Dokter dan Perawat yang Menentang Rezim Militer Kerja Sembunyi-sembunyi

Siswanto, BBC

Senin, 10 Januari 2022 | 13:59 WIB
Dokter dan Perawat yang Menentang Rezim Militer Kerja Sembunyi-sembunyi
BBC

Suara.com - Sebagian pesar pelayanan medis di Myanmar kini berjalan di luar rumah sakit milik negara, sebab para dokter dan perawat lebih memilih setia kepada Pemerintah Persatuan Nasional (NUG) yang menantang legitimasi junta militer, kata para pekerja medis di negara itu kepada BBC.

Sebagian besar nama orang yang diwawancarai telah diubah demi keamanan mereka.

Perlawanan mereka terhadap kudeta Myanmar -yang terjadi pada 1 Februari 2021- berawal ketika sejumlah tenaga kesehatan memboikot rumah sakit yang dikelola pemerintah. Mereka menjadi salah satu yang pertama berunjuk rasa di jalanan dan menyebutnya sebagai "revolusi jas putih".

Hal itu menempatkan petugas medis pada posisi yang bertentangan dengan junta, sehingga menyebabkan pelayanan kesehatan berjalan sembunyi-sembunyi 'di bawah tanah'.

Di berbagai daerah, lebih dari 70% tenaga kesehatan meninggalkan pekerjaan di rumah sakit dan pasien mereka. Tentu itu adalah keputusan yang sulit secara etika, tetapi dokter-dokter senior di Myanmar menyampaikan pertimbangan mereka melalui surat kepada jurnal medis The Lancet.

"Tugas kami sebagai dokter adalah memprioritaskan perawatan pasien, tetapi bagaimana mungkin kami melakukannya di bawah sistem militer yang melanggar hukum, tidak demokratis, dan menindas?"

"50 tahun pemerintahan militer sebelumnya telah gagal mengembangkan sistem kesehatan Myanmar, dan justru melanggengkan kemiskinan, ketidaksetaraan, serta perawatan medis yang tidak memadai. Kami tidak ingin kembali ke situasi itu."

Seorang dosen di Universitas Keperawatan Yangon bernama Grace, mengatakan bahwa mereka "memilih bergabung dengan CDM [gerakan pembangkangan sipil]."

"Setiap pukul 8 malam kami menabuh panci dan menyanyikan lagu-lagu revolusioner di depan kampus. Kami sangat marah. Bagaimana bisa mereka [junta] menangkap pemimpin kami setelah mereka kalah dalam pemilu?"

Baca juga:

Grace merupakan satu dari ribuan tenaga medis yang kehilangan akomodasi akibat meninggalkan pekerjaannya. Dia memilih bergabung dengan aksi protes dengan cara membantu orang-orang yang terluka.

"Kami menyiapkan ambulans apabila ada seseorang yang tertembak. Kekhawatiran terbesar kami adalah bagaimana mengevakuasi mereka ke tempat yang aman."

"Untuk orang yang mengalami luka ringan, kami bisa membawa mereka ke ambulans dan merawatnya di sana. Tetapi untuk orang yang tertembak, kami harus mencari rute aman ke klinik yang kami dirikan di kuil dan kompleks biara."

Di tengah keputusasaan ini, mereka membangun sistem kesehatan bayangan yang gagasan awalnya berada di bawah otoritas NUG, otoritas tandingan yang dideklarasikan pada April lalu untuk menentang junta.

Namun kenyataannya, sistem kesehatan bayangan ini dijalankan oleh ribuan sukarelawan di seluruh negeri di klinik amal dan rumah sakit swasta yang pemiliknya bersedia mengambil risiko. Mereka berkomunikasi melalui aplikasi yang terenkripsi agar tidak terdeteksi.

Mereka menyediakan pelayanan medis yang tidak lagi tersedia di rumah sakit pemerintah karena kekurangan staf dan cenderung dihindari oleh pasien yang menentang kudeta.

Dr Zaw Wai Soe, yang merupakan spesialis ortopedi sekaligus tokoh sentral dalam pemerintahan yang digulingkan untuk menangani Covid-19, merupakan Menteri Kesehatan NUG.

Dia menolak tawaran dari militer untuk menjadi wakil menteri kesehatan mereka, lalu memilih bersembunyi. Hal itu membuat Dr Zaw Wai Soe didakwa atas tuduhan pengkhianatan oleh militer.

NUG mengumpulkan dana dari diaspora Myanmar yang tinggal di luar negeri untuk mendukung para sukarelawan. Dia membuat layanan telemedicine melalui halaman Facebook, agar pasien bisa mendapat saran medis dari dokter-dokter yang bersembunyi.

"Kami tidak memiliki cukup uang," kata Zaw Wai Soe kepada BBC, dari lokasi yang dirahasiakan.

"Kami mendapat dukungan dari masyarakat lokal dan para diaspora, tapi itu tidak cukup. Kami berusaha sekuat yang kami bisa untuk menyediakan layanan kesehatan yang layak."

Pekerjaan berbahaya

Bekerja "di bawah tanah" dan bertentangan dengan militer tentu berbahaya.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada Juli lalu mencatat bahwa setengah dari 500 serangan terhadap petugas kesehatan di dunia terjadi di Myanmar.

Laporan serupa di Universitas Manchester juga menyebutkan bahwa pada periode yang sama, sebanyak 25 tenaga kesehatan di Myanmar tewas, 190 orang ditangkap, dan 55 rumah sakit telah diduduki militer.

Luke merupakan seorang perawat ICU di sebuah rumah sakit swasta di wilayah Mandalay. Dia meninggalkan pekerjaannya segera setelah kudeta karena pemilik rumah sakit tempat dia bekerja berhubungan dekat dengan militer. Luke kemudian memimpin aksi protes.

"Mereka menangkap saya pada 5 April dan membawa saya ke Istana Mandalay (pusat komando militer di kota itu). Mereka berjanji tidak menyakiti kami, tetapi begitu kami tiba di sana, mereka memukuli dan menginterogasi kami."

"Setelah itu mereka mengirim kami ke penjara Obo. Ada 50 orang dan kami ditahan di satu ruangan. Kami semua harus berbagi satu toilet, hanya bisa mandi sekali sehari, padahal saat itu musim panas. Kami juga tidak punya cukup air minum."

Baca juga:

Luke ditahan di penjara itu selama 87 hari dan akhirnya dibebaskan melalui pengampunan. Sekarang dia bekerja di ruang operasi yang tersembunyi di kontainer di wilayah Mandalay.

"Pencahayaannya tidak terlalu bagus, tapi kami berusaha melakukan apa yang kami bisa."

"Saat di penjara saya melihat beberapa luka tembak tidak dirawat dengan baik di rumah sakit milik pemerintah, sehingga beberapa orang meninggal akibat luka itu."

"Rumah sakit pemerintah memang memiliki peralatan yang lebih baik, tetapi mereka tidak memiliki banyak dokter spesialis dan perawat yang terampil. Mereka sering menolak pasien yang kritis. Saya rasa perawatan medis kami justru lebih baik, karena kami memiliki lebih banyak spesialis dibanding mereka, hanya saja kami tidak bisa bekerja secara terbuka."

Beberapa perawat bercerita kepada BBC bagaimana mereka bekerja di klinik amal tersembunyi di wilayah Yangon dan Mandalay, yang disamarkan sebagai tempat tes Covid-19 demi menghindari penangkapan oleh militer. Sebagian besar telah berpindah tempat beberapa kali karena khawatir ditangkap.

Mereka pergi bekerja mengenakan pakaian biasa, bukan seragam tenaga kesehatan, dan meninggalkan ponsel mereka untuk berjaga-jaga apabila ditangkap. Mereka juga harus berhati-hati menghindari jebakan yang dibuat oleh militer, sebab beberapa petugas medis telah ditangkap dengan cara ini.

"Kami harus mewaspadai panggilan ke rumah pasien," kata Nway Oo, seorang perawat yang telah pulang dari Yangon ke kampung halamannya di Negara Bagian Shan.

"Kami harus mengecek ke orang-orang kami di wilayah itu untuk memastikan apakah pasien itu benar-benar sakit. Kami selalu menunggu satu hari untuk memastikan bahwa pasien tersebut benar-benar membutuhkan kami."

Perawat lainnya yang saya wawancara mengatakan dia tidak meninggalkan rumahnya di Yangon selama lima bulan dan telah hidup dalam ketakutan akibat pasukan keamanan terus melakukan inspeksi di lingkungan tempat tinggalnya.

Mengatasi ancaman Covid

Dengan operasional yang sangat bergantung pada telemedicine, sistem kesehatan bayangan ini juga berjuang merawat pasien selama lonjakan infeksi Covid-19 pada Juli dan Agustus lalu.

Myanmar telah memulai program vaksinasi sebelum kudeta, tetapi pelaksanaannya terhenti setelah militer merebut kekuasaan. Salah satu dari tenaga kesehatan yang ditangkap merupakan dokter yang bertanggung jawab atas peluncuran vaksin.

Junta berjanji mempercepat vaksinasi, tapi terhambat oleh kurangnya staf yang terlatih, kurangnya vaksin, dan rendahnya kepercayaan publik terhadap sistem kesehatan yang dijalankan oleh militer.

NUG meluncurkan rogram vaksinasi sendiri pada Juli, tetapi itu pun hanya di daerah-daerah perbatasan yang berada di bawah kendali kelompok pemberontak etnis yang simpatik.

"Situasinya sungguh memilukan," kata Mi April, seorang instruktur perawat yang membantu mantan muridnya merawat pasien di kampung halaman mereka melalui layanan telemedis.

"Dulu saya kerja sampai jam 1 atau jam 2 pagi menanggapi semua pesan yang saya terima dari orang-orang karena anggota keluarga mereka yang sakit, yang mengatakan bahwa ayah dan ibunya kritis, dan memohon untuk ditanggapi."

"Saya tidak berdaya, karena saya tidak bisa memberi mereka oksigen atau obat-obatan. Orang-orang antri di tempat-tempat yang memasok oksigen, tetapi militer menghalangi akses mereka."

Baca juga:

Varian Delta telah menyebar di Myanmar pada Juli dan Agustus. Jumlah korban sebenarnya sulit diketahui. Semua perawat dan dokter yang kami wawancara mengatakan pasien yang sakit parah ditolak dari rumah sakit pemerintah sehingga harus pulang, dan tidak ada yang tahu apakah mereka berakhir sembuh atau meninggal.

Pada September, angka infeksi Covid-19 telah menurun tajam, tetapi Myanmar tetap rentan terhadap lonjakan kasus di masa depan, mengingat tingkat vaksinasinya jauh di bawah negara-negara tetangga.

"Ketika terjadi lonjakan kasus terparah tahun lalu, kami berupaya mendapatkan obat-obatan, oksigen konsentrator, silinder, dan peralatan medis lainnya. Ini adalah situasi yang sangat sulit, tetapi setidaknya kami memiliki tenaga karena 70 hingga 80 persen petugas kesehatan bekerja bersama kami," kata Zaw Wai Soe.

'Kami kehilangan masa depan kami'

Saya bertanya kepada Zaw Wai Soe, mengapa petugas kesehatan di Myanmar mengambil risiko besar dalam menentang kudeta.

Dia percaya bahwa langkah itu merupakan respons moral dari sebuah profesi yang sangat diabaikan selama periode pemerintahan militer sebelumnya, ketika Myanmar menjadi negara dengan pengeluaran kesehatan terendah di dunia.

Hal itu mulai berubah di bawah pemerintahan sipil yang dipimpin Aung San Suu Kyi yang mulai merekrut tenaga kesehatan besar-besaran.

"Kalau dibandingkan dengan negara lain, kami memang tidak mendapat gaji yang besar. Kebanyakan dari kami bisa dengan mudah bekerja dengan penghasilan lebih baik di negara lain seperti Malaysia, Singapura, dan Brunei."

"Tetapi sejak Covid-19 melanda tahun lalu, kami mengerahkan segala upaya untuk membantu negara kami, berharap pada masa depan yang lebih baik dengan pemerintah yang kami pilih."

"Lalu tiba-tiba kudeta ini terjadi. Itu lah sebabnya kami tidak bisa menerima ini. Kami bekerja untuk rakyat, bahkan dengan gaji dan standar hidup yang buruk.

"Kami memiliki harapan untuk masa depan, dan tiba-tiba kami kehilangan masa depan itu."

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Militer Myanmar Klaim Rebut Kembali Kota Perbatasan Strategis Dekat Thailand

Militer Myanmar Klaim Rebut Kembali Kota Perbatasan Strategis Dekat Thailand

News | Rabu, 20 Mei 2026 | 17:32 WIB

Menlu: Prabowo Tekankan Jalur Dialog Atasi Konflik Perbatasan Myanmar di KTT ASEAN

Menlu: Prabowo Tekankan Jalur Dialog Atasi Konflik Perbatasan Myanmar di KTT ASEAN

News | Sabtu, 09 Mei 2026 | 18:49 WIB

Jadi Peternak Kambing tapi Berizin Direktur, WNA Myanmar Terancam Deportasi dari Yogyakarta

Jadi Peternak Kambing tapi Berizin Direktur, WNA Myanmar Terancam Deportasi dari Yogyakarta

News | Jum'at, 08 Mei 2026 | 13:13 WIB

Aung San Suu Kyi Pindah ke Tahanan Rumah Saat Krisis Politik Myanmar

Aung San Suu Kyi Pindah ke Tahanan Rumah Saat Krisis Politik Myanmar

News | Jum'at, 01 Mei 2026 | 11:07 WIB

Timur Tengah Gencatan Senjata, Jet Tempur Myanmar Bombardir Wilayah Thailand

Timur Tengah Gencatan Senjata, Jet Tempur Myanmar Bombardir Wilayah Thailand

News | Rabu, 22 April 2026 | 10:49 WIB

Timnas Myanmar U-17 Tundukkan Thailand 1-0, Puncaki Klasemen Grup B Piala AFF U-17 2026

Timnas Myanmar U-17 Tundukkan Thailand 1-0, Puncaki Klasemen Grup B Piala AFF U-17 2026

Bola | Kamis, 16 April 2026 | 06:08 WIB

Terjebak Perdagangan Orang, 249 WNI Dipaksa Kerja 18 Jam di KambojaMyanmar

Terjebak Perdagangan Orang, 249 WNI Dipaksa Kerja 18 Jam di KambojaMyanmar

News | Senin, 09 Februari 2026 | 19:11 WIB

Indonesia Awali BATC 2026 dengan Kemenangan Telak 5-0 atas Myanmar

Indonesia Awali BATC 2026 dengan Kemenangan Telak 5-0 atas Myanmar

Sport | Rabu, 04 Februari 2026 | 10:58 WIB

Padahal Berlatar Myanmar, Syuting Film Extraction: Tygo di Jakarta Bikin Macet dan UMKM Rugi

Padahal Berlatar Myanmar, Syuting Film Extraction: Tygo di Jakarta Bikin Macet dan UMKM Rugi

Entertainment | Selasa, 03 Februari 2026 | 13:56 WIB

Syutingnya Bikin Tangerang Macet Total, Film Lisa BLACKPINK Ternyata Berlatar Myanmar

Syutingnya Bikin Tangerang Macet Total, Film Lisa BLACKPINK Ternyata Berlatar Myanmar

Entertainment | Sabtu, 31 Januari 2026 | 17:52 WIB

Terkini

Pandji Pragiwaksono Soroti 'Pengakuan Terbuka' Prabowo Soal Keterlibatan Partai dalam Tender Negara

Pandji Pragiwaksono Soroti 'Pengakuan Terbuka' Prabowo Soal Keterlibatan Partai dalam Tender Negara

News | Sabtu, 30 Mei 2026 | 17:53 WIB

Prof Uceng: Negara Bukan Takut Film Pesta Babi, Tapi Takut Narasi Alternatif

Prof Uceng: Negara Bukan Takut Film Pesta Babi, Tapi Takut Narasi Alternatif

News | Sabtu, 30 Mei 2026 | 16:44 WIB

Sebut Film 'Pesta Babi' Aman Secara Hukum, Uceng UGM: Jangan-Jangan Ada Unsur Politik?

Sebut Film 'Pesta Babi' Aman Secara Hukum, Uceng UGM: Jangan-Jangan Ada Unsur Politik?

News | Sabtu, 30 Mei 2026 | 16:35 WIB

Ribuan Lansia Jalan Sehat Meriahkan Puncak HLUN 2026 di NTT

Ribuan Lansia Jalan Sehat Meriahkan Puncak HLUN 2026 di NTT

News | Sabtu, 30 Mei 2026 | 16:10 WIB

Guru Besar UGM Cium Ada Perubahan Sikap yang Tak Biasa Usai Mama Sinta Lapor Polisi soal Pesta Babi

Guru Besar UGM Cium Ada Perubahan Sikap yang Tak Biasa Usai Mama Sinta Lapor Polisi soal Pesta Babi

News | Sabtu, 30 Mei 2026 | 16:05 WIB

HLUN 2026 Momentum Wujudkan Lansia Tangguh Menuju Indonesia Emas

HLUN 2026 Momentum Wujudkan Lansia Tangguh Menuju Indonesia Emas

News | Sabtu, 30 Mei 2026 | 16:04 WIB

Pacu Iklim Kompetisi Daerah, Kemendagri Gelar Apresiasi Pemda 2026 Regional Sulawesi

Pacu Iklim Kompetisi Daerah, Kemendagri Gelar Apresiasi Pemda 2026 Regional Sulawesi

News | Sabtu, 30 Mei 2026 | 15:45 WIB

Bukan Melalui Kekerasan, Militerisasi Masuk ke Ranah Sipil Lewat Jalur Administratif Halus

Bukan Melalui Kekerasan, Militerisasi Masuk ke Ranah Sipil Lewat Jalur Administratif Halus

News | Sabtu, 30 Mei 2026 | 15:34 WIB

Saiful Mujani: Pemilu Cacat Bikin Legitimasi Negara Runtuh, Serukan Boikot Jika Curang

Saiful Mujani: Pemilu Cacat Bikin Legitimasi Negara Runtuh, Serukan Boikot Jika Curang

News | Sabtu, 30 Mei 2026 | 15:05 WIB

Masalah Krusial di Mina Terkuak, Jemaah Haji Tak Makan 9 Jam hingga Tenda Melebihi Kapasitas

Masalah Krusial di Mina Terkuak, Jemaah Haji Tak Makan 9 Jam hingga Tenda Melebihi Kapasitas

News | Sabtu, 30 Mei 2026 | 14:23 WIB