Satu Tahun Pemerintahan Prabowo, Sektor Energi hingga Kebebasan Sipil Disorot: Haruskah Reshuffle?

Vania Rossa, Novian Ardiansyah

Kamis, 13 November 2025 | 21:09 WIB
Satu Tahun Pemerintahan Prabowo, Sektor Energi hingga Kebebasan Sipil Disorot: Haruskah Reshuffle?
Dosen Ilmu Pemerintahan Universitas Pamulang, Cusdiawan. (Foto dok pribadi/ Suara.com)
baca 10 detik
  • Peneliti politik dari Universitas Padjadjaran, Cusdiawan, menilai pemerintahan Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka perlu melakukan evaluasi besar, bukan hanya reshuffle kabinet.
  • Ia menyoroti lemahnya kebijakan di sektor transisi energi dan kemandirian pangan, serta stagnasi ruang kebebasan sipil.
  • Cus menekankan pentingnya visi pembangunan yang kuat, industrialisasi padat karya, dan pembatasan arus modal agar pertumbuhan ekonomi lebih berkualitas.

Suara.com - Satu tahun lebih usia pemerintahan, Presiden Prabowo Subianto dinilai perlu melakukan banyak evaluasi. Apakah evaluasi tersebut dalam bentuk perombakan kabinet (reshuffle) atau lainnya, Peneliti Pusat Studi Politik dan Demokrasi Universitas Padjadjaran, Cusdiawan memiliki pandangan.

Menurut Cus, memang masih banyak hal yang perlu untuk terus dievaluasi, baik oleh internal pemerintah sendiri maupun dari pihak eksternal. Ia berujar evaluasi bertujuan untuk membuat kinerja pemerintah lebih maksimal termasuk dalam menunaikan janji-janji politik Presiden Prabowo dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.

Dosen Ilmu Pemerintahan Universitas Pamulang yang terafiliasi dengan International Political Science Association (IPSA) ini, mencatat beberapa isu yang dirasa perlu menjadi perhatian serius pemerintahan Prabowo, di antaranya permasalahan transisi energi dan kemandirian pangan. 

Menurutnya, belum terlihat jelas keseriusan pemerintah terhadap dua sektor tersebut. Selain itu, ia menyoroti belum adanya inovasi kebijakan dari pemerintah di isu transisi energi dan kemandirian pangan.

"Misalnya saja, kegiatan ekstraktif masih menjadi salah satu tumpuan yang menopang perekonomian kita, dan langkah untuk menguatkan kemandirian pangan seperti food estate ataupun perluasan area persawahan justru menghadirkan ekslusi bagi masyarakat sekitar dan mengancam keseimbangan ekosistem," kata Cus kepada Suara.com, Kamis (13/11/2025).

Kendati demikian, dalam persoalan pangan, Cus menilai positif langkah Prabowo untuk menurunkan harga pupuk.

Selain dua sektor di atas, Cus turut menyoroti masalah ruang kebebasan sipil dan politik. Ia berujar ruang kebebasan sipil dan politik tidak mengalami perbaikan dibanding periode kepemimpinan sebelumnya. Hal itu, kata Cus, dibuktikan salah satunya dengan catatan tindakan represif aparat.

“Kita perlu menunggu komitmen pemerintah saat ini misalnya dalam keseriusan mendorong reformasi Polri dan tidak sekadar menjadi wacana dari waktu ke waktu yang tanpa perbaikan berarti," kata Cus.

Tak Sekadar Reshuffle

baca juga

Sementara itu menjawab perlu tidaknya perombakan kabinet untuk memperbaiki sektor-sektor yang menjadi sorotan di pemerintahan Prabowo, Cus mengatakan yang diperlukan ke depan, bukan hanya pergantian menteri-menteri teknis ataupun pejabat yang kinerjanya kurang memuaskan.

Lebih dari itu, ia mengatakan hal yang paling utama yang harus dilakukan Istana adalah visi pembangunan yang solid dari pemimpin, mulai dari komitmen, serta kerja sama lintas sektor untuk mencapai visi tersebut. 

“Saya rasa pemimpin yang memiliki visi pembangunan yang solid itu penting, termasuk komitmennya untuk mengatasi tantangan struktural yang ada. Dalam kedaulatan pangan, misalnya diperlukan cara pandang yang menghindari bias urban yang memang sudah menjadi masalah klasik. Pun masalah transisi energi yang berkaitan dengan cara pandang pemerintah dalam melihat pembangunan yang tidak sekadar sebagai bernilai ekonomis, tetapi juga harus memperhatikan keseimbangan ekosistem," tutur Cus.

"Juga kesadaran pemerintah bahwa kebebasan sipil dan politik adalah hal yang esensial dan prinsipil dalam sebuah negara hukum modern," sambungnya.

Ia menyarankan agar pemerintah dapat semakin memperkokoh industrialisasi, selain padat modal agar bangsa bisa memiliki daya saing tinggi dalam globalisasi, juga padat karya untuk memperluas akses terhadap lapangan kerja. 

Ia berpandangan deindustrialisasi hanya akan membawa Indonesia kepada ilusi untuk menjadi negara maju.

“Selain itu, pemerintah ke depan perlu serius memberlakukan pembatasan capital flow, agar investasi yang masuk adalah investasi yang berkualitas, dan salah satu Indikatornya yakni memiliki manfaat jangka panjang, dan mampu memperluas lapangan pekerjaan," ujar Cus.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Aksi Kamisan ke-883: Evaluasi Satu Tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran

Aksi Kamisan ke-883: Evaluasi Satu Tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran

Foto | Kamis, 23 Oktober 2025 | 17:53 WIB

Satu Tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran, Pengusaha: Kami Butuh Kepastian Regulasi

Satu Tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran, Pengusaha: Kami Butuh Kepastian Regulasi

Bisnis | Kamis, 23 Oktober 2025 | 06:34 WIB

Setahun  Jadi Penyeimbang Pemerintahan Prabowo, Apa Saja yang Disorot PDI Perjuangan?

Setahun Jadi Penyeimbang Pemerintahan Prabowo, Apa Saja yang Disorot PDI Perjuangan?

News | Rabu, 22 Oktober 2025 | 21:42 WIB

Terkini

Drama Penalti Pulangkan Thailand, Alun-Alun Bogor Meledak Sambut Indonesia Juara

Drama Penalti Pulangkan Thailand, Alun-Alun Bogor Meledak Sambut Indonesia Juara

Bogor | Selasa, 06 Oktober 2026 | 00:56 WIB

Momen Prabowo Diberi Tahu Indonesia Juara, Langsung Joget Kepalkan Tinju di SUGBK

Momen Prabowo Diberi Tahu Indonesia Juara, Langsung Joget Kepalkan Tinju di SUGBK

Bola | Senin, 05 Oktober 2026 | 23:21 WIB

Drama Kartu Merah, Emil Audero Bawa Timnas Juara FIFA ASEAN Cup di Momen Krusial

Drama Kartu Merah, Emil Audero Bawa Timnas Juara FIFA ASEAN Cup di Momen Krusial

Bola | Senin, 05 Oktober 2026 | 23:15 WIB

Timnas Indonesia Juara, Asnawi Mangkualam Bakal Angkat Dagu di Thailand

Timnas Indonesia Juara, Asnawi Mangkualam Bakal Angkat Dagu di Thailand

Bola | Senin, 05 Oktober 2026 | 23:09 WIB

Kabut Asap Palembang Makin Pekat Senin Malam, 5 Wilayah Masuk Zona Berbahaya

Kabut Asap Palembang Makin Pekat Senin Malam, 5 Wilayah Masuk Zona Berbahaya

Sumsel | Senin, 05 Oktober 2026 | 23:02 WIB

Timnas Indonesia Juara FIFA ASEAN Cup 2026

Timnas Indonesia Juara FIFA ASEAN Cup 2026

Bola | Senin, 05 Oktober 2026 | 22:57 WIB

Survei LKPI: Gerindra 17,3 Persen, PSI Sentuh 4,3 Persen

Survei LKPI: Gerindra 17,3 Persen, PSI Sentuh 4,3 Persen

Jabar | Senin, 05 Oktober 2026 | 22:42 WIB

PTBA Siapkan Rencana Produksi Batu Bara 2027, Pasokan Domestik Jadi Prioritas

PTBA Siapkan Rencana Produksi Batu Bara 2027, Pasokan Domestik Jadi Prioritas

Sumsel | Senin, 05 Oktober 2026 | 22:40 WIB

Meroket 1.004 Persen, Jumlah Rekening Emas BRI di BRImo Tembus 3 Juta

Meroket 1.004 Persen, Jumlah Rekening Emas BRI di BRImo Tembus 3 Juta

Bri | Senin, 05 Oktober 2026 | 22:28 WIB

16 Perusahaan Diselidiki Karhutla Sumsel, Mengapa Nama Korporasi Belum Dibuka?

16 Perusahaan Diselidiki Karhutla Sumsel, Mengapa Nama Korporasi Belum Dibuka?

Sumsel | Senin, 05 Oktober 2026 | 22:25 WIB

×