Suara.com - Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya Kombes Hengki Haryadi menyatakan, tidak ada aktor intelektual di balik penembakan yang dilakukan Mustopa NR di Kantor Majelis Ulama Indonesia (MUI), Jakarta Pusat. Dia memastikan bahwa yang bersangkutan tidak terafiliasi dengan kelompok terorisme.
Kesimpulan itu, kata Hengki, berdasar hasil penyelidikan yang dilakukan oleh Densus 88 Antiteror Polri dan pemeriksaan terhadap 39 saksi.
"Yang jadi catatan tidak ada aktor di belakanganya," kata Hengki di Polda Metro Jaya, Jakarta, Jumat (5/5/2023).
Dalam kesempatan itu, Hengki juga mengungkap asal usul mutasi senilai Rp 800 juta di rekening Mustopa yang sempat dinilai janggal oleh MUI dan Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK). Dari hasil pemeriksaan terhadap keluarga Mustopa diketahui bahwa uang tersebut berasal dari tiga anaknya yang bekerja di Korea Selatan, Taiwan, dan Hongkong.
"Dari pihak keluarga siap diperiksa dan siap mempertangggungjawabkan apa yang ada di rekening tersebut," ujar Hengki.
Air Gun Glock 17
Sementara itu, Kasubdit Jatanras Ditreskrimum Polda Metro Jaya AKBP Indriwienny Panjiyoga membeberkan bahwa Mustopa membeli senjata air gun jenis Glock 17 seharga Rp 5,5 juta dari seseorang berinisial H di daerah Lampung. Proses jual beli tersebut terjadi pada 21 Februari 2023.
"Membayar Rp 5,5 juta," ungkap Panjiyoga.
Menurut penuturan Panjiyoga, Mustopa membeli ari gun lewat seseorang berinisial D dan M. Keduanya tinggal tak jauh dari tempat tinggal Mustopa di Bandar Lampung.
Lebih lanjut, kata Panjiyoga, Mustopa diajari menggunakan air gun Glock 17 dengan peluru gotri kaliber 6 mm oleh D.
"D beri senjata ke pelaku dan kasih tahu cara pakai," bebernya.
Tim kedokteran forensik Rumah Sakit (RS) Polri sebelumnya menyimpulkan Mustopa meninggal dunia akibat serangan jantung. Kondisi ini diperparah dengan adanya riwayat penyakit infeksi paru-paru.
Anggota tim kedokteran forensik RS Polri, Afriani Ika Kusumawati mengatakan ini berdasar analisa terhadap hasil autopsi jenazah Mustopa.
"Jadi, kami dokter forensik menyimpulkan korban meninggal dunia karena serangan jantung. Diperberat penyakit infeksi pada paru," tutur Afriani
Berdasar hasil autopsi, lanjut Afriani, ditemukan pula sejumlah luka akibat benda tumpul pada tubuh Mustopa. Namun luka tersebut dipastikan bukan pemicu daripada kematiannya.
"Luka-luka luar tapi tidak mengakibatkan meninggal. Pemeriksaan dalam ada infeksi paru dan ada gambaran serangan jantung," ungkapnya.
Ingin Diakui Wakil Nabi
Peristiwa penembakan ini diketahui terjadi pada Selasa (2/5/) lalu. Mustopa melakukan penyerangan di Kantor MUI, Jakarta Pusat menggunakan air gun hingga melukai dua orang.
Hengki menyebut Mustopa telah merencanakan penyerangan terhadap pimpinan MUI sejak 2018. Motif penyerangan tersebut dilakukan karena tidak mendapat pengakuan sebagai wakil Nabi Muhammad SAW.
Hengki mengatakan ini berdasar barang bukti berupa dokumen surat. Dalam surat tersebut Mustopa menyatakan akan mencari senjata untuk melakukan serangan ke MUI.
"Niat jahat daripada tersangka yang dimulai dari tahun 2018 dari surat itu yang mana menyatakan yang bersangkutan apabila tidak diakui maka akan lakukan tindakan kekerasa terhadap pejabat-pejabat negeri dan juga MUI dengan mencari senjata api," ungkapnya kepada wartawan Selasa (2/5).
"Dari alat bukti yang ada tulisan-tulisan yang pertama motif sementara bahwa yang bersangkutan ini ingin mendapat pengakuan sebagai wakil nabi. Dalam surat tersebut salah satunya tertulis 'yang berdasarkan hadits di akhir zaman ada 73 golongan dalam Islam dan hanya satu golongan yg diakui dan itu adalah saya sebagai wakil Tuhan'," imbuhnya.
Hengki lalu memastikan Mustopa tidak terafiliasi dengan jaringan atau kelompok terorisme. Kepastian ini ia sampaikan berdasar hasil penyelidikan yang dilakukan Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri.
"Kami sudah koordinasi dengan Detasemen Khusus 88 hasil penyelidikan Densus bahwa tersangka ini tidak termasuk jaringan teror. Bukan merupakan wujud dari teror lone wolf dan juga tidak terkooptasi dengan ideologi agama yang ekstrem," pungkasnya.