- Dua debt collector tewas dikeroyok secara brutal dan kilat di Kalibata.
- Aksi balas dendam salah sasaran membakar puluhan lapak pedagang kecil.
- Insiden mengungkap bahaya profesi matel dan lingkaran setan kekerasan jalanan.
Suara.com - Sore itu, hiruk pikuk lalu lintas di depan Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata, Jakarta Selatan, berjalan seperti biasa. Namun, sebuah adegan brutal di tepi jalan mengubah sore yang biasa itu menjadi awal dari malam penuh teror.
MET dan NAT, dua pria yang berprofesi sebagai debt collector atau mata elang (matel), tewas dikeroyok. Insiden bermula ketika mereka mencoba menghentikan laju sepeda motor seorang debitur yang diduga menunggak cicilan.
Namun, sebelum negosiasi sempat terjadi, sebuah mobil tiba-tiba menepi. Empat hingga lima pria keluar, bergerak dengan kecepatan brutal, dan mengeroyok MET dan NAT tanpa ampun.
Dalam hitungan menit, keduanya terkapar bersimbah darah. Kapolsek Pancoran Kompol Mansur menyebut satu korban tewas di tempat, sementara rekannya menyusul di rumah sakit.
Peristiwa pada Kamis, 11 Desember 2025 itu bukan sekadar pengeroyokan biasa. Ia menjadi pemicu api balas dendam yang membakar habis puluhan lapak pedagang, sekaligus menyingkap tabir gelap dunia penagihan utang di jalanan.
![Infografis penyerangan kilat yang menewaskan dua mata elang di Kalibata, Jakarta Selatan. [Suara.com/Ema]](https://media.suara.com/pictures/original/2025/12/12/42039-infografis-pengeroyokan-mata-elang.jpg)
Pengeroyokan Kilat Tanpa Jejak
Polisi hingga kini masih berpacu dengan waktu untuk mengidentifikasi pelaku. Tantangannya besar, sebab aksi pengeroyokan berlangsung begitu cepat dan "bersih".
“Menurut keterangan saksi, baru diberhentiin terus pengguna jalan yang lain keluar dari mobil. Mereka langsung ngeroyok dengan begitu sporadis, begitu cepat,” ungkap Kompol Mansur saat meninjau lokasi, Jumat (12/12/2025).
Yang lebih membingungkan, semua jejak lenyap dalam sekejap. Para penyerang, mobil yang mereka gunakan, bahkan pengendara motor yang menjadi target awal, semuanya menghilang dari lokasi.
“Yang mukul langsung kabur. (Pemotor) ikut kabur semua, itu enggak ada di TKP. Tiba-tiba enggak ada saja,” jelas Mansur.
Kecepatan, kebrutalan, dan efisiensi operasi ini memunculkan pertanyaan serius: apakah ini aksi spontan, atau sebuah eksekusi yang telah direncanakan?
Dunia Abu-abu 'Mata Elang'
Sementara polisi berburu pelaku, insiden ini kembali menyeret sorotan publik ke profesi yang melatari tragedi ini: debt collector. Sebuah pekerjaan yang identik dengan kekerasan dan beroperasi di wilayah abu-abu hukum.
Di satu sisi, mereka adalah ujung tombak perusahaan pembiayaan. Di sisi lain, metode mereka yang kerap intimidatif membuat profesi ini lekat dengan dunia premanisme.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sendiri mengakui adanya masalah serius dalam industri ini. Kepala Eksekutif Pengawas OJK, Friderica Widyasari Dewi, bahkan menyoroti maraknya penipu yang berkedok sebagai mata elang.
“Ternyata banyak kejadian mata elang, yang disebut mata elang tadi sebenarnya adalah pelaku kejahatan yang mengatasnamakan perusahaan tertentu, padahal sebenarnya bukan,” ujar Friderica pada November lalu.

OJK hanya berwenang menindak debt collector resmi. Sementara para 'mata elang' palsu yang seringkali lebih brutal, menjadi ranah kepolisian. Celah inilah yang membuat jalanan menjadi arena berbahaya, penuh potensi bentrokan yang bisa meledak kapan saja.
Api Balas Dendam yang Salah Sasaran
Ledakan itu akhirnya benar-benar terjadi pada Kamis malam. Sebagai respons atas kematian dua rekannya, ratusan orang dari kelompok matel turun ke jalan, mencari balas dendam.
Namun, amuk mereka salah sasaran. Bukan pelaku yang mereka cari, melainkan sumber penghidupan warga tak bersalah yang mereka hanguskan.
Di tengah kepulan asap, Andi, pegawai lapak Selera Sambal Mentah, merasakan langsung teror tersebut. Ia sempat diperingatkan untuk bersembunyi di dalam ruko, namun keputusan itu nyaris merenggut nyawanya.
“Begitu saya tutup malah warung saya yang dibakar. Kalau saya diam aja di sini ya mungkin saya sama teman-teman jadi sate di dalam,” katanya pilu, Jumat (12/12/2025). Ia dan tiga rekannya selamat setelah nekat menjebol atap.
Sementara itu, Chef Henny Maria, pemilik Steak Together, kini hanya bisa menatap nanar rukonya yang tinggal menyisakan sebuah kulkas.
“Habis semua barang-barang,” ungkapnya, memperkirakan kerugian renovasi saja mencapai Rp 100 juta.
“Ya saya sih berharap dari pemerintah atau mungkin UMKM kami bisa mendapatkan bantuan."
Menurut data kepolisian, lebih dari 30 kios dan tenda pedagang hangus, ditambah sembilan motor dan satu mobil yang ikut dibakar. Puing-puing hangus menjadi saksi bisu malam penuh kengerian itu.
Malam penuh teror di Kalibata adalah bukti tragis dari sebuah lingkaran setan: profesi berisiko yang memicu kekerasan, yang kemudian dibalas dengan kekerasan yang lebih besar. Dan seperti biasa, warga kecillah yang harus membayar harganya.