Eksploitasi Perempuan dalam Industri Rokok: Risiko Kesehatan Lebih Parah hingga Narasi Kebebasan yang Menyesatkan!

Agung Sandy Lesmana | Lilis Varwati | Suara.com

Selasa, 11 Maret 2025 | 09:55 WIB
Eksploitasi Perempuan dalam Industri Rokok: Risiko Kesehatan Lebih Parah hingga Narasi Kebebasan yang Menyesatkan!
ilustrasi perokok (Pexels/lilartsy)

Suara.com - Dalam peringatan Hari Perempuan Internasional, penting untuk melihat lebih dalam berbagai tantangan yang masih membayangi perempuan, termasuk ancaman dari industri rokok

Dengan tema “For ALL Women and Girls: Rights. Equality. Empowerment”, Indonesian Youth Council for Tactical Changes (IYCTC) menyoroti dampak rokok yang tidak hanya buruk bagi kesehatan perempuan, tetapi juga melebarkan ketimpangan ekonomi dan sosial yang mereka hadapi.

Program Manager IYCTC Ni Made Shellasih menyebutkan bahwa perempuan menjadi kelompok yang paling terdampak oleh industri rokok, baik sebagai perokok pasif, pekerja di sektor tembakau, maupun sebagai target pemasaran industri. Sayangnya, perempuan juga sering tidak menyadari besarnya bahaya yang mereka hadapi. 

"Satu dari dua laki-laki di Indonesia merupakan perokok aktif. Artinya masih banyak perokok pasif, termasuk perempuan, anak-anak, dan lansia, yang terpapar asap rokok dan menghadapi risiko kesehatan serius akibat kebiasaan merokok orang lain. Data pun menunjukkan bahwa angka kematian perokok pasif mencapai 1,2 juta dari 8 juta kematian," tutur Shella dalam keterangannya, Selasa (11/3/2025).

Selain itu, perempuan sering dijadikan bagian dari strategi pemasaran industri rokok, baik melalui peran Sales Promotion Girl (SPG) dalam promosi maupun lewat iklan yang mengaitkan merokok dengan kebebasan atau pemberdayaan perempuan. 

“Narasi ini menyesatkan, karena pada kenyataannya, perempuan justru menghadapi risiko kesehatan yang lebih besar akibat rokok, sementara kondisi kerja di lapangan juga bisa menempatkan mereka dalam situasi yang tidak nyaman atau rentan bahkan tak jarang mengalami pelecehan seksual,” ujar Shella.

Shella juga mengkritik bahwa perempuan yang dijadikan sebagai objek marketing dari produk rokok tidak menggambarkan bentuk kebebasan melainkan perempuan kembali di-objektifikasi sebagai agen marketing, bukan keseriusan mempercepat aksi kesetaraan gender. 

Ilustrasi rokok batangan (Pixabay/Chefchen)
Ilustrasi rokok batangan (Pixabay/Chefchen)

“Industri rokok memanipulasi pesannya yang ingin membebaskan pilihan perempuan dengan berbagai akun front groups yang mereka dorong hingga pilihan rasa mild atau perisa di rokok konvensional/elektronik. Ini menunjukkan perempuan masih tidak lebih dari sekadar objek bagi industri rokok,” tegasnya.

Perempuan tidak hanya menghadapi risiko kesehatan, tetapi juga beban ekonomi yang semakin berat akibat rokok. Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa pengeluaran untuk rokok masuk dalam peringkat kedua setelah beras pada masyarakat ekonomi kecil. 

Studi dari PKJS-UI juga menunjukkan bahwa terdapat pergeseran prioritas pembelian rokok pada rumah tangga dibandingkan kebutuhan pokok. Shella menilai bahwa hal ini akan membebani perempuan, sekaligus mengurangi hak mereka untuk hidup layak dan memenuhi kebutuhan dasar, seperti makanan bergizi, pendidikan anak, dan akses kesehatan.

Pada sektor tenaga kerja, perempuan yang bekerja di industri rokok juga sering kali mengalami kondisi kerja yang tidak layak dengan upah rendah, tanpa perlindungan kesehatan yang memadai hingga risiko kekerasan seksual. 

"Permasalahan ini juga didukung bahwa perempuan sering kali tidak dipandang sebagai seorang yang kompeten dalam mengambil sebuah keputusan. Sehingga penempatannya seringkali tidak masuk dalam posisi yang strategis," urainya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Sebut Biadab, Legislator PDIP Murka soal Aksi Bejat Kapolres Ngada Cabuli 3 Anak: Lebih Pantas Dihukum Mati!

Sebut Biadab, Legislator PDIP Murka soal Aksi Bejat Kapolres Ngada Cabuli 3 Anak: Lebih Pantas Dihukum Mati!

News | Selasa, 11 Maret 2025 | 08:20 WIB

Berkiblat ke Jokowi, Untung atau Rugi usai Partai Kaesang Ganti Nama PSI Perorangan?

Berkiblat ke Jokowi, Untung atau Rugi usai Partai Kaesang Ganti Nama PSI Perorangan?

News | Senin, 10 Maret 2025 | 08:16 WIB

Blak-blakan Bela Seskab Teddy, PSI soal Kenaikan Pangkat Mayor jadi Letkol: Tak Ada Intervensi atau Nepotisme

Blak-blakan Bela Seskab Teddy, PSI soal Kenaikan Pangkat Mayor jadi Letkol: Tak Ada Intervensi atau Nepotisme

News | Minggu, 09 Maret 2025 | 18:46 WIB

Telak! Anies Balas Sindiran Menhut Raja Juli: Masjid Bukan Sekedar Tempat Sujud dan Doa

Telak! Anies Balas Sindiran Menhut Raja Juli: Masjid Bukan Sekedar Tempat Sujud dan Doa

News | Minggu, 09 Maret 2025 | 16:18 WIB

Sindir Bahlil? Anies Curhat soal Gelar Doktor: Saya Ujian Bener Lho, Gak Pakai Joki

Sindir Bahlil? Anies Curhat soal Gelar Doktor: Saya Ujian Bener Lho, Gak Pakai Joki

News | Minggu, 09 Maret 2025 | 14:52 WIB

Terkini

Geger Temuan 11 Bayi di Sleman, DPR: Negara Tak Boleh Biarkan Mereka Jadi Korban

Geger Temuan 11 Bayi di Sleman, DPR: Negara Tak Boleh Biarkan Mereka Jadi Korban

News | Senin, 11 Mei 2026 | 17:44 WIB

Polisi Ungkap Penyebab Kematian Pimpinan BPK Haerul Saleh, Bahan Kimia Masih Diselidiki

Polisi Ungkap Penyebab Kematian Pimpinan BPK Haerul Saleh, Bahan Kimia Masih Diselidiki

News | Senin, 11 Mei 2026 | 17:37 WIB

Garudayaksa FC Jadi Sorotan Usai Naik Kasta, DPR: Juara Karena Kualitas, Bukan Perintah Presiden!

Garudayaksa FC Jadi Sorotan Usai Naik Kasta, DPR: Juara Karena Kualitas, Bukan Perintah Presiden!

News | Senin, 11 Mei 2026 | 17:26 WIB

TNI AL Siapkan Pangkalan untuk Kapal Induk Giuseppe Garibaldi, Target Tiba Sebelum HUT TNI

TNI AL Siapkan Pangkalan untuk Kapal Induk Giuseppe Garibaldi, Target Tiba Sebelum HUT TNI

News | Senin, 11 Mei 2026 | 17:24 WIB

Brimob Polda Metro Jaya Masih Berjaga di Markas Judi Online Hayam Wuruk Jakarta Barat

Brimob Polda Metro Jaya Masih Berjaga di Markas Judi Online Hayam Wuruk Jakarta Barat

News | Senin, 11 Mei 2026 | 17:22 WIB

Kemnaker Dorong Kesempatan Kerja Inklusif bagi Penyandang Disabilitas Tuli

Kemnaker Dorong Kesempatan Kerja Inklusif bagi Penyandang Disabilitas Tuli

News | Senin, 11 Mei 2026 | 17:19 WIB

Wow! Biaya Lahiran Normal di Negara Ini Lebih Mahal dari Rumah

Wow! Biaya Lahiran Normal di Negara Ini Lebih Mahal dari Rumah

News | Senin, 11 Mei 2026 | 17:07 WIB

JK Diserang Isu Miring, Aliansi Ormas Islam: Mungkin Mau Dirusak

JK Diserang Isu Miring, Aliansi Ormas Islam: Mungkin Mau Dirusak

News | Senin, 11 Mei 2026 | 17:02 WIB

Heboh Dugaan Jaringan Pedofilia WNA Jepang di Blok M, Polda Metro Turun Tangan

Heboh Dugaan Jaringan Pedofilia WNA Jepang di Blok M, Polda Metro Turun Tangan

News | Senin, 11 Mei 2026 | 17:01 WIB

PKS Usul Pemprov DKI Jakarta Blokir NIK Suami yang Tak Nafkahi Anak-Istri usai Cerai

PKS Usul Pemprov DKI Jakarta Blokir NIK Suami yang Tak Nafkahi Anak-Istri usai Cerai

News | Senin, 11 Mei 2026 | 16:50 WIB