Pakar Pendidikan: Bahasa Portugis Lebih Tepat Jadi Ekstrakurikuler, Bukan Mata Pelajaran Wajib

Jum'at, 24 Oktober 2025 | 13:24 WIB
Pakar Pendidikan: Bahasa Portugis Lebih Tepat Jadi Ekstrakurikuler, Bukan Mata Pelajaran Wajib
Ilustrasi Pelajar (unsplash)
Baca 10 detik
  • Ina menilai prinsip dasar Kurikulum Merdeka seharusnya dipahami secara menyeluruh oleh para pemangku kebijakan.
  • Menurutnya memperluas wawasan siswa lewat bahasa asing tetap bisa dijalankan—tanpa mengorbankan keseimbangan waktu belajar.
  • Ia menyebut masih banyak pemangku kebijakan itu tidak paham arti interdisipliner itu apa.

Suara.com - Rencana Presiden Prabowo Subianto yang ingin menjadikan bahasa Portugis sebagai salah satu pelajaran di sekolah dinilai lebih tepat jika diterapkan dalam bentuk kegiatan tambahan atau ekstrakurikuler.

Menurut pakar pendidikan Ina Liem, pendekatan seperti itu akan memberi ruang bagi siswa untuk memilih bidang yang sesuai dengan minatnya tanpa menambah beban akademik yang sudah berat.

Ina menjelaskan, kurikulum nasional saat ini yang mengambil dari prinsip kurikulum Merdeka itu sebenarnya memberi keleluasaan kepada sekolah dan siswa untuk mengembangkan potensi melalui pembelajaran interdisipliner.

Karena itu, pelajaran bahasa asing baru seperti Portugis sebaiknya tidak dipaksakan menjadi mata pelajaran wajib yang justru menambah daftar panjang kurikulum.

"Sebagai mata pelajaran pilihan, ekstra kurikuler, tentunya bagus kalau anak-anak itu diberi banyak pilihan. Siapa yang mau belajar bahasa Jepang, bahasa Mandarin, bahasa Portugis, Spanyol, Brasil," kata Ina kepada Suara.com, Jumat (24/10/2025).

Ia menambahkan, pelaksanaan kelas tambahan juga bergantung pada ketersediaan guru dan minat siswa.

Biasanya, sekolah baru membuka kelas jika jumlah pendaftar memenuhi syarat minimal. Dengan cara itu, pembelajaran bisa berjalan efektif tanpa harus memaksakan penerapan kebijakan secara nasional.

Ina menilai, prinsip dasar Kurikulum Merdeka seharusnya dipahami secara menyeluruh oleh para pemangku kebijakan. Namun, dalam praktiknya, masih banyak kebijakan pendidikan yang berorientasi pada konten semata, bukan pada integrasi antardisiplin ilmu.

"Masih banyak pemangku kebijakan itu tidak paham arti interdisipliner itu apa. Tapi kebijakannya masih konten base. Jadi masih dijadikan mata pelajaran," ucapnya.

Baca Juga: Kenapa Prabowo Pilih Bahasa Portugis Jadi Prioritas? Cek 10 Fakta Unik Ini untuk Tahu Jawabannya

Dengan pendekatan seperti itu, Ina menegaskan gagasan memperluas wawasan siswa lewat bahasa asing tetap bisa dijalankan—tanpa mengorbankan keseimbangan waktu belajar dan kehidupan anak.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Sudah Cair? Ungkap Karakter Asli Keuangan Kamu
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pecahkan 10 Kasus Misterius Ini, Kamu Detektif atau Cuma Amatir?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA SD: 15 Soal Matematika Materi Pecahan Senilai Beserta Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Beserta Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Berapa Life Path Number Kamu? Hitung Sekarang dan Lihat Rahasia Kepribadianmu
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 15 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Materi Teks Informasi Lengkap Kunci Jawaban
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Cek Seberapa Sehat Jam Tidurmu Selama Bulan Puasa?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika Kelas 6 SD Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kamu Paling Cocok Jadi Takjil Apa saat Buka Puasa?
Ikuti Kuisnya ➔
×
Zoomed

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

TERKINI