Papua: Jenderal Ditembak, Aksi Balasan akan Bikin Siklus Kekerasan Berulang

Siswanto, BBC

Selasa, 27 April 2021 | 07:32 WIB
Papua: Jenderal Ditembak, Aksi Balasan akan Bikin Siklus Kekerasan Berulang
BBC

Suara.com - Satgas TNI/Polri hingga kini masih melakukan pengejaran terhadap kelompok pro-kemerdekaan Papua yang terlibat baku tembak dalam konflik bersenjata terbaru di Beoga, Kabupaten Puncak, Papua, yang membuat jenderal bintang satu TNI meninggal dunia.

Presiden Joko Widodo telah memerintahkan Panglima TNI dan Kapolri untuk "mengejar dan menangkap seluruh anggota" dari apa yang disebutnya sebagai kelompok kriminal bersenjata, seraya menegaskan "tidak ada tempat" bagi kelompok tersebut di Papua.

Namun, Ketua Kajian Papua dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia  Adriana Elisabeth, mengatakan insiden terbaru dalam konflik bersenjata antara TNI dan kelompok pro-kemerdekaan Papua, berpotensi memicu "aksi balasan" yang membuat siklus kekerasan terus berulang.

Kendati begitu, ia mengatakan insiden ini bisa jadi momentum bagi pemerintah untuk "mengevaluasi pendekatan" dan menentukan cara yang tepat untuk menyelesaikan konflik bersenjata di wilayah itu.

Perwira tinggi TNI pertama yang meninggal di Papua

Kepala BIN Daerah Papua Brigjen TNI I Gusti Putu Danny Karya Nugraha tewas ditembak dalam insiden yang terjadi pada Minggu (25/04). Mendiang merupakan perwira tinggi TNI pertama yang meninggal dalam konflik di Papua.

Kelompok pro-kemerdekaan Papua, Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat - Organisasi Papua Merdeka mengeklaim "bertanggung jawab" atas penembakan itu, seperti diutarakan oleh juru bicara TPNP-OPM Sebby Sambom.

"TPNPB bertanggung jawab atas penembakan itu karena wilayah itu wilayah perang dan TPNPB sudah umumkan bahwa wilayah perang kami adalah Puncak Jaya, Lani Jaya, Ndugama, Timika dan Tembagapura," ujar Sebby via sambungan telpon.

Deputi VII Bidang Komunikasi dan Informasi sekaligus juru bicara BIN, Wawan Hari Purwanto, mengungkapkan kontak tembak tersebut terjadi ketika apa yang disebutnya sebagai "Kelompok Separatis dan Teroris" Papua, melakukan penghadangan dan penyerangan terhadap rombongan kepala BIN Papua.

"Kehadiran Kabinda Papua di Kampung Dambet adalah dalam rangka observasi lapangan guna mempercepat pemulihan keamanan pasca aksi brutal Kelompok Separatis dan Teroris (KST) Papua di wilayah tersebut," ujar Wawan.

Ia menambahkan kunjungan tersebut juga bertujuan sebagai upaya untuk "meningkatkan moril dan semangat" warga yang selama ini terganggu oleh "kekejaman dan kebiadaban Kelompok Separatis dan Teroris Papua".

Lebih lanjut, Wawan menjelaskan bahwa insiden tersebut bermula saat patroli Satgas BIN bersama dengan Satgas TNI/Polri melakukan perjalanan menuju Kampung Dambet di Distrik Beoga, Kabupaten Puncak, Papua.

Sekitar pukul 15.50 waktu setempat, rombongan itu dihadang oleh kelompok TPNPB-OPM yang dikepalai Lekagak Telenggen, sehingga terjadi aksi baku tembak di Kampung Dambet.

"Akibat kontak tembak tersebut Kabinda Papua tertembak dan gugur sebagai pahlawan di lokasi kejadian," kata Wawan.

Menanggapi penembakan terhadap Kabinda Papua, Ketua Kajian Papua dari LIPI Adriana Elizabeth mengatakan "pertama kali ada perwira yang kemudian menjadi korban" dalam konflik Papua. Ia menyatakan kekhawatirannya atas potensi "aksi balasan" yang mungkin terjadi.

"Seperti juga sering berulang kali terjadi di wilayah Pegunungan Tengah itu bahwa kalau ada aparat keamanan yang jadi korban, pasti akan langsung dicari pelakunya. Itu nanti akan terus seperti itu siklusnya," ujar Adriana.

"Apalagi ini seorang Kabinda, pejabat negara pula yang bertugas di Papua."

Ditetapkan jadi kelompok teror

Akhir Maret lalu, wacana menetapkan TPNPB-OPM sebagai kelompok teror sempat mengemuka dan menuai pro dan kontra. Sebab, dinilai akan memicu kriminalisasi banyak warga sipil dengan tuduhan terlibat separatisme.

Selama ini, TPNPB-OPM dikategorikan sebagai kelompok kriminal bersenjata (KKB).

Label "kelompok separatisme dan terorisme" digaungkan kembali oleh juru bicara BIN, Wawan Hari Purwanto.

Ia beralasan lembaganya mengategorikan TPNPB-OPM sebagai kelompok separatis dan teror. Sebab, menurutnya, kelompok itu telah membunuh sejumlah warga sipil dan guru, serta membakar rumah dan sekolah selama tiga pekan konflik berkepanjangan di Beoga.

"Yang jelas itu sudah bukan hanya menyerang aparat keamanan semata, maka kami lihat ini sudah bukan lagi kriminal biasa, sudah teror ini, teroris."

"Maka dari hasil analisis Badan Intelijen Negara menyebutnya sebagai kelompok separatis dan teroris Papua," jelas Wawan, seraya menambahkan "aksi brutal" tersebut adalah "pelanggaran berat".

Dalam keterangan tertulis menanggapi insiden terbaru di Beoga, Ketua MPR Bambang Soesatyo meminta pemerintah segera "mengambil sikap tegas" dan "mempertimbangkan status KKB di Papua menjadi kelompok teroris".

Ia beralasan, kelompok tersebut telah mengancam keamanan masyarakat dan menciptakan rasa takut bagi warga sipil dikarenakan tindakan teror yang dilakukan oleh KKB.

"Seperti tindakan berupa ancaman kekerasan dan penggunaan senjata api yang menimbulkan efek ketakutan yang luas di tengah masyarakat," ujar Bambang.

Maka dari itu, menurutnya, KKB harus ditindak berdasarkan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2018 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme.

Ketika dimintai tanggapan, juru bicara TPNPB-OPM Sebby Sambom mengaku "bangga" dengan label kelompok separatis, sebab tujuan perjuangan kelompoknya adalah untuk memisahkan diri.

"Tapi kalau disebut teroris itu kan tidak mungkin, dunia tidak mungkin akui Indonesia juga kata-kata itu," cetusnya.

Akan tetapi, Ketua kajian Papua di LIPI, Adriana Elizabeth menegaskan "mengubah nama tidak otomatis menyelesaikan persoalan".

"Kalau menurut saya lebih baik kita memahami akar separatis Papua. Di mana-mana, di banyak negara yang alami kasus serupa, itu biasanya akarnya politik dan ekonomi," ungkap Adriana.

Lebih lanjut, Adriana mengatakan adanya perubahan pelaku pada anggota kelompok-pro kemerdekaan belakangan dengan banyak anggota usia muda "lebih militan".

"Apakah semua itu berbasis pada ideologi merdeka? Saya melihat aksinya lebih banyak kriminalitas dan premanisme. Apakah sudah tepat menamai kelompok itu sebagai teroris?," katanya.

Alih-alih mengubah nama, kata Adriana, yang terpenting adalah mengetahui akar masalah dan mengevaluasi pendekatan penyelesaian konflik.

"Karena kalau kita lihat kan ini sudah dari 2018 dari kasus Nduga, kasus Tembagapura di Intan Jaya, kemudian sekarang sudah ke Kabupaten Puncak. Ini eskalasinya meningkat. Ada apa? Melihat kondisi ini saja kita harus berpikir kritis apakah kemudian mengubah nama ini menjadi solusi?."

"Harus dievaluasi pendekatan seperti ini apakah masih efektif, kalau mau ditingkatkan seperti apa," ujar Adriana.

'Kejar dan tangkap'

Presiden Joko Widodo menyatakan "duka cita mandalam" atas tewasnya Brigjen TNI I Gusti Putu Danny serta menaikkan pangkatnya menjadi Mayor Jenderal.

Dalam kesempatan yang sama, ia telah memerintahkan Panglima TNI dan Kapolri untuk mengejar dan menangkap seluruh anggota kelompok kriminal bersenjata.

"Saya tegaskan tidak ada tempat untuk kelompok-kelompok kriminal bersenjata di tanah Papua maupun di seluruh pelosok tanah air," tegas Jokowi ketika memberikan pernyataan secara daring pada Senin (26/04).

Adapun, juru bicara BIN, Wawan Hari Purwanto, mengatakan saat ini Satgas BIN dibantu unsur keamanan lainnya terus melakukan pengejaran terhadap kelompok tersebut.

"Kita terus melakukan pengejaran bersama aparat kemanan terkait di wilayah Papua, mengidentifikasi dan melakukan terus langkah-langkah mempersempit gerak mereka," kata Wawan.

Wawan mengatakan, "akan ada evaluasi" penambahan pasukan yang dikerahkan di daerah konflik Papua. Sebab, menurutnya ada pertimbangan kepentingan dan kebutuhan lapangan yang mendesak.

"Selanjutnya tetap ada tindakan atau gerakan pengejaran lanjutan dan langkah-langkah yang lebih terstruktur," katanya.

Konsekuensi ruang gerak semakin sempit karena pengerahan pasukan yang lebih agresif, dipahami oleh juru bicara TPNPB-OPM Sebby Sambom, yang menyatakan "siap melayani" aparat Indonesia.

"TNI mau tambah pasukan seribu kah, seratus ribu kah, pasukan satu juta kah, silakan datang. TPNPB-OPM punya tanah kami punya sendiri, kami punya hutan, kami punya alam. Jadi TNI Polri silakan datang, TPNPB siap melayani dan sangat siap sekali," kata dia.

Adriana Elizabeth dari LIPI menegaskan bahwa masyarakat di Papua yang telah lama berkelindan dengan konflik bersenjata antara TNI dan kelompok pro-kemerdekaan, akan semakin tertekan dengan aksi balasan yang kerap terjadi jika serangan satu pihak telah menyebabkan korban jiwa pada pihak lain.

"Masyarakat di daerah sangat khawatir dengan aksi balasan, situasinya akan semakin tidak aman. Tapi mungkin ini momentum untuk pemerintah mengevaluasi pendekatan apa yang tepat untuk menyelesaikan konflik bersenjata di wilayah itu," katanya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Berawal Kenalan, Anak di Bawah Umur jadi Korban Kekerasan Seksual Pemuda di Tambora

Berawal Kenalan, Anak di Bawah Umur jadi Korban Kekerasan Seksual Pemuda di Tambora

News | Minggu, 31 Mei 2026 | 16:00 WIB

Predator di Balik Tembok Pesantren: Mengapa Kasus Kekerasan Seksual Sulit Diungkap?

Predator di Balik Tembok Pesantren: Mengapa Kasus Kekerasan Seksual Sulit Diungkap?

News | Minggu, 31 Mei 2026 | 07:00 WIB

Siapa Mama Sinta? Tokoh Adat Papua Polisikan Ketua LBH Merauke Terkait Film Pesta Babi

Siapa Mama Sinta? Tokoh Adat Papua Polisikan Ketua LBH Merauke Terkait Film Pesta Babi

News | Sabtu, 30 Mei 2026 | 12:47 WIB

Tercatat Jadi Penasihat Little Aresha Daycare, Dosen UGM Ngaku Tak Tahu Struktur Organisasi

Tercatat Jadi Penasihat Little Aresha Daycare, Dosen UGM Ngaku Tak Tahu Struktur Organisasi

News | Jum'at, 29 Mei 2026 | 15:00 WIB

Ada Kim Woo Bin, Variety Show Farm Operation: Go Go Farm Tayang 19 Juni

Ada Kim Woo Bin, Variety Show Farm Operation: Go Go Farm Tayang 19 Juni

Your Say | Jum'at, 29 Mei 2026 | 12:35 WIB

8 Fakta Dugaan Kekerasan Seksual di Ponpes Pekalongan, Korban Disebut Mencapai Puluhan

8 Fakta Dugaan Kekerasan Seksual di Ponpes Pekalongan, Korban Disebut Mencapai Puluhan

News | Kamis, 28 Mei 2026 | 17:08 WIB

376 Ribu Kasus Kekerasan Terhadap Perempuan dalam Setahun, Indonesia Masih Darurat KDRT

376 Ribu Kasus Kekerasan Terhadap Perempuan dalam Setahun, Indonesia Masih Darurat KDRT

Entertainment | Kamis, 28 Mei 2026 | 13:46 WIB

Kepala Ditindih TV Rusak! Siswi SD Makassar Tewas di Toilet Rumah Kosong Usai Diperkosa Tetangga

Kepala Ditindih TV Rusak! Siswi SD Makassar Tewas di Toilet Rumah Kosong Usai Diperkosa Tetangga

News | Kamis, 28 Mei 2026 | 13:43 WIB

Hutan Bukan Milik Negara: Mengapa Masyarakat Adat Papua Menolak Skema Perhutanan Sosial?

Hutan Bukan Milik Negara: Mengapa Masyarakat Adat Papua Menolak Skema Perhutanan Sosial?

News | Kamis, 28 Mei 2026 | 14:05 WIB

Konflik Papua Tak Kunjung Usai, Komnas HAM Desak Tiga Pihak Ini Segera Duduk Bersama

Konflik Papua Tak Kunjung Usai, Komnas HAM Desak Tiga Pihak Ini Segera Duduk Bersama

News | Selasa, 26 Mei 2026 | 16:17 WIB

Terkini

Toko Kosmetik di Sawah Besar Digerebek, Ternyata 'Gudang' Ribuan Butir Pil Tramadol dan Hexymer

Toko Kosmetik di Sawah Besar Digerebek, Ternyata 'Gudang' Ribuan Butir Pil Tramadol dan Hexymer

News | Minggu, 31 Mei 2026 | 17:00 WIB

Berawal Kenalan, Anak di Bawah Umur jadi Korban Kekerasan Seksual Pemuda di Tambora

Berawal Kenalan, Anak di Bawah Umur jadi Korban Kekerasan Seksual Pemuda di Tambora

News | Minggu, 31 Mei 2026 | 16:00 WIB

PSI Lampung Siaga Satu Sambut Jokowi, Siapkan Agenda Besar Bareng Relawan Gibran

PSI Lampung Siaga Satu Sambut Jokowi, Siapkan Agenda Besar Bareng Relawan Gibran

News | Minggu, 31 Mei 2026 | 15:42 WIB

Kabar Duka, Eks Menhan Jenderal Ryamizard Ryacudu Meninggal Dunia di RSPAD

Kabar Duka, Eks Menhan Jenderal Ryamizard Ryacudu Meninggal Dunia di RSPAD

News | Minggu, 31 Mei 2026 | 15:38 WIB

Tragedi Pantai Ampenan Berakhir Duka, Jasad Bocah 9 Tahun Ditemukan Mengapung di Perairan Bintaro

Tragedi Pantai Ampenan Berakhir Duka, Jasad Bocah 9 Tahun Ditemukan Mengapung di Perairan Bintaro

News | Minggu, 31 Mei 2026 | 15:30 WIB

Dulu Cap PKI Sekarang 'Antek Asing', Pola Lama Bungkam Kritik dengan Wajah Baru

Dulu Cap PKI Sekarang 'Antek Asing', Pola Lama Bungkam Kritik dengan Wajah Baru

News | Minggu, 31 Mei 2026 | 15:10 WIB

Terduga Pembunuh Wanita Muda di Hotel Kebayoran Baru Ditangkap

Terduga Pembunuh Wanita Muda di Hotel Kebayoran Baru Ditangkap

News | Minggu, 31 Mei 2026 | 15:00 WIB

Gugur Gunung Tandang Gawe, Saat Wayang Bicara Soal Kriminalisasi dan Ketimpangan Sosial

Gugur Gunung Tandang Gawe, Saat Wayang Bicara Soal Kriminalisasi dan Ketimpangan Sosial

News | Minggu, 31 Mei 2026 | 14:35 WIB

Jokowi Dijadwalkan Kunjungi Lampung Akhir Juni, PSI Sebut Antusiasme Warga Tinggi

Jokowi Dijadwalkan Kunjungi Lampung Akhir Juni, PSI Sebut Antusiasme Warga Tinggi

News | Minggu, 31 Mei 2026 | 14:25 WIB

Buntut Aksi Anarkis Viral di Tol JORR, Sopir Taksi Online Diciduk Polisi di Ciputat

Buntut Aksi Anarkis Viral di Tol JORR, Sopir Taksi Online Diciduk Polisi di Ciputat

News | Minggu, 31 Mei 2026 | 14:20 WIB