kebijakan-kebijakan yang dilakukan memang patut ditekan untuk menghindari banyak korban.

"Saya sangat marah dengan penanganan virus corona oleh pemerintah pada awalnya, tetapi sekarang saya telah mencernanya," beber Liu.

"Kalau cuma marah-marah saja (tanpa berpikir, Red), itu bukan punk namanya," tandasnya.

Komentar

Suara.Com

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS