alexametrics
bbc

Misi Ambisius China: Luncurkan Pesawat Ambil Batu di Bulan

Reza Gunadha | BBC
Misi Ambisius China: Luncurkan Pesawat Ambil Batu di Bulan
Pesawat ulang-alik China. [BBC]

Misi robotik Chang'e-5 bertujuan untuk mengambil sampel dari Bulan, menjadikan sampel itu bebatuan pertama yang dibawa kembali ke Bumi setelah 40 tahun.

Suara.com - Pesawat luar angkasa robotik tanpa awak Chang'e-5 meluncur dari kompleks Wenchang dari roket Long March 5, Selasa (24/11) pagi waktu setempat, untuk membawa pulang sampel tanah dan batu di Bulan.

Jika misi ini sukses, pesawat yang sama dijadwalkan kembali ke Bumi di pertengahan Desember.

Sudah lebih dari 40 tahun sejak Amerika dan Uni Soviet membawa pulang bebatuan dan "tanah" dari Bulan untuk dianalisis.

China bertujuan menjadi negara ketiga yang melakukan pencapaian ini, sebuah perjalanan yang disebut sebagai upaya yang sangat kompleks.

Baca Juga: Ekonomi Di China Bangkit Tanpa Vaksin, Indonesia Bisa Enggak?

Misi ini terdiri dari proses multi-langkah yang melibatkan pengorbit, perangkat pendaratan, dan komponen untuk kembali ke Bumi dengan kapsul super cepat yang tahan panas untuk melewati atmosfer Bumi.

Namun China memiliki kepercayaan diri tinggi, terutama setelah beberapa tahun lalu mereka sukses melakukan misi ke Bulan dengan beberapa satelit.

Rangkaian misi yang lalu juga diikuti dengan kombinasi pendaratan dan penjelajahan - yang terbaru, dengan Chang'e-4, China berhasil melakukan pendaratan di sisi jauh Bulan, sesuatu yang tidak pernah dilakukan oleh negara-negara pengeksplor luar angkasa lainnya.

Target Chang'e-5 adalah mendarat di lokasi yang disebut Mons Rümker, yakni kompleks vulkanik di area yang dikenal dengan nama Oceanus Procellarum.

Bebatuan di lokasi ini diperkirakan lebih muda bila dibandingkan dengan bebatuan yang diambil sebagai sampel oleh astronaut AS Apollo dan robot-robot Soviet Luna - mungkin berusia sekitar 1,3 miliar tahun, bila dibandingkan dengan batu-batuan berumur 3-4 miliar tahun yang diambil oleh misi-misi sebelumnya.

Baca Juga: China Bikin Aturan Keagamaan Baru Untuk Perketat Misionaris Asing

Ini akan memberikan data-data lain untuk metode yang mereka gunakan guna mengukur proses penuaan di bagian dalam Tata Surya.

Pada dasarnya, para peneliti akan menghitung jumlah kawah. Semakin tua suatu permukaan, semakin banyak kawah yang dimilikinya. Sebaliknya, semakin muda permukaan maka semakin sedikit kawah.

"Bulan adalah kronometer Tata Surya, sejauh yang kita ketahui," kata Dr Neil Bowles dari Universitas Oxford.

"Sampel-sampel yang dibawa oleh misi Apollo dan Luna diambil dari lokasi-lokasi yang sudah diketahui dan telah diberi tanggal radiometrik dengan sangat akurat. Kita telah mampu menghubungkan informasi itu dengan laju kawah dan memperkirakan usia permukaan-permukaan benda luar angkasa lain di Tata Surya."

Sampel baru yang nantinya dibawa oleh Chang'e-5 juga akan membantu memperkaya pengetahuan kita tentang sejarah vulkanis di Bulan, ujar Dr Katie Joy dari Universitas Manchester.

"Misi ini dikirim ke area di mana kita tahu ada gunung vulkanik yang meletus di masa lalu. Kita ingin tahu secara persis kapan itu terjadi," ujarnya kepada BBC News.

"Ini akan meberitahu kita tentang sejarah magmatik dan termal Bulan dari waktu ke waktu, dan dari situ kita dapat menjawab pertanyaan yang lebih luas, yakni kapan peristiwa vulkanik dan magmatik terjadi di planet-planet yang berada di dalam sistem Tata Surya, dan mengapa Bulan kehabisan energi untuk memproduksi gunung vulkanik lebih awal dari pada benda luar angkasa lainnya."

Saat Chang'e-5 tiba di Bulan, ia akan masuk ke orbit. Sebuah alat pendarat kemudian akan melepaskan diri dan melakukan pendaratan kuat.

Setelah stabil, alat ini akan memeriksa keadaan sekelilingnya sebelum mengambil material di permukaan Bulan.

Pendarat ini juga memiliki kapasitas untuk mengebor ke dalam tanah atau regolith.

Selanjutnya, sebuah kendaraan pendakian akan membawa sampel kembali ke pesawat di orbit.

Pada tahap inilah pemindahan sampel yang rumit harus terjadi, yakni mengemas batuan dan tanah ke dalam kapsul untuk dikirim kembali ke Bumi. Sebuah pesawat pendamping akan mengarahkan kapsul untuk memasuki atmosfer Bumi dan melewati Mongolia Dalam.

Seluruh fase dalam misi ini sangat rumit, namun polanya sesungguhnya sudah sangat familiar - pola yang sama telah digunakan oleh misi luar angkasa dengan awak manusia yang dikirim ke Bulan sejak 1960-an dan 1970-an.

"Anda bisa melihat analogi yang dilakukan China dengan misi Chang'e-5 - dari berbagai elemen berbeda dan interaksinya - dan apa yang dibutuhkan untuk misi dengan awak manusia," kata Dr James Carpenter, koordinator sains untuk eksplorasi manusia dan robotik di Bacdan Luar Angkasa Eropa.

"Saat ini kami melihat ekspansi luar biasa dalam aktivitas Bulan. Kita punya program Artemis yang dipimpin AS (untuk membawa astronaut ke Bulan lagi) dan kerjasama dalam misi itu; kita juga melihat China dengan program eksplorasi mereka yang sangat ambisius; tetapi ada banyak juga pemain baru."