alexametrics

Viral! Karya Seni dari Pernyataan Mahfud MD soal Korban HAM Papua

Dany Garjito | Rifan Aditya
Viral! Karya Seni dari Pernyataan Mahfud MD soal Korban HAM Papua
Viral! Karya Seni dari Pernyataan Mahfud MD soal Korban HAM Papua (Instagram @henri.affandi)

Instalasinya itu sudah dipamerkan di High Holborn, London, Inggris.

Suara.com - Karya seni yang dibuat berdasarkan pernyataan Mahfud MD tentang korban pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) Papua viral di media sosial. Henri Affandi adalah perupa asal Indonesia di balik karya seni tersebut.

Henri mengungkapkan ide karya seni ini berasal dari pernyataan Mahfud MD atas dokumen yang berisi nama 243 korban sipil yang tewas di Nduga sebagai sampah.

Pernyataan ini, lanjutnya mencerminkan pandangan negara terhadap orang Papua yang berkulit hitam, termasuk anak-anak yang bahkan tidak bertahan satu hari pun.

"Sayangnya, hal ini hanya satu dari banyak kasus lain yang nama korbannya tidak tercatat," ujar Henri Affandi kepada Jubi.co.id, Selasa (2/6/2020).

Baca Juga: Seminggu Ditahan, Dwi Sasono Belum Juga Dijenguk Widi Mulia

Instalasinya itu sudah dipamerkan di High Holborn, London, Inggris pada tanggal 29 Februari sampai 11 Maret dalam sebuah pameran berjudul "Paradise Island".

"Pameran ini menceritakan kehidupan masyarakat Papua. Di balik pantai yang indah dan budaya yang kaya, masyarakat Papua ditindas dan tanah mereka dieksploitasi. Karena pandemic Covid-19 ini tidak memungkinkan saya untuk menunjukkan pameran secara fisik, saya sedang mencoba untuk membuat pameran digital," kata Henri Affandi.

Pria yang tengah menempuh studinya di Wimbledon College of Arts, University of the Arts London memberi judul karyanya dengan "Sampah (Rubbish)".

Henri memakai resi/struk sebagai material utama karya tersebut. Kertas resi/struk menggambarkan konsep pemberian ganti rugi.

Pihak yang bertanggung jawab atas kematian warga sipil yang terjebak dalam baku tembak seharusnya memberikan ganti rugi. Namun mencantum harga atas nyawa yang hilang seakan-akan memberikan implikasi bahwa pemerintah dapat menyelesaikan masalah tersebut hanya dengan memberikan sejumlah uang kepada keluarga yang ditinggalkan.

Baca Juga: Dua Hari Berturut-turut Tak Ada Kasus Positif COVID-19 Baru di DIY

Henri lantas mengganti angka ganti rugi tersebut dengan umur para korban. Ia ingin memberi pernyataan bahwa pemerintah telah merampas masa depan para korban.

Komentar