- Warga Gaza menjalani Idul Adha 2026 di pengungsian dengan keterbatasan akibat perang berkepanjangan sejak Oktober 2023.
- Blokade menyebabkan jemaah haji asal Gaza tidak dapat berangkat menunaikan ibadah selama tiga tahun berturut-turut.
- Kehancuran 90 persen sektor peternakan memicu lonjakan harga hewan kurban sehingga warga tidak mampu merayakan tradisi.
Suara.com - Warga Palestina di Gaza menyambut Idul Adha 2026 dalam situasi penuh keterbatasan akibat perang yang berkepanjangan.
Tahun ini menjadi Idul Adha ketiga yang dijalani banyak keluarga di tengah pengungsian, krisis pangan, dan hancurnya berbagai fasilitas kehidupan.
Di sebuah tenda pengungsian di Gaza Utara, I’tidal Hamdan, perempuan berusia 68 tahun, mengaku masih menyimpan duka mendalam setelah kehilangan suaminya dalam serangan Israel tahun lalu.
Padahal, keduanya sempat terdaftar sebagai calon jemaah haji sebelum perang pecah.
“Mungkin saya sudah memimpikannya lebih dari 10 tahun. Suami saya sangat ingin berhaji, tetapi dia meninggal sebelum sempat mewujudkannya,” ujar Hamdan kepada Al Jazeera.
Blokade dan pembatasan keluar masuk Gaza membuat tidak ada jemaah haji yang dapat berangkat untuk tahun ketiga berturut-turut.
Banyak keluarga juga belum bisa kembali ke rumah mereka karena kerusakan akibat perang masih meluas di berbagai wilayah.
![Tradisi kue Lebaran di Gaza [Facebook IN Palestine Today]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/03/19/26739-tradisi-kue-lebaran-di-gaza.jpg)
Tradisi kurban yang identik dengan Idul Adha pun nyaris hilang.
Minimnya pasokan ternak dan lonjakan harga membuat sebagian besar warga Gaza tidak mampu membeli hewan kurban.
Emad Suhweil, warga pengungsi asal Beit Lahiya, mengatakan suasana Idul Adha kini terasa sangat berbeda dibanding sebelum perang.
Ia mengenang momen berkumpul bersama keluarga saat menyembelih hewan kurban dan berbagi makanan kepada warga miskin.
“Dulu kami menyembelih hewan, makan bersama, dan berbagi dengan orang lain. Sekarang orang bahkan kesulitan membeli dua kilogram sayur,” katanya.
Harga seekor domba di Gaza kini melonjak drastis.
Hewan yang sebelum perang dijual sekitar 400 hingga 500 dinar Yordania kini bisa mencapai 16 ribu hingga 17 ribu shekel atau sekitar 4.400 hingga 4.700 dolar AS setara dengan Rp71-76 juta.
Kondisi tersebut dipicu kehancuran sektor peternakan Gaza akibat perang sejak Oktober 2023.