Sejauh ini, 109 anak di Amerika telah terpapar penyakit tersebut, sementara lima di antaranya meninggal dunia, menurut pernyataan CDC.
Di Inggris, 163 kasus hepatitis misterius sudah terdeteksi dan 11 prosedur transplantasi hati sudah dilakukan.
Menurut epidemiolog Dr Dicky Budiman, pakar belum bisa menjawab apakah hepatitis akut lebih berbahaya dari jenis hepatitis lainnya.
"Yang jelas kalau disebut harus diwaspadai atau berbahaya bisa saja, karena saat ini dengan 250 kasus di dunia, sudah kurang dari 20 orang yang harus ditransplantasi," katanya.
"
"Itu ada indikator bahwa ini menunjukkan sesuatu yang tidak normal, serius."
"
Kerawanan hepatitis akut di Indonesia
Kebanyakan kasus hepatitis akut misterius ini terjadi pada anak di bawah usia 10 tahun. Tidak sedikit di antaranya menyerang anak di bawah usia lima tahun.
Aikaterini Mouggou, pakar resistensi antimikroba di Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Eropa (ECDC), mengatakan kasus-kasus itu "sangat mengkhawatirkan".
"Tidak jelas apakah jumlah anak dengan gejala ringan lebih banyak karena gejalanya tidak dapat dilacak," ujarnya.
"Karena kami tidak tahu penyebabnya, kami tidak tahu rute penularan dan cara mencegah dan mengobatinya."
Dr Dicky mengatakan Indonesia yang memiliki sejarah wabah hepatitis harus lebih waspada dari negara maju.
"Kita rawan karena jumlah anak kita besar, lebih dari 37 juta untuk yang di bawah lima tahunan," katanya.
"Juga bicara stunting, gizi, imunitas, lingkungan, sanitasi lingkungan dan masalah perilaku. Itu yang akan menjadi kerawanan tambahan."
Menurutnya, jumlah anak yang terpapar hepatitis akut di Indonesia lebih banyak dari yang terdeteksi sejauh ini.
"Sekali lagi kita harus melihat fakta di tengah keterbatasan deteksi, keterbatasan tes, keterbatasan kesadaran, ya ini bisa jadi sudah meluas," katanya.
"Kemudian artinya, jelas ini ada keterlambatan deteksi. Karena seringkali sebagian masyarakat kita bisa salah menginterpretasikan antara ini penyakit kuning biasa dengan penyakit kuning yang misterius ini."
Langkah pencegahan yang bisa dilakukan
Imunisasi, program vaksinasi rutin, penjagaan kebersihan makanan dan diri menjadi beberapa langkah pencegahan yang diusulkan oleh Dr Dicky.
"Sekali lagi saya ingatkan, ini kita masih dalam masa pandemi. Ya sama, 5M itu dilakukan," katanya.
"Karena kita masih belum sangat firm [yakin], solid, dan valid jawaban tentang fase penularannya ini."
Bagi anak-anak yang mau masuk sekolah, Dr Dicky mengatakan vaksinasi bagi mereka, setidaknya dua dosis, sudah harus diberikan agar relatif aman.
Selain itu, guru-guru juga sudah harus mendapatkan booster.
Langkah kewaspadaan terutama ditekankannya bagi orangtua dari anak-anak yang belum bisa divaksinasi karena usia.
"Karena paling banyak menimpa anak-anak yang belum bisa mendapat vaksin, ini yang tentu perlu jauh lebih berhati-hati," ujarnya.
"
"Ini kan usia TK, pastikan skrining dilakukan ketat, tidak ada gejala demam, atau pun keluhan-keluhan seperti yang ada direkomendasi Ikatan Dokter Anak Indonesia."
"
Laporan tambahan oleh Natasya Salim