- Mobil pengantar program MBG menabrak siswa dan guru di SDN Kalibaru 01 Jakarta Utara pada Kamis (11/12/2025) pagi.
- Insiden tersebut mengakibatkan 22 orang terluka, dengan seorang siswa mengalami 18 gigi copot.
- Sopir telah ditetapkan sebagai tersangka karena mengantuk.
Suara.com - Pagi yang seharusnya penuh semangat belajar berubah menjadi mimpi buruk di SDN Kalibaru 01, Cilincing, Jakarta Utara. Sebuah mobil Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG)—armada pengantar program Makan Bergizi Gratis (MBG)—menerobos masuk dan menabrak kerumunan siswa serta guru pada Kamis (11/12/2025).
Insiden yang terjadi sekitar pukul 07.00 WIB ini memicu keprihatinan luas, terutama menyoroti keamanan distribusi logistik ke lingkungan sekolah.
Peristiwa bermula saat mobil tersebut datang untuk rutinitas pengantaran makanan. Saat itu, halaman sekolah tengah dipadati siswa dan guru yang sedang berkegiatan, sementara pagar sekolah dalam kondisi tertutup rapat.
Namun, secara tiba-tiba, kendaraan tersebut menerabas pagar dan meluncur liar ke sisi kiri halaman, tempat para korban berada. Mereka yang tidak siap, tak sempat menghindar dari laju kendaraan.
"Masuk dengan kecepatan yang tidak terkontrol," ungkap Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, menggambarkan situasi saat kejadian.

Jerit Tangis Korban: 18 Gigi Siswa Copot
Dampak dari kecelakaan ini sangat fatal. Tercatat 22 orang menjadi korban luka, termasuk seorang guru. Para korban segera dilarikan ke RSUD Koja dan RSUD Cilincing. Sebanyak 12 di antaranya harus menjalani rawat inap karena luka yang diderita.
"Ada dua anak yang (luka) serius," tambah Pramono Anung, Kamis (11/12/2025).
Kondisi memilukan dialami salah satu siswa berinisial MP yang mengalami trauma fisik berat di bagian wajah. Keluarga korban mengungkapkan betapa dahsyatnya benturan yang terjadi.
"Giginya copot 18, dengan kondisi luka luar biasa," tutur bibi korban dengan nada bergetar.
Sementara itu, Kapolres Metro Jakarta Utara, Kombes Erick Frendriz menjelaskan perkembangan penanganan medis para korban. "10 orang sudah rawat jalan," paparnya.
Sebagian besar korban rawat jalan ditangani di RSUD Cilincing, sedangkan korban dengan luka lebih serius masih dalam perawatan intensif di RSUD Koja.
Bukan Rem Blong, Sopir Mengantuk Jadi Tersangka
Penyelidikan kepolisian mengungkap fakta mengejutkan. Kecelakaan ini bukan disebabkan oleh masalah teknis kendaraan seperti rem blong, melainkan murni kelalaian manusia (human error). Polisi telah menetapkan AI, sopir kendaraan tersebut, sebagai tersangka.
"Tersangka dalam kondisi yang tidak layak dalam mengendarai kendaraan, sehingga berakibat fatal," tegas Kombes Erick Frendriz, Jumat (12/12/2025).
Akibat kelalaiannya yang menyebabkan luka berat, sang sopir dijerat Pasal 360 KUHP dengan ancaman hukuman 5 tahun penjara.
Sekolah Kembali Daring
Menyusul insiden berdarah ini, suasana kondusif di SDN Kalibaru 01 terganggu signifikan. Pihak berwenang memutuskan untuk meniadakan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) tatap muka sementara waktu mulai Jumat (12/12/2025).
"Pembelajaran daring," jelas Staf Khusus Gubernur DKI Jakarta, Chico Hakim. Langkah ini diambil sembari menyiapkan pendampingan khusus untuk memulihkan trauma psikis para siswa dan pendidik.
Pengamat Pendidikan: "Kaji Ulang Sistem Distribusi!"
Insiden ini memantik reaksi keras dari pengamat pendidikan, Ubaid Matraji. Dengan nada tegas, ia meminta sistem distribusi MBG ke sekolah-sekolah segera dikaji ulang demi keselamatan siswa.
"Membolehkan masuk mobil ke dalam lingkungan sekolah di jam belajar, itu sangat berisiko terhadap keamanan anak," tuturnya kepada Suara.com, Jumat (12/12).
Ubaid mendesak adanya aturan ketat dari pemerintah daerah, dalam hal ini Pemprov DKI Jakarta, terkait lalu lintas kendaraan logistik di area pendidikan.
"Semoga nanti Pemprov menerapkan aturan di mana ketika jam belajar itu nggak boleh ada mobil atau kendaraan yang lalu lalang masuk sekolah," imbuhnya. Ia juga menuntut tanggung jawab penuh Pemprov DKI dalam pemulihan fisik dan mental para korban.

Respons Cepat Badan Gizi Nasional
Merespons tragedi ini, Badan Gizi Nasional (BGN) bergerak cepat. Kepala BGN, Dadan Hindayana, menyatakan dukungan penuh terhadap proses hukum yang berjalan.
Wakil Kepala BGN Bidang Operasional, Sony Sonjaya, juga langsung terjun memantau kondisi korban dan memastikan seluruh biaya pengobatan ditanggung negara dengan fasilitas terbaik.
"Ditempatkan di Kelas 1 (RSUD) semua," ucap Sony memastikan kenyamanan korban.
Selain penanganan korban, BGN berjanji akan melakukan perbaikan sistem secara menyeluruh agar kejadian serupa tak terulang.
Wakil Kepala BGN Bidang Komunikasi Publik dan Investigasi, Nanik Sudaryati Deyang, menegaskan akan ada pengetatan standar bagi mitra penyedia.
"Termasuk verifikasi sopir, penyedia armada, serta kedisiplinan implementasi SOP di lapangan," tegasnya.