Molotov, Bangkai dan Sinyal Merah Demokrasi: Siapa di Balik Teror Berantai Pengkritik Pemerintah?

Dwi Bowo Raharjo, Muhammad Yasir

Selasa, 06 Januari 2026 | 15:05 WIB
Molotov, Bangkai dan Sinyal Merah Demokrasi: Siapa di Balik Teror Berantai Pengkritik Pemerintah?
Ilustrasi sejumlah konten kreator dan aktivis mendapat teror pada akhir Desember 2025 dan awal Januari 2026. (Suara.com/Syahda)
baca 10 detik
  • DJ Donny di Jakarta Timur diserang bom molotov setelah sebelumnya menerima ancaman fisik serupa.
  • Serangkaian teror terencana ini menargetkan figur publik vokal yang mengkritik kebijakan pemerintah terkait bencana Sumatra.
  • Ancaman fisik dan digital ini menunjukkan budaya impunitas yang membungkam kritik publik terhadap penanganan pemerintah.

Suara.com - Gelapnya malam di Jalan Tutul, Pondok Bambu, Jakarta Timur, pada Rabu, 31 Desember 2025 dini hari, pecah oleh kilatan api.

Dari rekaman CCTV, dua sosok misterius berboncengan motor berhenti sejenak.

Satu orang turun, menyalakan sumbu botol, lalu dengan cepat melemparkannya ke arah sebuah rumah. Bola api sempat menyala sebelum akhirnya padam oleh rintik hujan.

Sasaran teror itu adalah kediaman Ramond Dony Adam, atau yang lebih dikenal sebagai DJ Donny.

Lemparan bom molotov tersebut menjadi puncak dari serangkaian intimidasi yang ia terima, setelah dua hari sebelumnya ia dikirimi paket berisi bangkai ayam tanpa kepala dengan pesan ancaman.

Donny tidak sendirian. Dalam rentang waktu yang berdekatan, serangkaian teror dengan pola serupa menyasar sejumlah publim figur, aktivis, hingga akademisi yang vokal mengkritik kebijakan pemerintah.

Dari Guru Besar Hukum UGM Zainal Arifin Mochtar yang diancam via telepon, hingga aktivis Greenpeace Iqbal Damanik yang juga dikirimi bangkai ayam.

Pola ini memunculkan satu pertanyaan: siapa dalang di baliknya, dan mengapa mereka bergerak serempak?

Benang Merah Teror: Kritik Penanganan Bencana Sumatra

baca juga

Direktur Eksekutif Southeast Asia Freedom of Expression Network (SAFENET), Nenden Sekar Arum, melihat adanya pola yang jelas.

Gelombang serangan ini, menurutnya, selalu muncul berbarengan dengan momentum politik atau isu kontroversial.

Sejumlah konten kreator dan aktivis mendapat teror pada akhir Desember 2025 dan awal Januari 2026. (Suara.com/Syahda)
Sejumlah konten kreator dan aktivis mendapat teror pada akhir Desember 2025 dan awal Januari 2026. (Suara.com/Syahda)

"Di belakangan ini kan yang paling kita bisa lihat dan soroti kan bagaimana banyak orang yang akhirnya mengkritisi kebijakan pemerintah dalam penanganan, penanggulangan bencana di Sumatra," ujar Nenden saat dihubungi Suara.com, Selasa (6/1/2026).

Kritik tajam terhadap respons pemerintah atas bencana ekologis di Sumatera memang menjadi benang merah yang mengikat para korban.

DJ Donny, Sherly Annavita, hingga Iqbal Damanik adalah beberapa nama yang aktif dan lantang menyuarakan kegagalan pemerintah di media sosial.

Pesan ancaman yang diterima Iqbal bahkan sangat eksplisit: "Jagalah ucapanmu apabila Anda ingin menjaga keluargamu, mulutmu harimaumu."

Sementara itu, Direktur Eksekutif Amnesty International Indonesia, Usman Hamid, menegaskan bahwa ini bukan kriminal biasa.

"Pola serangan ini memiliki benang merah, yaitu pembungkaman kritik publik atas buruknya penanganan bencana. Kritik yang lahir dari solidaritas kemanusiaan dan semangat perbaikan justru dibalas intimidasi fisik dan digital," kata Usman.

Dari Ancaman Digital ke Teror Fisik: Eskalasi yang Mengerikan

Serangan yang terjadi bukan hanya soal molotov dan bangkai hewan.

Hal tersebut bagian dari sebuah spektrum teror yang lebih luas, yang seringkali dimulai dari ruang digital.

Data SAFENET menunjukkan lonjakan serangan digital yang signifikan sepanjang 2025, dengan 299 kasus tercatat hanya pada periode Juli-September.

Nenden menjelaskan bahwa batas antara ancaman digital dan teror fisik kini semakin kabur.

"Serangan digital ini biasanya juga akan berhubungan dengan situasi di ruang offline atau fisik," katanya.

Menurutnya, eskalasi ke teror fisik ini terjadi karena dua faktor utama.

Pertama, suara-suara kritis di ruang digital kini dianggap memiliki dampak yang semakin besar, sehingga para penyerang merasa perlu melakukan intimidasi di dunia nyata.

Kedua, dan yang paling krusial, adalah adanya impunitas.

Menurut Nenden, kasus-kasus teror sebelumnya yang tidak pernah terungkap sebagai penyebab para pelaku semakin berani.

"Impunitas itu kan menyebabkan orang yang melakukan serangkaian teror itu merasa dia aman, baik-baik saja, tidak ada konsekuensi yang dia hadapi," jelas Nenden.

Spekulasi Publik dan Kerugian Politik bagi Pemerintah

Lambatnya penegakan hukum dalam mengungkap pelaku teror menciptakan kekosongan yang diisi oleh spekulasi liar di ruang publik.

Analis politik dari Universitas Esa Unggul, Jamiluddin Ritonga, menilai spekulasi yang mengarah ke lingkar kekuasaan adalah hal yang wajar.

"Orang tahu teror itu umumnya dilakukan oleh orang yang mempunyai power. Dan power itu umumnya ada di pemerintah," ujar Jamiluddin kepada Suara.com.

Meskipun DJ Donny sendiri enggan menuduh dan justru khawatir ada pihak ketiga yang ingin "memperkeruh suasana", Jamiluddin menegaskan bahwa kegagalan aparat mengungkap pelaku pada akhirnya merugikan citra pemerintah sendiri, khususnya Presiden Prabowo Subianto.

"Kalau aparat hukum membiarkan ini, memang yang rugi nanti Pak Prabowo. Karena kemarin saja Pak Prabowo sudah bilang bahwa perbedaan pendapat itu wajar," katanya.

Menurutnya, pernyataan pro-demokrasi dari Presiden akan dianggap "hanyalah pemanis belaka" jika di lapangan teror terhadap pengkritik terus terjadi tanpa ada penyelesaian.

"Untuk menghilangkan prasangka seperti itu, saya menyarankan dan mendesak aparat keamanan untuk menangkap semua orang-orang yang melakukan teror," tegas Jamiluddin.

Di tengah ketidakpastian ini, publik bahkan melakukan investigasi sendiri.

Rumah Ramond Dony Adam alias DJ Donny dilempari bom molotov. (tangkap layar/ist)
Rumah Ramond Dony Adam alias DJ Donny dilempari bom molotov. (tangkap layar/ist)

Muncul "cocoklogi" di media sosial yang mengaitkan sepatu salah satu pelaku teror ke rumah DJ Donny dengan seorang pria yang pernah terlihat bersama politisi PSI, Firdaus Oiwobo.

Firdaus telah membantah keras tuduhan ini dan melaporkan sejumlah akun ke polisi.

Kondisi ini semakin menunjukkan betapa rumit dan liarnya informasi yang beredar ketika kebenaran resmi tak kunjung datang.

Bukan Lagi Soal Individu, tapi Serangan pada Demokrasi

Pada akhirnya, Jamiluddin menyimpulkan bahwa identitas pelaku menjadi nomor dua. Yang terpenting adalah esensi dari tindakan itu sendiri.

"Kita tidak peduli itu sumber teror itu dari mana, tapi yang pasti teror itu mencerminkan antidemokrasi," ujarnya.

Rentetan teror ini, dari ancaman digital, vandalisme, hingga bom molotov, bukan lagi sekadar serangan terhadap individu. Ia adalah pesan intimidasi yang ditujukan kepada seluruh masyarakat: bersuara kritis memiliki risiko yang mengerikan.

Selama para pelakunya masih bebas berkeliaran dalam bayang-bayang impunitas, Safenet menilai ancaman terhadap kebebasan berpendapat akan terus menghantui ruang publik Indonesia.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Menham Pigai: Mustahil Pemerintah Jadi Dalang Teror Aktivis Kritis

Menham Pigai: Mustahil Pemerintah Jadi Dalang Teror Aktivis Kritis

News | Selasa, 06 Januari 2026 | 13:28 WIB

Trailer Lift Suguhkan Teror Psikologis di Ruang Sempit Tanpa Jalan Keluar

Trailer Lift Suguhkan Teror Psikologis di Ruang Sempit Tanpa Jalan Keluar

Your Say | Selasa, 06 Januari 2026 | 13:11 WIB

Menteri Pigai Duga Ada 'Playing Victim' di Balik Isu Teror Influencer Pengkritik Bencana

Menteri Pigai Duga Ada 'Playing Victim' di Balik Isu Teror Influencer Pengkritik Bencana

News | Senin, 05 Januari 2026 | 07:08 WIB

Menteri HAM Minta Polisi Usut Tuntas Teror Terhadap Aktivis Pengkritik Bencana Sumatra

Menteri HAM Minta Polisi Usut Tuntas Teror Terhadap Aktivis Pengkritik Bencana Sumatra

News | Minggu, 04 Januari 2026 | 19:18 WIB

Dituduh Dalangi Teror, Firdaus Oiwobo Polisikan DJ Donny terkait Pencemaran Nama Baik

Dituduh Dalangi Teror, Firdaus Oiwobo Polisikan DJ Donny terkait Pencemaran Nama Baik

News | Minggu, 04 Januari 2026 | 19:01 WIB

Terkini

Kembangkan Kasus Suap Proyek Bengkulu, KPK Geledah Rumah Adi Sumarta dan Sita Bukti Elektronik

Kembangkan Kasus Suap Proyek Bengkulu, KPK Geledah Rumah Adi Sumarta dan Sita Bukti Elektronik

News | Senin, 14 September 2026 | 13:59 WIB

Betrand Peto Bantah Lakukan Pelecehan Seksual: ANW Tiba-Tiba Masuk ke Ruang Karaoke

Betrand Peto Bantah Lakukan Pelecehan Seksual: ANW Tiba-Tiba Masuk ke Ruang Karaoke

Entertainment | Senin, 14 September 2026 | 13:57 WIB

Kisah Ketangguhan Komunitas Indonesia Bersinar di Inspiring Asia Micro Film Festival 2026

Kisah Ketangguhan Komunitas Indonesia Bersinar di Inspiring Asia Micro Film Festival 2026

Entertainment | Senin, 14 September 2026 | 13:55 WIB

Aksi Licik Copet di Konser Band Kotak: Tebar Gas 'Kentut' Demi Bikin Panik Penonton

Aksi Licik Copet di Konser Band Kotak: Tebar Gas 'Kentut' Demi Bikin Panik Penonton

News | Senin, 14 September 2026 | 13:50 WIB

BGN Siapkan Sistem Marketplace MBG: Kejar Pengadaan, Keracunan Terabaikan?

BGN Siapkan Sistem Marketplace MBG: Kejar Pengadaan, Keracunan Terabaikan?

Your Say | Senin, 14 September 2026 | 13:50 WIB

Perdagangan Jalur Tikus Iran - Dubai Selamatkan Toko Kelontong yang Makin Terhimpit Perang

Perdagangan Jalur Tikus Iran - Dubai Selamatkan Toko Kelontong yang Makin Terhimpit Perang

News | Senin, 14 September 2026 | 13:49 WIB

Gojek Gandeng Universitas Indonesia, Bedah Strategi Jadi Juara dengan Teknologi

Gojek Gandeng Universitas Indonesia, Bedah Strategi Jadi Juara dengan Teknologi

Bisnis | Senin, 14 September 2026 | 13:49 WIB

IPOSC 2026 Digelar Saat Karhutla Parah, Muncul Desakan agar Acara Sawit Dibatalkan

IPOSC 2026 Digelar Saat Karhutla Parah, Muncul Desakan agar Acara Sawit Dibatalkan

Kalbar | Senin, 14 September 2026 | 13:49 WIB

Kades Ramai-ramai Minta Pilkades Ditunda dan Jabatan Diperpanjang, Mendagri Beri Jawaban Ini

Kades Ramai-ramai Minta Pilkades Ditunda dan Jabatan Diperpanjang, Mendagri Beri Jawaban Ini

News | Senin, 14 September 2026 | 13:45 WIB

3 Poin Konten YouTube Maudy Ayunda Soal Bad News yang Dianggap Tone Deaf

3 Poin Konten YouTube Maudy Ayunda Soal Bad News yang Dianggap Tone Deaf

Entertainment | Senin, 14 September 2026 | 13:44 WIB

×