Suara.com - Donald Trump kini berada dalam pusaran konflik berbahaya yang tidak kunjung membuahkan hasil politik konkret. Penggunaan kekuatan militer Amerika Serikat di Timur Tengah dinilai gagal meredam perlawanan Iran.
Pemberian hukuman fisik secara bertubi-tubi kepada Teheran tidak otomatis mengubah peta kekuatan. Kebijakan Washington justru menemui jalan buntu karena tidak memiliki target capaian yang realistis.
Pakar kawasan menilai logika berpikir yang digunakan pemerintah Amerika Serikat saat ini sangat cacat. Akibatnya, Washington terus melakukan serangan tanpa tahu cara mengakhiri pertempuran dengan kemenangan.
![Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali menjadi sorotan setelah hasil pemeriksaan kesehatan terbarunya belum juga dipublikasikan kepada publik.[Istimewa]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/05/30/92151-donald-trump.jpg)
Senior Fellow dari Middle East Institute, Ross Harrison, menyoroti kebuntuan yang sedang dihadapi oleh sang presiden. Trump dianggap bertindak tanpa kalkulasi matang.
"Anda memiliki seorang presiden yang memasuki perang dengan logika strategis yang keliru, [dan] dalam beberapa hal dia terjebak dalam apa yang kami sebut sebagai perangkap eskalasi, di mana dia dapat melakukan eskalasi malam ini, besok malam – seperti yang telah dia lakukan selama tujuh malam terakhir – dan menimbulkan rasa sakit serta retribusi, pembalasan bagi warga Iran," kata Harrison dikutip dari Al Jazeera.
Penggunaan instrumen bersenjata seharusnya memiliki arah yang jelas untuk memengaruhi kebijakan lawan. Jika hanya bertujuan memaksa musuh tunduk, strategi tersebut dipastikan akan menemui kegagalan.
Iran diprediksi tidak akan melepaskan posisi tawarnya meskipun terus ditekan oleh militer Pentagon. Perlawanan Teheran justru berpotensi semakin mengeras di tengah gempuran.
"Namun sarana militer seharusnya hanya digunakan untuk mencapai semacam hasil politik. Dan jika hasil politik yang diinginkan adalah membuat orang Iran menyerah dan melepaskan pengaruh yang telah mereka coba bangun atau bangun kembali sejak awal perang ini, itu tidak akan berhasil," ujarnya.
Kematian sejumlah tentara Amerika Serikat di Yordania menuntut respons yang sangat tegas dari Gedung Putih. Namun, setiap langkah yang diambil Trump kini mengandung risiko politik yang sangat besar.
Jika memilih menyerang lebih brutal, Washington hanya melampiaskan kemarahan tanpa mengubah keadaan. Sebaliknya, menahan diri akan membuat pemerintahan Trump dinilai kalah oleh musuh.
Harrison berargumen bahwa Trump menghadapi dilema berat dari kedua pilihan yang tersedia tersebut. Posisi Amerika Serikat menjadi sangat rentan.
"Jika dia meningkatkan eskalasi lebih jauh sebagai pembalasan terhadap kematian-kematian ini [pembunuhan tentara AS di Yordania], hal itu akan menimbulkan rasa sakit, tetapi tidak akan mengubah [posisi Iran]. Faktanya, hal itu bahkan mungkin memperkeras ketabahan orang-orang Iran. Dan jika dia melakukan de-eskalasi, dia dipandang lemah dan menyerah pada tekanan dari orang-orang Iran," tutur Harrison.
Konflik antara kedua negara ini terus meruncing menyusul serangkaian serangan terhadap aset-aset militer Amerika Serikat. Trump berulang kali memerintahkan serangan udara sebagai bentuk pembalasan langsung.
Ketiadaan diplomasi yang kuat membuat opsi militer menjadi satu-satunya jalur yang ditempuh Washington. Sayangnya, pendekatan ini tidak dibarengi dengan visi jangka panjang yang jelas.
Trump, tambah Harrison, "tampaknya tidak memiliki kapasitas strategis jenis seperti itu yang biasanya digunakan untuk keluar dari situasi ini."