Sidang Gugatan Ucapan Fadli Zon Soal Pemerkosaan Massal 98: Psikolog UI Ditegur Hakim karena Minum

Bella, Lilis Varwati

Kamis, 15 Januari 2026 | 15:15 WIB
Sidang Gugatan Ucapan Fadli Zon Soal Pemerkosaan Massal 98: Psikolog UI Ditegur Hakim karena Minum
Psikolog dari Universitas Indonesia (UI) Livia Iskandar saat hadir dalam sidang Kasus gugatan atas pernyataan Menteri Kebudayaan Fadli Zon terkait penyangkalan pemerkosaan massal pada tragedi Mei 1998 berlanjut pada pemeriksaan saksi dan ahli di Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Jakarta, Kamis (14/1). (Suara.com/Lilis Varwati)
baca 10 detik
  • PTUN Jakarta pada 14 Januari memeriksa ahli psikolog Livia Iskandar dalam gugatan Menteri Fadli Zon terkait penyangkalan tragedi Mei 1998.
  • Livia, mantan koordinator layanan penyintas Komnas Perempuan, menyatakan layanan psikologis profesional baru tersedia mulai tahun 2002.
  • Kesaksian ahli mengungkapkan bahwa pemerkosaan massal 1998 sangat traumatis karena terjadi secara berkelompok dalam situasi huru-hara.

Suara.com - Kasus gugatan atas pernyataan Menteri Kebudayaan Fadli Zon terkait penyangkalan pemerkosaan massal pada tragedi Mei 1998 berlanjut pada pemeriksaan saksi dan ahli di Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Jakarta, Kamis (14/1).

Salah satu ahli yang dihadirkan Yayasan Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Indonesia sebagai penggugat ialah psikolog dari Universitas Indonesia (UI), Livia Iskandar. Ia dihadirkan sebagai saksi ahli karena pernah menjabat sebagai koordinator divisi services for survivors atau layanan untuk penyintas di Komnas Perempuan pada tahun 2001–2002.

Persidangan berlangsung normal dengan Livia menjawab setiap pertanyaan Majelis Hakim dengan lancar. Ketika pemeriksaan baru berjalan sekitar 10 menit, Livia meminta izin untuk minum dan diperbolehkan oleh Majelis Hakim.

Tak sampai 15 menit, ia kembali meminta izin untuk minum. Kendati diperbolehkan, tindakan Livia kemudian membuat hakim menegurnya.

"Kenapa minum terus? Anda memang gampang haus?" tanya ketua majelis hakim kepada Livia.

Livia kemudian mengaku bahwa topik pemerkosaan massal tragedi Mei 1998 terasa berat baginya sebagai seorang psikolog yang pernah berhadapan langsung dengan para korban.

"Karena ini topiknya berat bagi saya," ujarnya.

Dalam kesaksiannya, Livia menyampaikan bahwa pada tahun 1998 baru ada beberapa layanan pendampingan korban kekerasan. Namun, belum tersedia layanan pendampingan psikologis dan kesehatan mental yang dilakukan oleh psikolog maupun psikiater profesional.

Baru pada tahun 2002, kumpulan para psikolog memutuskan untuk membentuk layanan psikologis bagi korban kekerasan.

baca juga

"Kami langsung memberikan layanan tersebut sampai sekarang, hampir 20 tahun," ujar Livia.

Ia menerangkan bahwa individu yang mengalami peristiwa traumatik seperti kekerasan dapat membentuk cara pandang terhadap dirinya menjadi berbeda. Tragedi pemerkosaan massal pada tahun 1998 disebut sebagai pengalaman yang sangat traumatis bagi para korban.

"Apalagi kejadian ini dilakukan secara ramai-ramai, dalam kerusuhan penjarahan, dan dalam situasi chaos. Jadi, pertama, untuk korban kekerasan seksual, itu memang sangat berat sekali dinamika psikologisnya," kata Livia.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Kak Seto Lulusan Apa? Profil Psikolog Anak yang Ramai Dikaitkan dengan Kasus Aurelie

Kak Seto Lulusan Apa? Profil Psikolog Anak yang Ramai Dikaitkan dengan Kasus Aurelie

Lifestyle | Rabu, 14 Januari 2026 | 14:43 WIB

Ciri-Ciri Pelaku Grooming Menurut Psikolog, Dikaitkan dengan Sosok Bobby di Memoar Broken Strings

Ciri-Ciri Pelaku Grooming Menurut Psikolog, Dikaitkan dengan Sosok Bobby di Memoar Broken Strings

Entertainment | Rabu, 14 Januari 2026 | 14:41 WIB

Kenapa Pelaku Child Grooming Sering Denial? Psikolog Anak Ungkap 10 Pola Pikir Ini

Kenapa Pelaku Child Grooming Sering Denial? Psikolog Anak Ungkap 10 Pola Pikir Ini

Lifestyle | Rabu, 14 Januari 2026 | 14:50 WIB

Belajar dari Kisah Aurelie Moeremans, 7 Alasan Psikologis Korban Child Gromming Tak Bisa Melawan

Belajar dari Kisah Aurelie Moeremans, 7 Alasan Psikologis Korban Child Gromming Tak Bisa Melawan

Lifestyle | Rabu, 14 Januari 2026 | 12:29 WIB

Trauma Mengintai Korban Bencana Sumatra, Menkes Kerahkan Psikolog Klinis

Trauma Mengintai Korban Bencana Sumatra, Menkes Kerahkan Psikolog Klinis

News | Kamis, 08 Januari 2026 | 09:55 WIB

Kemenbud Luncurkan Buku Sejarah Ulang, Fadli Zon Tegaskan Bukan Ditulis Pemerintah

Kemenbud Luncurkan Buku Sejarah Ulang, Fadli Zon Tegaskan Bukan Ditulis Pemerintah

Video | Kamis, 18 Desember 2025 | 22:05 WIB

Kemenbud Resmi Tetapkan 85 Cagar Budaya Peringkat Nasional, Total Jadi 313

Kemenbud Resmi Tetapkan 85 Cagar Budaya Peringkat Nasional, Total Jadi 313

News | Rabu, 17 Desember 2025 | 19:43 WIB

Pernah Berada di Fase Sulit, Fuji Mengaku Sempat Konsultasi dengan Psikolog

Pernah Berada di Fase Sulit, Fuji Mengaku Sempat Konsultasi dengan Psikolog

Your Say | Selasa, 16 Desember 2025 | 19:50 WIB

DPR Ajak Publik Kritisi Buku Sejarah Baru, Minta Pemerintah Terbuka untuk Ini...

DPR Ajak Publik Kritisi Buku Sejarah Baru, Minta Pemerintah Terbuka untuk Ini...

News | Senin, 15 Desember 2025 | 19:28 WIB

Kemenbud Resmikan Buku Sejarah Indonesia, Fadli Zon Ungkap Isinya

Kemenbud Resmikan Buku Sejarah Indonesia, Fadli Zon Ungkap Isinya

News | Senin, 15 Desember 2025 | 12:21 WIB

Terkini

Kertajati Disiapkan Jadi Hub Dirgantara, Pemerintah Bidik Pasar Asia Pasifik US$138 Miliar

Kertajati Disiapkan Jadi Hub Dirgantara, Pemerintah Bidik Pasar Asia Pasifik US$138 Miliar

Bisnis | Rabu, 15 Juli 2026 | 16:50 WIB

TVS Apache Rayakan 7 Juta Pengendara di 90 Negara, Perkuat Warisan Balap Lewat Kampanye Global

TVS Apache Rayakan 7 Juta Pengendara di 90 Negara, Perkuat Warisan Balap Lewat Kampanye Global

Otomotif | Rabu, 15 Juli 2026 | 16:50 WIB

Rupiah Konsisten Menguat, Tapi Masih di atas Rp18.000 per Dolar AS

Rupiah Konsisten Menguat, Tapi Masih di atas Rp18.000 per Dolar AS

Bisnis | Rabu, 15 Juli 2026 | 16:49 WIB

Muktamar ke-35 PBNU Segera Digelar: Gus Ipul Ungkap Sosok yang Berpeluang Pimpin Nahdlatul Ulama

Muktamar ke-35 PBNU Segera Digelar: Gus Ipul Ungkap Sosok yang Berpeluang Pimpin Nahdlatul Ulama

News | Rabu, 15 Juli 2026 | 16:48 WIB

Punya Kuasa Ambil Alih Kasus Febrie, KPK: Tapi Bukan Seperti Memungut Barang di Jalan!

Punya Kuasa Ambil Alih Kasus Febrie, KPK: Tapi Bukan Seperti Memungut Barang di Jalan!

News | Rabu, 15 Juli 2026 | 16:46 WIB

Isu Appi Pindah ke Partai Gerindra Menguat

Isu Appi Pindah ke Partai Gerindra Menguat

Sulsel | Rabu, 15 Juli 2026 | 16:45 WIB

Tak Lagi Polos, Deodorant Tawas Kini Punya Aroma yang Lebih Personal

Tak Lagi Polos, Deodorant Tawas Kini Punya Aroma yang Lebih Personal

Lifestyle | Rabu, 15 Juli 2026 | 16:44 WIB

Rilis Trailer Utama, Film Live Action Look Back Umumkan 6 Pemeran Baru

Rilis Trailer Utama, Film Live Action Look Back Umumkan 6 Pemeran Baru

Your Say | Rabu, 15 Juli 2026 | 16:40 WIB

Menteri Dipanggil Prabowo Bahas Koperasi, Anak Buah Tegaskan Kopdes Bukan Supermarket

Menteri Dipanggil Prabowo Bahas Koperasi, Anak Buah Tegaskan Kopdes Bukan Supermarket

News | Rabu, 15 Juli 2026 | 16:37 WIB

Cemburu Lihat Tanda Merah di Leher, Suami Habisi Nyawa Istri Saat Main HP

Cemburu Lihat Tanda Merah di Leher, Suami Habisi Nyawa Istri Saat Main HP

Sulsel | Rabu, 15 Juli 2026 | 16:32 WIB

×