Krisis Afghanistan: Bagaimana Bantuan Kemanusiaan sampai ke Warga?

Siswanto | BBC | Suara.com

Rabu, 09 Februari 2022 | 09:32 WIB
Krisis Afghanistan: Bagaimana Bantuan Kemanusiaan sampai ke Warga?
BBC

Suara.com - Situasi kemanusiaan yang memburuk di Afghanistan telah membuat lebih dari 20 juta orang membutuhkan uluran tangan, kata PBB.

Banyak negara menangguhkan atau secara signifikan memangkas bantuan ke Afghanistan setelah Taliban mengambil alih kekuasaan pada Agustus 2021.

Akhir bulan kemarin, PBB meluncurkan apa yang disebut sebagai "permintaan terbesar yang pernah ada" untuk satu negara, meminta pendanaan sebesar 4,4 miliar atau setara Rp63,2 triliun.

Siapa saja yang memberi bantuan?

Sebelum Taliban menguasai Afghanistan, sebesar 80% anggaran negara ini berasal bantuan dari luar.

Namun, sebagian besar bantuan ini dihentikan setelah Taliban mengambil alih kekuasaan dan aset keuangan (hampir US$10 miliar atau sekitar Rp143,7 triliun) dibekukan oleh negara dan lembaga asing.

Tapi bantuan kemanusiaan terus mengalir, dan sejumlah negara asing mengklarifikasi bahwa bantauan ini dikecualikan dari sanksi.

Selama Februari, sekitar US$1,6 miliar atau Rp23 triliun telah disalurkan ke Afghanistan, menurut Kantor PBB untuk Koordinasi Bantuan Kemanusiaan (UNOCHA).

Dan, Amerika Serikat secara konsisten menjadi penyumbang terbesar, diikuti oleh Uni Eropa - meskipun sejumlah negara di Uni Eropa seperti Jerman tetap menyalurkan secara terpisah.

Pada Oktober 2021, Uni Eropa menjanjikan bantuan kemanusian sebesar US$1 miliar atau Rp14,3 triliun.

Dan sejumlah negara lain - termasuk negara tetangga; Pakistan, India dan China dan negara-negara di Teluk Arab - telah mengirimkan pasokan makanan dan obat-obatan melalui berbagai lembaga kemanusiaan.

Pada Desember, lembaga donor internasional juga menyetujui untuk mentransfer US$280 juta atau Rp4 triliun dari akun yang dibebukan untuk mendanai PBB dalam menjalankan layanan pangan dan kesehatan di Afghanistan, menurut Bank Dunia.

Namun, secara keseluruhan persoalan pendanaan masih menjadi tantangan, dan badan-badan kemanusiaan mengatakan pencabutan sanksi dan penggelontoran terbatas dari dana yang dibekukan, tidak mengatasi persoalan ekonomi yang sudah runtuh secara keseluruhan.

"Tanggapan kemanusiaan tak bisa berkelanjutan untuk mengisi kesenjangan yang besar setelah dukungan internasional menarik diri," kata Vicki Aken dari Komite Penyelamatan Internasional (IRC) di Afghanistan.

"Kebutuhannya tersebar luas," kata Aken. "Ini bakal sulit untuk mengatakan bahwa ada provinsi yang tidak membutuhkannya."

Seberapa besar kebutuhan saat ini?

Presiden Komite Penyelamatan Internasional (IRC), David Miliband mengatakan kepada BBC bahwa sembilan juta orang (termasuk satu juta anak) di Afghanistan sekarang dalam situasi kelaparan.

Dia mengatakan bantuan kemanusiaan tidak akan berdampak, kecuali perekonomian berjalan. "Sangat penting pergerakan perekonomian untuk memberikan warga Afghanistan kesempatan untuk mendapatkan makanan sendiri."

Progam Pangan Dunia PBB (WFP) memperingatkan akhir Oktober lalu, bahwa situasi di Afhanistan bisa menjadi krisis kemanusiaan terburuk di dunia.

Laporan ini menyebutkan 23 juta orang akan mengadapi kekurangan pangan akut.

Menurut UNOCHA, antara September 2021 dan Januari 2022:

  • Lebih dari sembilan juta orang menerima bantuan makanan
  • 200.000 truk pengantar air bersih telah dikerahkan ke seluruh wilayah yang mengalami kekeringan.
  • Lebih dari 276.000 anak-anak terancam kekurangan gizi.
  • 1,6 juta orang menerima bantuan kesehatan, dengan obat-obatan dan pasokan lain yang dikirim oleh Badan Kesehatan Dunia (WHO).

Komisi Tinggi PBB untuk Pengungsi juga membantu distribusi pasokan, termasuk barang-barang untuk memasang tenda, untuk menjaga pengungsi Afghanistan tetap hangat di bulan-bulan musim dingin.

Tapi organisasi-organisasi kemansuiaan mengatakan masih banyak lagi barang-barang dan layanan yang dibutuhkan.

"Apa yang kami berikan hanyalah setetes air di lautan," kata Ingy Sedky dari Komite Palang Merah Internasional (ICRC).

Dan 60% klinik kesehatan yang dinilai oleh ICRC tidak memiliki kapasitas untuk memberikan program nutrisi yang dibutuhkan warga.

Bagaimana bantuan ini masuk ke Afghanistan?

Kebanyakan bantuan dikirim melalui jalur darat - lewat perbatasan Afghanistan dengan Pakistan, Iran, Turkmenistan, Uzbekistan, Tajikistan and Kazakhstan.

Meskipun terdapat pembatasan pergerakan orang yang melintasi perbatasan negara itu, UNOCHA mengatakan mereka sebagian besar tetap terbuka untuk aliran bantuan kemanusiaan.

Hanya ada layanan komersial terbatas di Kabul - tapi organisasi kemanusiaan dan negara-negara asing diperbolehkan untuk menggunakan rute udara untuk mengirimkan bantuan darurat.

Beberapa bantuan makanan juga dipasok dari sumber lokal, kata WFP.

Tapi tantangan besar masih tetap ada di dalam pendistribusian ke Afghanistan. Dan, runtuhnya sistem perbankan negara itu pada Agustus lalu, berarti "akses uang tunai sangat menantang"

Sekjen PBB Antonio Guterres memperingatkan belakangan ini, bahwa status Afghanistan seperti "bergantung pada seutas benang" dan perlu cara mendesak untuk menyuntikan uang segar ke dalam perekonomiannya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Sudah Cair? Ungkap Karakter Asli Keuangan Kamu
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pecahkan 10 Kasus Misterius Ini, Kamu Detektif atau Cuma Amatir?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

7 Aksesori Wajib bagi Pemilik Mobil Listrik, Bikin Berkendara Aman dan Nyaman

7 Aksesori Wajib bagi Pemilik Mobil Listrik, Bikin Berkendara Aman dan Nyaman

Otomotif | Rabu, 08 April 2026 | 07:08 WIB

Viral Aksi Nyeleneh Pria Pakai Baju Muslim Minum Oli Mesin di Makassar, MUI Sulsel: Itu Haram!

Viral Aksi Nyeleneh Pria Pakai Baju Muslim Minum Oli Mesin di Makassar, MUI Sulsel: Itu Haram!

News | Rabu, 08 April 2026 | 07:04 WIB

5 Motor Listrik yang Ringan untuk Ibu Rumah Tangga, Cocok buat Mobilitas Harian

5 Motor Listrik yang Ringan untuk Ibu Rumah Tangga, Cocok buat Mobilitas Harian

Otomotif | Rabu, 08 April 2026 | 07:02 WIB

Harga Minyak Dunia Turun Drastis Usai Pengumuman Gencatan Senjata Perang Iran

Harga Minyak Dunia Turun Drastis Usai Pengumuman Gencatan Senjata Perang Iran

Bisnis | Rabu, 08 April 2026 | 07:01 WIB

Vonis Gugatan atas Sangkalan Fadli Zon soal Perkosaan Massal 1998 Digelar 21 April

Vonis Gugatan atas Sangkalan Fadli Zon soal Perkosaan Massal 1998 Digelar 21 April

News | Rabu, 08 April 2026 | 07:00 WIB

Donald Trump Umumkan Gencatan Senjata Perang Iran Selama Dua Pekan

Donald Trump Umumkan Gencatan Senjata Perang Iran Selama Dua Pekan

News | Rabu, 08 April 2026 | 06:42 WIB

Ancaman Bak Neraka Jadi Kenyataan Militer AS Hantam Infrastruktur Vital Iran di Pulau Kharg

Ancaman Bak Neraka Jadi Kenyataan Militer AS Hantam Infrastruktur Vital Iran di Pulau Kharg

News | Rabu, 08 April 2026 | 06:36 WIB

Cara Menyimpan Parfum agar Tidak Oksidasi, Biar Kualitas Aroma Tetap Sama seperti Awal Beli

Cara Menyimpan Parfum agar Tidak Oksidasi, Biar Kualitas Aroma Tetap Sama seperti Awal Beli

Lifestyle | Rabu, 08 April 2026 | 06:30 WIB

Mojtaba Khamenei Diklaim Kritis, Intelijen AS Bocorkan Memo Rahasia Tentang Kelumpuhan Iran

Mojtaba Khamenei Diklaim Kritis, Intelijen AS Bocorkan Memo Rahasia Tentang Kelumpuhan Iran

News | Rabu, 08 April 2026 | 06:21 WIB

4 Zodiak yang Beruntung pada 8 April 2026, Waktunya Meraih Kebahagiaan

4 Zodiak yang Beruntung pada 8 April 2026, Waktunya Meraih Kebahagiaan

Lifestyle | Rabu, 08 April 2026 | 06:14 WIB

Terkini

Viral Aksi Nyeleneh Pria Pakai Baju Muslim Minum Oli Mesin di Makassar, MUI Sulsel: Itu Haram!

Viral Aksi Nyeleneh Pria Pakai Baju Muslim Minum Oli Mesin di Makassar, MUI Sulsel: Itu Haram!

News | Rabu, 08 April 2026 | 07:04 WIB

Vonis Gugatan atas Sangkalan Fadli Zon soal Perkosaan Massal 1998 Digelar 21 April

Vonis Gugatan atas Sangkalan Fadli Zon soal Perkosaan Massal 1998 Digelar 21 April

News | Rabu, 08 April 2026 | 07:00 WIB

Donald Trump Umumkan Gencatan Senjata Perang Iran Selama Dua Pekan

Donald Trump Umumkan Gencatan Senjata Perang Iran Selama Dua Pekan

News | Rabu, 08 April 2026 | 06:42 WIB

Ancaman Bak Neraka Jadi Kenyataan Militer AS Hantam Infrastruktur Vital Iran di Pulau Kharg

Ancaman Bak Neraka Jadi Kenyataan Militer AS Hantam Infrastruktur Vital Iran di Pulau Kharg

News | Rabu, 08 April 2026 | 06:36 WIB

Mojtaba Khamenei Diklaim Kritis, Intelijen AS Bocorkan Memo Rahasia Tentang Kelumpuhan Iran

Mojtaba Khamenei Diklaim Kritis, Intelijen AS Bocorkan Memo Rahasia Tentang Kelumpuhan Iran

News | Rabu, 08 April 2026 | 06:21 WIB

Ledakan Dahsyat Guncang Teheran Saat Rudal Amerika-Israel Hancurkan Permukiman di Provinsi Alborz

Ledakan Dahsyat Guncang Teheran Saat Rudal Amerika-Israel Hancurkan Permukiman di Provinsi Alborz

News | Rabu, 08 April 2026 | 06:12 WIB

TNI dan Polri Tindak Tegas Oknum 'Backing' BBM Subsidi, Dua Personel Masuk Tahap Penyidikan

TNI dan Polri Tindak Tegas Oknum 'Backing' BBM Subsidi, Dua Personel Masuk Tahap Penyidikan

News | Selasa, 07 April 2026 | 22:51 WIB

Bersihkan Internal, Bareskrim Polri Pastikan Pecat Anggota yang Jadi 'Bekingan' Mafia Migas

Bersihkan Internal, Bareskrim Polri Pastikan Pecat Anggota yang Jadi 'Bekingan' Mafia Migas

News | Selasa, 07 April 2026 | 22:19 WIB

Rumah Pompa Ancol, Solusi Pramono Anung Tangkal Banjir di Kawasan Pesisir Jakarta

Rumah Pompa Ancol, Solusi Pramono Anung Tangkal Banjir di Kawasan Pesisir Jakarta

News | Selasa, 07 April 2026 | 21:44 WIB

Bareskrim Polri Bongkar Sindikat Elpiji Subsidi, Kerugian Negara Tembus Rp1,2 Triliun

Bareskrim Polri Bongkar Sindikat Elpiji Subsidi, Kerugian Negara Tembus Rp1,2 Triliun

News | Selasa, 07 April 2026 | 21:39 WIB