Samakan Game Online dengan Opium, China Batasi Waktu Main 3 Jam Seminggu

Reza Gunadha, ABC

Selasa, 07 September 2021 | 16:08 WIB
Samakan Game Online dengan Opium, China Batasi Waktu Main 3 Jam Seminggu
Ilustrasi game online. (Pexels/RODNAE Productions).

Suara.com - Pemerintah China resmi memberi batasan waktu bermain game online bagi anak-anak dan remaja. Aturan itu mulai diberlakukan pekan ini.

Anak di bawah 18 tahun kini dilarang bermain game dari hari Senin sampai Kamis dan hanya diperbolehkan melakukannya satu jam di hari Jumat, Sabtu, Minggu, dan saat hari libur nasional.

Para ahli mengatakan larangan itu dibuat untuk melindungi kesehatan fisik dan mental anak-anak, tapi tidak semua orang menyetujuinya.

Yan Zhiming, seorang ayah dari Nanjing, China timur, mempertanyakan perlunya aturan tersebut.

"Banyak orangtua mendaftarkan anak-anak mereka dalam kursus keterampilan," katanya, mengacu pada program ekstrakurikuler olahraga dan musik.

"[Jadi] si kecil tidak punya banyak waktu untuk bermain [game online]."

Yan mengatakan bahwa pengaturan waktu bermain seharusnya adalah tanggung jawab orang tua.

"Memang benar beberapa anak memiliki kecanduan game, tapi saya yakin kebiasaan buruk tersebut juga disebabkan dari orangtua mereka," katanya.

"Anak-anak memiliki keinginan alami untuk bermain. Pada akhirnya, adalah orangtua yang harus bertanggung jawab dalam menjaga anak-anak mereka."

baca juga

'Negara tidak perlu ikut campur'

Pembatasan baru China ini juga memicu perdebatan di kalangan orangtua Australia.

Ken Yin, warga Sydney yang pindah ke Australia dari provinsi Guangdong pada tahun 2006 dan memiliki tiga anak, mengatakan bahwa sudah ada cara-cara yang bisa digunakan orangtua untuk mengatur kebiasaan bermain game online anak-anak mereka.

"Anak-anak saya bermain game online. Kami memiliki perangkat lunak yang dapat mengontrol [waktu bermain] mereka," kata Ken.

"Anda bisa menggunakan parental control pada perangkat dan sistem Microsoft, Google dan Apple, seperti berapa lama dapat log in [masuk] ke komputer dan game apa yang dapat dimainkan pada ponsel.

"Kalau kita butuh negara untuk membuat peraturan yang mengontrol waktu main game anak, apa peran orang tua?"

Hugh Davies, ahli game HP dari Universitas RMIT Melbourne, memberatkan pengaruh orangtua bagi anak dan mendorong mereka untuk menjadi panutan.

"Sangat penting juga bagi orang tua untuk merefleksikan berapa banyak waktu yang mereka habiskan di depan layar mulai dari TV, laptop hingga ponsel," kata Dr Davies.

"Bukan hanya untuk menjadi contoh bagi anak-anak mereka, tetapi juga demi kesehatan mereka sendiri."

Pertarungan melawan 'opium spiritual'

Kecanduan game, atau gangguan akibat bermain game, telah bertahun-tahun menjadi permasalahan di China.

Beberapa media yang dikelola pemerintah sampai menyebut game online "opium spiritual".

Menurut data dalam Pusat Informasi Jaringan Internet China, lebih dari 30 persen anak-anak China pada 2018 menderita gangguan akibat bermain game, yang baru-baru ini diakui sebagai penyakit oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Selain membatasi waktu bermain, aturan baru China juga mewajibkan semua game online untuk dihubungkan ke sistem "anti-kecanduan" negara.

Perusahaan game juga dilarang untuk melayani pengguna yang tidak memiliki kartu identitas asli.

Molly Zhao, ibu tunggal yang bekerja sebagai pengusaha dari Sydney, mengatakan dia setuju dengan pendekatan China.

Dia mengaku seringkali menghadapi kesulitan menghentikan putrinya bermain game online selama berjam-jam.

"Biasanya, saya sangat sibuk mengurus pekerjaan sehingga tidak bisa terus-menerus memeriksa apakah anak saya sedang belajar atau bermain game," kata Molly.

"Saya mengerti dan merasa kasihan pada putri saya. Dia merasa kesepian selama lockdown COVID dan cuma dapat menghabiskan waktu dengan teman-temannya melalui permainan itu.

"Tapi terkadang dia bisa bermain game sampai dua atau tiga jam. Itu sudah berlebihan."

Molly mengatakan dia akhirnya mencapai kesepakatan dengan putrinya untuk menghapus aplikasi game dari perangkat mereka.

"Aturan China ini akan sangat melegakan bagi orang tua. Jika Australia menerapkan aturan serupa, saya akan menerimanya," katanya.

"Kalau begitu putri saya bisa memainkan permainannya, dan saya tidak perlu memantau."

Dr Davies mengatakan game online juga memiliki manfaat yang terkadang diremehkan.

"Beberapa orangtua di Australia mengatakan kepada saya bahwa mereka [sampai] mematikan listrik untuk menghentikan anak-anak mereka bermain game online di malam hari," katanya.

"Tetapi penting juga untuk diingat bahwa game menawarkan lebih dari sekadar pelarian atau hiburan untuk anak-anak.

"Game online adalah ruang sosial dan kreatif yang penting bagi anak-anak."

Berdampak pada industri bernilai miliaran dolar

Aturan baru tersebut tentunya berdampak langsung pada industri game online China yang meraih banyak keuntungan.

Harga saham di kedua perusahaan game besar China bernama Tencent dan NetEase, langsung jatuh seminggu setelah aturan diumumkan.

Namun, analis percaya bahwa aturan ini akan memiliki dampak jangka panjang bagi perusahaan game besar.

Menurut Laporan Industri Gaming China, perusahaan gaming mendapatkan total penjualan lebih dari 150 miliar yuan (A$32 miliar) dari 667 juta pemain China pada periode awal tahun 2021.

Perusahaan Tencent mengatakan pemain berusia di bawah 16 tahun hanya menyumbang 2,6 persen dari pendapatan perusahaan game di China.

Perusahaan game online sudah mulai meluncurkan metode baru untuk memastikan aturan terbaru dipatuhi.

Tetapi muncul laporan bahwa beberapa anak menggunakan nomor identifikasi palsu, bahkan beberapa situs ilegal menjual perangkat lunak yang dapat menghasilkan nomor ID dewasa secara acak.

Pihak Tencent mengatakan kepada ABC bahwa mereka menggunakan teknologi baru untuk melindungi anak-anak dari kecanduan bermain game.

"Tencent secara ketat mematuhi dan secara aktif menerapkan persyaratan terbaru dari Pemerintah China," kata juru bicara perusahaan tersebut.

Tencent baru-baru ini meluncurkan teknologi pengenalan wajah dan algoritme yang dapat mengidentifikasi pemain di bawah umur berdasarkan waktu bermain mereka, berapa lama mereka bermain, dan perilaku mereka dalam permainan.

Meskipun ada jaminan dari perusahaan bahwa teknologi pengenalan wajah ini hanya akan digunakan untuk kebaikan bersama, muncul kekhawatiran bahwa sistem pengawasan canggih tersebut akan disalahgunakan untuk memberikan lebih banyak informasi ke dalam algoritme.

Para pakar etika mengatakan bahwa ruang tersebut patut diwaspadai.

Diproduksi oleh Trisha Dantiani dan Natasya Salim dari artikel dalam bahasa Inggris

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Seorang Wanita di China Bikin Bingung Dokter, Ngaku Tidak Tidur selama 40 Tahun

Seorang Wanita di China Bikin Bingung Dokter, Ngaku Tidak Tidur selama 40 Tahun

News | Selasa, 07 September 2021 | 13:40 WIB

Desain Pesawat Demi Ulang Tahun Jimin BTS, Penggemar Dihukum Pemerintah China

Desain Pesawat Demi Ulang Tahun Jimin BTS, Penggemar Dihukum Pemerintah China

Your Say | Selasa, 07 September 2021 | 06:55 WIB

Cerita Ruslan Buton Tangkapi TKA China, Dirayu Mayor TNI Pakai Duit Sekantong

Cerita Ruslan Buton Tangkapi TKA China, Dirayu Mayor TNI Pakai Duit Sekantong

Riau | Selasa, 07 September 2021 | 07:30 WIB

Dua Minggu Menjabat, Dubes Jerman Tewas Mendadak di China

Dua Minggu Menjabat, Dubes Jerman Tewas Mendadak di China

Lampung | Senin, 06 September 2021 | 15:24 WIB

Perempuan di China Meninggal Usai Dosis Kedua, Pemerintah Bantah Terkait Vaksin Covid-19

Perempuan di China Meninggal Usai Dosis Kedua, Pemerintah Bantah Terkait Vaksin Covid-19

Health | Senin, 06 September 2021 | 10:43 WIB

Indonesia-China Mulai Terapkan Kerja Sama Mata Uang Lokal, BNI Hingga BRI Jadi Kunci

Indonesia-China Mulai Terapkan Kerja Sama Mata Uang Lokal, BNI Hingga BRI Jadi Kunci

Bisnis | Senin, 06 September 2021 | 10:07 WIB

Disebut Efektif Untuk Pasien Kritis, China Mulai Uji Klinis Obat Covid-19

Disebut Efektif Untuk Pasien Kritis, China Mulai Uji Klinis Obat Covid-19

Health | Senin, 06 September 2021 | 01:10 WIB

Jejak Niaga China yang Bertahan di Cimahi

Jejak Niaga China yang Bertahan di Cimahi

Jabar | Minggu, 05 September 2021 | 15:28 WIB

Terkini

Teheran Tutup Wilayah Udara Selama Prosesi Pemakaman Ali Khamenei

Teheran Tutup Wilayah Udara Selama Prosesi Pemakaman Ali Khamenei

News | Jum'at, 03 Juli 2026 | 23:24 WIB

Pakar UGM: Wajar Publik Curiga Pengangkatan Komisaris BUMN karena Balas Jasa Politik

Pakar UGM: Wajar Publik Curiga Pengangkatan Komisaris BUMN karena Balas Jasa Politik

News | Jum'at, 03 Juli 2026 | 22:39 WIB

Kronologi Pertemuan Menhut dan Bupati Kuansing, Dari Amplop Sampai Alih Fungsi Hutan

Kronologi Pertemuan Menhut dan Bupati Kuansing, Dari Amplop Sampai Alih Fungsi Hutan

News | Jum'at, 03 Juli 2026 | 22:28 WIB

Penguatan Fiskal hingga Digitalisasi Layanan Masuk 10 Rekomendasi untuk Kota di Indonesia

Penguatan Fiskal hingga Digitalisasi Layanan Masuk 10 Rekomendasi untuk Kota di Indonesia

News | Jum'at, 03 Juli 2026 | 21:39 WIB

Bukan Provokasi, Boikot Pajak Dinilai jadi Hak Pembangkangan Sipil

Bukan Provokasi, Boikot Pajak Dinilai jadi Hak Pembangkangan Sipil

News | Jum'at, 03 Juli 2026 | 21:20 WIB

Minta Bantuan Dana Parpol Naik, ICW Tantang Partai Buka Laporan Keuangan

Minta Bantuan Dana Parpol Naik, ICW Tantang Partai Buka Laporan Keuangan

News | Jum'at, 03 Juli 2026 | 20:59 WIB

Perludem Usul Sistem e-Banpol, Publik Bisa Pantau Penggunaan Dana Partai Secara Real-Time

Perludem Usul Sistem e-Banpol, Publik Bisa Pantau Penggunaan Dana Partai Secara Real-Time

News | Jum'at, 03 Juli 2026 | 20:37 WIB

Vonis Seumur Hidup untuk Priyo, Eksekutor Keji yang Habisi 5 Nyawa di Indramayu

Vonis Seumur Hidup untuk Priyo, Eksekutor Keji yang Habisi 5 Nyawa di Indramayu

News | Jum'at, 03 Juli 2026 | 20:35 WIB

Korban Penyekapan 3 Tahun Bakal Jalani Operasi Bertahap, Begini Kondisinya Kini

Korban Penyekapan 3 Tahun Bakal Jalani Operasi Bertahap, Begini Kondisinya Kini

News | Jum'at, 03 Juli 2026 | 20:05 WIB

Bayar Rp200 Ribu Sebulan Bisa Naik Transjakarta Setiap Hari? Begini Skemanya

Bayar Rp200 Ribu Sebulan Bisa Naik Transjakarta Setiap Hari? Begini Skemanya

News | Jum'at, 03 Juli 2026 | 19:54 WIB

×