Brutalitas Polisi Jadi Sorotan Tajam Usai Tragedi Rantis Maut, Bukti Reformasi Polri Gagal Total?

Erick Tanjung, Lilis Varwati

Jum'at, 29 Agustus 2025 | 18:53 WIB
Brutalitas Polisi Jadi Sorotan Tajam Usai Tragedi Rantis Maut, Bukti Reformasi Polri Gagal Total?
Massa aksi bentrok dengan aparat kepolisian di kawasan Senayan saat menggelar unjuk rasa di depan Gedung DPR RI, Jakarta, Kamis (28/8/2025). [Suara.com/Alfian Winanto]

Suara.com - Tragedi tewasnya pengemudi ojol Affan Kurniawan yang dilindas rantis Brimob Polda Metro Jaya hanyalah puncak gunung es dari brutalitas aparat yang kembali dipertontonkan ke publik. Rentetan kekerasan, mulai dari pemukulan demonstran yang sudah tak berdaya hingga penggunaan kekuatan yang berlebihan, dinilai menjadi bukti telak kegagalan reformasi di tubuh Kepolisian Republik Indonesia (Polri).

Para ahli hukum dan aktivis HAM kini menyuarakan kritik paling pedas, menyebut mental aparat di lapangan masih seperti era kolonial, memandang demonstran sebagai musuh yang harus dilumpuhkan.

Direktur Eksekutif De Jure, Bhatara Ibnu Reza, menyebut apa yang terjadi di lapangan bukanlah penanganan massa, melainkan brutalitas polisi. Ia heran dengan pola pikir aparat yang seolah haus kekerasan.

"Orang melakukan kekerasan itu adalah untuk menghentikan kejahatan. Kalau orang yang sudah ditangkap terus dipukulin rame-rame itu apa maksudnya?" kritik Bhatara saat dihubungi Suara.com, Jumat (29/8/2025).

Kekerasan itu, kata Bhatara, tidak berhenti di jalanan. Penderitaan para demonstran berlanjut hingga ke markas polisi.

"Belum lagi kemudian ketika dia ditangkap dibawa ke markas polisi disuruh jalan jongkok. Kemudian dihalangi orang untuk tidak mendapatkan bantuan hukum. Ini kan problem," ujarnya.

Mental Kolonial dan Gagal Paham HAM

Bhatara menilai, pola represif yang terus berulang ini menunjukkan bahwa mentalitas aparat belum berubah sejak era Orde Baru. Mereka kerap memandang warga yang menyampaikan aspirasi bukan sebagai sesama warga negara, melainkan sebagai kombatan atau musuh.

"Tidak ada perubahan yang cukup signifikan. Artinya kegagalan reformasi polisi dalam melakukan pembinaan dan pendidikan serta pelatihan pemahaman soal hak asasi manusia, keamanan manusia, itu gagal," kritiknya.

Kegagalan inilah yang membuat aparat di lapangan sering kali bertindak tidak proporsional, melanggar standar internasional tentang penggunaan kekuatan yang seharusnya menjadi pedoman mereka.

"Kita bisa lihat bahwa kemudian polisi-polisi ini bertindak tidak proporsional di dalam penanganan demonstrasi," tuturnya.

Sebelumnya, Kapolda Metro Jaya Irjen Asep Edi Suheri telah menyampaikan permohonan maaf berkali-kali atas brutalitas anak buahnya. Ia berjanji akan melakukan perbaikan dan memberikan arahan tegas.

"Ya, itu saya mohon maaf ya, kita akan perbaiki," kata Asep di pemakaman Affan Kurniawan.

Namun, saat didesak mengenai langkah konkret reformasi di jajarannya, Kapolda tampak enggan menjawab secara substantif. Ia hanya kembali mengulang permohonan maafnya.

Permintaan maaf ini, meskipun penting, dinilai tidak akan cukup tanpa adanya perubahan sistemik yang nyata. Jika tidak, tragedi seperti yang menimpa Affan Kurniawan dan para demonstran lainnya hanya akan terus menjadi 'ritual' kekerasan yang berulang setiap kali ada aksi massa. 

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Apa Arti Salus Populi Suprema Lex Esto di Body Rantis Brimob?

Apa Arti Salus Populi Suprema Lex Esto di Body Rantis Brimob?

Lifestyle | Jum'at, 29 Agustus 2025 | 18:44 WIB

Apa Arti 1312 dan ACAB? Ramai Digaungkan Usai Rantis Brimob Lindas Driver Ojol

Apa Arti 1312 dan ACAB? Ramai Digaungkan Usai Rantis Brimob Lindas Driver Ojol

News | Jum'at, 29 Agustus 2025 | 18:30 WIB

Dokter Tirta Minta Pejabat Jangan Baperan, Bandingkan dengan Selebgram: Mereka Sering Dihujat

Dokter Tirta Minta Pejabat Jangan Baperan, Bandingkan dengan Selebgram: Mereka Sering Dihujat

Entertainment | Jum'at, 29 Agustus 2025 | 18:33 WIB

Terkini

Siapa Mama Sinta? Tokoh Adat Papua Polisikan Ketua LBH Merauke Terkait Film Pesta Babi

Siapa Mama Sinta? Tokoh Adat Papua Polisikan Ketua LBH Merauke Terkait Film Pesta Babi

News | Sabtu, 30 Mei 2026 | 12:47 WIB

Prabowo Instruksi Bahasa Prancis di Sekolah, PDIP Beri Catatan Kritis: Tidak Bisa Serta Merta Begitu

Prabowo Instruksi Bahasa Prancis di Sekolah, PDIP Beri Catatan Kritis: Tidak Bisa Serta Merta Begitu

News | Sabtu, 30 Mei 2026 | 12:43 WIB

Prabowo Tiba di Indonesia Usai Kunjungan dari Prancis, Gibran Menyambut

Prabowo Tiba di Indonesia Usai Kunjungan dari Prancis, Gibran Menyambut

News | Sabtu, 30 Mei 2026 | 12:32 WIB

Ribuan Calon Jemaah Umrah Hanania Travel Gagal Berangkat, Negara Diminta Hadir Sesuai UU Terbaru!

Ribuan Calon Jemaah Umrah Hanania Travel Gagal Berangkat, Negara Diminta Hadir Sesuai UU Terbaru!

News | Sabtu, 30 Mei 2026 | 11:26 WIB

Buntut Film Pesta Babi, Mama Sinta Asal Papua Polisikan Ketua LBH Merauke di Jakarta

Buntut Film Pesta Babi, Mama Sinta Asal Papua Polisikan Ketua LBH Merauke di Jakarta

News | Sabtu, 30 Mei 2026 | 11:08 WIB

Eropa Tegang! Vladimir Putin Ancam Bombardir Dua Negara NATO

Eropa Tegang! Vladimir Putin Ancam Bombardir Dua Negara NATO

News | Sabtu, 30 Mei 2026 | 11:00 WIB

Alarm Regresi Demokrasi, Menguatnya Kartelisasi Politik dan Ancaman Neo Otoritarianisme di Indonesia

Alarm Regresi Demokrasi, Menguatnya Kartelisasi Politik dan Ancaman Neo Otoritarianisme di Indonesia

News | Sabtu, 30 Mei 2026 | 10:52 WIB

Buron! Bareskrim Kejar Bos New Zone Medan, Diduga Jadi Bandar Narkoba di Kelab Malam Miliknya

Buron! Bareskrim Kejar Bos New Zone Medan, Diduga Jadi Bandar Narkoba di Kelab Malam Miliknya

News | Sabtu, 30 Mei 2026 | 10:31 WIB

Krisis Literasi Belum Selesai, Kenapa Siswa Bakal Dipaksa Belajar Bahasa Prancis?

Krisis Literasi Belum Selesai, Kenapa Siswa Bakal Dipaksa Belajar Bahasa Prancis?

News | Sabtu, 30 Mei 2026 | 10:18 WIB

Kesehatan Donald Trump Bermasalah? Gedung Putih Dituding Tutupi Hasil Medical Check-up

Kesehatan Donald Trump Bermasalah? Gedung Putih Dituding Tutupi Hasil Medical Check-up

News | Sabtu, 30 Mei 2026 | 10:12 WIB