Mengapa Umat Muslim Serukan Boikot Produk Buatan Prancis?

Siswanto | BBC | Suara.com

Senin, 02 November 2020 | 19:01 WIB
Mengapa Umat Muslim Serukan Boikot Produk Buatan Prancis?
BBC

Suara.com - Mulai dari Turki hingga Bangladesh serta dari Yordania hingga Malaysia, rangkaian demonstrasi besar menyerukan agar umat Muslim memboikot produk Prancis.

Sejumlah supermarket telah mengosongkan semua rak yang biasanya terisi produk-produk berlabel 'Made in France' atau 'Buatan Prancis'.

Tagar seperti BoycottFrenchProducts tercatat dicuitkan lebih dari 100.000 kali dan menjadi topik yang sedang tren di media sosial selama sepekan terakhir.

Reaksi tersebut merupakan respons dari komentar Presiden Prancis, Emmanuel Macron, setelah pemenggalan terhadap seorang guru Prancis yang menunjukkan karikatur Nabi Muhammad kepada murid-muridnya di kelas, sebagai bagian dari pelajaran mengenai kebebasan berekspresi.

Macron mengatakan Prancis "tidak akan melepaskan kartun kami".

Macron merujuk pada kartun bergambar Nabi Muhammad yang diterbitkan oleh majalah satire Charlie Hebdo pada 2006, yang memicu kemarahan umat Muslim di seluruh dunia.

Mereka menganggap penggambaran Nabi Muhammad sebagai serangan terhadap agama mereka.

Presiden Macron selama ini dipuji karena membela sekularisme dan kebebasan berekspresi di negaranya sendiri.

Namun ketegangan semakin memuncak setelah pembunuhan tiga orang pada Kamis (29/10) di sebuah gereja di kota Nice dalam peristiwa yang disebut Presiden Macron sebagai "serangan teroris Islam".

Tetapi Macron telah menjadi sosok yang dibenci di negara-negara mayoritas Muslim seperti Bangladesh. Pada Rabu (28/10), puluhan ribu orang turun ke jalan untuk menyerukan boikot barang-barang buatan Prancis.

BBC berbicara kepada tiga orang yang mengatakan bahwa hal ini membuat mereka memutuskan untuk tidak lagi membeli produk Prancis:


Mishi Khan - Aktris - Islamabad, Pakistan

Saya biasa menggunakan kosmetik Prancis, seperti L'Oreal, yang banyak dijual di sini, di Pakistan. Saya sekarang membaca semuanya mulai dari label pada makanan hingga barang-barang mewah, memastikan tidak ada tulisan 'Buatan Prancis'.

Saya mengganti produk Prancis saya dengan produk Pakistan.

Mengapa? Karena presiden suatu negara tidak bisa begitu saja memutuskan untuk menghina seluruh penduduk Muslim.

Saya telah mendesak semua orang di platform media sosial saya untuk memboikot produk Prancis. Hati nurani saya jernih karena saya melakukan sesuatu untuk membela Islam.

Kami sudah bosan banyak orang mengolok-olok agama kami dan Nabi kami. Sudah cukup. Kami terus memaafkan orang-orang yang menghina Islam tapi sekarang kami mengambil tindakan.

Saya merasa Macron mencoba dengan sengaja menyakiti kita. Ini seperti mencubit seseorang lalu bertanya kepada mereka: "Hei, apakah kamu merasakan sakitnya?"

Saya pikir ini adalah bagian dari sesuatu yang lebih besar - Saya rasa dia menciptakan kebencian, dia memprovokasi dan memecah belah orang-orang.

Pernyataannya bisa mengobarkan Islamofobia. Apa yang dikatakan presiden suatu negara memengaruhi rakyatnya. Dia seharusnya menyatukan semua warga negaranya dan menghormati mereka semua dengan setara.

Ketika saya pertama kali melihat kartun Charlie Hebdo, saya tidak bisa berkata-kata. Saya menghindari melihatnya untuk waktu yang sangat lama, tetapi ketika saya melihatnya, saya terkejut. Saya menangis. Saya bertanya kepada Tuhan, "Mengapa saya melihat sesuatu seperti ini?"


Latife Ozdemir - Pelajar - Istanbul, Turki

Lancôme, Garnier, dan BIC adalah produk-produk Prancis yang saya pakai sehari-hari, tapi setelah apa yang terjadi saya tidak mau membelinya lagi.

Saya memboikot produk Prancis karena saya ingin menyatakan bahwa kami tidak bisa menerima ini lagi. Saya ingin membalas Islamofobia Prancis.

Sangat penting bagi kami umat Muslim untuk angkat bicara karena kami sudah terlalu lama berdiam diri. Boikot produk adalah satu-satunya cara yang bisa kami lakukan sekarang.

Charlie Hebdo telah menerbitkan karikatur menyinggung lainnya, yaitu Presiden kami Recep Tayyip Erdogan mengenakan kaos tanpa celana panjang, minum sekaleng bir dan mengangkat rok seorang perempuan Muslim yang mengenakan jilbab.

Sebagai seseorang yang memakai hijab, sangat menyakitkan melihat seorang perempuan Muslim [diperlakukan] dengan cara seperti ini.

Perempuan Muslim seperti saya berjuang setiap hari untuk mewakili Islam secara positif dan untuk menciptakan posisi dalam masyarakat di mana kita setara dan dianggap serius.

Namun kartun ini memberi kami perasaan bahwa ini semua tak ada artinya dan bahwa Eropa tidak pernah melihat kami setara dengan perempuan non-Muslim dan ini sangat menyakitkan.

Kartun dan satire semestinya memancing pemikiran kritis dan debat, sebaliknya Eropa menggunakan penggambaran stereotipe tentang Muslim.

Dengan menggambar kartun seperti ini setiap kali menambahkan lebih banyak bahan bakar ke api dan saya bertanya-tanya apakah ini yang kita inginkan: dunia di mana kita saling menyinggung dan membenci atas nama kebebasan berekspresi?


Hiba Mohamed Moussa - Pelajar - Nouakchott, Mauritania

Saya turut serta dalam unjuk rasa di Nouakchott bersama dengan keluarga dan teman-teman saya untuk mengutuk apa yang terjadi di Prancis.

Kami memboikot semua produk Prancis supaya ekonomi Prancis hancur dan Macron meminta maaf kepada dua miliar umat Muslim yang tersinggung dengan ujaran kebenciannya.

Ketimbang mengonsumsi keju The Laughing Cow - salah satu merk keju buatan Prancis - kami mengonsumi produk Turki.

Saya punya parfum Prancis seperti Lacoste, tapi ketika parfum itu nanti habis, saya tidak mau membelinya lagi.

Saya telah menulis surat kepada Presiden Macron untuk menuntut permintaan maaf.

Di surat itu, saya bertanya kepadanya apakah guru itu layak dihormati, bagaimana dengan nabi kami, yang juga guru?

Yang paling membuat kami marah adalah pidatonya tentang Islamofobia yang mengaitkan Islam dengan barbarisme. Ini adalah ketidakadilan dan provokasi yang tidak bisa kami toleransi.

Fakta bahwa seorang presiden negara seperti Prancis menggunakan gambar yang menghina kelompok tertentu dan memberikan propaganda dan liputan yang tidak semestinya bukan lagi kebebasan berbicara, melainkan serangan terhadap kelompok agama tertentu.

Itu cara yang murah untuk meningkatkan poin apa pun yang dia rencanakan dan raih dalam persaingan politik.

Saya masih terlalu muda untuk mengingat kapan kartun Nabi Muhammad pertama kali diterbitkan oleh Charlie Hebdo, tetapi saya ingat serangan di kantor majalah itu.

Semua orang mengubah foto profil mereka di media sosial menjadi 'Je suis Charlie'.

Saya menghindari melihat kartun itu sepanjang waktu, tetapi saya melihatnya ketika saya menggulir Twitter beberapa hari yang lalu.

Saya merasa terhina dan tidak dihargai. Mengapa Islam tidak bisa dihormati seperti Yudaisme atau Kristen?

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Sudah Cair? Ungkap Karakter Asli Keuangan Kamu
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pecahkan 10 Kasus Misterius Ini, Kamu Detektif atau Cuma Amatir?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA SD: 15 Soal Matematika Materi Pecahan Senilai Beserta Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Beserta Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Berapa Life Path Number Kamu? Hitung Sekarang dan Lihat Rahasia Kepribadianmu
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Presiden Prancis Ingatkan Donald Trump, Menggulingkan Rezim Iran Tak Semudah Menjatuhkan Bom

Presiden Prancis Ingatkan Donald Trump, Menggulingkan Rezim Iran Tak Semudah Menjatuhkan Bom

News | Selasa, 10 Maret 2026 | 11:53 WIB

Cegah Perang Meluas, Macron Desak Netanyahu Batalkan Serangan Darat ke Lebanon

Cegah Perang Meluas, Macron Desak Netanyahu Batalkan Serangan Darat ke Lebanon

News | Kamis, 05 Maret 2026 | 10:24 WIB

Seskab Teddy Bongkar Isi Pertemuan 2,5 Jam Prabowo-Macron, Selaraskan Isu Global di Meja Makan

Seskab Teddy Bongkar Isi Pertemuan 2,5 Jam Prabowo-Macron, Selaraskan Isu Global di Meja Makan

News | Minggu, 25 Januari 2026 | 11:10 WIB

Inntip Momen Keakraban Macron Sambut Prabowo di Paris, Ada Pelukan Hangat saat Jamuan Pribadi

Inntip Momen Keakraban Macron Sambut Prabowo di Paris, Ada Pelukan Hangat saat Jamuan Pribadi

News | Sabtu, 24 Januari 2026 | 08:24 WIB

Presiden Prancis Kepergok Hilangkan Jam Tangan Mewah Saat Wawancara! Panik Ketahuan Rakyat?

Presiden Prancis Kepergok Hilangkan Jam Tangan Mewah Saat Wawancara! Panik Ketahuan Rakyat?

Your Say | Kamis, 23 Oktober 2025 | 14:09 WIB

Momen Langka: Presiden Macron Dilarang Lewat, Langsung Telepon Trump

Momen Langka: Presiden Macron Dilarang Lewat, Langsung Telepon Trump

Video | Rabu, 24 September 2025 | 14:05 WIB

Presiden Perancis Terancam Dimakzulkan, Oposisi Janji Dukung Gaza dan Palestina

Presiden Perancis Terancam Dimakzulkan, Oposisi Janji Dukung Gaza dan Palestina

News | Minggu, 07 September 2025 | 13:36 WIB

Trump dan China Dukung Perundingan Damai Rusia-Ukraina, Eropa Masih Skeptis

Trump dan China Dukung Perundingan Damai Rusia-Ukraina, Eropa Masih Skeptis

News | Rabu, 20 Agustus 2025 | 13:37 WIB

Makan Malam Bereng, Prabowo dan Macron Bahas Solusi Soal Konflik Israel-Palestina

Makan Malam Bereng, Prabowo dan Macron Bahas Solusi Soal Konflik Israel-Palestina

News | Selasa, 15 Juli 2025 | 18:24 WIB

Ngobrol 4 Mata dengan Macron, Prabowo Tebar Pujian: Prancis Banyak Bantu Kita di Eropa

Ngobrol 4 Mata dengan Macron, Prabowo Tebar Pujian: Prancis Banyak Bantu Kita di Eropa

News | Selasa, 15 Juli 2025 | 18:19 WIB

Terkini

Dukung Earth Hour, BNI Perkuat Operasional Rendah Emisi dan Efisiensi Energi

Dukung Earth Hour, BNI Perkuat Operasional Rendah Emisi dan Efisiensi Energi

News | Sabtu, 28 Maret 2026 | 21:30 WIB

Pembersihan Lumpur dan Rehabilitasi Sawah Terus Diakselerasi Satgas PRR

Pembersihan Lumpur dan Rehabilitasi Sawah Terus Diakselerasi Satgas PRR

News | Sabtu, 28 Maret 2026 | 20:33 WIB

Tancap Gas! Satgas PRR Serahkan 120 Rumah kepada Penyintas Bencana di Tapanuli Selatan

Tancap Gas! Satgas PRR Serahkan 120 Rumah kepada Penyintas Bencana di Tapanuli Selatan

News | Sabtu, 28 Maret 2026 | 20:29 WIB

Wacana WFH ASN: Solusi Hemat BBM atau Celah untuk Long Weekend?

Wacana WFH ASN: Solusi Hemat BBM atau Celah untuk Long Weekend?

News | Sabtu, 28 Maret 2026 | 20:23 WIB

Tak Ada yang Kebal Hukum: Mantan PM Nepal Sharma Oli Ditangkap Terkait Tewasnya Demonstran

Tak Ada yang Kebal Hukum: Mantan PM Nepal Sharma Oli Ditangkap Terkait Tewasnya Demonstran

News | Sabtu, 28 Maret 2026 | 20:10 WIB

Donald Trump: Pangeran MBS Kini Mencium Pantat Saya

Donald Trump: Pangeran MBS Kini Mencium Pantat Saya

News | Sabtu, 28 Maret 2026 | 19:49 WIB

Sampah Menggunung di Pasar Induk Kramat Jati Capai 6.970 Ton, Pasar Jaya Kebut Pengangkutan

Sampah Menggunung di Pasar Induk Kramat Jati Capai 6.970 Ton, Pasar Jaya Kebut Pengangkutan

News | Sabtu, 28 Maret 2026 | 19:43 WIB

Antisipasi Copet hingga Jambret, Ribuan Personel Jaga Ketat Pasar Murah di Monas

Antisipasi Copet hingga Jambret, Ribuan Personel Jaga Ketat Pasar Murah di Monas

News | Sabtu, 28 Maret 2026 | 19:40 WIB

Bersama Anak Yatim Piatu, Boni Hargens Gelar Doa bagi Perdamaian Dunia

Bersama Anak Yatim Piatu, Boni Hargens Gelar Doa bagi Perdamaian Dunia

News | Sabtu, 28 Maret 2026 | 19:05 WIB

Mahfud MD Kenang Juwono Sudarsono: Dari Pengganti di Era Gus Dur hingga Ilmuwan Besar

Mahfud MD Kenang Juwono Sudarsono: Dari Pengganti di Era Gus Dur hingga Ilmuwan Besar

News | Sabtu, 28 Maret 2026 | 19:00 WIB