Tudingan Gatot TNI Disusupi PKI, Perdebatan Usang yang Harus Ditertibkan

Siswanto | BBC | Suara.com

Rabu, 29 September 2021 | 16:54 WIB
Tudingan Gatot TNI Disusupi PKI, Perdebatan Usang yang Harus Ditertibkan
BBC

Suara.com - Pernyataan bekas Panglima TNI Gatot Nurmantyo yang menyebut institusi TNI telah disusupi ideologi komunisme, disebut sebagai perdebatan usang yang ditujukan untuk menebalkan posisinya berlawanan dengan pemerintah.

Namun begitu pernyataan tanpa didukung bukti tersebut, kata pengamat politik, harus ditertibkan agar tidak dianggap menjadi sebuah kebenaran bagi kelompok masyarakat tertentu.

Adapun perwakilan dari penyintas korban peristiwa 1965 menantang Gatot Nurmantyo membuktikan tuduhannya dan mendesak pemerintah menyelesaikan tragedi 1965 agar tidak terus dimanfaatkan para elit politik.

Dalam diskusi virtual bertema TNI vs PKI yang digelar oleh Himpinan Mahasiswa Islam, bekas Panglima TNI Gatot Nurmantyo yang diundang sebagai pembicara menyebut Tentara Nasional Indonesia telah disusupi paham komunisme.

Klaim itu ia dasarkan pada hilangnya patung diorama Soeharto, Sarwo Edie dan Jenderal AH Nasution di Museum Darma Bhakti Kostrad.

"Ini berarti sudah ada penyusupan di dalam tubuh TNI," kata Gatot.

Patung diorama itu, sambungnya mengisahkan sebuah "perencanaan bagaimana mengatasi pemberontakan 30 September, di mana Soeharto sedang memberikan petunjuk kepada Sarwo Edie sebagai Komandan Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD)".

Pengamat politik dari Universitas Paramadina, Ahmad Khoirul Umam menilai apa yang diutarakan Gatot Nurmantyo merupakan perdebatan usang sekaligus ingin mempertegas posisinya sebagai pihak oposisi pemerintah yang ia anggap telah dirasuki "komunis gaya baru".

Cara seperti ini -yakni melabeli pihak lawan dengan komunis atau anti-komunis- menurut Khoirul semestinya tidak lagi dipakai di era demokrasi.

Sebab isu yang tidak bisa dipastikan kebenarannya itu bakal ditelan bulat-bulat oleh kelompok masyarakat tertentu. Lalu dimanfaatkan demi kepentingan tertentu, semisal menghantam pihak yang berseberangan.

"Kelompok masyarakat menengah ke bawah dengan level pendidikan rendah atau kelompok Islam konservatif terbawa narasi ini. Meskipun secara kuantitatif tidak dominan, tapi masih ada yang mengkonsumsi," jelas Khoirul kepada Quin Pasaribu yang melaporkan untuk BBC News Indonesia, Selasa (28/9).

Lebih dari itu, ia khawatir jika narasi tanpa landasan bukti kuat ini terus dibiarkan, maka akan semakin banyak orang yang percaya.

"Sekarang porsinya masih kecil, ke depan jika diteruskan, lama-lama orang percaya juga. Karena diulang-ulang sehingga dianggap sebuah kebenaran baru."

Itu mengapa, ia menilai narasi sumbang tentang PKI harus ditangkis dan "ditertibkan".

Mulai dari membangun komunikasi di masyarakat tentang keberagaman yang moderat, rasional, dan inklusif.

Kemudian Kementerian Komunikasi dan Informatika dan Polri menindak pihak-pihak yang memanfaatkan narasi sumbang tersebut untuk menjatuhkan pihak lain.

"Jangan gamang, tindak, hentikan. Bisa dengan menghapus konten itu."

"Karena masyarakat kita begitu simplistis dalam mencerna informasi. Akhirnya kemudian begitu mudah melakukan labeling dan itu tidak cerdas."

Seperti apa isu PKI di ranah digital?

Pengamat politik Ahmad Khoirul Umam mengatakan di era digital semua narasi termasuk kebangkitan PKI berpotensi "dijual" jika digarap sedemikian rupa.

Pendiri Drone Emprit, Ismail Fahmi mengatakan hasil analisis tentang PKI di media sosial pada rentang tahun 2017 sampai 2020 menyebutkan, tren percakapan "PKI" selalu ramai jelang 30 September.

Pada tahun 2018-2019, tren percakapan soal PKI tinggi lantaran bersamaan dengan kontestasi politik Pilpres dan narasi tersebut menjadi salah satu komoditas kampanye.

Di tahun 2020, isu PKI kembali mencuat karena Gatot Nurmantyo menginstruksikan jajarannya menonton film G30S, bersamaan dengan stasiun televisi TVOne menayangkan film tersebut.

Catatan Ismail Fahmi, pihak yang meriuhkan isu PKI di ranah digital adalah kelompok oposisi sekaligus pemengaruh seperti politisi Partai Gerindra Fadli Zon, pendakwah Haikal Hassan, anak bekas presiden Tommy Soeharto.

Namun demikian, kata Fahmi, sejak tahun 2020 percakapan mengenai PKI tidak lagi dikuasai satu narasi tunggal.

"Percakapan pecah antara pro dan kontra."

Pihak yang kontra, mayoritas dari generasi milenial dan generasi Z.

"Mereka melihat isu PKI dari perspektif lain. Mulai mempertanyakan dan mengajak untuk move on deh."

Sejalan dengan hasil survei Saiful Mujani Research and Consulting pada tahun 2020 bertajuk "Sikap Publik atas Isu Kebangkitan PKI yang melibatkan 1.203 responden berusia 17 tahun ke atas.

Ditemukan sebanyak 14% masyarakat memercayai isu tersebut dan 22% tidak percaya.

Dari persentase responden yang memercayai isu itu, sebanyak 79% di antaranya menganggap kebangkitan PKI sebagai ancaman.

YPKP tantang Gatot Nurmantyo buktikan ucapannya

Ketua Yayasan Penelitian Korban Pembunuhan 1965/1966, Bedjo Untung menyebut apa yang disampaikan bekas jenderal Gatot Nurmantyo bahwa "keturunan dan pendukung PKI telah menjelma menjadi komunis gaya baru yang akan menguasai Indonesia dengan mengganti Pancasila" sebagai ucapan yang tidak masuk akal.

"Itu adalah hoaks, kebohongan," ujar Bedjo Untung kepada BBC News Indonesia.

Sebab kata Bedjo, pemerintah telah membubarkan partai itu serta menetapkannya sebagai organisasi terlarang melalui Keputusan Nomor 1/3/1966 dan Ketetapan MPRS Nomor XXV/1966.

Sehingga ia menantang Gatot Nurmantyo untuk membuktikan ucapannya.

"Saya menantang Gatot Nurmantyo untuk menunjukkan di mana PKI? Kalau ada silakan tangkap. Mari kita ungkap bersama di depan publik."

Bedjo juga mengatakan narasi sumbang kebangkitan PKI akan terus didengungkan selama pemerintah tidak berani menyelesaikan tragedi 1965 secara yudisial.

Padahal rekomendasi atas penyelidikan Komnas HAM mengatakan ada pelanggaran HAM berat dalam peristiwa 1965. Komnas juga mendesak supaya para pejabat militer yang terlibat dibawa ke pengadilan.

"Saya mendorong supaya pemerintah membuka dialog, mari kita lakukan pengungkapan kebenaran. Karena belum ada [penyelesaian] inilah akibatnya."

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Sudah Cair? Ungkap Karakter Asli Keuangan Kamu
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pecahkan 10 Kasus Misterius Ini, Kamu Detektif atau Cuma Amatir?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA SD: 15 Soal Matematika Materi Pecahan Senilai Beserta Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Beserta Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Berapa Life Path Number Kamu? Hitung Sekarang dan Lihat Rahasia Kepribadianmu
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Sekjen KAKI: Menhan Sjafrie Sjamsoeddin Harus Nasehati Gatot Nurmantyo Dkk

Sekjen KAKI: Menhan Sjafrie Sjamsoeddin Harus Nasehati Gatot Nurmantyo Dkk

News | Senin, 16 Februari 2026 | 08:47 WIB

Pengamat: Dasco Temani Prabowo saat Umumkan Kabinet Jadi Simbol Partisipasi Rakyat

Pengamat: Dasco Temani Prabowo saat Umumkan Kabinet Jadi Simbol Partisipasi Rakyat

News | Kamis, 05 Februari 2026 | 14:13 WIB

Gatot Nurmantyo: Ancaman Terbesar Prabowo Bukan dari Luar, tapi Pembusukan dari Dalam

Gatot Nurmantyo: Ancaman Terbesar Prabowo Bukan dari Luar, tapi Pembusukan dari Dalam

News | Selasa, 23 Desember 2025 | 10:32 WIB

Eks Panglima TNI Sebut Prabowo Bisa Kena Imbas Pelanggaran HAM Berat jika Tak Copot Kapolri

Eks Panglima TNI Sebut Prabowo Bisa Kena Imbas Pelanggaran HAM Berat jika Tak Copot Kapolri

News | Kamis, 11 September 2025 | 17:08 WIB

Soal Wacana Darurat Militer, Gatot Nurmantyo Ungkap Dampak Mengerikan Jika Prabowo Nekat Setujui

Soal Wacana Darurat Militer, Gatot Nurmantyo Ungkap Dampak Mengerikan Jika Prabowo Nekat Setujui

News | Kamis, 11 September 2025 | 12:59 WIB

Gatot Kritik Penyebaran Video Penangkapan Anggota BAIS: Ada Pembentukan Opini Mendiskreditkan TNI

Gatot Kritik Penyebaran Video Penangkapan Anggota BAIS: Ada Pembentukan Opini Mendiskreditkan TNI

News | Kamis, 11 September 2025 | 11:03 WIB

Ucapkan Selamat Pada Jokowi, Jenderal Gatot: Karena Sudah Merusak Negeri Ini

Ucapkan Selamat Pada Jokowi, Jenderal Gatot: Karena Sudah Merusak Negeri Ini

News | Senin, 08 September 2025 | 18:21 WIB

Ada Bom Waktu Incar Pemakzulan Prabowo, Eks Panglima TNI Ungkap Upaya Sabotase di Lingkar Pemerintah

Ada Bom Waktu Incar Pemakzulan Prabowo, Eks Panglima TNI Ungkap Upaya Sabotase di Lingkar Pemerintah

News | Rabu, 20 Agustus 2025 | 07:32 WIB

Eks Panglima TNI Bongkar Alasan Prabowo Pilih Gibran Jadi Cawapres: Ada Ancaman dari Sang Paman

Eks Panglima TNI Bongkar Alasan Prabowo Pilih Gibran Jadi Cawapres: Ada Ancaman dari Sang Paman

News | Senin, 14 Juli 2025 | 16:22 WIB

Ditegur Dudung Abdurachman, Hercules Akhirnya Minta Maaf ke Gatot Nurmatyo dan Yayat Sudrajat

Ditegur Dudung Abdurachman, Hercules Akhirnya Minta Maaf ke Gatot Nurmatyo dan Yayat Sudrajat

News | Sabtu, 17 Mei 2025 | 10:53 WIB

Terkini

Belanja Pegawai Mau Dibatasi 30 Persen APBD, Pemprov DKI Pastikan PPPK Jakarta Tak Dikorbankan

Belanja Pegawai Mau Dibatasi 30 Persen APBD, Pemprov DKI Pastikan PPPK Jakarta Tak Dikorbankan

News | Senin, 30 Maret 2026 | 07:14 WIB

Earth Hour 2026: Pertamina Hemat 9 MW Energi dan Tekan 2 Ton Emisi CO2

Earth Hour 2026: Pertamina Hemat 9 MW Energi dan Tekan 2 Ton Emisi CO2

News | Senin, 30 Maret 2026 | 07:11 WIB

Arus Balik Lebaran 2026 Melandai, Jasa Marga: 2,9 Juta Kendaraan Sudah Masuk Jakarta

Arus Balik Lebaran 2026 Melandai, Jasa Marga: 2,9 Juta Kendaraan Sudah Masuk Jakarta

News | Senin, 30 Maret 2026 | 07:03 WIB

Dua 'Pesawat Super' Milik AS Hancur, Kekuatan Militer Iran Kejutkan Dunia

Dua 'Pesawat Super' Milik AS Hancur, Kekuatan Militer Iran Kejutkan Dunia

News | Minggu, 29 Maret 2026 | 21:47 WIB

Aparat Israel Halangi Pemimpin Gereja Masuk Makam Kudus di Misa Minggu Palma

Aparat Israel Halangi Pemimpin Gereja Masuk Makam Kudus di Misa Minggu Palma

News | Minggu, 29 Maret 2026 | 21:13 WIB

Pesawat AWACS E-3 Milik AS Hancur Kena Serangan Iran di Arab Saudi

Pesawat AWACS E-3 Milik AS Hancur Kena Serangan Iran di Arab Saudi

News | Minggu, 29 Maret 2026 | 20:19 WIB

Realisasi Bantuan Jaminan Hidup Terus Meningkat, Jadi Penunjang Hidup Penyintas

Realisasi Bantuan Jaminan Hidup Terus Meningkat, Jadi Penunjang Hidup Penyintas

News | Minggu, 29 Maret 2026 | 18:33 WIB

Prabowo dan Takaichi Bakal Teken Kesepakatan Baru? Bocoran Topik Krusial dari Tokyo

Prabowo dan Takaichi Bakal Teken Kesepakatan Baru? Bocoran Topik Krusial dari Tokyo

News | Minggu, 29 Maret 2026 | 18:23 WIB

PP TUNAS Mulai Berlaku, Kemenag Perkuat Literasi Digital di Pesantren dan Madrasah

PP TUNAS Mulai Berlaku, Kemenag Perkuat Literasi Digital di Pesantren dan Madrasah

News | Minggu, 29 Maret 2026 | 18:05 WIB

Kejar Target April 2026, Pemerintah Tambah Lokasi Sekolah Rakyat di Bogor

Kejar Target April 2026, Pemerintah Tambah Lokasi Sekolah Rakyat di Bogor

News | Minggu, 29 Maret 2026 | 17:35 WIB