Penembakan di Intan Jaya Membuat Warga Mengungsi karena Ketakutan

Siswanto, BBC

Rabu, 10 Februari 2021 | 13:04 WIB
Penembakan di Intan Jaya Membuat Warga Mengungsi karena Ketakutan
BBC

Suara.com - Serangan kelompok kriminal bersenjata kepada seorang warga di Distrik Sugapa, Kabupaten Intan Jaya, Papua, pada Senin (8/2), merupakan insiden terbaru dalam rangkaian kekerasan yang telah terjadi setidaknya lima kali sejak awal tahun ini. Akibatnya, ratusan warga mengungsi karena takut.

Ratusan warga yang berasal dari Kampung Bilogai, Kumlagupa, dan Puyagiya mengungsi ke sebuah gereja Katolik setelah kelompok KKB pimpinan Undius Kogoya menyerang seorang warga berinisial R yang diduga sebagai mata-mata aparat keamanan.

Hingga kini, ratusan orang tersebut masih dalam pengungsian, kata seorang warga bernama Mepa (bukan nama sebenarnya) yang ikut mengungsi bersama ratusan warga dari tiga desa tersebut.

"Kami mengungsi karena takut aparat keamanan akan datang ke kampung-kampung mencari mereka dan menembaki kami," kata Mepa kepada wartawan Yamoyw Abeth yang melaporkan untuk BBC News Indonesia, Selasa (9/2).

Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat menyatakan bertanggung jawab atas penyerangan terhadap seorang warga sipil tersebut. Sementara pihak kepolisian membantah adanya pengungsian di kompleks gereja.

Serangan ini merupakan satu dari rangkaian konflik bersenjata berujung pada pengungsian yang terjadi di Intan Jaya sepanjang tiga tahun terakhir.

Sejak awal 2021 setidaknya telah terjadi lima kali konflik antara KKB dan aparat keamanan yang menewaskan dua prajurit TNI, serta menyebabkan seorang warga dan seorang anggota KKB meninggal dunia.

Ketua Tim Kemanusiaan untuk Intan Jaya yang juga aktivis LSM Lokataru, Haris Azhar, dan pengamat Papua dari LIPI, Adriana Elisabeth, menyebut rangkaian serangan bersenjata yang terjadi di Intan Jaya tidak lepas dari adanya kepentingan penguasaan atas sumber daya alam berupa emas yang ada di sana, juga ketidakmampuan dilakukannya dialog damai antara pihak.

'Kami mengungsi karena takut'

Mepa, bukan nama sebenarnya, bersama ratusan warga dari Kampung Bilogai, Kumlagupa, dan Puyagiya, Kabupaten Intan Jaya, Papua, mengungsi ke sebuah kompleks gereja Katolik akibat adanya serangan dari KKB terhadap seorang warga sipil.

baca juga

"Kemarin, Senin, jam enam sore, anggota TPNPB-OPM masuk ke kampung dan menembak salah satu warga yang diduga intel. Kalau tinggal di rumah kami paling takut dari aparat keamanan karena pasti ada pembalasan. Imbasnya kami bisa kena tembak," kata Mepa.

"Alasan aparat keamanan, mereka pikir kami masyarakat lokal kasih makan dan minum mereka, sehingga kami mengungsi ke halaman gereja hingga sekarang, sudah dua hari," tambah Mepa.

Mepa mengatakan, selama tinggal di halaman gereja, para pengungsi mendapatkan bantuan berupa dua karung beras dan dua kardus mie instan dari kepolisian.

"Di sini pegunungan, kami tidur di dalam gereja, dingin sekali, tapi demi keamanan kami tinggal di sini, karena patroli keamanan terus sehingga kami sangat takut," ujarnya.

Mepa mengatakan, sejak tahun 2019, ia dan warga lain hidup dalam trauma akibat sering terjadi tembak-menembak.

"Seluruh kampung, pinggir kali, sungai, ladang, hingga hutan semua diduduki aparat keamanan. Terjadi kontak di sana sini, kami merasa terancam dan tertekan.

Kami mohon aparat tidak bergerak ke sini, begitu juga TPNPB untuk tidak masuk kampung, atur tempat sendiri. Lalu, pemerintah daerah kembali datang dan hadir menemani kami di sini, kami trauma dan ketakutan luar biasa" katanya.

OPM: Kami bertanggung jawab atas serangan

Anggota TPNPB-OPM, Apeniel Tipagau, mengatakan rangkaian serangan dari awal tahun hingga Senin (8/2) lalu dilakukan oleh TPNPB-OPM kelompok Sabinus Waker.

Tipagau mengatakan, serangan pertama hingga ketiga di bawah pimpinan Aibon Kogoya sedangkan dua terakhir di bawah pimpinan Undius Kogoya.

"Sudah ada perintah dari atasan, Komandan Operasi Umum, Lekagak Telenggen untuk terus melakukan serangan," katanya.

"Tuntutannya adalah meminta Otonomi Khusus jilid II dihentikan, menghentikan rencana pertambangan Blok Wabu. Jika tidak dikabulkan, kami akan terus bergerak," tambah Tipagau.

Tipagau juga menegaskan kelompoknya tidak pernah menyerang warga sipil.

Sementara itu, Kepala Kepolisian Daerah Papua, Irjen Pol Paulus Waterpauw, membantah terjadinya pengungsian.

"Laporan Kapolres Intan Jaya tidak benar. Masyarakat masih beraktifitas sebagaimana hari-hari," kata Kapolda Papua Irjen Paulus Waterpauw saat dikonfirmasi.

Mengapa konflik di Intan Jaya terus terjadi?

Berdasarkan data Polda Papua, selama tahun 2020, KKB sedikitnya melakukan 49 aksi teror di tujuh kabupaten - terbanyak di Intan Jaya sebanyak 23 kali.

Dari aksi tersebut, total 17 orang tewas - 12 orang warga sipil, empat anggota TNI, dan satu polisi.

Ketua Tim Kemanusiaan untuk Intan Jaya yang juga aktivis HAM dari Lokataru, Haris Azhar, dan pengamat Papua dari LIPI, Adriana Elisabeth, mengatakan salah satu faktor penyebabnya adalah karena kepentingan sumber daya alam berupa emas di sana, Blok Wabu.

"Saya menduga adanya penciptaan kondisi konflik senjata di sana akibat kepentingan tambang emas. Aparat keamanan terus dikirim, bertambah dan masyarakat terus mengungsi, sementara dialog damai saya tidak pernah dengar," kata Haris Azhar.

Menurut Haris yang mengunjungi Intan Jaya pada Desember tahun lalu, setidaknya empat dari delapan distrik telah kosong yang mengungsi ke Timika, Nabire, dan gunung-gunung.

"Padahal mereka mau kembali ke kampung, bercocok tanam. Cuma tidak digubris sama pemerintah," ujarnya.

Hal senada diutarakan peneliti LIPI, Adriana Elisabeth. Menurutnya, konflik di Intan Jaya dan wilayah lain di pegunungan tengah Papua memiliki pola yang mirip.

"Konflik terjadi di wilayah yang memiliki sumber daya alam melimpah, di sini adalah. tambang. Saya condong melihatnya ke konflik SDA daripada ke konflik bersenjata dan alasan kemerdekaan," kata Adriana.

Contoh, di Blok Wabu, bekas lahan tambang PT. Freeport Indonesia, disebut memiliki kandungan emas hingga 8,1 juta ons.

Supaya konflik dapat mereda, bahkan selesai, Haris Azhar menyarankan pemerintah untuk menarik pasukan keamanan dan membuka dialog dengan KKB.

"Tarik pasukan keamanan, dan kirim tim dialog ke KKB itu, lakukan pendekatan kemanusian. Zaman SBY ada tim dialog itu," ujarnya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Mendag Buka Peluang Papua Jadi Hub Ekspor RI ke Pasifik

Mendag Buka Peluang Papua Jadi Hub Ekspor RI ke Pasifik

Bisnis | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 19:02 WIB

OMC Tekan Hotspot Karhutla Papua Selatan dari 1.169 Jadi 65 Titik

OMC Tekan Hotspot Karhutla Papua Selatan dari 1.169 Jadi 65 Titik

News | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 14:42 WIB

PPAD Bekali Calon Wisudawan Purnawira 2026, Tegaskan Pensiun Bukan Akhir Pengabdian

PPAD Bekali Calon Wisudawan Purnawira 2026, Tegaskan Pensiun Bukan Akhir Pengabdian

News | Kamis, 29 Oktober 2026 | 21:45 WIB

Soroti Pengamanan Demo 28 Oktober Bundaran HI, Legislator PDIP Ingatkan Prosedur Pelibatan TNI

Soroti Pengamanan Demo 28 Oktober Bundaran HI, Legislator PDIP Ingatkan Prosedur Pelibatan TNI

News | Kamis, 29 Oktober 2026 | 18:32 WIB

Menko Polkam Dukung Humanity Approach Polda Papua Barat Daya Bersama TNI dan Pemda

Menko Polkam Dukung Humanity Approach Polda Papua Barat Daya Bersama TNI dan Pemda

News | Kamis, 29 Oktober 2026 | 15:10 WIB

TNI Ikut Amankan Demo 28 Oktober, Komisi I DPR Sebut Lumrah

TNI Ikut Amankan Demo 28 Oktober, Komisi I DPR Sebut Lumrah

News | Kamis, 29 Oktober 2026 | 17:46 WIB

Mendagri Dorong Pemda Papua Pegunungan Laksanakan Program Perumahan Sesuai Aturan

Mendagri Dorong Pemda Papua Pegunungan Laksanakan Program Perumahan Sesuai Aturan

News | Kamis, 29 Oktober 2026 | 15:54 WIB

Merawat Laut Lewat Egek, Kearifan Lokal Suku Moi di Papua Barat Daya

Merawat Laut Lewat Egek, Kearifan Lokal Suku Moi di Papua Barat Daya

Lifestyle | Kamis, 29 Oktober 2026 | 12:27 WIB

Penguatan Alutsista TNI Jadi Bukti Dua Tahun Gerak Nyata, Tingkatkan Pertahanan Seluruh Indonesia

Penguatan Alutsista TNI Jadi Bukti Dua Tahun Gerak Nyata, Tingkatkan Pertahanan Seluruh Indonesia

News | Rabu, 28 Oktober 2026 | 12:53 WIB

Melampaui Kompetisi, IFRC 2026 Perkuat Budaya Keselamatan di Tanah Papua

Melampaui Kompetisi, IFRC 2026 Perkuat Budaya Keselamatan di Tanah Papua

News | Selasa, 27 Oktober 2026 | 18:36 WIB

Terkini

Diduga Main HP saat Nyetir, Ketua PP Siak Diperiksa usai Kecelakaan Maut di Perawang

Diduga Main HP saat Nyetir, Ketua PP Siak Diperiksa usai Kecelakaan Maut di Perawang

Riau | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 20:25 WIB

Susu Bubuk Ada Bintik Hitam, Apakah Berbahaya? Ini Penjelasan Pakar Teknologi Pangan

Susu Bubuk Ada Bintik Hitam, Apakah Berbahaya? Ini Penjelasan Pakar Teknologi Pangan

Health | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 20:23 WIB

Geledah dan Segel Kantor PT IPPS Jakarta, Kejagung Sita HP Berisi Chat Korupsi Rp2 Triliun!

Geledah dan Segel Kantor PT IPPS Jakarta, Kejagung Sita HP Berisi Chat Korupsi Rp2 Triliun!

News | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 20:21 WIB

5 HP Android dengan Kamera Bagus untuk Kamu yang Mau Mulai Ngonten

5 HP Android dengan Kamera Bagus untuk Kamu yang Mau Mulai Ngonten

Your Say | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 20:20 WIB

Desain Final Stadion Kendal Tornado FC Dirilis, Pembangunan Dimulai Tahun Depan

Desain Final Stadion Kendal Tornado FC Dirilis, Pembangunan Dimulai Tahun Depan

Jawa Tengah | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 20:19 WIB

Jelajah Rasa Sambil Menikmati Pemandangan Jakarta di Langit Nusantara

Jelajah Rasa Sambil Menikmati Pemandangan Jakarta di Langit Nusantara

Foto | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 20:16 WIB

Acara Anti-Hoaks Berujung Bumerang, Raffi Ahmad Dituding Lakukan Pencitraan Lewat Massa Settingan

Acara Anti-Hoaks Berujung Bumerang, Raffi Ahmad Dituding Lakukan Pencitraan Lewat Massa Settingan

Entertainment | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 20:14 WIB

Duduk Perkara Empat Siswi SMA di Muba Diminta Lepas Seragam oleh Wakil Kepala Sekolah

Duduk Perkara Empat Siswi SMA di Muba Diminta Lepas Seragam oleh Wakil Kepala Sekolah

Sumsel | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 20:11 WIB

Jangan Takut Meniru! CEO BlokBojonegoro Ungkap Strategi Media Lokal untuk Berkembang

Jangan Takut Meniru! CEO BlokBojonegoro Ungkap Strategi Media Lokal untuk Berkembang

Video | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 20:00 WIB

Perkuat Layanan Kanker, Pemprov DKI Resmikan Pusat Onkologi

Perkuat Layanan Kanker, Pemprov DKI Resmikan Pusat Onkologi

Foto | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 19:57 WIB

×