Hepatitis Akut: Kasus Suspek RI Bertambah, Benarkah karena Vaksin Covid?

Siswanto, BBC

Jum'at, 06 Mei 2022 | 12:30 WIB
Hepatitis Akut: Kasus Suspek RI Bertambah, Benarkah karena Vaksin Covid?
BBC

Suara.com - Kementerian Kesehatan diminta mulai memperbanyak penyebaran informasi mengenai hepatitis akut di tengah bertambahnya tiga kasus baru dan serbuan hoaks bahwa penyakit itu disebabkan oleh vaksin Covid-19.

Epidemiolog dari Universitas Griffith, Australia, Dicky Budiman, mengatakan vaksin Covid-19 sebagai pemicu hepatitis akut tidak berdasar. Mayoritas anak yang terkena penyakit ini berusia di bawah lima tahun dan belum divaksinasi.

Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo) mendeteksi ada dua kelompok yang "mencetuskan dan mengonsumsi" misinformasi itu, yakni kalangan anti-vaksin dan anti-vaksin dari negara Barat.

Organisasi Kesehatan Dunia, WHO, menyatakan penyakit ini menjangkit sekitar 230 anak di 20 negara termasuk Indonesia.

Gejala yang diderita anak-anak termasuk mual, muntah, diare dan sakit perut - sebelum hati mereka menunjukkan tanda-tanda peradangan.

Baca juga:

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung di Kementerian Kesehatan, Siti Nadia Tarmizi, mengatakan tiga kasus suspek hepatitis akut ini dilaporkan pada Selasa (3/5) oleh Dinas Kesehatan DKI Jakarta.

Ketiganya memiliki gejala serupa yaitu kulit berwarna kuning namun tidak kondisi tidak memburuk sehingga tidak perlu dirawat di rumah sakit.

Pihak dinas kesehatan telah mengambil sampel darah untuk diperiksa di laboratorium.

baca juga

Tiga pasien ini menambah daftar kasus dugaan hepatitis akut di Indonesia menjadi enam kasus.

Sebelumnya, sebanyak tiga pasien anak yang dirawat di RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo, Jakarta, meninggal dunia dengan dugaan hepatitis akut yang belum diketahui penyebabnya. Mereka tutup usia dalam kurun waktu yang berbeda dengan rentang dua minggu terakhir hingga 30 April 2022.

Sebagaimana dilaporkan Kementerian Kesehatan, ketiga pasien ini merupakan rujukan dari rumah sakit yang berada di Jakarta Timur dan Jakarta Barat.

"Kita belum bisa menyatakan mereka positif hepatitis akut atau tidak, karena masih dalam proses pemeriksaan laboratorium," ujar Siti Nadia Tarmizi kepada Quin Pasaribu yang melaporkan untuk BBC News Indonesia, Rabu (04/05).

"Kondisi mereka masih baik, tapi akan dimonitor ada perburukan atau tidak."

Adapun proses investigasi untuk tiga anak yang meninggal di RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo, Jakarta dengan dugaan hepatitis akut, kata Nadia, belum dilakukan lantaran orangtua masih dalam kondisi berduka.

Nantinya penyelidikan itu akan menelusuri riwayat anak tersebut sebelum tertular, termasuk faktor risikonya.

"Kita ingin lebih mengetahui dimana dia tertular, penyebab penularan, adakah anggota keluarga lain yang juga positif sebelum atau sesudah anak itu terkena hepatitis akut."

Muncul misinformasi soal hepatitis akut

Informasi mengenai hepatitis akut dari pemerintah, menurut pemantauan Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo), belum masif untuk bisa dijadikan panduan awal bagi masyarakat.

Ketua Presidium Mafindo, Septiaji Eko Nugroho, mengatakan publik masih bingung bagaimana menyikapi penyakit yang belum diketahui penyebabnya ini.

"Kita lihat panduan dari Kemenkes masih normatif, jaga kebersihan. Tapi masyarakat butuh informasi lebih lanjut dan butuh diberi informasi secara berkelanjutan agar tidak cemas dan ketika misalnya harus siap, mereka tahu apa yang harus dilakukan," imbuh Septiaji Eko Nugroho.

Di tengah keterbatasan informasi, dia khawatir hoaks dan teori konspirasi mengenai hepatitis akut akan masuk dan menyebar lantaran bahasa yang dipakai 'mengena' sehingga orang mudah percaya.

Salah satu misinformasi yang muncul yaitu hepatitis akut disebabkan oleh vaksin Covid-19 yang menggunakan vektor adenovirus seperti AstraZeneca.

Pantauan Mafindo, setidaknya ada dua kelompok yang mencetuskan dan mengonsumsi misinformasi tersebut.

Pertama, kalangan anti-vaksin di Indonesia.

"Mereka menggunakan informasi hepatitis sebagai bukti ini dampak buruk orang yang menerima vaksin Covid-19. Vaksin yang berbasis adenovirus dikaitkan dengan fenomena hepatitis akut."

Kedua, kalangan anti-vaksin dari negara Barat.

"Mereka ini tidak anti-vaksin, tapi anti-vaksin Barat. Tapi mereka percaya vaksin dari China. Nah mereka mengambil isu ini sebagai bukti 'ngapain pakai vaksin berbasis adenovirus. Jangan mau divaksin dari Barat'."

Eko Nugroho, khawatir serangan hoaks maupun misinformasi soal hepatitis akut akan sama seperti virus Covid-19 mula-mula melanda Indonesia pada 2020.

Kala itu Indonesia menjadi negara nomor lima yang paling banyak penyebaran teori konspirasi Covid-19. Setidaknya ada 1.060 hoaks seputar virus Corona dalam rentang Januari 2020 hingga Juli 2021.

"Ini bisa jadi akan berulang kalau kita enggak belajar dari tahun 2020. Saya rasa, ketika situasi masih awal Kemenkes, Kominfo perlu bekerjasama untuk membuat langkah demi memastikan masyarakat tidak sampai kekosongan narasi."

Apakah hepatitis akut disebabkan vaksin Covid-19?

Epidemiolog dari Universitas Griffith di Australia, Dicky Budiman, mengatakan penyakit hepatitis tidak bisa dilepaskan dari pandemi Covid-19.

Sebab pada tahun 2020 di Wuhan, terdapat temuan bahwa SARS-CoV-2 menyebabkan penurunan fungsi hati atau radang hati.

Namun begitu, kasus yang muncul pada anak tidak terlalu banyak dan umumnya tidak bergejala atau memiliki gejala ringan.

Dan kalaupun bergejala, anak tersebut mengalami gangguan imunitas.

"Pada kasus ini (hepatitis akut yang positif adenovirus), terjadi pada anak yang sehat atau tidak ada gangguan imunitas. Ini yang sedang diteliti," ujar Dicky Budiman.

Dicky juga mengatakan tidak ada data yang kuat untuk mengaitkan hepatitis akut dengan vaksin Covid-19.

Ini karena kebanyakan anak yang terinfeksi hepatitis akut belum divaksinasi.

"Hepatitis akut ini paling banyak kasus kepada anak di bawah lima tahun. Kalau misalnya disebabkan vaksin, orang dewasa lah yang seharusnya paling banyak kena."

"Jadi kita belum tahu penyebabnya apakah betul dari SARS-CoV-2 atau virus lain, atau ada varian baru?"

Hingga kini Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan Kejadian Luar Biasa (KLB) pada kasus hepatitis akut yang menyerang anak-anak di Eropa, Amerika dan Asia dan belum diketahui penyebabnya sejak 15 April 2022.

Dicky justru khawatir Indonesia bisa sangat rawan terhadap hepatitis akut lantaran kasus gizi buruk dan stunting anak di bawah usia lima tahun meningkat sejak pandemi.

Perwakilan UNICEF untuk Indonesia mencatat sebelum terjadi pandemi ada sekitar 2 juta anak menderita gizi buruk dan lebih dari 7 juta anak mengalami stunting.

Belum lagi persoalan sanitasi di Indonesia masih jauh dari ideal. Data Kemenkes menunjukkan ada 8,6 juta rumah tangga yang anggota keluarganya mempraktikkan buang air besar sembarangan per Januari 2020.

Bagaimana menangkal hoaks atau misinformasi hepatitis akut?

Platform media sosial Facebook dan aplikasi percakapan seperti WhatsApp menjadi medium yang gencar menyebarkan hoaks maupun misinformasi, kata Mafindo.

Seorang ibu satu anak di Jakarta, Ayu Poernamaningrum, pernah melihat sendiri temuan Mafindo.

Ia mengaku pernah membaca komentar sebuah akun di Facebook yang menyebut bahwa hepatitis akut disebabkan vaksin Covid-19.

Misinformasi seperti itu, kata dia, menambah cemas apalagi pandemi belum sepenuhnya berakhir dan sekolah tatap muka sudah diberlakukan kembali.

"Terus terang panik banget, ini pandemi belum berakhir, ada lagi penyakit yang bikin anak kecil meninggal. Sedangkan anak diare atau demam hal biasa. Jadi untuk gejala awal, ibu-ibu nggak terlalu paham kalau itu penyakit hepatitis akut," imbuh Ayu.

"Ditambah mereka sudah masuk sekolah, sudah enggak bisa terkontrol deh, main apa, tukeran makanan."

Sejak Kemenkes mengumumkan adanya tiga anak di Jakarta meninggal dengan dugaan hepatitis akut, Ayu mencari sendiri informasi soal penyakit itu dengan menjelajahi situs dari luar negeri.

Di Indonesia, menurutnya, belum terlalu fokus dan tidak detail membahas penyakit tersebut.

"Disebutkan sih oleh Kemenkes gejalanya, tapi nggak detail misalnya anak yang meninggal itu riwayatnya bagaimana. Supaya kita tahu kemungkinan-kemungkinan kena di mana dan seperti apa nularnya."

"Detil-detil itu yang mestinya dijelaskan, biar waspada."

Ketua Presidium Mafindo, Septiaji Eko Nugroho, meminta pemerintah mulai menerbitkan informasi prebunking untuk menangkal misinformasi soal hepatitis akut.

"Prebunking itu melakukan deteksi dan prediksi terhadap hoaks sehingga sebelum hoaks itu tersebar kita sudah ketemu klarifikasi atau edukasinya. Itu yang perlu pemerintah buat sekarang dan disebarkan sekarang."

"Kalau prebunking kan yang disasar kepercayaan masyarakat. Sehingga masyarakat tidak lari ke tempat lain."

Sebab jika tidak ditangkis, maka publik akan kehilangan kepercayaan pada tenaga medis dan akhirnya mengambil keputusan sendiri.

"Yang kita khawatirkan wabah bisa lebih parah dampaknya ketimbang ketika masyarakat tidak termakan hoaks. Dalam kasus Covid-19, masyarakat yang percaya hoaks mereka tidak mau ke rumah sakit akhirnya meninggal."

Menjawab desakan itu, Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung di Kementerian Kesehatan, Siti Nadia Tarmizi, mengatakan pemerintah masih mengandalkan aplikasi hoax buster di situs Covid19 milik Kominfo.

Dengan aplikasi itu, informasi tidak benar akan dilabeli hoaks dan disebarkan.

"Cuma kalau unggahan di aplikasi privat sulit, kecuali sudah viral."

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

MotoGP Mandalika 2026 Target Rp5 Triliun, Intip Kesiapan Sirkuit dan Teknologi di Baliknya

MotoGP Mandalika 2026 Target Rp5 Triliun, Intip Kesiapan Sirkuit dan Teknologi di Baliknya

Otomotif | Minggu, 13 September 2026 | 12:02 WIB

Pencarian 5 Jurnalis Masih Berlanjut, Tim SAR Gabungan Menyisir Lewat Laut, Darat, dan Udara

Pencarian 5 Jurnalis Masih Berlanjut, Tim SAR Gabungan Menyisir Lewat Laut, Darat, dan Udara

News | Minggu, 13 September 2026 | 11:57 WIB

Sinyal Darurat di Laut Jawa: Tim SAR Sisir Titik Koordinat Terakhir Kapal Virgo Transport 8

Sinyal Darurat di Laut Jawa: Tim SAR Sisir Titik Koordinat Terakhir Kapal Virgo Transport 8

News | Minggu, 13 September 2026 | 11:56 WIB

Gubsu Bobby Nasution Minta Publik Hentikan Komentar Negatif terhadap Korban MBG di Karo

Gubsu Bobby Nasution Minta Publik Hentikan Komentar Negatif terhadap Korban MBG di Karo

News | Minggu, 13 September 2026 | 11:53 WIB

Cara Memilih Body Serum untuk Mencerahkan Kulit, Lengkap dengan Rekomendasi Murahnya

Cara Memilih Body Serum untuk Mencerahkan Kulit, Lengkap dengan Rekomendasi Murahnya

Lifestyle | Minggu, 13 September 2026 | 11:48 WIB

Bukan Cuma Ekonomi, Prabowo Didorong Bawa Isu Kesehatan dan Bencana di KTT BRICS

Bukan Cuma Ekonomi, Prabowo Didorong Bawa Isu Kesehatan dan Bencana di KTT BRICS

News | Minggu, 13 September 2026 | 11:26 WIB

Amerika Serikat Mulai Krisis Oli Mesin: Harga Melonjak Tajam hingga Dijatah di Ritel Raksasa

Amerika Serikat Mulai Krisis Oli Mesin: Harga Melonjak Tajam hingga Dijatah di Ritel Raksasa

Otomotif | Minggu, 13 September 2026 | 11:25 WIB

Meski Kredit Digenjot, Perbankan Tetap Merasa Khawatir Kondisi Global

Meski Kredit Digenjot, Perbankan Tetap Merasa Khawatir Kondisi Global

Bisnis | Minggu, 13 September 2026 | 11:15 WIB

Siapa Nama Asli Betrand Peto? Ini Profil Putra Ruben Onsu yang Sedang Disorot

Siapa Nama Asli Betrand Peto? Ini Profil Putra Ruben Onsu yang Sedang Disorot

Entertainment | Minggu, 13 September 2026 | 11:04 WIB

Bukan Orang Lokal, Warga Negara Ini Paling Sering Naik Kereta Cepat Whoosh!

Bukan Orang Lokal, Warga Negara Ini Paling Sering Naik Kereta Cepat Whoosh!

Bisnis | Minggu, 13 September 2026 | 11:01 WIB

Terkini

Jejak Dini Hari di TPA Galuga, Kala Bupati Bogor dan Tim Gabungan Bertarung Menundukkan Bara Api

Jejak Dini Hari di TPA Galuga, Kala Bupati Bogor dan Tim Gabungan Bertarung Menundukkan Bara Api

Jabar | Senin, 14 September 2026 | 02:22 WIB

Minifootball Asia Bergulir di Jakarta, 10 Negara Bersaing jadi yang Terbaik

Minifootball Asia Bergulir di Jakarta, 10 Negara Bersaing jadi yang Terbaik

Bola | Senin, 14 September 2026 | 00:29 WIB

Cucu Diduga Bunuh Nenek di Palembang, Pelarian Pelaku Hanya Bertahan 50 Menit

Cucu Diduga Bunuh Nenek di Palembang, Pelarian Pelaku Hanya Bertahan 50 Menit

Sumsel | Minggu, 13 September 2026 | 23:10 WIB

Kabut Jadi Kendala, Pencarian 5 Jurnalis-3 Kru Kapal Hilang di GAK Masih Nihil

Kabut Jadi Kendala, Pencarian 5 Jurnalis-3 Kru Kapal Hilang di GAK Masih Nihil

Banten | Minggu, 13 September 2026 | 21:43 WIB

Kapal Virgo Transport 8 Terbalik, Tim SAR Perketat Pencarian via Udara

Kapal Virgo Transport 8 Terbalik, Tim SAR Perketat Pencarian via Udara

News | Minggu, 13 September 2026 | 21:20 WIB

Emil Audero Orang Indonesia Pertama Lawan Real Madrid, Pelatih Rayo Puji Setinggi Langit

Emil Audero Orang Indonesia Pertama Lawan Real Madrid, Pelatih Rayo Puji Setinggi Langit

Bola | Minggu, 13 September 2026 | 21:13 WIB

36 Peraih Super Tiket PB Djarum 2026 Bersiap Jalani Karantina, Mentalitas Diuji

36 Peraih Super Tiket PB Djarum 2026 Bersiap Jalani Karantina, Mentalitas Diuji

Sport | Minggu, 13 September 2026 | 21:13 WIB

Piala Soeratin Jabar 2026 Tuntas, Sepakbola Dipadukan dengan Wisata, Budaya hingga UMKM

Piala Soeratin Jabar 2026 Tuntas, Sepakbola Dipadukan dengan Wisata, Budaya hingga UMKM

Bola | Minggu, 13 September 2026 | 21:13 WIB

Geely Panda Mini Dijual Rp115 Juta, Harga Mobil Listrik Seken Bisa Ambruk

Geely Panda Mini Dijual Rp115 Juta, Harga Mobil Listrik Seken Bisa Ambruk

Otomotif | Minggu, 13 September 2026 | 21:00 WIB

Cara Pesan Tiket Liga Indonesia Seharga Rp1 Lewat BRImo

Cara Pesan Tiket Liga Indonesia Seharga Rp1 Lewat BRImo

Bri | Minggu, 13 September 2026 | 20:41 WIB

×