Suara.com - Nenek moyang Sally Vea Vea diusir dari tanahnya di salah satu sisi pegunungan di Queensland tengah, Australia. Bersama ratusan penduduk Aborigin lainnya, mereka kemudian dibantai di kaki bukit sekitarnya.
Peringatan: Artikel ini berisi informasi yang mungkin membuat pembaca merasa tertekan.
Aunty Sally, demikianpemuka suku Darumbal ini kerap disapa, menyebutkan lebih dari 300 penduduk sukunya terbunuh di sekitar Gai-i, dekat Yeppoon, lebih seabad yang lalu.
"Itu semua bagian dari Perang di Garis Depan (Frontier Wars)," ujarnya.
"Para pemukim (Eropa) yang datang di sini, menjadikannya seperti olahraga Minggu sore. Mereka keluar dan menembaki penduduk kulit hitam," tutur Aunty Sally.
Beberapa lokasi tanah di sekitar puncak pegunungan yang sebelumnya dikenal sebagai Gunung Wheeler dikembalikan ke suku Darumbal 15 tahun lalu.
Namun ada sebidang tanah seluas 13 hektar yang tetap dikelola bersama oleh Departemen Sumber Daya Queensland dan penjaga tradisional.
"Tanah inilah yang kami inginkan sejak awal," kata Aunty Sally.
"Kami selalu berharap tempat pembantaian ini dikembalikan namun kami tidak mendapatkannya," jelasnya seraya menyebutkan tanah ini dianeksasi pada 2007.
"Hari ini kami mendapatkan kembali apa yang telah diambil pemerintah dari kami," ucapnya.
Pekan ini, warga suku yang merupakan pemegang hak tanah itu merayakan upacara penyerahan yang ditandai dengan pendirian tugu.
"Ini hari yang emosional buat kami," ujar Aunty Sally.
"Kami senang mendapatkan kembali tanah ini, tapi masih banyak orang yang tidak setuju bila kami memiliki tanah ini," tambahnya.
Mendorong rekonsiliasi
Pemuka suka lainnya, Bill Mann, turut menyambut puluhan tamu yang hadir dalam upacara asap tersebut.
"Ini sejarah. Setelah bekerja di sini sejak pengambilalihan pada 2007, kami layak mendapatkannya kembali," katanya.
Kumpulan Kuis Menarik
Komentar
Terkait
Mitsubishi Eclipse Kapan Meluncur? Kini Bawa Mesin Canggih Ramah Lingkungan
Otomotif | Jum'at, 31 Juli 2026 | 14:34 WIB
Buron Interpol Pengirim PMI Ilegal ke Kamboja Dibekuk di Soetta
News | Jum'at, 31 Juli 2026 | 14:32 WIB
Gubernur Riau Abdul Wahid Cuma Divonis 2 Tahun Penjara, KPK Belum Putuskan Ajukan Banding
News | Jum'at, 31 Juli 2026 | 14:28 WIB
Benarkah Atap Asbes Bisa Bikin Kanker? Dokter Paru Ungkap Fakta dari WHO
News | Jum'at, 31 Juli 2026 | 14:27 WIB
Ramai Pagar Tinggi di Mal, APPBI Buka Suara
News | Jum'at, 31 Juli 2026 | 14:25 WIB
Kenapa Jepang Sering Diguncang Gempa Bumi Besar?
News | Jum'at, 31 Juli 2026 | 14:24 WIB
Investor Asing Tarik Dana dari Pasar Saham Rp70,18 M di Sesi I, BUMI Jadi Sasaran
Bisnis | Jum'at, 31 Juli 2026 | 14:24 WIB
Diupah 50.000 Ringgit, Pilot Malaysia Nyabu Saat Terbangkan Pesawat dari Kuala Lumpur ke Jakarta
News | Jum'at, 31 Juli 2026 | 14:23 WIB
Cara Cek NIK Desil Berapa? Panduan Mudah Lewat Cek Bansos Kemensos
Bisnis | Jum'at, 31 Juli 2026 | 14:23 WIB
Corporate Secretary BRI Raih Penghargaan Indonesia Public Relations Top Leader 2026
Bri | Jum'at, 31 Juli 2026 | 14:22 WIB
Terkini
Mitsubishi Eclipse Kapan Meluncur? Kini Bawa Mesin Canggih Ramah Lingkungan
Otomotif | Jum'at, 31 Juli 2026 | 14:34 WIB
Bukan Cuma Razia Absensi, Wali Kota Sukabumi Duduk Lesehan dan Minta Curhat ASN Saat Sidak
Jabar | Jum'at, 31 Juli 2026 | 14:32 WIB
Buron Interpol Pengirim PMI Ilegal ke Kamboja Dibekuk di Soetta
News | Jum'at, 31 Juli 2026 | 14:32 WIB
Gubernur Riau Abdul Wahid Cuma Divonis 2 Tahun Penjara, KPK Belum Putuskan Ajukan Banding
News | Jum'at, 31 Juli 2026 | 14:28 WIB
Benarkah Atap Asbes Bisa Bikin Kanker? Dokter Paru Ungkap Fakta dari WHO
News | Jum'at, 31 Juli 2026 | 14:27 WIB
2 SPPG di Simeulue Aceh Berhenti Beroperasi
Sumut | Jum'at, 31 Juli 2026 | 14:26 WIB
Ramai Pagar Tinggi di Mal, APPBI Buka Suara
News | Jum'at, 31 Juli 2026 | 14:25 WIB
4 Moisturizer Centella Asiatica untuk Jerawat Terbaik, Redakan Kemerahan Menurut Klaim
Lifestyle | Jum'at, 31 Juli 2026 | 14:25 WIB
Kenapa Jepang Sering Diguncang Gempa Bumi Besar?
News | Jum'at, 31 Juli 2026 | 14:24 WIB