Jejak Ratu Elizabeth II, Penguasa Inggris Terlama Yang Sudah Kunjungi Lebih Dari 120 Negara

Bangun Santoso | Suara.com

Jum'at, 09 September 2022 | 09:11 WIB
Jejak Ratu Elizabeth II, Penguasa Inggris Terlama Yang Sudah Kunjungi Lebih Dari 120 Negara
Potret yang diambil 07 Juni 1951 dari Putri Elizabeth dari Inggris Raya, calon Ratu, mengenakan mahkota berlian.[Photo/AFP]

Suara.com - Ratu Inggris, Elizabeth II, meninggal dunia di Istana Balmoral, Inggris, Kamis (8/9/2022) siang waktu setempat. Ia memecahkan rekor demi rekor sebagai pucuk pimpinan Kerajaan Inggris yang paling lama memerintah.

Menyitat sejumlah catatan, Ratu Elizabeth yang dikenal luas sebagai sosok flamboyan, menjadi pemimpin yang paling bepergian. Ia tercatat sudah berkunjung ke enam benua dengan lebih dari 120 negara telah dijejaknya.

Di luar Inggris, Kanada menjadi negara yang paling sering ia kunjungi.

Simbol Abadi

Pelaksanaan Operasi "London Bridge is Down" saat Ratu Elizabeth II meninggal dunia (Getty Images/WPA Pool)
Pelaksanaan Operasi "London Bridge is Down" saat Ratu Elizabeth II meninggal dunia (Getty Images/WPA Pool)

Ratu Elizabeth II menjadi simbol abadi Inggris, yakni negara di mana dia memerintah selama 70 tahun bahkan ketika Inggris terus berubah, mulai kehilangan jati diri kerajaannya dan mengalami pergolakan sosial.

Beberapa komentator menggambarkan pemerintahan Elizabeth II sebagai "zaman keemasan" yang mengingatkan pada masa Ratu Elizabeth I, yang memerintah Inggris 400 tahun yang lalu selama periode pertumbuhan kekuasaan dan perkembangan budaya.

"Saya pikir kami (masyarakat Inggris) dipandang sebagian melalui prisma sang ratu yakni dari konsistensi, kebijaksanaan yang telah ditunjukkannya, semua itu terlihat jelas dalam cara orang memandang Inggris," kata Valerie Amos, mantan politisi yang juga politisi kulit hitam pertama yang ditunjuk oleh kerajaan untuk "Orde Garter" kuno sebagaimana disitat dari Antara, Jumat (9/9/2022).

Yang lain mengatakan bahwa pengaruh ratu berusia 96 tahun itu terhadap bangsa Inggris kurang mendalam dibandingkan dengan leluhurnya yang termasyhur, di mana kekuasaan kerajaan telah menyusut sejak zaman Ratu Elizabeth I.

Beberapa kritikus berpendapat bahwa Ratu Elizabeth II tidak meninggalkan bekas pemerintahan yang nyata, hanya sebuah institusi yang tidak sesuai untuk tujuan di dunia yang diwarnai dengan aspirasi egaliter, komentar media sosial yang tidak sopan dan pengawasan sepanjang waktu oleh outlet media terhadap anggota kerajaan.

Namun, warisan Ratu Elizabeth II masih tetap luar biasa, yakni memastikan monarki selamat dari era perubahan yang cepat.

Elizabeth naik takhta pada usia 25 tahun pada 6 Februari 1952, setelah kematian ayahnya George VI, ketika Inggris bangkit dari kehancuran Perang Dunia Kedua. Saat itu sistem penjatahan masih berlaku dan Winston Churchill menjabat perdana menteri.

Sejak saat Elizabeth II menjadi ratu, sejumlah presiden, paus, dan perdana menteri telah datang dan pergi. Uni Soviet telah runtuh dan zaman kerajaan Inggris telah berlalu digantikan oleh suati Persemakmuran 56 negara yang di mana Elizabeth berperan penting dalam menciptakannya.

"Tidak ada kekuatan kerajaan lain yang mencapai hal semacam itu ... dan di Inggris, perubahan sosial dan ekonomi yang besar telah terjadi secara keseluruhan secara damai dan konsensual," kata Profesor Vernon Bogdanor, seorang ahli dalam sejarah konstitusi Inggris.

"Itu sangat luar biasa," ujar Bogdanor.

Era Elizabeth II

RCatherine Middleton dan Pangeran William berdiri bersama anak-anak mereka yaitu Pangeran Louis, Putri Charlotte dan Pangeran George untuk menonton atraksi pesawat khusus dari balkon Istana Buckingham saat perayaan 70 tahun tahta Ratu atau Queen Platinum Jubilee di London, Ingrris, Kamis (2/6/2022). [Daniel LEAL / AFP]
RCatherine Middleton dan Pangeran William berdiri bersama anak-anak mereka yaitu Pangeran Louis, Putri Charlotte dan Pangeran George untuk menonton atraksi pesawat khusus dari balkon Istana Buckingham saat perayaan 70 tahun tahta Ratu atau Queen Platinum Jubilee di London, Ingrris, Kamis (2/6/2022). [Daniel LEAL / AFP]

Elizabeth I menghabiskan 44 tahun di atas takhta pada abad ke-16, yakni suatu periode yang dianggap sebagai zaman keemasan Inggris ketika ekonomi bertumbuh, pengaruh negara berkembang dan William Shakespeare menulis naskah dramanya yang masih dimainkan di seluruh dunia dan dianggap sebagai drama yang paling berpengaruh dalam bahasa apapun.

"Beberapa orang telah menyatakan harapan bahwa pemerintahan saya dapat menandai era Elizabeth yang baru," kata Ratu Elizabeth II dalam siaran Natalnya pada 1953.

"Terus terang, saya sendiri sama sekali tidak merasa seperti leluhur Tudor saya yang hebat," ujarnya.

Karena tidak pernah memberikan kesempatan wawancara atau membuat pandangan pribadinya tentang masalah politik, penilaian Ratu Elizabeth II tentang pemerintahannya sendiri sulit dipastikan.

Masa pemerintahan Ratu Elizabeth II adalah yang terpanjang dalam sejarah Inggris.

Seorang asisten senior kerajaan Inggris mengatakan kepada Reuters bahwa sang ratu akan menganggap penilaian terhadap warisan pemerintahannya sebagai hal yang perlu dinilai oleh orang lain.

Sejarawan konstitusi Inggris, David Starkey, mengatakan, Ratu Elizabeth II tidak menganggap perannya selaku ratu sebagai perwujudan periode sejarah, melainkan hanya suatu pekerjaan.

"Ia (Elizabeth II) tidak melakukan dan tidak mengatakan hal apa pun yang akan diingat oleh siapa pun. Dia tidak akan menyematkan namanya untuk suatu era. Atau, saya rasa, tidak juga untuk suatu hal lain," tulis Starkey pada 2015.

"Saya mengatakan ini bukan sebagai kritik tetapi hanya sebagai pernyataan fakta. Bahkan sebagai semacam pujian. Dan, saya kira, ratu akan menganggapnya seperti itu. Karena dia naik takhta hanya dengan satu niat: untuk menjaga keberlangsungan kerajaan (Inggris) terus berjalan."

Beberapa sejarawan dan penulis biografi lain mengatakan pandangan Starkey itu masih kurang untuk menggambarkan bagaimana Ratu Elizabeth II melakukan perannya dan bergerak seiring waktu.

"Dalam dunia yang semakin kacau, dia telah memberikan rasa stabilitas," kata Andrew Morton, penulis biografi Putri Diana pada 1992 yang menyebabkan pertengkaran di keluarga kerajaan.

Tekad sang ratu untuk melakukan perannya sebaik mungkin dan menahan diri untuk tidak menyuarakan pandangan apa pun yang dapat menyebabkan pelanggaran memberinya otoritas moral melebihi apa pun yang dia perintahkan hanya melalui posisinya sebagai ratu, kata beberapa orang.

"Apa yang berhasil dilakukan Ratu (Elizabeth II) adalah.. membawa monarkhi Inggris ke abad ke-21 sebaik mungkin," kata cucu sang ratu, Pangeran William, dalam film dokumenter pada 2012.

"Setiap organisasi perlu sering menilai dirinya sendiri, dan monarki adalah mesin yang terus berkembang dan saya pikir monarki benar-benar ingin mencerminkan masyarakat, ingin bergerak seiring waktu dan penting bahwa monarki melakukannya untuk kelangsungan hidupnya sendiri," ujar William.

Kekuatan Lembut Elizabeth II

Potret yang diambil pada Februari 1952 dari Putri Elizabeth dari Inggris Raya, calon Ratu Elizabeth II, mengenakan mahkota berlian. AFP
Potret yang diambil pada Februari 1952 dari Putri Elizabeth dari Inggris Raya, calon Ratu Elizabeth II, mengenakan mahkota berlian. AFP

Secara konstitusional, ratu atau raja Inggris memiliki sedikit kekuatan praktis dan diharapkan untuk menjadi non-partisan.

Namun, para sejarawan mengatakan Elizabeth telah menggunakan kekuatan "lembut" dan menjadikan monarki Inggris sebagai titik fokus pemersatu bagi bangsa di tengah perpecahan masyarakat yang besar.

Kekuatan lembut itu dicontohkan Ratu Elizabeth II melalui siarannya untuk meyakinkan publik pada awal pandemi Covid-19.

Selain segala keributan politik, sang ratu masih menyempatkan diri bertemu perdana menteri untuk suatu audiensi mingguan pribadi.

"Mereka melepaskan beban dari diri mereka atau mereka memberi tahu saya apa yang sedang terjadi atau jika mereka punya masalah, dan terkadang seseorang dapat membantu dengan cara itu juga," kata Ratu Elizabeth II dalam sebuah film dokumenter pada 1992.

"Mereka tahu bahwa seseorang, boleh dikatakan, bisa tidak bersikap memihak. Saya pikir agak menyenangkan untuk dapat merasa bahwa ada seseorang yang bertindak seperti semacam spons," ujar sang ratu.

Para mantan pemimpin pemerintahan Inggris mengatakan pengalaman Ratu Elizabeth II selama bertahun-tahun telah terbukti sangat membantu, memungkinkan mereka untuk berbicara dengan jujur tanpa takut percakapan mereka akan dipublikasikan.

"Anda bisa benar-benar jujur, bahkan sampai bersikap tidak bijaksana (saat berbicara) dengan ratu," kata John Major, perdana menteri Inggris periode 1990-1997.

Tony Blair, yang menggantikan Major dan menjadi perdana menteri selama satu dekade, mengatakan: "Ia (Ratu Elizabeth II) akan menilai situasi dan kesulitan dan dapat menggambarkannya tanpa pernah ... memberikan petunjuk apa pun tentang preferensi politiknya atau semacamnya. Sangat luar biasa untuk dilihat".

Beberapa sejarawan mengatakan Ratu Elizabeth II akan dipandang sebagai yang terakhir dari jenisnya, yakni seorang pemimpin kerajaan dari masa ketika para elit memerintahkan rasa hormat yang tidak perlu dipertanyakan lagi.

Namun, Ratu Elizabeth II masih mungkin menjadi salah satu tokoh yang terbesar di Inggris, menurut para sejarawan.

"Tidak ada keraguan bahwa dia akan berada di atas sana sebagai salah satu tokoh terbesar kerajaan Inggris, tidak hanya untuk umur panjangnya, tetapi juga untuk periode perubahan yang telah dia saksikan," kata Anna Whitelock, profesor sejarah monarki di Universitas London.

"Dan seperti Elizabeth I... (Elizabeth II) sama-sama berperan penting bagi Inggris dan juga bagi tempat Inggris di dunia," ujarnya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Teka Teki Klub dan Pemain Favorit Ratu Elizabeth: Dua Klub London Saling Klaim

Teka Teki Klub dan Pemain Favorit Ratu Elizabeth: Dua Klub London Saling Klaim

| Jum'at, 09 September 2022 | 09:06 WIB

Delapan Fakta Ratu Elizabeth II semasa Hidup, Pernah Berkunjung ke Jogja tapi Tidak Bisa Lewat Malioboro

Delapan Fakta Ratu Elizabeth II semasa Hidup, Pernah Berkunjung ke Jogja tapi Tidak Bisa Lewat Malioboro

Jogja | Jum'at, 09 September 2022 | 09:04 WIB

Apa Itu Operation London Bridge? Mengenal Kode Rahasia Setelah Ratu Elizabeth II Meninggal

Apa Itu Operation London Bridge? Mengenal Kode Rahasia Setelah Ratu Elizabeth II Meninggal

Your Say | Jum'at, 09 September 2022 | 09:02 WIB

Pelangi yang Muncul di Atas Istana Buckingham Melepas Kepergian Ratu Elizabeth II

Pelangi yang Muncul di Atas Istana Buckingham Melepas Kepergian Ratu Elizabeth II

| Jum'at, 09 September 2022 | 08:52 WIB

Meghan Markle Tidak Diundang ke Balmoral Jelang Kematian Ratu Elizabeth II

Meghan Markle Tidak Diundang ke Balmoral Jelang Kematian Ratu Elizabeth II

| Jum'at, 09 September 2022 | 08:50 WIB

Sayangi Ibu, Duka Mendalam Raja Charles III

Sayangi Ibu, Duka Mendalam Raja Charles III

| Jum'at, 09 September 2022 | 08:51 WIB

Mengenang Perjalanan Panjang Kehidupan Ratu Elizabeth II: dari Naik Tahta hingga Tutup Usia

Mengenang Perjalanan Panjang Kehidupan Ratu Elizabeth II: dari Naik Tahta hingga Tutup Usia

News | Jum'at, 09 September 2022 | 08:43 WIB

Terkini

BNI Ingatkan Nasabah Waspadai Vishing dan Phishing, Tekankan Pentingnya Jaga Data Pribadi

BNI Ingatkan Nasabah Waspadai Vishing dan Phishing, Tekankan Pentingnya Jaga Data Pribadi

News | Jum'at, 24 April 2026 | 21:17 WIB

AHY Dorong Model Penataan Kampung Mrican Sleman Jadi Percontohan Nasional

AHY Dorong Model Penataan Kampung Mrican Sleman Jadi Percontohan Nasional

News | Jum'at, 24 April 2026 | 21:11 WIB

Benyamin Netanyahu Menderita Kanker Prostat

Benyamin Netanyahu Menderita Kanker Prostat

News | Jum'at, 24 April 2026 | 20:58 WIB

Nekat Olah Ikan Sapu-Sapu untuk Bahan Siomay, 5 Pria Diciduk Petugas Satpol PP

Nekat Olah Ikan Sapu-Sapu untuk Bahan Siomay, 5 Pria Diciduk Petugas Satpol PP

News | Jum'at, 24 April 2026 | 20:55 WIB

Tak Percaya Peradilan Militer, Pihak Andrie Yunus Tolak Hadiri Persidangan 29 April

Tak Percaya Peradilan Militer, Pihak Andrie Yunus Tolak Hadiri Persidangan 29 April

News | Jum'at, 24 April 2026 | 20:40 WIB

Modus Gila Debt Collector Tipu Ambulans dan Damkar Demi Tagih Utang, DPR: Harus Dipidana!

Modus Gila Debt Collector Tipu Ambulans dan Damkar Demi Tagih Utang, DPR: Harus Dipidana!

News | Jum'at, 24 April 2026 | 20:33 WIB

Isu Kas Negara Menipis Dibantah, Menkeu: Uang Kita Masih Banyak!

Isu Kas Negara Menipis Dibantah, Menkeu: Uang Kita Masih Banyak!

News | Jum'at, 24 April 2026 | 20:33 WIB

J.J Rizal Soroti Warisan Soeharto, Sebut Aktor Lama Masih Dominan

J.J Rizal Soroti Warisan Soeharto, Sebut Aktor Lama Masih Dominan

News | Jum'at, 24 April 2026 | 20:27 WIB

Klarifikasi JK Soal Ceramah UGM Dianggap Tak Nyambung, GAMKI Tegaskan Laporan Polisi Tetap Lanjut

Klarifikasi JK Soal Ceramah UGM Dianggap Tak Nyambung, GAMKI Tegaskan Laporan Polisi Tetap Lanjut

News | Jum'at, 24 April 2026 | 20:24 WIB

Lawan Stigma, Cerita Karyawan Difabel Pabrik HS: Dari Korban Bully Jadi Mandiri

Lawan Stigma, Cerita Karyawan Difabel Pabrik HS: Dari Korban Bully Jadi Mandiri

News | Jum'at, 24 April 2026 | 20:20 WIB