Secara hukum internasional, Iran memang tidak berhak menutup Selat Hormuz yang termasuk dalam perairan internasional.
Namun, dengan kekuatan militernya yang cukup signifikan di kawasan tersebut, Iran dapat dengan mudah mengganggu pelayaran, bahkan tanpa harus secara formal menyatakan penutupan.
Insiden serangan terhadap kapal tanker, penangkapan awak kapal asing, hingga ketegangan diplomatik yang melibatkan negara-negara besar, semuanya kerap terjadi di wilayah tersebut.
Hal ini menjadikan Selat Hormuz sebagai barometer stabilitas keamanan global.
3. Kekuatan Militer Iran di Wilayah Selat
Iran memiliki posisi geografis yang sangat strategis karena menguasai sebagian besar garis pantai di sekitar Selat Hormuz.
Kontrol ini memungkinkan mereka untuk menerapkan taktik militer asimetris guna menekan lawan-lawannya, khususnya Amerika Serikat.
Beberapa kekuatan militer Iran patut diwaspadai, salah satunya kapal cepat bersenjata dan kapal selam kecil untuk patroli gerilya laut.
![Ilustrasi Perang Iran vs Israel. Dalam kondisi geopolitik yang memanas di sejumlah negara, emas meniadi aset primadona masyarakat. [Tangkapan layar X]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2025/06/19/97661-ilustrasi-perang-iran-vs-israel.jpg)
Mereka juga memiliki ranjau laut yang bisa membahayakan kapal tanker, serta rudal jelajah jarak menengah yang ditempatkan di darat atau kapal.
Belum lagi drone tempur seperti Shahed-136 yang telah terbukti efektif dalam berbagai konflik proksi di kawasan.
Iran tidak perlu memenangkan perang secara konvensional untuk mengguncang dunia.
Cukup dengan membuat pelayaran di Selat Hormuz tak aman, mereka bisa mengacaukan pasar global dan menciptakan ketidakpastian internasional yang merugikan musuh-musuhnya.
4. Ketergantungan Global Termasuk Amerika
Amerika Serikat kini lebih mandiri dalam pasokan energinya berkat peningkatan produksi dalam negeri.
Namun stabilitas harga minyak global tetap menjadi kepentingan utama.
Fluktuasi harga energi secara langsung berdampak pada ekonomi domestik AS dan sekutunya, terutama di Eropa dan Asia.
Amerika juga memiliki kekuatan militer signifikan di kawasan, termasuk Armada Kelima Angkatan Laut AS yang berbasis di Manama, Bahrain.
Namun, menjaga keamanan Selat Hormuz bukan tugas yang mudah. Jalur ini sempit, padat, dan sangat rentan terhadap serangan mendadak atau sabotase.
Selain energi, gangguan di Selat Hormuz juga akan mengacaukan rantai pasokan global, mulai dari logistik pengiriman barang hingga industri manufaktur.
Efek domino dari gangguan ini bisa menyentuh semua sektor, mulai dari harga bahan bakar hingga biaya transportasi dan bahan pokok.
Diketahui, Amerika menyerang Iran dengan menargetkan fasilitas tiga nuklir utama Iran yaitu Natanz, Fordow, dan Isfahan pada Sabtu malam, 21 Juni 2025.
Dunia pun menanti, apakah Iran benar-benar akan menutup Selat Hormuz?
Kontributor : Chusnul Chotimah