Berpikir Ala AI Bikin Bumi Merana? Studi Ini Ungkap 'Ongkos' Karbon Kecerdasan Buatan

M. Reza Sulaiman

Senin, 23 Juni 2025 | 19:56 WIB
Berpikir Ala AI Bikin Bumi Merana? Studi Ini Ungkap 'Ongkos' Karbon Kecerdasan Buatan
Ilustrasi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI). [Shutterstock]

Kecerdasan buatan (AI) semakin sering digunakan untuk menjawab berbagai pertanyaan pengguna di seluruh dunia. Namun di balik setiap jawaban yang dihasilkan, ada konsekuensi lingkungan yang tidak banyak disadari, jejak karbon yang ditimbulkan akibat proses komputasi yang intensif.

Suara.com - Sebuah studi terbaru dari Hochschule München University of Applied Sciences di Jerman mengungkap bahwa proses 'berpikir' AI dapat meningkatkan emisi karbon secara drastis. Studi yang dipublikasikan di Frontiers in Communication ini membandingkan emisi CO dari 14 model LLM yang telah dilatih sebelumnya, dengan parameter berkisar antara 7 hingga 72 miliar.

"Dampak lingkungan dari penggunaan LLM yang sudah dilatih sangat dipengaruhi oleh pendekatan penalarannya. Model yang menerapkan proses penalaran eksplisit menghasilkan emisi karbon jauh lebih tinggi dibandingkan model yang memberikan jawaban singkat," kata Maximilian Dauner, penulis utama studi tersebut, dikutip Senin (23/6/2025). 

Emisi Naik Saat AI ‘Bernalar’

Dalam studi ini, para peneliti mengajukan 1.000 pertanyaan benchmark dari berbagai bidang, seperti sejarah, filsafat, dan matematika. Model yang berpenalaran, seperti Cogito dengan 70 miliar parameter, menghasilkan rata-rata 543,5 thinking tokens per pertanyaan. Sebagai perbandingan, model dengan jawaban ringkas hanya membutuhkan sekitar 37,7 token. Semakin banyak token yang digunakan, semakin tinggi energi yang dikonsumsi—dan berarti emisi CO yang lebih besar.

Meski Cogito menjadi model paling akurat dengan tingkat keberhasilan 84,9%, ia juga menghasilkan tiga kali lipat emisi dibandingkan model seukuran lainnya yang memberikan jawaban singkat. Artinya, terdapat beban yang nyata antara akurasi dan keberlanjutan lingkungan.

Selain metode penalaran, jenis pertanyaan juga memengaruhi emisi secara signifikan. Pertanyaan abstrak di bidang filsafat atau aljabar menghasilkan emisi enam kali lebih besar dibandingkan pertanyaan sejarah tingkat sekolah menengah. Dauner menegaskan bahwa pengguna bisa mengurangi emisi dengan mengarahkan AI untuk memberikan jawaban ringkas atau menggunakan model berkapasitas tinggi hanya untuk keperluan yang memang membutuhkan kompleksitas tersebut.

Perbandingan antara model juga menunjukkan dampak yang mencolok. Jika model DeepSeek R1 (70 miliar parameter) digunakan untuk menjawab 600.000 pertanyaan, emisinya setara dengan penerbangan pulang-pergi London–New York.

Sementara model Qwen 2.5 (72 miliar parameter) dapat menjawab sekitar 1,9 juta pertanyaan dengan tingkat akurasi serupa dan menghasilkan emisi setara.

baca juga

Menuju Penggunaan AI yang Lebih Bijak

Studi ini memiliki keterbatasan, seperti jenis perangkat keras dan sumber energi yang digunakan, yang bisa berbeda secara regional. Namun temuan ini menjadi pengingat penting: bahwa penggunaan AI memiliki biaya lingkungan yang nyata. Dauner menyimpulkan, 

"Jika pengguna mengetahui biaya CO dari keluaran AI mereka—misalnya untuk hal sepele seperti mengubah diri jadi tokoh aksi—mereka mungkin akan lebih selektif dan bijaksana dalam menggunakan teknologi ini."

Tidak ada standar baku yang mengharuskan perusahaan teknologi melaporkan emisi AI mereka secara spesifik. Ini menyulitkan pengukuran dampak AI terhadap konsumsi energi. Padahal, data internal menunjukkan bahwa perusahaan dengan adopsi AI tinggi cenderung mengalami lonjakan emisi operasional.

Pusat data, tulang punggung layanan digital, juga mencatat peningkatan konsumsi listrik yang signifikan. Sejak 2017, konsumsi listrik pusat data naik 12% per tahun, mencapai 415 TWh pada 2023, atau 1,5% dari permintaan global. Jika tren ini berlanjut, pada 2030, konsumsi listrik pusat data bisa mencapai 945 TWh, melebihi konsumsi tahunan Jepang.

Secara keseluruhan, perusahaan digital mengonsumsi sekitar 581 TWh listrik pada 2024 (2,1% permintaan global), dengan mayoritas terkonsentrasi pada segelintir perusahaan. Sepuluh perusahaan saja, termasuk Amazon, Alphabet, dan Microsoft, bertanggung jawab atas 51,9% permintaan listrik pada 2023. Transparansi data emisi AI sangat dibutuhkan untuk memahami dan mengatasi tantangan ini.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Pelatihan AI Gratis Buat Pekerja dan UMKM Indonesia: Cek Cara Daftarnya!

Pelatihan AI Gratis Buat Pekerja dan UMKM Indonesia: Cek Cara Daftarnya!

Lifestyle | Senin, 23 Juni 2025 | 16:47 WIB

Divisi Humas Polri Rilis Video AI Bertema 'Pahlawan Masa Kini', Tuai Pro Kontra

Divisi Humas Polri Rilis Video AI Bertema 'Pahlawan Masa Kini', Tuai Pro Kontra

News | Senin, 23 Juni 2025 | 12:24 WIB

Jadi Tantangan Serius, DJKI Waspadai Potensi Pelanggaran Kekayaan Intelektual oleh Teknologi AI

Jadi Tantangan Serius, DJKI Waspadai Potensi Pelanggaran Kekayaan Intelektual oleh Teknologi AI

News | Senin, 23 Juni 2025 | 11:03 WIB

Terkini

Review Dream To You: Romansa Hangat Cinta Pertama, Luka dan Impian

Review Dream To You: Romansa Hangat Cinta Pertama, Luka dan Impian

Your Say | Minggu, 09 Agustus 2026 | 19:40 WIB

Kota Makin Padat, Banjir Mengintai: Akademisi Soroti Teknologi Pengendalian Air di PIK2

Kota Makin Padat, Banjir Mengintai: Akademisi Soroti Teknologi Pengendalian Air di PIK2

News | Minggu, 09 Agustus 2026 | 19:36 WIB

Gen Z Fasih Bahasa Inggris, tapi Makin Asing dengan Bahasa Ibu, Mengapa?

Gen Z Fasih Bahasa Inggris, tapi Makin Asing dengan Bahasa Ibu, Mengapa?

Your Say | Minggu, 09 Agustus 2026 | 19:35 WIB

3,28 Juta Batang Rokok Ilegal Disita di Tol Banyumanik, Negara Berpotensi Rugi Rp3,17 Miliar

3,28 Juta Batang Rokok Ilegal Disita di Tol Banyumanik, Negara Berpotensi Rugi Rp3,17 Miliar

Jawa Tengah | Minggu, 09 Agustus 2026 | 19:28 WIB

Menjelang Snoopy Run 2026, Saatnya Menjelajah Dunia Peanuts Selama 54 Hari di Sini!

Menjelang Snoopy Run 2026, Saatnya Menjelajah Dunia Peanuts Selama 54 Hari di Sini!

Lifestyle | Minggu, 09 Agustus 2026 | 19:28 WIB

The Last House: Pesan Moral Mendalam tentang Hubungan Manusia dan Alam

The Last House: Pesan Moral Mendalam tentang Hubungan Manusia dan Alam

Your Say | Minggu, 09 Agustus 2026 | 19:25 WIB

80 Persen Beras Fortifikasi Tak Sesuai Klaim, Ada yang Dijual Rp42 Ribu/Kg

80 Persen Beras Fortifikasi Tak Sesuai Klaim, Ada yang Dijual Rp42 Ribu/Kg

Bisnis | Minggu, 09 Agustus 2026 | 19:23 WIB

Belanja Mewah di SEIBU Dapat Voucher Gratis? Cek Promo BRI Ini!

Belanja Mewah di SEIBU Dapat Voucher Gratis? Cek Promo BRI Ini!

Bri | Minggu, 09 Agustus 2026 | 19:22 WIB

Detik-Detik Mencekam di Sydney! Airbus A320 Nyaris Tabrakan dengan Boeing 777

Detik-Detik Mencekam di Sydney! Airbus A320 Nyaris Tabrakan dengan Boeing 777

News | Minggu, 09 Agustus 2026 | 19:05 WIB

Dukung Green Movement, PMII dan Nusa Jaya Perluas Ruang Hijau di Tengah Kota Jakarta

Dukung Green Movement, PMII dan Nusa Jaya Perluas Ruang Hijau di Tengah Kota Jakarta

Jakarta | Minggu, 09 Agustus 2026 | 19:00 WIB

×