5 Poin Mengejutkan dari Rapor Akhir KTT Iklim COP30: Apa Saja yang Disepakati?

M. Reza Sulaiman

Senin, 24 November 2025 | 18:40 WIB
5 Poin Mengejutkan dari Rapor Akhir KTT Iklim COP30: Apa Saja yang Disepakati?
Aktivis lingkungan melakukan aksi di Jalan Sudirman, Jakarta, Jumat (27/9/2024). [Suara.com/Alfian Winanto]
baca 10 detik
  • Kesepakatan COP30 gagal memasukkan penghentian bahan bakar fosil, bahkan menghapus frasa transisi menjauh dari dokumen akhir.
  • Negara berkembang berhasil meningkatkan dana bantuan adaptasi iklim dari negara maju menjadi sekitar US$120 miliar per tahun pada 2035.
  • Isu perdagangan dimasukkan dalam agenda iklim untuk pertama kalinya, bersamaan peluncuran dana investasi untuk hutan tropis.

Suara.com - Setelah dua minggu penuh drama, dari demo anarkis, ruang rapat yang kebakaran, sampai negosiasi alot sampai tengah malam, Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Iklim PBB ke-30 atau COP30 di Belem, Brasil, akhirnya resmi ditutup.

Jadi, apa sih hasilnya? Apakah para pemimpin dunia ini berhasil menciptakan sebuah kesepakatan ajaib untuk menyelamatkan planet? Atau lagi-lagi, ini cuma "kumpul-kumpul" tanpa hasil yang jelas?

Biar kamu nggak pusing baca dokumen yang tebalnya ratusan halaman, ini dia lima poin penting dari rapor akhir COP30.

1. Gagal Total soal 'Musuh Utama': Bahan Bakar Fosil Cuma 'Disentil' Halus

Ini adalah kegagalan terbesar dari COP30. Isu paling krusial, yaitu soal penghentian penggunaan bahan bakar fosil (batu bara, minyak, gas), ternyata cuma "disentil" halus. Frasa penting "transisi menjauh dari bahan bakar fosil" yang susah payah disepakati di KTT sebelumnya (COP28), kini justru dihapus dari kesepakatan akhir.

Alasannya? Dianggap terlalu sensitif secara politik. Padahal, lebih dari 80 negara sudah mendorong adanya roadmap yang jelas untuk "memensiunkan" energi kotor ini. Tapi usulan itu gagal total.

2. Kemenangan Kecil Buat Negara Berkembang: Duit Bantuan 'Di-upgrade'

Di tengah kekecewaan soal fosil, ada sedikit kabar baik, terutama buat negara-negara berkembang dan miskin (termasuk kita!). Mereka berhasil "memaksa" negara-negara maju untuk melipatgandakan dana bantuan adaptasi iklim pada tahun 2035.

Selama ini, duit bantuan dari negara kaya lebih banyak dipakai buat proyek penurunan emisi (mitigasi). Padahal, negara-negara miskin lebih butuh duit buat adaptasi, misalnya buat membangun tanggul laut atau sistem peringatan dini bencana. Dengan kesepakatan baru ini, diharapkan setidaknya US$120 miliar per tahun bakal dialokasikan khusus untuk adaptasi.

baca juga

3. Isu Perdagangan Akhirnya Masuk 'Kurikulum' Iklim

Untuk pertama kalinya dalam sejarah, isu perdagangan resmi dimasukkan ke dalam agenda iklim. Kenapa ini penting? Karena negara-negara berkembang khawatir kebijakan iklim negara maju, seperti "pajak karbon", justru akan merugikan ekspor mereka dan menghambat akses ke teknologi hijau. Dengan dibukanya dialog khusus ini, diharapkan kebijakan perdagangan ke depannya bisa lebih adil.

4. 'Celengan Raksasa' Buat Hutan Tropis (Termasuk Indonesia!)

Tuan rumah Brasil memanfaatkan panggung ini untuk meluncurkan sebuah "celengan raksasa" bernama Tropical Forests Forever Facility (TFFF). Ini adalah skema investasi global yang akan "menggaji" negara-negara yang berhasil menjaga hutan tropisnya.

Program yang diperkenalkan langsung oleh Presiden Luiz Inacio Lula da Silva dan telah menarik komitmen awal sebesar US$5,5 miliar dari Norwegia, Jerman, Indonesia, Prancis, dan Brasil. TFFF menargetkan pengumpulan dana hingga US$125 miliar dari sumber publik maupun swasta.

5. Tujuh Negara 'Sultan' Janji 'Bersihkan' Emisi Metana

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

9 Penyakit 'Calon Pandemi' yang Diwaspadai WHO, Salah Satunya Pernah Kita Hadapi

9 Penyakit 'Calon Pandemi' yang Diwaspadai WHO, Salah Satunya Pernah Kita Hadapi

Health | Senin, 24 November 2025 | 13:04 WIB

Pemerintah Dorong Keterlibatan Anak Menjaga Bumi Atasi Krisis Iklim

Pemerintah Dorong Keterlibatan Anak Menjaga Bumi Atasi Krisis Iklim

Video | Minggu, 23 November 2025 | 17:45 WIB

Kejutan di COP30: Delegasi Negara Bahas Pengaruh Fandom K-Pop dalam Diplomasi Iklim

Kejutan di COP30: Delegasi Negara Bahas Pengaruh Fandom K-Pop dalam Diplomasi Iklim

Lifestyle | Minggu, 23 November 2025 | 12:15 WIB

Negosiasi Panas Krisis Iklim Kandas Gegara Kebakaran di Dapur COP30, Apa Penyebabnya?

Negosiasi Panas Krisis Iklim Kandas Gegara Kebakaran di Dapur COP30, Apa Penyebabnya?

News | Minggu, 23 November 2025 | 06:00 WIB

Eco-Anxiety Bukan Penyakit: Saat Kecemasan Iklim Menggerakkan Perubahan

Eco-Anxiety Bukan Penyakit: Saat Kecemasan Iklim Menggerakkan Perubahan

Your Say | Sabtu, 22 November 2025 | 11:15 WIB

Brasil Minta Duit Miliaran Dolar Buat Jaga Hutan, tapi Izin Tambang Jalan Terus

Brasil Minta Duit Miliaran Dolar Buat Jaga Hutan, tapi Izin Tambang Jalan Terus

News | Jum'at, 21 November 2025 | 15:34 WIB

Terkini

Berpegangan pada Tabung LPG 3 Kg, Lima ABK KM Virgo Bertahan 9 Jam di Tengah Laut Jawa

Berpegangan pada Tabung LPG 3 Kg, Lima ABK KM Virgo Bertahan 9 Jam di Tengah Laut Jawa

News | Rabu, 16 September 2026 | 08:11 WIB

Bobotoh Serbu Seoul, Marc Klok: Hormat Setinggi-tingginya, Kami Membawa Nama Indonesia

Bobotoh Serbu Seoul, Marc Klok: Hormat Setinggi-tingginya, Kami Membawa Nama Indonesia

Bola | Rabu, 16 September 2026 | 08:07 WIB

Kabut Asap Kiriman dari Selatan Diklaim Perburuk Kualitas Udara di Riau

Kabut Asap Kiriman dari Selatan Diklaim Perburuk Kualitas Udara di Riau

Riau | Rabu, 16 September 2026 | 08:06 WIB

Suahasil Nazara Jadi Menkeu Baru, Investor Soroti Kepastian Investasi Indonesia

Suahasil Nazara Jadi Menkeu Baru, Investor Soroti Kepastian Investasi Indonesia

Bisnis | Rabu, 16 September 2026 | 08:01 WIB

Petualangan ke Dunia Tanpa Titik Akhir di Buku Princess, Bajak Laut & Alien

Petualangan ke Dunia Tanpa Titik Akhir di Buku Princess, Bajak Laut & Alien

Your Say | Rabu, 16 September 2026 | 08:00 WIB

Jawa Tengah Jadi Tujuan Investasi Global, Investor Dubai Incar Proyek Mini Refinery Senilai Rp5 T

Jawa Tengah Jadi Tujuan Investasi Global, Investor Dubai Incar Proyek Mini Refinery Senilai Rp5 T

News | Rabu, 16 September 2026 | 07:59 WIB

4 Tablet 4G Murah dengan Performa Kencang dan Baterai Awet yang Bisa Dipilih

4 Tablet 4G Murah dengan Performa Kencang dan Baterai Awet yang Bisa Dipilih

Tekno | Rabu, 16 September 2026 | 07:48 WIB

Scam Sudah Jadi Industri, OJK Dorong Sistem Anti-Penipuan Terintegrasi

Scam Sudah Jadi Industri, OJK Dorong Sistem Anti-Penipuan Terintegrasi

Bisnis | Rabu, 16 September 2026 | 07:43 WIB

5 Perbedaan Masker Peel Off dan Wash Off untuk Wajah yang Perlu Diketahui

5 Perbedaan Masker Peel Off dan Wash Off untuk Wajah yang Perlu Diketahui

Lifestyle | Rabu, 16 September 2026 | 07:40 WIB

Kabut Asap Karhutla Kalimantan Makin Parah: 40 Wilayah Malaysia Berstatus Tidak Sehat

Kabut Asap Karhutla Kalimantan Makin Parah: 40 Wilayah Malaysia Berstatus Tidak Sehat

News | Rabu, 16 September 2026 | 07:30 WIB

×