Tak Cukup Dipublikasikan, Laporan Investigasi Butuh Engagement Agar Berdampak

Bimo Aria Fundrika Suara.Com
Rabu, 26 November 2025 | 16:33 WIB
Tak Cukup Dipublikasikan, Laporan Investigasi Butuh Engagement Agar Berdampak
Ilustrasi individu memiliki fitur media sosial di smart phone (pexels/Tracy Le Blanc)
Baca 10 detik
    • Investigasi perlu engagement sejak riset hingga setelah publikasi.
    • Distribusi kolaboratif dan format multi-platform membantu temuan menjangkau lebih banyak orang.
    • Dampak muncul dari tindakan publik, bukan dari laporan itu sendiri.

Suara.com - Pendekatan jurnalisme investigasi tidak lagi berhenti pada tahap publikasi. Pesan itu ditekankan oleh Communications & Partnerships Manager Center for Collaborative Investigative Journalism (CCIJ), Fola Folayan, dalam sesi “Building Engagement Ecosystems Around Investigative Journalism” di Global Investigative Journalism Conference (GIJC2025) di Kuala Lumpur, beberapa waktu lalu. 

Dalam pemaparannya, Fola menjelaskan bahwa ruang redaksi perlu membangun hubungan yang lebih kuat dengan komunitas, pembuat kebijakan, dan organisasi masyarakat sipil agar laporan investigatif benar-benar digunakan dan berdampak.

“Sebuah investigasi belum selesai ketika diterbitkan,  investigasi selesai ketika orang mulai menggunakannya,” ujar Fola.

Ilustrasi Media Sosial. (Pixabay/@Pixelkult)
Ilustrasi Media Sosial. (Pixabay/@Pixelkult)

“Engagement adalah jembatan antara laporan kami dan perubahan nyata.”

Ia menegaskan bahwa keterlibatan publik bukan sekadar urusan visibilitas atau klik, melainkan bagaimana temuan investigasi dapat menjangkau pihak-pihak yang dapat mengambil tindakan. Karena itu, strategi engagement idealnya dimulai bahkan sebelum laporan dirilis.

Menurut Fola, newsroom dapat mulai membangun percakapan sejak tahap riset dengan menciptakan rasa ingin tahu di jaringan yang relevan.

Saat hari publikasi tiba, distribusi dapat dimaksimalkan lewat berbagai format, video pendek, rangkuman WhatsApp, podcast, hingga thread Twitter/X—agar temuan yang kompleks lebih mudah dipahami publik.

Fola juga menyoroti pentingnya distribusi kolaboratif. CCIJ, kata dia, selalu bekerja sama dengan media lokal maupun internasional untuk memastikan laporan menjangkau audiens yang beragam, baik di tingkat akar rumput maupun lintas negara.

“Saya selalu mencari pintu masuk yang manusiawi. Data itu penting, tapi orang terhubung dengan cerita manusia,” katanya, menjelaskan pendekatan human-centered storytelling.

Baca Juga: Data BPS Diragukan, CELIOS Kirim Surat Investigasi ke PBB, Ada Indikasi 'Permainan Angka'?

Bagi Fola, keterlibatan publik harus menjadi percakapan dua arah. Ia mencontohkan bagaimana CCIJ memanfaatkan radio lokal dan Twitter Spaces untuk membuka ruang tanya jawab dengan komunitas terdampak. Dengan cara itu, warga dapat memahami, mempertanyakan, hingga mengambil tindakan atas isu yang memengaruhi hidup mereka.

Dalam sesi tanya jawab, peserta menyinggung kerja sama dengan influencer dan kreator independen. Fola menilai kolaborasi semacam itu dapat memperluas jangkauan, selama dilakukan tanpa mengorbankan integritas jurnalistik.

“Saya percaya setiap rencana engagement harus melibatkan sekutu non-media—LSM, seniman, pendidik,” jelasnya. “Keterlibatan yang kuat adalah hasil dari ekosistem, bukan satu platform.”

Ia menambahkan bahwa dampak jurnalisme seharusnya tidak hanya diukur dari jumlah pembaca, tetapi dari bagaimana laporan digunakan—oleh masyarakat sipil, jurnalis lain, hingga advokat kebijakan.

CCIJ bahkan melacak bagaimana laporan dikutip, dibahas, dan dijadikan dasar aksi oleh kelompok masyarakat.

Menutup sesi, Fola kembali mengingatkan bahwa perubahan tidak datang dari cerita itu sendiri, melainkan dari respon publik.

“Cerita kita tidak menciptakan dampak. Dampak muncul dari apa yang dilakukan orang setelah membaca cerita itu. Engagement adalah cara kita memberi mereka alat dan ruang untuk bertindak,” ujarnya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Cocok Kamu Jadi Orang Kaya? Tebak Logo Merek Branded Ini
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: iPhone Seri Berapa yang Layak Dibeli Sesuai Gajimu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Andai Kamu Gabung Kabinet, Cocoknya Jadi Menteri Apa?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kamu Masuk ke Dunia Disney Tanpa Google, Bisakah Selamat?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kalau Hidupmu Diangkat ke Layar Lebar, Genre Film Apa yang Cocok?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kira-Kira Cara Kerjamu Mirip dengan Presiden RI ke Berapa?
Ikuti Kuisnya ➔
Checklist Mobil Bekas: 30 Pertanyaan Pemandu pas Cek Unit Mandiri, Penentu Layak Beli atau Tidak
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Mental Health Check-in, Kamu Lagi di Fase Apa?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pilih Jenis Motor Favorit untuk Tahu Gaya Pertemanan Kamu di Jalanan
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Gibran Rakabuming Raka?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA: 15 Soal Matematika Kelas 9 SMP dan Kunci Jawaban Aljabar-Geometri
Ikuti Kuisnya ➔
×
Zoomed

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

TERKINI