Bagaimana Deforestasi Picu Krisis Air dan Pangan? Ini Temuan KEHATI

Bimo Aria Fundrika

Selasa, 17 Maret 2026 | 12:30 WIB
Bagaimana Deforestasi Picu Krisis Air dan Pangan? Ini Temuan KEHATI
Ilustrasi deforestasi hutan yang picu krisis iklim (Pexels/Arlind D)
baca 10 detik
  • Permasalahan lingkungan Indonesia terhubung, menciptakan "lingkaran setan" antara deforestasi, krisis air, dan ketahanan pangan.
  • Laporan IEO 2026 menekankan akar masalahnya adalah kebijakan pembangunan sektoral yang tidak terintegrasi dan saling merusak.
  • Solusi utama meliputi transformasi tata kelola terpadu, integrasi kebijakan lintas sektor, dan percepatan pemulihan ekosistem.

Suara.com - Indonesia tengah menghadapi persoalan lingkungan yang tidak berdiri sendiri, melainkan saling terhubung dan memperparah satu sama lain.

Deforestasi memperburuk krisis air, krisis air melemahkan ketahanan pangan, sementara ekspansi energi dan pangan justru semakin menekan hutan.

Pola ini membentuk apa yang disebut sebagai “lingkaran setan tata kelola alam”—di mana kebijakan di satu sektor justru merusak sektor lain.

Laporan Indonesia Environmental Outlook (IEO) 2026 dari Yayasan KEHATI menegaskan bahwa akar masalahnya bukan semata pada kerusakan alam, tetapi pada cara pembangunan dijalankan.

Foto menampilkan ekskavator oranye di tengah hutan lebat, merobohkan pepohonan besar. Sekitarnya dipenuhi batang tumbang, ranting, dan dedaunan berserakan, sementara latar belakang menunjukkan lahan terbuka hasil deforestasi." (Foto: Greensers.Co)
Foto menampilkan ekskavator oranye di tengah hutan lebat, merobohkan pepohonan besar. Sekitarnya dipenuhi batang tumbang, ranting, dan dedaunan berserakan, sementara latar belakang menunjukkan lahan terbuka hasil deforestasi." (Foto: Greensers.Co)

Selama ini, kebijakan hutan, energi, pangan, dan air berjalan sendiri-sendiri, tanpa melihat keterkaitan satu sama lain. Akibatnya, solusi di satu sektor sering kali menciptakan masalah baru di sektor lain.

Tekanan terhadap hutan menjadi salah satu gambaran paling nyata. Dari total kawasan hutan sekitar 125,5 juta hektare, hanya sekitar 95 juta hektare yang masih memiliki tutupan, dan hutan primer tersisa sekitar 47,3 juta hektare.

Deforestasi juga masih berlangsung, bahkan sebagian besar terjadi di dalam wilayah konsesi resmi. Ini menunjukkan bahwa kehilangan hutan bukan hanya akibat aktivitas ilegal, tetapi juga dipengaruhi oleh kebijakan yang sah secara administratif.

Di saat yang sama, berbagai proyek skala besar, mulai dari food estate, perkebunan, hingga pertambangan dan energi, terus mendorong alih fungsi hutan.

Dampaknya tidak hanya pada hilangnya tutupan, tetapi juga rusaknya fungsi ekologis seperti penyimpanan air dan penyerapan karbon. Ketika fungsi ini melemah, risiko banjir, kekeringan, dan kebakaran meningkat, memperdalam krisis yang sudah ada.

baca juga

Direktur Eksekutif Yayasan KEHATI, Riki Frindos, mengingatkan bahwa kekayaan alam Indonesia bisa menjadi sumber krisis jika tidak dikelola dengan tepat.

“Indonesia memiliki kekayaan sumber daya alam yang luar biasa. Namun tanpa tata kelola yang berkelanjutan dan berkeadilan, kekayaan tersebut justru dapat berubah menjadi sumber krisis ekologis dan sosial,” ujarnya. Ia menekankan bahwa pendekatan sektoral perlu ditinggalkan dan digantikan dengan pengelolaan yang terpadu berbasis daya dukung ekosistem.

Pandangan serupa disampaikan Manajer Advokasi Lingkungan KEHATI, Muhamad Burhanudin.

“Selama ini setiap sektor berjalan dengan logikanya sendiri. Target energi bisa merusak hutan, ekspansi pangan merusak tata air, sementara industrialisasi menimbulkan polusi baru. Kondisi ini menciptakan ‘kanibalisme sektoral’,” jelasnya.

Meski tantangannya besar, laporan ini juga menawarkan arah solusi. Pertama, diperlukan transformasi mendasar dalam tata kelola sumber daya alam dengan menempatkan keberlanjutan dan keadilan sebagai fondasi pembangunan.

Kedua, integrasi kebijakan lintas sektor menjadi kunci, melalui mekanisme yang memastikan setiap kebijakan diuji dampaknya terhadap sektor lain dan lingkungan. Ketiga, pemulihan ekosistem harus dipercepat, dengan memperkuat peran masyarakat adat dan lokal sebagai pengelola langsung di lapangan.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Kenapa Plastik Biodegradable Tak Selalu Cepat Terurai? Ini Temuan Terbarunya

Kenapa Plastik Biodegradable Tak Selalu Cepat Terurai? Ini Temuan Terbarunya

News | Selasa, 17 Maret 2026 | 10:58 WIB

Jelang Lebaran, Mendag Budi Santoso Pasang 'Mata' di 550 Pasar Pantau Harga Bapok

Jelang Lebaran, Mendag Budi Santoso Pasang 'Mata' di 550 Pasar Pantau Harga Bapok

Bisnis | Senin, 16 Maret 2026 | 15:01 WIB

Klaim Mendag Busan: Pedagang Mudik, Harga Pangan Tetap Adem di Pasar Rawasari

Klaim Mendag Busan: Pedagang Mudik, Harga Pangan Tetap Adem di Pasar Rawasari

Bisnis | Senin, 16 Maret 2026 | 12:27 WIB

Terkini

15.722 Gempa Susulan Terjadi Usai Flores Diguncang M7,7, BMKG Ungkap Kondisi Terkini

15.722 Gempa Susulan Terjadi Usai Flores Diguncang M7,7, BMKG Ungkap Kondisi Terkini

News | Selasa, 15 September 2026 | 17:23 WIB

Jadi Takut Makan karena Tayangan di Media Sosial? Waspadai Konten Kesehatan yang Menakut-nakuti

Jadi Takut Makan karena Tayangan di Media Sosial? Waspadai Konten Kesehatan yang Menakut-nakuti

Health | Selasa, 15 September 2026 | 17:20 WIB

Industri Telekomunikasi Diminta Perkuat Kolaborasi, Kepercayaan Publik Jadi Taruhan

Industri Telekomunikasi Diminta Perkuat Kolaborasi, Kepercayaan Publik Jadi Taruhan

Tekno | Selasa, 15 September 2026 | 17:19 WIB

Di Mana Nusron Wahid? Absen Rapat DPR Usai Pejabat Kementerian ATR Kena OTT KPK

Di Mana Nusron Wahid? Absen Rapat DPR Usai Pejabat Kementerian ATR Kena OTT KPK

News | Selasa, 15 September 2026 | 17:19 WIB

Review Film Agensi Rumah Tangga: Saat Isu Kerasnya PHK Dibalut Komedi Segar

Review Film Agensi Rumah Tangga: Saat Isu Kerasnya PHK Dibalut Komedi Segar

Your Say | Selasa, 15 September 2026 | 17:18 WIB

Media Asing Sorot Perasaan Purbaya Dipecat Prabowo, Singgung Krisis Kepercayaan Investor

Media Asing Sorot Perasaan Purbaya Dipecat Prabowo, Singgung Krisis Kepercayaan Investor

News | Selasa, 15 September 2026 | 17:17 WIB

Hari ke-8 Pencarian Rombongan Jurnalis: Kabut Tebal, Ombak 2,5 Meter dan Bahaya Erupsi Krakatau

Hari ke-8 Pencarian Rombongan Jurnalis: Kabut Tebal, Ombak 2,5 Meter dan Bahaya Erupsi Krakatau

News | Selasa, 15 September 2026 | 17:13 WIB

IHSG Makin Anjlok Setelah Purbaya Dicopot dari Menkeu, Betah di Level 6.400

IHSG Makin Anjlok Setelah Purbaya Dicopot dari Menkeu, Betah di Level 6.400

Bisnis | Selasa, 15 September 2026 | 17:09 WIB

Kementan Targetkan Ekspor 10.000 Ton Beras ke Palestina

Kementan Targetkan Ekspor 10.000 Ton Beras ke Palestina

Bisnis | Selasa, 15 September 2026 | 17:06 WIB

Aksi Bobol Toko Terpantau CCTV HP, Pencuri di Probolinggo Tewas Dihajar Massa

Aksi Bobol Toko Terpantau CCTV HP, Pencuri di Probolinggo Tewas Dihajar Massa

Jatim | Selasa, 15 September 2026 | 17:06 WIB

×