Performa Rusia di Medan Perang Disebut Suram, Apa Saja Kesalahan Militernya

Siswanto, BBC

Rabu, 23 Maret 2022 | 13:23 WIB
Performa Rusia di Medan Perang Disebut Suram, Apa Saja Kesalahan Militernya
BBC

Suara.com - Militer Rusia dikenal sebagai salah satu yang terbesar dan terkuat di dunia, tetapi kekuatan itu belum terlihat dalam invasinya ke Ukraina. Sejumlah analis militer Barat terkejut dengan performa pasukan Rusia di medan perang sejauh ini, salah satu dari mereka bahkan menyebutnya "suram".

Tampaknya, sebagian besar kemajuan militer Rusia terhenti. Beberapa pihak bahkan kini mempertanyakan apakah militer Rusia bisa pulih dari kerugian yang mereka derita.

Pekan lalu, seorang pejabat senior militer NATO mengatakan kepada BBC bahwa, "Rusia jelas-jelas belum mencapai tujuan mereka, bahkan mungkin tujuan itu tidak akan tercapai."

Lalu apa yang salah dengan strategi Rusia? Saya berbincang dengan para perwira militer senior dan pejabat-pejabat intelijen Barat mengenai kesalahan-kesalahan Rusia.

Asumsi yang salah

Kesalahan pertama Rusia adalah meremehkan kekuatan perlawanan dan kemampuan angkatan bersenjata Ukraina yang secara kapasitas lebih kecil.

Rusia memiliki anggaran pertahanan tahunan hingga lebih US$60 miliar (Rp869,5 triliun), sedangkan pengeluaran Ukraina pada bidang pertahanan hanya sekitar US$4 miliar (Rp57,4 miliar).

Pada saat yang sama, Rusia dan banyak pihak lainnya tampak melebih-lebihkan kekuatan militernya sendiri.

Presiden Vladimir Putin telah memulai program modernisasi militer yang ambisius, dan Putin mungkin juga meyakini kekuatan militer Rusia yang dilebih-lebihkan itu.


Menurut seorang pejabat senior militer Inggris, sebagian besar investasi Rusia telah dihabiskan untuk persenjataan dan eksperimen nuklir yang luas, termasuk pengembangan senjata baru seperti rudal hipersonik.

baca juga

Rusia seharusnya telah membangun tank paling canggih di dunia, T-14 Armata. Meskipun tank itu pernah muncul pada Parade Hari Kemenangan di Moskow, namun T-14 tak pernah nampak di medan tempur. Mayoritas yang dikerahkan Rusia adalah tank T-72 yang lebih tua, pengangkut pasukan lapis baja, artileri, dan peluncur roket.

Baca juga:

Pada awal invasi, Rusia jelas lebih diuntungkan di udara, dengan pesawat tempur yang telah bergerak di dekat perbatasan melebihi jumlah milik angkatan udara Ukraina, dengan perbandingan tiga banding satu.

Sebagian besar analis militer berasumsi bahwa pasukan Rusia lebih mudah menguasai lewat udara, tapi ternyata tidak. Pertahanan udara Ukraina masih terbukti efektif, sehingga membatasi kemampuan Rusia untuk bermanuver.

Moskow mungkin juga menganggap pasukan khususnya akan berperan penting serta membantu memberi pukulan yang cepat dan signifikan pada Ukraina.

Seorang pejabat senior intelijen Barat mengatakan kepada BBC bahwa Rusia berpikir mereka bisa mengerahkan unit-unit ujung tombak seperti Spetsnaz serta pasukan terjun payung VDV "untuk melenyapkan sejumlah kecil perlawanan, lalu kemudian selesai".

Namun pada hari-hari awal invasi, serangan helikopter Rusia di Bandara Hostomel -yang berlokasi di sekitar ibu kota Kyiv—berhasil digagalkan, sehingga menghalangi Rusia untuk menambah pasukan militer beserta peralatan dan logistiknya.

Oleh sebab itu, Rusia harus menyalurkan mayoritas pasokannya melalui jalur darat. Hal ini menyebabkan kemacetan dan titik-titik kemacetan ini menjadi sasaran empuk bagi pasukan Ukraina untuk menyergap.

Beberapa kendaraan lapis baja telah keluar dari jalur, terjebak dalam lumpur, menegaskan gambaran mengenai pasukan yang telah "macet".

Sementara itu, konvoi panjang kendaraan lapis baja Rusia dari arah utara, yang tertangkap oleh citra satelit, masih gagal mengepung Kyiv.

Kemajuan yang paling signifikan tampak dari arah selatan, di mana Rusia bisa menggunakan jalur kereta api untuk memasok pasukannya.

Menteri Pertahanan Inggris, Ben Wallace, mengatakan kepada BBC bahwa pasukan Rusia "telah kehilangan momentum".

"Mereka terjebak dan bergerak lambat, tapi tentunya tetap memakan korban yang signifikan."

Kerugian dan kekuatan moral yang menurun

Rusia telah mengumpulkan sekitar 190.000 tentara untuk invasi ini, dan sebagian besar dari tentara itu telah berkomitmen untuk bertempur. Namun mereka telah kehilangan sekitar 10% dari kekuatan itu.

Tidak ada data pasti terkait skala kerugian Rusia maupun Ukraina. Ukraina mengklaim telah membunuh 14.000 tentara Rusia, meskipun AS memperkirakan mungkin hanya setengahnya.

Menurut para pejabat Barat, ada pula bukti bahwa moral para pejuang Rusia telah menurun menjadi "sangat, sangat, rendah".

Sebagian pihak lainnya mengatakan para tentara "kedinginan, kelelahan, dan kelaparan" karena menunggu di tengah musim dingin selama berminggu-minggu di Belarus dan Rusia sebelum diperintah untuk menyerang.

Situasi ini memaksa Rusia menggaet lebih banyak pasukan demi menebus kehilangan yang mereka alami, termasuk dengan menggerakkan unit cadangan dari wilayah timur negara itu, juga dari Armenia.

Para pejabat Barat juga meyakini "sangat mungkin" pasukan asing dari Suriah akan bergabung dalam pertempuran ini bersama tentara bayaran dari kelompok rahasia Wagner.

Seorang pejabat senior militer NATO mengatakan hal itu menandakan bahwa Rusia "mengais hingga ke bagian bawah laras".

Baca juga:

Persediaan logistik

Rusia telah kesulitan memenuhi kebutuhan dasarnya. Ada pepatah militer lama yang mengatakan bahwa amatir berbicara taktik, sedangkan profesional mempelajari logistik.

Ada bukti bahwa Rusia belum cukup mempertimbangkan hal itu. Konvoi kendaraan lapis baja mereka telah kehabisan bahan bakar, makanan, dan amunisi. Kendaraan yang rusak ditinggalkan begitu saja, lalu diderek oleh traktor Ukraina.

Para pejabat Barat juga meyakini bahwa Rusia mungkin kehabisan beberapa amunisi. Pasukan Rusia telah menembakkan sekitar 850 hingga 900 amunisi presisi jarak jauh, termasuk rudal jelajah, yang lebih sulit diganti dibandingkan senjata yang terarah.

Pejabat-pejabat AS telah memperingatkan bahwa Rusia mendekati China untuk menutupi kekurangannya.

Sebaliknya di pihak Ukraina, ada pasokan tetap senjata dari Barat sehingga meningkatkan moral pasukan Ukraina.

AS baru saja mengumumkan akan menambah dukungan pertahanan senilai US$800 juta (Rp11,4 triliun) kepada Ukraina.

Dukungan itu antara lain berupa rudal anti-tank dan anti-misil, serta diharapkan mencakup Switchblade. Switchblade merupakan drone "kamikaze" kecil yang dikembangkan AS dan dapat dibawa menggunakan ransel sebelum diluncurkan untuk mengirim bahan peledak kecil ke sasaran di darat.

Meski demikian, para pejabat Barat memperingatkan bahwa Putin dapat "melipatgandakan kebrutalannya". Pasukan Putin dirasa masih memiliki daya tembak yang cukup untuk memborbardir kota-kota di Ukraina dalam "jangka waktu yang cukup lama".

Meskipun mengalami kemunduran, seorang pejabat intelijen mengatakan bahwa Presiden Putin "tidak mungkin goyah dan mungkin malah meningkatkan eskalasinya. Putin tampak percaya diri bahwa Rusia bisa mengalahkan Ukraina lewat militer".

Sementara pasukan Ukraina telah menunjukkan perlawanan sengit, pejabat yang sama mengingatkan bahwa tanpa pasokan yang signifikan, mereka juga bisa kehabisan amunisi dan pasukan."

Peluang Rusia mungkin lebih baik dibanding saat perang pertama kali dimulai, tetapi posisi mereka tampaknya masih bertumpuk dalam invasi ke Ukraina.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Kala Media Sosial sebagai Medan Perang Baru Propaganda Global

Kala Media Sosial sebagai Medan Perang Baru Propaganda Global

Your Say | Selasa, 10 Maret 2026 | 12:11 WIB

Serda Satria Sudah Dipecat Usai Ikut Operasi Militer Rusia, Ini Penjelasan Lengkap TNI AL

Serda Satria Sudah Dipecat Usai Ikut Operasi Militer Rusia, Ini Penjelasan Lengkap TNI AL

News | Senin, 12 Mei 2025 | 11:48 WIB

Heboh Isu Rusia Ingin Bangun Pangkalan Militer di Papua, TB Hasanuddin: Itu Langgar Konstitusi!

Heboh Isu Rusia Ingin Bangun Pangkalan Militer di Papua, TB Hasanuddin: Itu Langgar Konstitusi!

News | Rabu, 16 April 2025 | 12:38 WIB

Sekolah Jadi Medan Perang, Siswa Tembak Guru dan Temannya di Amerika Serikat

Sekolah Jadi Medan Perang, Siswa Tembak Guru dan Temannya di Amerika Serikat

News | Selasa, 17 Desember 2024 | 15:48 WIB

Surga Satwa Berubah Jadi Medan Perang: Perang Israel-Hizbullah Ancam Migrasi Burung

Surga Satwa Berubah Jadi Medan Perang: Perang Israel-Hizbullah Ancam Migrasi Burung

News | Jum'at, 15 November 2024 | 15:17 WIB

Dorr...Dorr! Kamp Latihan Militer Pasukan Rusia Yang Akan Dikirim Ke Ukraina Diserang, 11 Orang Tewas

Dorr...Dorr! Kamp Latihan Militer Pasukan Rusia Yang Akan Dikirim Ke Ukraina Diserang, 11 Orang Tewas

News | Minggu, 16 Oktober 2022 | 11:05 WIB

Uzbekistan Imbau Warganya Tidak Gabung Militer Rusia

Uzbekistan Imbau Warganya Tidak Gabung Militer Rusia

News | Kamis, 22 September 2022 | 14:19 WIB

Rusia Akan Beli Jutaan Roket dan Peluru Artileri dari Korea Utara

Rusia Akan Beli Jutaan Roket dan Peluru Artileri dari Korea Utara

News | Selasa, 06 September 2022 | 14:23 WIB

Ukraina Sulap Jalanan Kota Kyiv Jadi Pameran Alutsista Militer Rusia yang Hancur

Ukraina Sulap Jalanan Kota Kyiv Jadi Pameran Alutsista Militer Rusia yang Hancur

Foto | Sabtu, 27 Agustus 2022 | 15:40 WIB

Beri Ancaman Mengerikan Ini, Putin Tantang Negara Barat Kalahkan Rusia di Medan Perang

Beri Ancaman Mengerikan Ini, Putin Tantang Negara Barat Kalahkan Rusia di Medan Perang

News | Jum'at, 08 Juli 2022 | 09:11 WIB

Terkini

Jika Tim 9 Gagal, KPK Disebut Wajib Ambil Alih Kasus Febrie Adriansyah

Jika Tim 9 Gagal, KPK Disebut Wajib Ambil Alih Kasus Febrie Adriansyah

News | Kamis, 30 Juli 2026 | 23:15 WIB

Sungai Cileungsi Menghitam, DLH Bogor Gandeng Polda Jabar Bidik 5 Perusahaan

Sungai Cileungsi Menghitam, DLH Bogor Gandeng Polda Jabar Bidik 5 Perusahaan

Jabar | Kamis, 30 Juli 2026 | 23:06 WIB

Diperiksa Kejagung Terkait Dugaan Kasus, Kekayaan Kasi Pidsus Bogor Capai Rp6,1 Miliar Tanpa Utang

Diperiksa Kejagung Terkait Dugaan Kasus, Kekayaan Kasi Pidsus Bogor Capai Rp6,1 Miliar Tanpa Utang

Bogor | Kamis, 30 Juli 2026 | 23:01 WIB

Kembalikan Hak Pejalan Kaki, Satpol PP Bandung Ratakan 36 Bangunan Liar di Jalan Rajiman

Kembalikan Hak Pejalan Kaki, Satpol PP Bandung Ratakan 36 Bangunan Liar di Jalan Rajiman

Jabar | Kamis, 30 Juli 2026 | 22:38 WIB

Sempat Sebut PDIP, Ustaz Das'ad Latif Edit Unggahan soal Putusan MK Larang Dana Pendidikan untuk MBG

Sempat Sebut PDIP, Ustaz Das'ad Latif Edit Unggahan soal Putusan MK Larang Dana Pendidikan untuk MBG

News | Kamis, 30 Juli 2026 | 22:33 WIB

Kejagung Bongkar Alasan Periksa Tan Kian dan Ferry Boboho di Kasus Febrie Adriansyah

Kejagung Bongkar Alasan Periksa Tan Kian dan Ferry Boboho di Kasus Febrie Adriansyah

News | Kamis, 30 Juli 2026 | 22:24 WIB

Alasan Keselamatan, Kejagung Titipkan Ferry Boboho Saksi Kunci Kasus TPPU Febrie Adriansyah ke LPSK

Alasan Keselamatan, Kejagung Titipkan Ferry Boboho Saksi Kunci Kasus TPPU Febrie Adriansyah ke LPSK

News | Kamis, 30 Juli 2026 | 22:18 WIB

Angela Tanoesoedibjo Apresiasi Legislator yang Dinilai Berdampak bagi Masyarakat

Angela Tanoesoedibjo Apresiasi Legislator yang Dinilai Berdampak bagi Masyarakat

News | Kamis, 30 Juli 2026 | 22:18 WIB

Arus Peti Kemas IPC TPK Panjang Melonjak 73,7 Persen

Arus Peti Kemas IPC TPK Panjang Melonjak 73,7 Persen

Bisnis | Kamis, 30 Juli 2026 | 22:16 WIB

Gandeng TP PKK Hingga Tingkat RT, Bupati Bogor Rudy Susmanto Pacu Kesejahteraan Warga

Gandeng TP PKK Hingga Tingkat RT, Bupati Bogor Rudy Susmanto Pacu Kesejahteraan Warga

Bogor | Kamis, 30 Juli 2026 | 22:15 WIB

×