- Rombongan ASN Dinas Pertanian dicegat dan dieksekusi oleh pelaku bersenjata di Jayawijaya pada Jumat, 11 September 2026.
- Delapan orang selamat melarikan diri untuk bersembunyi, sementara tiga ASN lainnya tewas ditembak di tempat.
- Aparat mengidentifikasi dua pelaku berinisial PN dan KT yang juga masuk daftar pencarian orang kasus lama.
Suara.com - Kasatgas Humas Operasi Damai Cartenz 2026 Kombes Yusuf Sutejo mengisahkan peristiwa mencekam sebelum penembakan terhadap 3 ASN Dinas Pertanian di Jayawijaya.
Berdasarkan kesaksian dari delapan orang yang selamat, kata Yusuf, rombongan dicegat oleh seseorang yang membawa parang usai melakukan survei dan penyuluhan bidang peternakan.
“Di tengah jalan mereka diadang oleh satu orang menggunakan parang,” kata Yusuf kepada wartawan, Jumat (11/9/2026).
Rombongan kemudian diminta untuk turun dari kendaraan. Sebagian dari rombongan kemudian digiring ke belakang kendaraan.
Selanjutnya, tiga orang yang digiring ke belakang kendaraan langsung ditembak mati oleh pelaku.
“Ketiga korban ini digiring ke belakang kendaraan dan di situ mereka ditembak, mereka dieksekusi,” ujar Yusuf.
Sementara itu, delapan orang lainnya menyelamatkan diri masing-masing. Sebagian dari mereka melarikan diri ke belakang Puskesmas yang berada di lokasi untuk bersembunyi.
“8 orang ini lari, melarikan diri mencari selamat masing-masing. Ada yang bersembunyi di belakang Puskesmas,” tandasnya.
Yusuf juga mengaku saat ini pihaknya telah dapat mengidentifikasi dua pelaku penembakan. Keduanya berinisial PN dan KT.
Yusuf mengatakan, kedua orang yang sudah teridentifikasi ini sudah masuk dalam daftar pencarian orang (DPO). Sebab, keduanya disinyalir pernah melakukan penculikan pilot pada 2023 silam.
“Kedua orang ini masuk dalam DPO kita, terkait dengan kasus penculikan. Penculikan pilot yang berhasil kita bebaskan tahun lalu 2024, kejadian penculikannya di 2023,” ucap Yusuf.
Selanjutnya, kedua pelaku juga telah masuk DPO akibat kasus pembantaian PT Istaka Karya pada 2019.
Saat itu, mereka melakukan perampokan serta menculik dan membunuh puluhan pegawai PT Istaka Karya yang pada saat itu sedang melakukan pembangunan trans jalan di Papua.
Yusuf mengatakan, penembakan terhadap tiga ASN ini diduga dilakukan secara acak. Tujuannya untuk menebar teror di tengah masyarakat Papua.
“Biasanya mereka melakukannya itu secara random. Jadi, kalau modus yang mereka lakukan, ini mereka memang selalu menebar teror dengan ancaman kekerasan maupun tindakan kekerasan,” tandasnya.