Golkar Semprot PDIP Usai Ngotot Pemilu 2024 Coblos Partai: Jangan Terlalu Keras!

Ruth Meliana Dwi Indriani | Suara.com

Rabu, 04 Januari 2023 | 18:40 WIB
Golkar Semprot PDIP Usai Ngotot Pemilu 2024 Coblos Partai: Jangan Terlalu Keras!
Ilustrasi pemilu 2024 (pixabay.com)

Suara.com - PDIP terus mendorong agar Pemilu 2024 dilakukan dengan menyoblos gambar partai atau dengan kata lain, menggunakan sistem proporsional tertutup. Hal itu rupanya mendapatkan kritikan dari Partai Golkar.

Wakil Ketua Umum Partai Golkar, Nurul Arifin menyampaikan bahwa pihaknya memahami keinginan PDIP tersebut. Apalagi, di era pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) juga sempat muncul anjuran agar pemilu dilakukan dengan sistem proporsional tertutup.

Namun wacana tersebut tidak jadi diberlakukan setelah melalui serangkaian diskusi yang panjang. Pemilu pun dilakukan secara adil dengan sistem proporsional terbuka.

"Saya memahami betul kenapa Pak Hasto ingin sekali menerapkan sistem tertutup," kata Nurul saat menghadiri rilis survei Indikator Politik yang digelar secara virtual, Rabu (4/1/2023).

"Waktu kami di Komisi II juga seperti itu. Tapi akhirnya, tawaran setelah berdiskusi panjang waktu itu pada Pak SBY disetujui sebetulnya mix member proporsional itu yang paling adil," tambahnya.

Menurutnya, penyelenggaraan Pemilu harus mengalami perubahan yang disertai edukasi pada para pemilih. Ia pun menyoroti PDIP yang sangat percaya diri dengan sistem proporsional tertutup, di mana sistem itu dinilai hanya menguntungkan partai berlambang banteng tersebut.

"Kami melihat bahwa Mas Hasto sangat percaya diri dengan sistem tertutup karena political id-nya sangat kuat dan semua di-approval Pak Jokowi. Kemudian PDIP ada Pak Ganjar di situ, tapi tidak memberikan efek kepada yang lain," terangnya.

Selain itu, Nurul juga menilai pemilu dengan sistem proporsional tertutup belum tentu bisa mengurangi ego dari masing-masing partai politik, serta menghindari oligarki dalam pemilu. Ini terlihat dari surat pernyataan sikap yang sebelumnya diterbitkan delapan partai politik parlemen yang menolak sistem proporsional tertutup.

"Jadi partai politik tidak menjadi ego (sistem proporsional tertutup), kami tidak percaya, tidak ada oligarki kami tidak percaya, memerangi korupsi kami tidak percaya bahwa dengan sistem tertutup semua akan lebi baik," tegasnya.

Nurul berkaca pada wacana perubahan sistem proporsional pemilu pada 2016 lalu. Kala itu, banyak lembaga survei yang menantang keras usulan tersebut. Situasi berbeda dengan saat ini, di mana lembaga survei justru terkesan bungkam.

Ditambah saat itu SBY ikut memveto keputusan tersebut. Berbeda dengan saat ini, di mana semua pihak seolah mendukung diberlakukannya sistem proporsional tertutup. Karena itu, lembaga survei pun diminta untuk vokal dan tidak kalah dengan satu partai.

"Saya mengajak, ayo dong lembaga survei pada bergerak juga. Jangan diam saja. Masa kita delapan fraksi kalah sama satu fraksi (PDIP) saja," ajak Nurul.

"Ayo Pak Hasto jangan terlalu keras. Kita harus mengutamakan mengusung suara rakyat, biarkan rakyat itu pembelajaran politik dengan cara memilih siapa orang-orang yang mereka percaya," tandasnya.

Disclaimer:

Artikel ini merupakan kerja sama Suara.com dengan Warta Ekonomi. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi artikel menjadi tanggung jawab Warta Ekonomi.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Meski Ketum, Megawati Soekarnoputri Tak Mau Nyapres Lagi: Sudah Nenek-Nenek Malu Kalau Kalah

Meski Ketum, Megawati Soekarnoputri Tak Mau Nyapres Lagi: Sudah Nenek-Nenek Malu Kalau Kalah

| Rabu, 04 Januari 2023 | 18:37 WIB

Kominfo Gandeng Polri Tangkal Hoaks Pemilu 2024

Kominfo Gandeng Polri Tangkal Hoaks Pemilu 2024

Tekno | Rabu, 04 Januari 2023 | 18:18 WIB

Geger Ganjar Pranowo Sengaja Pakai Dana Baznas untuk Curangi Anies, Benarkah?

Geger Ganjar Pranowo Sengaja Pakai Dana Baznas untuk Curangi Anies, Benarkah?

| Rabu, 04 Januari 2023 | 18:06 WIB

Ketua Umum PBNU Harap Pemilu Tidak Baper-baperan: Tak Halalkan Darah Orang

Ketua Umum PBNU Harap Pemilu Tidak Baper-baperan: Tak Halalkan Darah Orang

| Rabu, 04 Januari 2023 | 17:31 WIB

Cuma Pelaksana Undang-Undang, Ketua KPU Ogah Berteori soal Sistem Proporsional Terbuka atau Tertutup

Cuma Pelaksana Undang-Undang, Ketua KPU Ogah Berteori soal Sistem Proporsional Terbuka atau Tertutup

News | Rabu, 04 Januari 2023 | 17:29 WIB

Rekam Jejak Politik Pakde Karwo, Pindah dari Partai Demokrat ke Golkar Jelang Pemilu 2024

Rekam Jejak Politik Pakde Karwo, Pindah dari Partai Demokrat ke Golkar Jelang Pemilu 2024

News | Rabu, 04 Januari 2023 | 17:26 WIB

Terkini

KPK Cecar Saksi Soal Dugaan Intervensi Hingga Pemberian Fee ke Sudewo dalam Kasus DJKA

KPK Cecar Saksi Soal Dugaan Intervensi Hingga Pemberian Fee ke Sudewo dalam Kasus DJKA

News | Selasa, 21 April 2026 | 15:34 WIB

Pengedar Ganja 3,6 Kg Diciduk di Tanah Abang Usai Ambil Paket dari Ekspedisi

Pengedar Ganja 3,6 Kg Diciduk di Tanah Abang Usai Ambil Paket dari Ekspedisi

News | Selasa, 21 April 2026 | 15:22 WIB

Eskalasi Konflik Global Meningkat, Puan Minta Pemerintah Evaluasi Misi TNI di UNIFIL

Eskalasi Konflik Global Meningkat, Puan Minta Pemerintah Evaluasi Misi TNI di UNIFIL

News | Selasa, 21 April 2026 | 15:16 WIB

Rustam Effendi Piliang Sebut Pratikno Otak Dugaan Ijazah Palsu Joko Widodo

Rustam Effendi Piliang Sebut Pratikno Otak Dugaan Ijazah Palsu Joko Widodo

News | Selasa, 21 April 2026 | 15:12 WIB

Dunia di Ambang Krisis Avtur, Harga Tiket Pesawat Bisa Melonjak

Dunia di Ambang Krisis Avtur, Harga Tiket Pesawat Bisa Melonjak

News | Selasa, 21 April 2026 | 15:07 WIB

Di Balik Ambisi B50 Dikritik: Diklaim Hemat Energi, Tapi Bebani Lingkungan dan Rakyat

Di Balik Ambisi B50 Dikritik: Diklaim Hemat Energi, Tapi Bebani Lingkungan dan Rakyat

News | Selasa, 21 April 2026 | 15:06 WIB

Tinjau Sekolah Rakyat Sigi, Gus Ipul Pastikan Laptop Dimanfaatkan untuk Kegiatan Belajar

Tinjau Sekolah Rakyat Sigi, Gus Ipul Pastikan Laptop Dimanfaatkan untuk Kegiatan Belajar

News | Selasa, 21 April 2026 | 15:05 WIB

KPK Limpahkan Suap Impor Bea Cukai ke Pengadilan Tipikor, Nilai Lebih Rp40 Miliar

KPK Limpahkan Suap Impor Bea Cukai ke Pengadilan Tipikor, Nilai Lebih Rp40 Miliar

News | Selasa, 21 April 2026 | 15:03 WIB

Kasus Korupsi Kuota Haji Kemenag, KPK Periksa Staf PBNU Syaiful Bahri

Kasus Korupsi Kuota Haji Kemenag, KPK Periksa Staf PBNU Syaiful Bahri

News | Selasa, 21 April 2026 | 14:58 WIB

Presiden Xi Jinping Telepon Pangeran Arab Saudi Desak Selat Hormuz Dibuka

Presiden Xi Jinping Telepon Pangeran Arab Saudi Desak Selat Hormuz Dibuka

News | Selasa, 21 April 2026 | 14:50 WIB