OPM Ancam Perangi Aparat, Satgas Nemangkawi Ajak Dialog seperti di Aceh

Siswanto, BBC

Senin, 27 September 2021 | 10:03 WIB
OPM Ancam Perangi Aparat, Satgas Nemangkawi Ajak Dialog seperti di Aceh
BBC

Suara.com - Pemerintah Indonesia dan kelompok bersenjata pro-kemerdekaan Papua kembali didesak melakukan "jeda kemanusiaan" untuk mencegah korban berjatuhan menyusul baku tembak yang terjadi di Distrik Kiwirok, Pegunungan Bintang.

Tapi juru bicara kelompok bersenjata pro-kemerdekaan menyatakan tidak akan menghentikan penyerangan selama pemerintah Indonesia tidak mau duduk bersama di meja perundingan yang dimediasi oleh PBB.

Adapun Satgas Nemangkawi mengatakan pihaknya berharap kelompok yang dilabeli teroris kriminal bersenjata itu mau membuka dialog seperti perundingan damai Aceh.

Kelompok bersenjata pro-kemerdekaan Papua mengakui bertanggung jawab atas tewasnya seorang anggota TNI, Pratu Uda Bagus Putu pada Selasa (21/09) dan anggota Brimob Muhammad Kurniadi pada Minggu (26/09).

Insiden baku tembak itu terjadi setelah penyerangan terhadap puskesmas di Distrik Kiwirok yang menyebabkan meninggalnya seorang tenaga kesehatan bernama Gabriella Meilani.

Juru bicara Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat, Sebby Sambom, mengatakan pihaknya akan terus "memerangi aparat keamanan Indonesia" ke seluruh wilayah Papua dan Papua Barat selama pemerintah Indonesia tidak mau duduk bersama di meja perundingan yang dimediasi oleh perwakilan PBB.

"Ini adalah perang pembebasan bangsa Papua Barat untuk kemerdekaan. Karena itu perang tidak akan berhenti dan berlanjut di seluruh kabupaten atau wilayah Papua dan Papua Barat," ujar Sebby Sambom kepada Quin Pasaribu yang melaporkan untuk BBC News Indonesia, Minggu (26/09).

"Kami punya 34 komando wilayah pertahanan. Yang sudah mulai di Intan Jaya, Ndugama, Puncak Jaya, Pegunungan Bintang, Yahukimo, dan Sorong," sambung Sebby.

"Karena itu lebih bagus pemerintah Indonesia membuka diri untuk ke meja perundingan."

baca juga

Karena itulah, ia meminta warga sipil dari luar Papua untuk meninggalkan Papua karena TPNPB tak bisa menjamin keselamatan mereka dalam "perang melawan aparat keamanan Indonesia".

TPNPB dan Pemerintah RI 'harus terapkan jeda kemanusiaan'

Pengacara hak asasi manusia, Yan Christian Warinussy, mendesak kelompok bersenjata pro-kemerdekaan Papua dan pemerintah Indonesia untuk melakukan "jeda kemanusiaan" demi mencegah korban berjatuhan seperti yang menimpa seorang tenaga kesehatan di Distrik Kiwirok, Gabriella Meilani dan anggota dari aparat keamanan.

Sebab kata dia, eskalasi konflik di Papua "sudah tidak bisa lagi dibiarkan" sehingga harus dihentikan.

Ia berkaca pada rentetan peristiwa kekerasan yang lalu. Begitu terjadi penembakan yang menewaskan seorang anggota Polri atau TNI, akan ada warga sipil Papua yang menjadi korban karena dianggap bagian dari kelompok kriminal bersenjata, sebutan pemerintah kepada TPNPB.

"Hari ini ada satu polisi dibunuh, besok atau lusa pasti akan ada korban dari orang Papua dengan gampang dilabelkan pengikut kelompok ini," ujar Yan Christian Warinussy kepada BBC News Indonesia, Minggu (26/9).

Catatan Amnesty Internasional Indonesia sepanjang 2018 hingga 2020 setidaknya ada 53 kasus pembunuhan di luar hukum di Papua dan Papua Barat dengan total 106 korban meninggal.

Namun demikian, seluruh kekerasan itu tidak pernah diselidiki dan pelakunya tak pernah diseret ke pengadilan, ujar Yan. Sehingga aksi-aksi kekerasan serupa terus terjadi.

"Dari kasus ke kasus terjadi, orang yang melakukan atau bertanggung jawab tidak pernah dibawa ke pengadilan. Penegakan hukum tidak pernah jalan dengan baik."

Adapun warga yang akhirnya mengungsi setelah konflik pecah sudah mencapai ribuan. Terakhir, kata Yan, setidaknya ada 3.000 orang dari beberapa kampung di Kabupaten Maybrat, mengungsi setelah konflik antara TPNPB dan TNI-Polri pada September silam.

Sebelumnya pada 2019, sekitar 2.000 warga Kabupaten Nduga mengungsi setelah peristiwa kekerasan bersenjata yang menewaskan 16 pekerja PT Istaka Karya.

Sementara di Distrik Kiwirok, Bupati Pegunungan Bintang, Spei Yan Bidana, mengatakan ada 1.000 warga dari Ibu Kota Distrik Kiwirok mengungsi ke daerah terdekat yang dianggap aman, katanya seperti dilansir Jubi.co.id.

Bagi Yan, pendekatan kekerasan yang diterapkan pemerintah Indonesia untuk menghentikan konflik di Papua tidak akan berhasil.

"Kalau tanpa dialog, tidak akan pernah berakhir kekerasan ini dan semakin menjustifikasi daerah Papua tidak aman. Presiden harus mengambil keputusan untuk melakukan pendekatan lebih humanis."

"Ini (konflik) harus dihentikan dan mari kita bicara."

Satgas Nemangkawi buka dialog

Juru Bicara Satgas Nemangkawi, Ahmad Mustofa Kamal, mengatakan pihaknya berharap kelompok Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat --yang dilabeli pemerintah sebagai kelompok teroris kriminal bersenjata-- mau membuka dialog seperti yang dilakukan saat perundingan damai antara pemerintah Indonesia dengan Gerakan Aceh Merdeka (GAM).

Cara itu, menurut dia, lebih baik ketimbang terus menerus dengan kekerasan.

"Silakan ada jalur-jalur komunikasi dengan sistem politik seperti yang dilakukan di Aceh, ada permufakatan dan kesepakatan. Itu harapan kita semua, sehingga bisa melakukan aktivitas dengan baik dan kebersamaan," kata Ahmad Mustofa Kamal kepada BBC News Indonesia, Minggu (26/09).

"Kita juga enggak mau perang setiap hari. Begitu ada kekerasan pasti ada yang menangis," sambungnya.

Kata Musofa Kamal, aksi-aksi kekerasan di Papua meningkat dalam setahun terakhir. Ia mengeklaim di Pegunungan Bintang, yang selama ini aman dari serangan TPNPB.

Untuk mengejar pelaku penyerangan puskesmas di Distrik Kiwirok, Satgas Nemangkawi mengerahkan setidaknya 50 personel.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Perang Rebutan Lahan Pecah! 52 Orang Tewas di Kolombia

Perang Rebutan Lahan Pecah! 52 Orang Tewas di Kolombia

News | Jum'at, 29 Mei 2026 | 07:20 WIB

Baku Tembak di Tembagapura: TNI Lumpuhkan Kelompok Bersenjata, 1 Tewas dan 6 Ditangkap

Baku Tembak di Tembagapura: TNI Lumpuhkan Kelompok Bersenjata, 1 Tewas dan 6 Ditangkap

News | Rabu, 04 Maret 2026 | 14:38 WIB

Genosida Mengerikan di Suriah: Jasad Korban Ditinggalkan di Lembah dan Pegunungan!

Genosida Mengerikan di Suriah: Jasad Korban Ditinggalkan di Lembah dan Pegunungan!

News | Kamis, 13 Maret 2025 | 06:33 WIB

Taliban Bebaskan 2 Warga AS, Tukar dengan Gembong Narkoba

Taliban Bebaskan 2 Warga AS, Tukar dengan Gembong Narkoba

News | Rabu, 22 Januari 2025 | 04:30 WIB

Suriah Bubarkan Semua Kelompok Bersenjata! HTS Umumkan Era Baru Tanpa Milisi

Suriah Bubarkan Semua Kelompok Bersenjata! HTS Umumkan Era Baru Tanpa Milisi

News | Senin, 16 Desember 2024 | 08:37 WIB

Warga Suriah Rayakan Kebebasan dari Rezim Assad

Warga Suriah Rayakan Kebebasan dari Rezim Assad

News | Senin, 09 Desember 2024 | 14:23 WIB

Rezim Assad Runtuh, Kelompok Bersenjata HTS Masuki Damaskus!

Rezim Assad Runtuh, Kelompok Bersenjata HTS Masuki Damaskus!

News | Minggu, 08 Desember 2024 | 15:03 WIB

Haiti Kembali Berlumuran Darah, Serangan Geng Brutal Tewaskan Warga Arcahaie

Haiti Kembali Berlumuran Darah, Serangan Geng Brutal Tewaskan Warga Arcahaie

News | Jum'at, 11 Oktober 2024 | 19:55 WIB

Begini Kronologi 2 Anak yang TerkenaTembakan saat Aparat Baku Tembak dengan Kelompok Pro-Kemerdekaan di Papua

Begini Kronologi 2 Anak yang TerkenaTembakan saat Aparat Baku Tembak dengan Kelompok Pro-Kemerdekaan di Papua

Video | Minggu, 14 April 2024 | 19:00 WIB

Serangan di Teater Dekat Moskow Tewaskan Puluhan Orang, Kemlu RI: Tidak Ada WNI Jadi Korban

Serangan di Teater Dekat Moskow Tewaskan Puluhan Orang, Kemlu RI: Tidak Ada WNI Jadi Korban

News | Sabtu, 23 Maret 2024 | 12:00 WIB

Terkini

Polisi Kembali Tangkap 2 Pelaku Penyerangan yang Tewaskan Tiga Anggota Polri di Katingan

Polisi Kembali Tangkap 2 Pelaku Penyerangan yang Tewaskan Tiga Anggota Polri di Katingan

News | Rabu, 08 Juli 2026 | 19:36 WIB

Mitra MBG Tuntut Kepastian Program, Khawatir Rakyat Kecil Terdampak

Mitra MBG Tuntut Kepastian Program, Khawatir Rakyat Kecil Terdampak

News | Rabu, 08 Juli 2026 | 19:30 WIB

Brankas Rahasia di Cafe de'CLAN Signature Berisi Tumpukan Dolar AS-SGD, Nilainya Fantastis!

Brankas Rahasia di Cafe de'CLAN Signature Berisi Tumpukan Dolar AS-SGD, Nilainya Fantastis!

News | Rabu, 08 Juli 2026 | 19:26 WIB

Berangkat Kamis Malam, Delegasi RI Bertolak ke Iran Hadiri Pemakaman Ali Khamenei

Berangkat Kamis Malam, Delegasi RI Bertolak ke Iran Hadiri Pemakaman Ali Khamenei

News | Rabu, 08 Juli 2026 | 19:23 WIB

Gibran Bukan Panglima! Pakar UGM: Keamanan Papua Tetap Tanggung Jawab TNI dan Polri

Gibran Bukan Panglima! Pakar UGM: Keamanan Papua Tetap Tanggung Jawab TNI dan Polri

News | Rabu, 08 Juli 2026 | 19:14 WIB

MPR dan MK Bahas Amandemen UUD 1945 Jelang Sidang Tahunan

MPR dan MK Bahas Amandemen UUD 1945 Jelang Sidang Tahunan

News | Rabu, 08 Juli 2026 | 19:13 WIB

Panja Belum Bentuk, Komisi II DPR 'Diam-diam' Bahas 28 DIM RUU Pemilu

Panja Belum Bentuk, Komisi II DPR 'Diam-diam' Bahas 28 DIM RUU Pemilu

News | Rabu, 08 Juli 2026 | 18:53 WIB

Jangan Berani Hambat! Polisi Bidik Pidana Bagi Penghalang Penggeledahan di  Cafe de'CLAN Signature

Jangan Berani Hambat! Polisi Bidik Pidana Bagi Penghalang Penggeledahan di Cafe de'CLAN Signature

News | Rabu, 08 Juli 2026 | 18:39 WIB

Jejak Kelam Tenda Biru Bekasi: 8 Anak Dijual Jadi PSK, Omzet Tembus Rp1,7 Miliar

Jejak Kelam Tenda Biru Bekasi: 8 Anak Dijual Jadi PSK, Omzet Tembus Rp1,7 Miliar

News | Rabu, 08 Juli 2026 | 18:34 WIB

Nasib RUU Pemilu Digantung? Komisi II Buka-bukaan Disuruh 'Tunggu' Oleh Pimpinan DPR

Nasib RUU Pemilu Digantung? Komisi II Buka-bukaan Disuruh 'Tunggu' Oleh Pimpinan DPR

News | Rabu, 08 Juli 2026 | 18:25 WIB

×