Budaya dan Kekerasan Jurnalis di Indonesia

Rendy Adrikni Sadikin | Suara.com

Jum'at, 23 Mei 2025 | 13:57 WIB
Budaya dan Kekerasan Jurnalis di Indonesia
Peringatan Hari Kebebasan Pers Internasional di Aceh Utara, Provinsi Aceh, Sabtu (3/5). [Antara/Rahmad]

Suara.com - “Sebanyak 66 persen  jurnalis merasa cemas terhadap masa depan kebebasan pers, khususnya di tengah transisi pemerintah baru. Mereka mengaku lebih berhati-hati memproduksi berita karena ancaman kriminalisasi, sensor, dan tekanan berbagai pihak’. 

Sebuah ironi tersendiri, saat pers ditekan dan dihantam saat ini. Tindakan yang sebenarnya merupakan bentuk anomali ketika klaim demokrasi tumbuh makin bersemi. Pada satu sisi, pers sejatinya berperan penting dalam pendewasaan demokrasi: sebagai pilar ke-4 yang bertugas memastikan kebenaran, kesejahteraan, dan solusi persoalan dalam masyarakat. 

Kecemasan mayoritas jurnalis di Indonesia merupakan salah satu hasil survei dari Indeks Keselamatan Jurnalis 2024 yang dilakukan Tifa dan Populix  pada 760 jurnalis di Indonesia. Survei tersebut menyatakan, Indeks Keselamatan Jurnalis 2024 mencapai 60,5 atau masuk dalam kategori “agak Terlindungi,”. Riset ini mengukur tingkat perlindungan jurnalis melalui tiga pilar utama: individu jurnalis, stakeholder media, serta peran negara dan regulasi. Riset ini memaparkan kehidupan jurnalis di Indonesia masih dibayangi sejumlah persoalan seperti, kekerasan jurnalis oleh buzzer politik, kelompok dengan motif pribadi, hingga aparat penegak hukum; penyensoran berita oleh ruang redaksi, organisasi masyarakat atau pemilik media; self senshorsip: dan efisiensi tenaga kerja yang mengurangi hak jurnalis. 

Kebebasan pers merupakan pondasi penting bagi peningkatan kualitas demokrasi. Melihat magnitude gejala kekerasan dan kerentanan jurnalis yang meningkat dalam beberapa waktu terakhir, dan semakin lunturnya apresiasi terhadap jurnalis, serta makin kencangnya tuntutan perlindungan bagi jurnalis, menjadi penting dan menarik untuk  mengetahui, mengapa kekerasan pada insan pers masih sering terjadi? Apakah yang menjadi pemicu kerentanan profesi ini? Apakah profesi ini sudah tidak dihargai? Ataukah ada faktor lain yang menyebabkan profesi ini terdegradasi?

Serumpun pertanyaan tersebut akan mencoba dilihat dari perspektif budaya dan pendekatan sistem. Perspektif budaya dalam konteks jurnalisme masih jarang ditemukan dalam penelitian dan budaya memainkan peran penting dalam mendukung atau menghambat pekerjaan jurnalistik. Budaya didefinisikan sebagai kompleksitas yang kaya makna, kepercayaan, praktik, simbol, norma, dan nilai yang lazim di Masyarakat.

Sementara itu, pendekatan sistem menurut Gunaratne merangkum beberapa pandangan ahli terkait dengan perspektif ini. Von Bertalanffy mendefinisikan sistem sebagai sekumpulan elemen yang berinteraksi. Sementara Hall dan Fagen menjelaskan suatu sistem harus memiliki objek fisik atau abstrak. 

Kekerasan dan kerentanan jurnalis merupakan salah satu elemen yang berinteraksi dengan elemen-elemen lainnya. Elemen lain, dapat diklasifikasikan secara variatif. Namun, dalam tulisan ini, penulis akan membatasi elemen tersebut menjadi dua, yaitu elemen internal dan elemen eksternal. Elemen internal merupakan elemen yang berasal dari lingkungan dalam lembaga media dan bersinggungan langsung dengan jurnalis, sedangkan elemen eksternal berasal dari luar institusi media.   

Nilai budaya Indonesia: Kontribusi Pada Individu Jurnalis  Sebagai Subjek dan Objek Kekerasan Jurnalis 

Hanitzsch menyatakan nilai, sikap, dan kepercayaaan berpengaruh pada ideologi profesional dan perilaku jurnalisme. Massey & Chang menyebutkan bahwa jurnalis di Asia memiliki keunikan tersendiri karena ada nilai-nilai penting yang dijalankan yakni tanggung jawab, komunalisme, konsensus, harmoni, bakti pada orangtua, dan penghormatan pada otoritas.

Nilai-nilai ini akhirnya membentuk produk editorial, sementara tidak ada konsensus soal nilai-nilai ini dalam jurnalisme. Leonhardt, Hanusch, & Singh menyatakan dalam budaya kolektif, jurnalis menekankan hubungan intrinsik dengan komunitas mereka, dan menekankan integrasi sosial pada sistem media yang mencakup sistem kekeluargaan yang erat, pertemanan, dan afiliasi tradisional dan budaya. 

Di sisi lain, penelitian Hanitzsch soal “Journalist in Indonesia: Educated but limid watchdogs” menguatkan, jurnalis di Indonesia memiliki nilai budaya Jawa yang tinggi: rasa hormat. Alhasil, nilai ini menghalangi pelaksanaan jurnalisme yang kritis. Dalam riset ini, jurnalis paham profesinya adalah netral dan objektif, bukan aktor politik dan agen pembangunan, secara paradoks, mereka membenarkan korupsi dalam pekerjaan sehari-hari seperti suap. Pramesti menegaskan, budaya sungkan dalam praktik suap masih terjadi di kalangan jurnalis di Indonesia. 

Ilustrasi kebebasan pers [Shutterstock]
Ilustrasi kebebasan pers [Shutterstock]

Selain nilai budaya dalam kerja jurnalis di Indonesia, Hanitszch juga melihat faktor pendidikan jurnalisme di Indonesia. Ada yang menarik bahwa pendidikan jurnalisme di Indonesia tidak mempertimbangkan otonom dan reflektif terhadap fungsi dan peran jurnalisme dalam media massa. Peran jurnalis sebagai masyarakat demokratis juga masih jauh.

Berdasarkan penelitian sebelumnya, terdapat hal-hal yang menarik untuk dicermati yakni: budaya kolektivistis berpengaruh pada kerja jurnalistik yang secara tidak langsung dibawa oleh masing-masing individu jurnalis; pemahaman tugas dan tanggung jawab dari profesi, namun belum pada level reflektif pada fungsi peran jurnalisme itu sendiri; dan pembenaran pelanggaran etika jurnalistik karena faktor budaya yang menyebabkan jurnalis kurang kritis. Ketiga poin di atas terkait satu dengan yang lain, dan berpotensi turut berkontribusi pada kekerasan jurnalis di Indonesia yang belum tuntas. 

Budaya di sebuah negara berperan dalam membentuk iklim kerja jurnalistik di suatu negaranya. Jurnalis di negara barat dengan demokrasi mapan, dengan budaya individualistik, cenderung memiliki kebebasan pers yang baik ketimbang jurnalis di negara timur. Hal ini juga dikuatkan pendapat pengaruh budaya ini sebenarnya tidak diinginkan dalam kerja jurnalistik.

Di berbagai negara demokrasi yang tidak stabil, jurnalis mengalami pengaruh budaya nyata ketimbang negara-negara demokrasi barat yang sudah mapan. Budaya menciptakan ketegangan dalam jurnalistik, karena jurnalis harus menyeleraskan ekspektasi komunitas dengan norma profesional. Hasil penelitian Leonhardt, Hanusch, & Singh akhirnya mampu membuktikkan bahwa nilai budaya seperti nilai keamanan dan tradisi turut berkontribusi dalam kerja jurnalistik dibandingkan nilai pengawasan. 

Merujuk pada penelitian sebelumnya, penulis mencoba ingin melihat bagaimana budaya di Indonesia menjadi faktor kontekstual yang perlu dipertimbangkan dalam persoalan kekerasan jurnalis di Indonesia. Perlu dipahami bersama bahwa nilai budaya harmoni, penghormatan pada otoritas, bakti pada orang yang lebih tua, sungkan menjadi nilai-nilai yang diajarkan pada masing-masing individu termasuk jurnalis sejak ia masih kecil. Nilai-nilai ini menginternalisasi kehidupan jurnalis sedari dini yang secara tidak langsung berpengaruh pada kerjanya. 

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

Closed Loop Kurban, Menuju Ekosistem Halal Berkelanjutan dan Penggerak Ekonomi Lokal

Closed Loop Kurban, Menuju Ekosistem Halal Berkelanjutan dan Penggerak Ekonomi Lokal

Opini | Selasa, 26 Mei 2026 | 16:05 WIB

Haru dan Bahagia Warnai Kepulangan 9 WNI yang diculik Israel

Haru dan Bahagia Warnai Kepulangan 9 WNI yang diculik Israel

Foto | Senin, 25 Mei 2026 | 06:30 WIB

Ditendang Hingga Disetrum, Pengakuan Jurnalis iNews Heru Rahendro Pasca Bebas dari Penjara Israel

Ditendang Hingga Disetrum, Pengakuan Jurnalis iNews Heru Rahendro Pasca Bebas dari Penjara Israel

Video | Jum'at, 22 Mei 2026 | 10:43 WIB

Israel Tangkap Jurnalis RI, Mengapa Solusi Dua Negara Masih Dipertahankan?

Israel Tangkap Jurnalis RI, Mengapa Solusi Dua Negara Masih Dipertahankan?

Your Say | Kamis, 21 Mei 2026 | 09:15 WIB

Anies Baswedan ke Wisudawan UGM: Lulusan di Masa Sulit, Cari Kerja Sedang Menantang

Anies Baswedan ke Wisudawan UGM: Lulusan di Masa Sulit, Cari Kerja Sedang Menantang

News | Rabu, 20 Mei 2026 | 13:05 WIB

Solidaritas untuk Jurnalis dan WNI yang Ditahan Israel Menggema di Bandung

Solidaritas untuk Jurnalis dan WNI yang Ditahan Israel Menggema di Bandung

Foto | Rabu, 20 Mei 2026 | 06:00 WIB

Jurnalis Indonesia Disebut Makin Rentan Intimidasi, AJI Ungkap 4 Isu yang Paling Bahaya

Jurnalis Indonesia Disebut Makin Rentan Intimidasi, AJI Ungkap 4 Isu yang Paling Bahaya

News | Selasa, 19 Mei 2026 | 16:47 WIB

Ace Hasan: Pemerintah Akan Tempuh Jalur Diplomatik untuk Bebaskan Jurnalis RI yang Ditahan Israel

Ace Hasan: Pemerintah Akan Tempuh Jalur Diplomatik untuk Bebaskan Jurnalis RI yang Ditahan Israel

News | Selasa, 19 Mei 2026 | 15:49 WIB

Militer Israel Tangkap 4 Jurnalis Indonesia, Fauqi Hapidekso: Langgar HAM dan Hukum Internasional!

Militer Israel Tangkap 4 Jurnalis Indonesia, Fauqi Hapidekso: Langgar HAM dan Hukum Internasional!

News | Selasa, 19 Mei 2026 | 15:34 WIB

Pemerintah Tempuh Jalur Diplomatik dan Hukum Bebaskan Tiga Jurnalis Indonesia yang Ditahan Israel

Pemerintah Tempuh Jalur Diplomatik dan Hukum Bebaskan Tiga Jurnalis Indonesia yang Ditahan Israel

News | Selasa, 19 Mei 2026 | 15:32 WIB

Terkini

Sapi Kurban Pak Suardi 'Ngambek' Saat Mau Dipotong, Damkar DKI Sampai Turun Tangan

Sapi Kurban Pak Suardi 'Ngambek' Saat Mau Dipotong, Damkar DKI Sampai Turun Tangan

News | Rabu, 27 Mei 2026 | 18:40 WIB

Tipu-Tipu 'Paranormal Sakti' di Duren Sawit, Motor Korban Raib Usai Ritual Paku

Tipu-Tipu 'Paranormal Sakti' di Duren Sawit, Motor Korban Raib Usai Ritual Paku

News | Rabu, 27 Mei 2026 | 18:34 WIB

Vila dan Homestay Wajib Punya NIB Mulai 1 Agustus, yang Ilegal Bakal Dicoret dari Aplikasi

Vila dan Homestay Wajib Punya NIB Mulai 1 Agustus, yang Ilegal Bakal Dicoret dari Aplikasi

News | Rabu, 27 Mei 2026 | 18:27 WIB

Militer AS Bom Kapal Diduga Bermuatan Narkotika di Samudera Pasifik: 1 Tewas 2 Selamat

Militer AS Bom Kapal Diduga Bermuatan Narkotika di Samudera Pasifik: 1 Tewas 2 Selamat

News | Rabu, 27 Mei 2026 | 17:38 WIB

Si Loreng dan Wirabumi: Sapi Kurban Jumbo Prabowo-Gibran yang Curi Perhatian di Istiqlal

Si Loreng dan Wirabumi: Sapi Kurban Jumbo Prabowo-Gibran yang Curi Perhatian di Istiqlal

News | Rabu, 27 Mei 2026 | 17:30 WIB

Harga Domba Capai Rp76 Juta! Cerita Miris Idul Adha 2026 Umat Muslim Gaza

Harga Domba Capai Rp76 Juta! Cerita Miris Idul Adha 2026 Umat Muslim Gaza

News | Rabu, 27 Mei 2026 | 17:29 WIB

Intip Momen Iduladha Prabowo di Paris: Salat Bareng Diaspora hingga Santap Bersama

Intip Momen Iduladha Prabowo di Paris: Salat Bareng Diaspora hingga Santap Bersama

News | Rabu, 27 Mei 2026 | 17:12 WIB

Idul Adha 2026 di India Utara Mencekam! Salat Id Dibatasi hingga Diintimidasi

Idul Adha 2026 di India Utara Mencekam! Salat Id Dibatasi hingga Diintimidasi

News | Rabu, 27 Mei 2026 | 17:09 WIB

Tentara Israel Klaim Tewaskan Kepala Militer Hamas dalam Serangan di Gaza

Tentara Israel Klaim Tewaskan Kepala Militer Hamas dalam Serangan di Gaza

News | Rabu, 27 Mei 2026 | 16:59 WIB

Nekat Nyabu saat Malam Takbiran, Dua Pria di Tanjung Priok dan Kelapa Gading Ditangkap

Nekat Nyabu saat Malam Takbiran, Dua Pria di Tanjung Priok dan Kelapa Gading Ditangkap

News | Rabu, 27 Mei 2026 | 16:28 WIB