alexametrics

Pertama Kali, Indonesia Jadi Presidensi G20 Sampai November 2022

Dwi Bowo Raharjo | Ria Rizki Nirmala Sari
Pertama Kali, Indonesia Jadi Presidensi G20 Sampai November 2022
Menlu RI Retno Marsudi di sela vaksinasi drive thru di GSP UGM, Sabtu (11/09/2021). - (Kontributor SuaraJogja.id/Putu)

Retno menjelaskan mengenai perkiraan situasi dunia pada 2020 di mana telah diperkirakan kalau dunia belum akan sepenuhnya ke luar dari pandemi Covid-19.

Suara.com - Menteri Luar Negeri (Menlu) Retno Marsudi mengungkapkan kalau Indonesia bakal menjadi presidensi perhelatan G20 mulai 1 Desember 2021 hingga 3 November 2022. Ini menjadi kali pertama bagi Indonesia menjadi presidensi sejak G20 didirikan.

Retno mengatakan bahwa serah terima dilakukan saat perhelatan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) di Roma pada 2021. Indonesia akan menjadi presidensi 150 pertemuan negara Argentina, Australia, Brazil, Kanada, China, Uni Eropa, Prancis, Jerman, India, Indonesia, Italia, Jepang, Meksiko, Rusia, Arab Saudi, Afrika Selatan, Korea Selatan, Turki, Inggris, dan Amerika Serikat.

"Ini untuk pertama kalinya Indonesia memegang presidensi G20, sejak G20 didirikan dan ini tentunya merupakan kepercayaan," kata Retno dalam konferensi pers yang disiarkan melalui YouTube Sekretariat Presiden, Selasa (14/9/2021).

Lebih lanjut, Retno menjelaskan mengenai perkiraan situasi dunia pada 2020 di mana telah diperkirakan kalau dunia belum akan sepenuhnya ke luar dari pandemi Covid-19.

Baca Juga: Presidensi G20, Apa Manfaatnya Bagi Ekonomi Indonesia?

Kalau dari aspek kesehatan, WHO menyampaikan harapan di akhir 2021 negara di seluruh dunia dapat melakukan vaksinasi 40 persen dari populasinya. Adapun 70 persen sebagai syarat herd immunity diharapkan dapat dicapai pada pertengahan 2022.

Sementara dari aspek ekonomi, Retno menuturkan ekonomi dunia turun hingga minus 3,2 persen pada 2020 sesuai data IMF. Untuk 2021, terdapat tren positif pertumbuhan yang diperkirakan mencapai 6 persen dan diharapkan dapat terus berlanjut pada 2022.

Selain itu, Retno mengatakan bahwa dunia juga memperkirakan masih adanya kerentanan serta kekhawatiran akan pertumbuhan yang belum akan merata.

"Dari sisi geopolitik diperkirakan rivalitas dari dua kekuatan besar masih akan berlanjut," ujarnya.

Berdasarkan tiga poin tersebut, maka menurut Retno spirit utama dari Indonesia yang menjadi presidensi G20 ialah pulih bersama. Pulih secara bersama itu memerlukan spirit, solidaritas kerja sama, kolaborasi, kemitraan dan inklusivitas.

Baca Juga: Anang Hermansyah Bangun 30 Villa di Bali, Warganet: Duitnya Gak Abis-abis!

"Inklusifitas akan menjadi salah satu kata kunci dalam presidensi G20 Indonesia, Indonesia tidak hanya akan memperhatikan kepentingan anggota G20 saja tapi juga kepentingan negara berkembang dan kelompok rentan."