Bencana Sumatera Disebut Bukan Sekadar Alam, Tapi 'Bencana Pejabat' dan Beban Bagi Prabowo

Dwi Bowo Raharjo

Jum'at, 12 Desember 2025 | 16:07 WIB
Bencana Sumatera Disebut Bukan Sekadar Alam, Tapi 'Bencana Pejabat' dan Beban Bagi Prabowo
Presiden Prabowo Subianto meninjau korban banjir di Tapanuli Tengah, Sumatra Utara, Senin (1/12/2025). (Foto: Biro Pers Sekretariat Presiden)
baca 10 detik
  • Pengamat politik Pangi Syarwi Chaniago mengkritik penanganan bencana Sumatera yang diperparah oleh kinerja pejabat tidak kompeten.
  • Ia mengkhawatirkan informasi tidak objektif sampai ke Presiden Prabowo karena adanya "geng pejabat" warisan lama.
  • Peran media sosial dan warganet sangat krusial mengungkap fakta di lapangan yang berbeda dari laporan resmi.

Suara.com - Pengamat Politik, Pangi Syarwi Chaniago, menyampaikan kritik keras terkait penanganan bencana yang melanda wilayah Sumatera belakangan ini.

Dalam pernyataannya di kanal YouTube Forum Keadilan TV, Pangi menilai situasi tersebut diperparah oleh kinerja pejabat yang tidak kompeten.

"Ya, bencana Sumatera ini kan bukan bencana alam tapi bencana pejabat," ujar Pangi, dikutip Jumat (12/12/2025).

Ia menyoroti keberadaan sejumlah pejabat warisan pemerintahan sebelumnya yang dinilai justru menambah beban pemerintahan baru.

"Selain itu ada bencana geng pejabat, geng Solo ya. Itu juga rata-rata ya yang membuat problem bertambah runyem, tambah beban bagi Presiden Prabowo nama-nama ini," lanjutnya.

Menurut Pangi, masalah utama terletak pada pola komunikasi yang seharusnya menjadi fondasi jalannya pemerintahan.

"Jadi komunikasi ini kan menjadi penting ya tulang punggungnya pemerintahan sebenarnya kan," katanya.

Pangi mengkhawatirkan bahwa informasi yang sampai ke Presiden Prabowo tidak sesuai dengan realitas di lapangan, sehingga presiden seolah berjarak dari kondisi yang sebenarnya.

"Nah, pertanyaannya saya khawatir ini banyak yang tidak empir objektif tersampaikan seolah teraliineasi presiden ini dari situasi yang empirik objektif, situasi yang apa adanya sehingga mungkin dibawa ke tempat-tempat yang kondusif," jelasnya.

baca juga

Ia berandai-andai jika peninjauan dilakukan ke titik yang tepat sejak awal, penanganan korban mungkin bisa lebih cepat.

"Kalau seandainya beliau dari awal itu ke tempat-tempat yang mencekam, mungkin enggak akan ada mayat di mobil sampai 1 sampai 2 minggu ke ambil gitu," imbuhnya.

Pangi memperingatkan bahaya jika seorang kepala negara terisolasi oleh lingkaran dalam yang bermasalah.

"Nah, ini kan bahaya ketika presiden terisolasi, ada inner circle yang bermasalah di situ," tegasnya.

Ia menduga ada ketakutan dari bawahan untuk menyampaikan kabar buruk, sehingga laporan yang masuk hanya hal-hal positif.

"Sehingga, mungkin juga mereka khawatir menyampaikan informasi yang buruk-buruk kepada presiden sehingga ngambil yang yang baik-baik aja, situasi kondusif, kita enggak perlu bantuan, kita bisa mengatasi masalah ini, gitu," paparnya.

Hal ini, menurut Pangi, terbukti dari blunder komunikasi sejumlah menteri belakangan ini.

"Nah, buktinya kan terakhir ada menteri-menteri yang bermasalah semua dalam komunikasinya kan," ujarnya.

Beruntung, menurut Pangi, peran media sosial dan warganet sangat membantu dalam mengungkap fakta yang sebenarnya terjadi di lokasi bencana.

"Kemudian ketika netizen menyampaikan lewat media sosial situasi seperti itu, untung masih ada masyarakat yang mau menyebarkan informasi itu ya kan," katanya.

"Apakah itu komunitas, apakah influencer, apakah masyarakat, untung masih ada untuk melihat situasi oh enggak seperti itu," tambahnya.

Pangi menegaskan bahwa level kerusakan bencana kali ini sudah sangat parah dan di luar perkiraan.

"Ini situasinya sudah di luar dugaan kita nih bahaya bencana bukan bencana biasa, bencana yang sudah levelnya sudah kerusakannya minta ampun gitu," ungkapnya.

Namun, ia menyayangkan lambatnya tindak lanjut yang konkret.

Warga mengendarai kendaraan bermotor di desa yang luluh lantak pascabanjir di Desa Bundar, Karang Baru, Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh, Selasa (9/12/2025). [ANTARA FOTO/Erlangga Bregas Prakoso/mrh/foc]
Warga mengendarai kendaraan bermotor di desa yang luluh lantak pascabanjir di Desa Bundar, Karang Baru, Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh, Selasa (9/12/2025). [ANTARA FOTO/Erlangga Bregas Prakoso]

"Nah, kemudian akhirnya tidak adalah kemudian tindak lanjut menjadi bencana," ucapnya.

Kembali menyoroti kinerja kabinet, Pangi menyebut menteri-menteri sisa pemerintahan lalu menjadi masalah tersendiri bagi Presiden Prabowo.

"Nah, nama-nama menteri yang saya katakan bencana pejabat geng pejabat menteri sisa yang disebut geng Solo ini, ini kan juga menjadi problem menyimpan beban bagi Prabowo," terangnya.

Ia memprediksi hal ini dapat menggerus kepercayaan publik terhadap presiden.

"Lama-lama ini akan mengurus elektabilitas Prabowo, citra Prabowo, appropriating presiden level confidennya presiden Prabowo," jelas Pangi.

Pangi menegaskan rasa sayangnya kepada Presiden Prabowo, namun ia tidak bisa mentolerir cara kerja menteri-menteri lama tersebut, sembari mencontohkan klaim soal listrik.

"Kita sayang sama Presiden Prabowo, tapi kalau begini cara menteri-menteri lama dia, kita sebut nama misalnya ada yang kemarin 99% lampu menyala katanya," kritiknya.

"Faktanya enggak seperti itu, ketika netizen kita otaknya di atas rata-rata dilaporkan transparansi enggak begini enggak hidup lampu banyak ini," sambungnya.

Ia mempertanyakan kompetensi menteri terkait, termasuk dalam isu perizinan tambang.

"Nah itu kan menteri dari mana ya kan kok bisa begitu? Termasuk soal izin tambang, soal apa itulah konsesi dan seterusnya," tukasnya.

Kritik tajam juga dilayangkan Pangi terkait bantuan yang tidak relevan dengan kebutuhan korban bencana.

"Ada juga menteri yang kirim alat olahraga, kan enggak nyambung, ini gimana? menyala enggak otaknya ini ya kan pejabat seperti ini konslet ini, netizen otaknya di atas rata-rata, pejabat kita di bawah rata-rata," sindirnya.

Ia pun mempertanyakan proses seleksi para pejabat tersebut.

"Ini pejabat seperti ini kok bisa jadi pejabat ini gimana seleksinya mereka, jangan-jangan mereka suap semua ini jadi pejabat kalau begini modelnya," duganya.

Pangi juga menyoroti pernyataan pejabat terkait kebencanaan yang sempat viral, yang dinilai tidak peka.

"Ya, artinya ini masalah ini musibah belum ada kemarin menteri apa BNPB-nya juga, ini saya saya memaafkan, kita maafkan tapi kita tidak akan pernah melupakan pejabat dengan model seperti ini," tegasnya.

"Ini saya mewakili masyarakat atau tidak mewakili masyarakat, saya mengatakan Anda sudah menyakitkan hati rakyat, menyakitkan perasaan rakyat dan melukai hati rakyat dengan ngomong hanya mencekam di media sosial. Ke mana mata-matanya dia punya? Ke mana anak buahnya? Ke mana laporan selama ini? Dia sudah masuk rekor MURI yang menyakiti hati rakyat," seru Pangi.

Ia menegaskan bahwa masyarakat mungkin memaafkan, namun rekam jejak tersebut tidak akan terlupakan.

"Jadi bagi saya kita memaafkan iya tapi tidak bisa melupakan situasi semacam ini," katanya.

"Mungkin dia hanyut dengan keluarganya baru mencekam mungkin ya kalau begitu caranya atau titik koordinatnya salah mungkin ditaruh di Cikini ya enggak mencekam lah," sindirnya lagi.

Pangi juga menyinggung soal pembukaan lahan hutan secara masif dan menuntut tanggung jawab nyata kepada rakyat.

"Tapi ketika ini terjadi kok ada apa pembukaan izin hutan yang besar-besar juga hari ini terjadi kan. Nah, maksud saya jangan dibuat kita dengan ya bilang akan ada penindakan ada akan kita tindak apa-apa ya udahlah bayar ajalah ya kerugian rakyat R miliar satu nyawa yang hilang enggak usah muluk-muluklah," pungkasnya.

Reporter:  Safelia Putri

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

ESDM Mau Perpanjang Kebijakan Pembelian BBM Subsidi Tanpa QR Code di Aceh, Sumut, Sumbar

ESDM Mau Perpanjang Kebijakan Pembelian BBM Subsidi Tanpa QR Code di Aceh, Sumut, Sumbar

Bisnis | Jum'at, 12 Desember 2025 | 15:42 WIB

Prabowo Pastikan Anggaran Huntara dan Huntap Korban Bencana Sumatra Cair, Tapi...

Prabowo Pastikan Anggaran Huntara dan Huntap Korban Bencana Sumatra Cair, Tapi...

News | Jum'at, 12 Desember 2025 | 14:34 WIB

Klaim Asuransi Bencana Sumatra Nyaris Rp1 Triliun, Ini Rinciannya

Klaim Asuransi Bencana Sumatra Nyaris Rp1 Triliun, Ini Rinciannya

Bisnis | Jum'at, 12 Desember 2025 | 14:21 WIB

Pulang dari Rusia: Prabowo Minta Maaf di Aceh Tamiang, Pesan Jangan Tebang Pohon Sembarangan!

Pulang dari Rusia: Prabowo Minta Maaf di Aceh Tamiang, Pesan Jangan Tebang Pohon Sembarangan!

News | Jum'at, 12 Desember 2025 | 12:18 WIB

Apa Saja Bantuan Irish Bella dan Suami untuk Bencana Sumatra-Aceh? Pasang Banner Besar Digunjing

Apa Saja Bantuan Irish Bella dan Suami untuk Bencana Sumatra-Aceh? Pasang Banner Besar Digunjing

Entertainment | Jum'at, 12 Desember 2025 | 11:52 WIB

Terkini

Dear Mom, Kabut Asap Makin Pekat, Ini Tanda Anak Mulai Terdampak

Dear Mom, Kabut Asap Makin Pekat, Ini Tanda Anak Mulai Terdampak

Sumsel | Minggu, 23 Agustus 2026 | 23:46 WIB

Kabut Asap Palembang Makin Pekat, Kapan Sekolah Mulai Belajar dari Rumah?

Kabut Asap Palembang Makin Pekat, Kapan Sekolah Mulai Belajar dari Rumah?

Sumsel | Minggu, 23 Agustus 2026 | 23:31 WIB

Ekonom Ungkap Efek Domino Karhutla: Dari Biaya Berobat hingga Pendapatan Warga Tertekan

Ekonom Ungkap Efek Domino Karhutla: Dari Biaya Berobat hingga Pendapatan Warga Tertekan

Sumsel | Minggu, 23 Agustus 2026 | 23:21 WIB

Sumsel Dikepung 1.742 Hotspot, Seberapa Aman Warga dari Kabut Asap?

Sumsel Dikepung 1.742 Hotspot, Seberapa Aman Warga dari Kabut Asap?

Sumsel | Minggu, 23 Agustus 2026 | 23:13 WIB

Viral Debt Collector Cek Nomor Mesin Kendaraan, Anggota DPR: Ya Sudah Lha

Viral Debt Collector Cek Nomor Mesin Kendaraan, Anggota DPR: Ya Sudah Lha

News | Minggu, 23 Agustus 2026 | 23:00 WIB

Lahan Perkebunan Indofood di Muba Terbakar, Mengapa Sumber Api Diminta Diusut?

Lahan Perkebunan Indofood di Muba Terbakar, Mengapa Sumber Api Diminta Diusut?

Sumsel | Minggu, 23 Agustus 2026 | 22:58 WIB

Tak Perlu Transit, Citilink Kini Terbang Langsung Palembang-Yogyakarta Setiap Hari

Tak Perlu Transit, Citilink Kini Terbang Langsung Palembang-Yogyakarta Setiap Hari

Sumsel | Minggu, 23 Agustus 2026 | 22:46 WIB

Megawati Sentil Pragmatisme Politik: Jangan Jadikan Uang dan Kekuasaan sebagai Tujuan

Megawati Sentil Pragmatisme Politik: Jangan Jadikan Uang dan Kekuasaan sebagai Tujuan

News | Minggu, 23 Agustus 2026 | 22:30 WIB

Rekening Aktivis Pati Dibekukan, Koalisi Sipil: Jangan Jadikan Bank Alat Membungkam Kritik

Rekening Aktivis Pati Dibekukan, Koalisi Sipil: Jangan Jadikan Bank Alat Membungkam Kritik

News | Minggu, 23 Agustus 2026 | 22:05 WIB

Kebakaran Desa Adat Sade, Gubernur NTB Ungkap Dugaan Awal: Masalah Listrik

Kebakaran Desa Adat Sade, Gubernur NTB Ungkap Dugaan Awal: Masalah Listrik

News | Minggu, 23 Agustus 2026 | 22:04 WIB

×