facebook
abcaustralia

Kangen ke Luar Negeri? Perjalanan Internasional Diperkirakan Normal di 2024

Siswanto | ABC
Kangen ke Luar Negeri? Perjalanan Internasional Diperkirakan Normal di 2024
Illustrasi: Pesawat-pesawat Air Canada di Bandara Vancouver, British Columbia, Kanada (REUTERS/Ben Nelms)

Secara perlahan berpergian ke penjuru dunia mulai lebih mudah dibandingkan saat awal pandemi COVID-19, termasuk ke Australia.

Suara.com - Secara perlahan berpergian ke penjuru dunia mulai lebih mudah dibandingkan saat awal pandemi COVID-19, termasuk ke Australia.

Namun Paul Griffin, pakar masalah virus di Australia mengatakan dengan masih berlanjutnya penularan kasus COVID-19 di berbagai bagian dunia, akan sulit memperkirakan apa yang terjadi di tahun 2022.

"Kalau rencana liburan bisa ditunda, saya rasa itu yang terbaik dilakukan, khususnya karena sistem kita baru saja berangsur kembali," kata Dr Griffin.

Perjalanan ke luar negeri dengan pesawat terbang tidak lagi sesederhana membeli tiket kemudian bisa naik pesawat.

Baca Juga: Citilink Alihkan Penerbangan dari Halim Perdanakusuma ke Bandara Soekarno-Hatta

Berbagai persiapan harus dilakukan, seperti yang diceritakan wartawan ABC Britney Kleyn yang melakukan perjalanan dari Brisbane, ibu kota Queensland, ke Los Angeles, Amerika Serikat bulan ini.

Selain memastikan ia sudah mendapatkan vaksinasi penuh dua dosis, Britney juga harus mendapatkan hasil tes PCR negatif maksimal 24 jam sebelum keberangkatan. 

Karena sulitnya untuk bisa melakukan tes di pusat tes COVID dekat rumahnya, Britney memutuskan untuk tiba di bandara 24 jam sebelum berangkat dan hasilnya didapatkan sesaat sebelum pesawat lepas landas.

Walau dia tidak memiliki gejala sama sekali, Britney merasa masih cemas ketika menunggu hasil tes keluar.

Karena bila hasilnya negatif, seluruh rencana perjalanannya ke Amerika Serikat harus dibatalkan.

Baca Juga: Bandara Halim Ditutup, Penerbangan Pindah ke Bandara Pondok Cabe

"Saat ini ada begitu banyak kecemasan terkait dengan itu," kata Pierre Benckendorff, peneliti perilaku perjalanan di University of Queensland.

Dr Pierre Benckendorff standing in a Brisbane street Image: Peneliti perjalanan internasional University of Queensland Pierre Benckendorff mengatakan kesabaran adalah hal utama selama melakukan perjalanan di masa pandemi. ABC News: Alice Pavlovic

Dr Benckendorff mengatakan ada banyak kendala yang dihadapi pelaku perjalanan setelah pandemi.

"Rasa sabar, kita harus benar-benar sabar untuk mengerti jika rencana perjalanan kita akan terganggu, terutama bila kita di luar negeri dan terkena COVID," katanya.

"Saya kira dunia penerbangan dan perjalanan baru akan pulih, seperti sebelum tahun 2019, paling cepat sekitar tahun 2024, jadi masih dua tahunan lagi."

'Tak mau mengambil risiko apa pun'

Maddy Black, 24 tahun, pindah dari Brisbane ke Uni Emirat Arab tiga tahun lalu.

Maddy adalah pesepeda profesional untuk Kepolisian Dubai dan belum bisa kembali ke Australia karena Australia pernah mengharuskan karantina wajib di hotel.

"Sampai tidak ada karantina lagi dan saya bisa terbang langsung untuk bertemu keluarga, saya tidak mau mengambil risiko apa pun setelah semua kerja keras yang sudah dilakukan selama beberapa tahun terakhir."

Maddy sudah mendapatkan vaksinasi tiga dosis, namun masih enggan melakukan perjalanan sampai ada kepastian mengenai penerbangan yang teratur dan juga penghapusan karantina.

Dr Benckendorff mengatakan masalah keuangan juga menjadi salah satu tantangan besar bagi mereka yang hendak keluar negeri.

"Melakukan perjalanan sekarang jauh lebih mahal dibandingkan sebelumnya, ketersediaan penerbangan sangat terbatas, sehingga harga tiket jadi lebih mahal," katanya.

"Juga ada risiko penerbangan ditunda atau dibatalkan atau hotel dibatalkan karena saat ini di seluruh dunia banyak terjadi kekurangan tenaga kerja di bidang layanan jasa."

Tetapi menurutnya Australia kemungkinan besar akan menjadi destinasi yang populer, setelah nanti benar-benar membuka perbatasannya.

"Adanya destinasi seperti Australia, di mana tingkat vaksinasi-nya tinggi, maka akan terlihat lebih aman dibandingkan tujuan lainnya," kata Dr Benckendorff.

Maskapai penerbangan Australia Qantas adalah salah satu maskapai yang berusaha beradaptasi ke situasi "COVID normal".

Untuk penerbangan Sydney ke Los Angeles, Qantas menawarkan empat kali penerbangan seminggu.

Rencananya penerbangan akan ditingkatkan menjadi tujuh kali per minggu mulai bulan Maret 2022 atau sama seperti sebelum COVID.

Lebih baik terbang setelah 'booster'

Setibanya di Bandara Internasional Los Angeles, Britney mengatakan melihat ada tiga perbedaan besar dari keadaan sebelum pandemi.

Yang pertama lebih sedikit orang berada di bandara, karena memang jumlah penerbangan yang lebih rendah. 

Ini membuatnya lebih menyenangkan karena antrean di imigrasi dan pengambilan barang lebih pendek.

Masker tetap harus digunakan, bahkan selama berada di dalam pesawat.

Bukti vaksinasi juga sekarang sudah sama pentingnya dengan dokumen perjalanan seperti paspor.

"Saya ditanya berulang kali selama perjalanan dan ini juga menambah dokumen yang harus kita siapkan sekarang ini."

Dr Beckendorff mengatakan pelaku perjalanan harus mendapatkan suntikan 'booster' atau vaksin tambahan dari dua dosis sebelum mereka berangkat "untuk memberikan Anda perlindungan ekstra".

Artikel ini diproduksi oleh Sastra Wijaya dari ABC News 

IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Komentar