Peringati 62 Tahun Perjanjian Roma, Solidaritas Pelajar West Papua Gelar Aksi Bisu

Chandra Iswinarno

Selasa, 01 Oktober 2024 | 01:00 WIB
Peringati 62 Tahun Perjanjian Roma, Solidaritas Pelajar West Papua Gelar Aksi Bisu
Aksi Solidaritas Pelajar West Papua memperingati Perjanjian Roma. [Dok]

Suara.com - Solidaritas Pelajar West Papua (SPWP) di Wilayah Nabire, Papua Tengah, melaksanakan aksi bisu di Karang Barat, Nabire, Senin (30/9/2024).

Aksi tersebut untuk memperingati 62 tahun penjajahan di Tanah Papua, menyusul dua perjanjian penting, yakni Perjanjian New York pada 15 Agustus 1962 dan Perjanjian Roma pada 30 September 1962.

Menurut mereka, Perjanjian Roma yang ditandatangani oleh Indonesia, Belanda, dan Amerika Serikat merupakan sebuah kesepakatan yang kontroversial.

Dalam perjanjian tersebut, terdapat 29 pasal yang mengatur berbagai aspek, termasuk Pasal 14 hingga 21 yang berkaitan dengan Penentuan Nasib Sendiri (self determination) berdasarkan prinsip 'satu orang satu suara' atau 'one man one vote'.

Pasal 12 dan 13 membahas transfer administrasi dari Badan Pemerintahan Sementara PBB (UNTEA) kepada Indonesia.

Meskipun perjanjian berdampak pada kehidupan rakyat Papua, tidak ada satu pun perwakilan dari masyarakat Papua yang terlibat dalam negosiasi.

Hal tersebut menimbulkan pertanyaan tentang legitimasi klaim Indonesia atas wilayah Papua, terutama setelah penyerahan kekuasaan dari Belanda pada 1 Mei 1963.

Setelah perjanjian tersebut, Indonesia melanjutkan dengan operasi militer dan penumpasan gerakan pro-kemerdekaan rakyat Papua.

Ironisnya, sebelum proses Penentuan Pendapat Rakyat (PEPERA) berlangsung, perusahaan Freeport yang berbasis di Amerika Serikat telah menandatangani kontrak pertamanya dengan pemerintah Indonesia pada 7 April 1967.

baca juga

Dari total 809.337 orang Papua yang berhak suara, hanya 1.025 orang yang terlibat, di mana hanya 175 orang yang memberikan pendapat. Proses PEPERA yang berlangsung dianggap tidak demokratis, diwarnai dengan teror, intimidasi, manipulasi, dan pelanggaran hak asasi manusia.

Hingga kini, teror, intimidasi, penahanan, penembakan, bahkan pembunuhan terhadap rakyat Papua masih berlangsung. Menurut korlap aksi, Josua Sani kondisi tersebut menunjukkan bahwa hak asasi rakyat Papua dianggap tidak bernilai oleh Indonesia.

"Sejak dilaksanakan PEPERA yang dianggap ilegal, militer Indonesia telah menjalankan operasi militer di seluruh Papua dengan tujuan mengkoloni wilayah tersebut." katanya.

Ia mengemukakan, hingga kini, pemerintah juga melakukan penangkapan dan penembakan terhadap warga sipil, dengan banyak kasus pelanggaran yang tidak pernah diusut tuntas.

Setelah lebih dari 20 tahun penerapan Otonomi Khusus, Papua masih berada di urutan terendah dalam Indeks Pembangunan Manusia (IPM) di Indonesia. Banyak kabupaten di Papua, seperti Nduga dan Puncak, mencatat IPM yang sangat rendah.

Data dari BPJS tahun 2022 menunjukkan bahwa jumlah penduduk asli Papua kini tersisa hanya 2.971.340 jiwa dari total 5,4 juta penduduk, jauh tertinggal dibandingkan Papua Nugini yang jumlah penduduknya mencapai 17 juta.

Sementara itu, jumlah pendatang baru yang terus meningkat menyebabkan peningkatan kemiskinan dan penurunan kualitas hidup masyarakat Papua.

Dalam aksi yang diadakan, SPWP menyampaikan sejumlah tuntutan:

  1. Menyatakan bahwa Perjanjian New York dan Perjanjian Roma adalah ilegal karena tidak melibatkan perwakilan rakyat Papua.
  2. Segera menarik militer organik maupun non-organik dari Papua demi kemanusiaan dan kedamaian.
  3. Menghentikan tindakan brutal militer terhadap warga sipil.
  4. Memecat Kapolres Kabupaten Yahukimo dan mengusut tuntas kasus penembakan Tobias Silak dan Naro Dapla.
  5. Menghentikan militerisasi pendidikan di Papua dan memberikan pendidikan gratis 100% untuk orang asli Papua.
  6. Menuntut negara Republik Indonesia bertanggung jawab atas pelanggaran hak asasi manusia di Papua.
  7. Pemerintah Indonesia di bawah rezim Jokowi diharapkan segera bertanggung jawab atas pengungsian dan investasi yang dikelola di Papua.
  8. Mendesak Indonesia untuk melaksanakan referendum di bawah pengawasan PBB untuk menyelesaikan akar konflik di Papua.

Kontributor : Elias Douw

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Musa Boma Sesalkan Pertemuan Pemprov Papua Tengah yang Abaikan Isu Penambangan Ilegal di Wakiya

Musa Boma Sesalkan Pertemuan Pemprov Papua Tengah yang Abaikan Isu Penambangan Ilegal di Wakiya

News | Sabtu, 28 September 2024 | 20:57 WIB

Pemprov Papua Tengah Salurkan Bantuan Sosial untuk Anak Terlantar dan Lansia

Pemprov Papua Tengah Salurkan Bantuan Sosial untuk Anak Terlantar dan Lansia

News | Sabtu, 28 September 2024 | 02:00 WIB

Lantik 39 Anggota Pansel DPRK, Pj. Gubernur Papua Tengah: Pastikan Hak Politik OAP Terjamin!

Lantik 39 Anggota Pansel DPRK, Pj. Gubernur Papua Tengah: Pastikan Hak Politik OAP Terjamin!

News | Jum'at, 27 September 2024 | 21:06 WIB

Terkini

Tak Mau Turun Kasta, BEI Pede Indonesia Selamat dari Ancaman MSCI

Tak Mau Turun Kasta, BEI Pede Indonesia Selamat dari Ancaman MSCI

Bisnis | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 21:35 WIB

Ramai Dikritik Soal Acara Deklarasi Sumpah Pemuda, Raffi Ahmad Buka Suara

Ramai Dikritik Soal Acara Deklarasi Sumpah Pemuda, Raffi Ahmad Buka Suara

Video | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 21:30 WIB

In This Economy, Jadi Tentara Bayaran Rusia Diimingi Gaji Selangit Pulang Tinggal Nama

In This Economy, Jadi Tentara Bayaran Rusia Diimingi Gaji Selangit Pulang Tinggal Nama

News | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 21:00 WIB

Ketika Nonton Film Bareng Jadi Cara Baru Membangun Kedekatan di Dunia Kerja

Ketika Nonton Film Bareng Jadi Cara Baru Membangun Kedekatan di Dunia Kerja

Lifestyle | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 20:47 WIB

Manga Komedi-Romantis Hiragi-san's House of Vampires Dapat Adaptasi Anime

Manga Komedi-Romantis Hiragi-san's House of Vampires Dapat Adaptasi Anime

Your Say | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 20:40 WIB

BEI Siap Periksa Acak Free Float Emiten, Direksi Terancam Sanksi Tegas!

BEI Siap Periksa Acak Free Float Emiten, Direksi Terancam Sanksi Tegas!

Bisnis | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 20:15 WIB

Love's Ambition: Akting Sedih Zhao Lu Si yang Patahkan Genre Romansa CEO

Love's Ambition: Akting Sedih Zhao Lu Si yang Patahkan Genre Romansa CEO

Your Say | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 20:14 WIB

Pakar Geopolitik: Konser Andrea Bocelli di Borobudur Harus Jadi Pesan Perdamaian Dunia

Pakar Geopolitik: Konser Andrea Bocelli di Borobudur Harus Jadi Pesan Perdamaian Dunia

News | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 20:04 WIB

Kronologi WNI Eks Sopir Taksi Jadi Tentara Bayaran Rusia, Baru 10 Hari Latihan Tewas di Ukraina

Kronologi WNI Eks Sopir Taksi Jadi Tentara Bayaran Rusia, Baru 10 Hari Latihan Tewas di Ukraina

News | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 20:00 WIB

Kunci Sukses Indonesia di Mata Presiden Prabowo: Pendidikan dan Pemimpin Berhati Bersih

Kunci Sukses Indonesia di Mata Presiden Prabowo: Pendidikan dan Pemimpin Berhati Bersih

Video | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 20:00 WIB

×