Polusi Batu Bara Rugikan Petani: Hasil Panen Padi dan Gandum Turun Hingga 10 Persen

M. Reza Sulaiman

Jum'at, 27 Juni 2025 | 09:36 WIB
Polusi Batu Bara Rugikan Petani: Hasil Panen Padi dan Gandum Turun Hingga 10 Persen
Ilustrasi. Petani bekerja di sawah. (Antara)

Suara.com - Penelitian baru dari Stanford mengungkap betapa seriusnya dampak emisi pembangkit listrik tenaga batu bara terhadap hasil pertanian di India.

Di tengah tantangan pangan global, India menghadapi ancaman yang jarang dibicarakan: polusi udara dari pembangkit listrik tenaga batu bara yang menurunkan hasil panen beras dan gandum hingga 10 persen atau lebih per tahun.

Dampak ini tidak main-main. Gandum dan beras adalah dua bahan pokok utama bagi 1,4 miliar penduduk India—negara dengan populasi terbanyak kedua di dunia sekaligus rumah bagi seperempat orang yang mengalami kekurangan gizi secara global.

Apa yang Terjadi?

Dalam studi yang diterbitkan di jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences pada 3 Februari lalu, para peneliti dari Stanford Doerr School of Sustainability menelusuri hubungan antara emisi pembangkit listrik dan produktivitas pertanian di sekitar 144 pembangkit listrik tenaga batu bara di India.

Mereka menggunakan data arah angin, intensitas pembangkitan listrik, dan konsentrasi nitrogen dioksida (NO)—gas polutan yang dihasilkan saat batu bara dibakar. Hasilnya, emisi ini memengaruhi kualitas udara di lahan pertanian hingga radius 100 kilometer dari lokasi pembangkit.

“Produktivitas tanaman sangat penting bagi ketahanan pangan dan masa depan ekonomi India,” kata David Lobell, profesor Stanford dan salah satu penulis utama studi, melansir EurekAlert!, Jumat (27/6/2025).

“Kita tahu bahwa kualitas udara yang lebih baik bisa membantu hasil panen, tapi ini adalah pertama kalinya kami bisa menghitung seberapa besar manfaatnya jika emisi dari batu bara dikurangi.”

Apa Dampaknya Bagi Pangan?

baca juga

Jika emisi pembangkit batu bara dieliminasi selama musim tanam utama—Januari–Februari untuk gandum, dan September–Oktober untuk padi—India berpotensi meningkatkan hasil beras senilai 420 juta dolar AS per tahun dan gandum sekitar 400 juta dolar AS per tahun.

Ilustrasi stockpile batu bara di Way Lunik, Panjang, Bandar Lampung. Wali Kota Bandar Lampung Eva Dwiana mengultimatum dua perusahaan stockpile batu bara untuk menyelesaikan masalah dengan warga setempat. [ANTARA/Walhi Lampung]
Ilustrasi stockpile batu bara di Way Lunik, Panjang, Bandar Lampung. Wali Kota Bandar Lampung Eva Dwiana mengultimatum dua perusahaan stockpile batu bara untuk menyelesaikan masalah dengan warga setempat. [ANTARA/Walhi Lampung]

Di beberapa wilayah, seperti negara bagian Chhattisgarh, emisi dari pembangkit batu bara menyumbang hingga 19 persen polusi NO di udara. Sementara di wilayah lain seperti Uttar Pradesh, kontribusinya lebih kecil—sekitar 3–5 persen—karena adanya sumber polusi lain seperti kendaraan dan industri.

Penelitian ini membuka mata bahwa polusi udara bukan hanya soal kesehatan manusia, tapi juga soal ketahanan pangan. Di 58 dari 144 pembangkit listrik yang dianalisis, kerugian hasil panen padi per unit listrik (per gigawatt-jam) bahkan melebihi dampak kematian akibat polusi. Hal serupa terjadi pada gandum di 35 pembangkit.

“Kebijakan yang diarahkan untuk mengurangi emisi bisa membawa manfaat besar, baik dari sisi kesehatan maupun pangan,” ujar Kirat Singh, peneliti utama studi ini.

Apa yang Bisa Dilakukan?

Bagi pemerintah India—dan negara lain yang masih bergantung pada batu bara—temuan ini menjadi alarm penting. Upaya dekarbonisasi sektor energi kini punya alasan tambahan: menjaga produktivitas pertanian.

Bagi pembaca dan masyarakat global, isu ini memperkuat pentingnya transisi energi bersih, tidak hanya demi mengurangi emisi karbon dan menyelamatkan iklim, tapi juga untuk memastikan lahan pertanian tetap subur dan pangan tetap tersedia.

“Kita jarang menemukan satu tindakan yang bisa begitu cepat membantu pertanian—mengurangi emisi batu bara adalah salah satunya,” kata Lobell.

Mengapa Ini Relevan untuk Kita?

Walau studi ini berlangsung di India, pelajaran yang bisa diambil berlaku luas: polusi udara tak mengenal batas wilayah. Negara-negara berkembang yang bergantung pada batu bara menghadapi risiko serupa.

Jika kualitas udara menurun, produktivitas pangan pun ikut terdampak. Di tengah krisis iklim dan pangan, informasi ini sangat krusial bagi pengambil kebijakan dan masyarakat luas.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Studi: Bekas Tambang Batu Bara Bisa Diubah Jadi Pembangkit Listrik Tenaga Surya.

Studi: Bekas Tambang Batu Bara Bisa Diubah Jadi Pembangkit Listrik Tenaga Surya.

News | Kamis, 19 Juni 2025 | 17:42 WIB

Emiten Batu Bara Milik Grup Sinarmas Hadapi Pendangkalan Alur Pelayaran

Emiten Batu Bara Milik Grup Sinarmas Hadapi Pendangkalan Alur Pelayaran

Bisnis | Senin, 16 Juni 2025 | 18:54 WIB

MMSR: Batu Bara Masih Memiliki Keunggulan di Pasar Ekspor

MMSR: Batu Bara Masih Memiliki Keunggulan di Pasar Ekspor

Bisnis | Jum'at, 13 Juni 2025 | 20:02 WIB

Produksi Batu Bara Capai 21,35 Juta MT, BSSR Bagikan Dividen 75 Juta Dolar AS

Produksi Batu Bara Capai 21,35 Juta MT, BSSR Bagikan Dividen 75 Juta Dolar AS

Bisnis | Selasa, 10 Juni 2025 | 14:13 WIB

Gasifikasi Batu Bara, Pekerjaan Rumah Tertunda Bukit Asam

Gasifikasi Batu Bara, Pekerjaan Rumah Tertunda Bukit Asam

Bisnis | Selasa, 10 Juni 2025 | 12:41 WIB

Bahlil Bingung, Eropa Minta PLTU Pensiun Tapi Butuh Batu Bara

Bahlil Bingung, Eropa Minta PLTU Pensiun Tapi Butuh Batu Bara

Bisnis | Rabu, 04 Juni 2025 | 14:50 WIB

Terkini

5 Cara Reapply Tinted Sunscreen di Tengah Hari Tanpa Merusak Makeup

5 Cara Reapply Tinted Sunscreen di Tengah Hari Tanpa Merusak Makeup

Lifestyle | Selasa, 18 Agustus 2026 | 10:02 WIB

WFH dan PJJ Jakarta Dikaitkan Antisipasi Demo, Pramono: Arahan Pemerintah Pusat

WFH dan PJJ Jakarta Dikaitkan Antisipasi Demo, Pramono: Arahan Pemerintah Pusat

News | Selasa, 18 Agustus 2026 | 10:00 WIB

5 Pilihan HP 5G RAM 12 GB Mulai Rp2,9 Juta, Solusi Multitasking Lancar Jaya

5 Pilihan HP 5G RAM 12 GB Mulai Rp2,9 Juta, Solusi Multitasking Lancar Jaya

Tekno | Selasa, 18 Agustus 2026 | 09:59 WIB

Butuh Waktu Lebih Lama, DPR Patok RUU Perampasan Aset Rampung Paling Lambat Akhir 2026

Butuh Waktu Lebih Lama, DPR Patok RUU Perampasan Aset Rampung Paling Lambat Akhir 2026

News | Selasa, 18 Agustus 2026 | 09:52 WIB

Bukan Sekadar Pintu Gerbang! Ambisi Gubernur Lampung Ubah Bahan Mentah Jadi Emas Ekonomi

Bukan Sekadar Pintu Gerbang! Ambisi Gubernur Lampung Ubah Bahan Mentah Jadi Emas Ekonomi

Lampung | Selasa, 18 Agustus 2026 | 09:48 WIB

Review The X-Files: I Want to Believe Vrach Frankenshteyn, Terlalu Sinting!

Review The X-Files: I Want to Believe Vrach Frankenshteyn, Terlalu Sinting!

Your Say | Selasa, 18 Agustus 2026 | 09:44 WIB

Pesaing Yamaha MT-15 Harga Semurah Scoopy, Begini Spesifikasi Bajaj Pulsar N160

Pesaing Yamaha MT-15 Harga Semurah Scoopy, Begini Spesifikasi Bajaj Pulsar N160

Otomotif | Selasa, 18 Agustus 2026 | 09:39 WIB

Toyota Calya Terjun ke Telaga Sarangan Pagi Buta, Begini Nasib Sopirnya

Toyota Calya Terjun ke Telaga Sarangan Pagi Buta, Begini Nasib Sopirnya

Jatim | Selasa, 18 Agustus 2026 | 09:39 WIB

Akan Ada Demo Mahasiswa Besar-besaran di Bundaran HI, 8.242 Personel Gabungan Dikerahkan

Akan Ada Demo Mahasiswa Besar-besaran di Bundaran HI, 8.242 Personel Gabungan Dikerahkan

News | Selasa, 18 Agustus 2026 | 09:38 WIB

LOSC Lille: Calvin Verdonk Pemain Indonesia Pertama di Liga Champions

LOSC Lille: Calvin Verdonk Pemain Indonesia Pertama di Liga Champions

Bola | Selasa, 18 Agustus 2026 | 09:38 WIB

×