Rahasia Gelap di Balik Kenyalnya Siomay Berbahan Ikan Sapu-Sapu, Seberapa Berbahaya?

Vania Rossa, Adiyoga Priyambodo

Rabu, 28 Januari 2026 | 16:15 WIB
Rahasia Gelap di Balik Kenyalnya Siomay Berbahan Ikan Sapu-Sapu, Seberapa Berbahaya?
Ilustrasi siomay ikan sapu-sapu. (Suara.com)
  • Beberapa pedagang siomay Jakarta menggunakan ikan sapu-sapu hasil tangkapan sungai tercemar sebagai bahan baku demi keuntungan ekonomi besar.
  • Daging ikan sapu-sapu berpotensi tinggi mengandung logam berat berbahaya seperti merkuri dan timbal, mengancam kesehatan konsumen.
  • Konsumen dapat curiga jika siomay memiliki warna gelap, aroma amis menyengat, atau dijual dengan harga sangat murah tidak wajar.

Suara.com - Di sudut-sudut ramai Jakarta, beberapa pedagang siomay kaki lima nekat mencampur adonan mereka dengan daging ikan sapu-sapu liar yang ditangkap dari sungai-sungai hitam yang tercemar berat.

Ikan-ikan tersebut diketahui telah menyerap berbagai logam berat berbahaya seperti merkuri dan timbal, yang kemudian mengendap secara permanen di dalam tubuh para konsumen yang tidak menaruh curiga.

Kelezatan bumbu kacang yang kental akhirnya hanya menjadi tabir bagi ancaman kesehatan serius yang mengintai di balik setiap tusukan siomay murah meriah tersebut.

Daging Sapu-Sapu Bikin Pedagang Lebih Cuan

Alasan utama beberapa oknum pedagang beralih ke ikan sapu-sapu adalah dorongan ekonomi demi meraup keuntungan yang lebih besar. Harga ikan tenggiri yang dijual di pasar saat ini terbilang cukup tinggi.

"Saya biasanya Rp75 ribu sekilo," ungkap Sule, salah satu pedagang siomay di kawasan Kebon Sirih, Jakarta.

Dibandingkan ikan tenggiri yang harganya kian melambung, ikan liar seperti sapu-sapu bisa didapatkan dengan harga sangat murah atau bahkan gratis hasil tangkapan sendiri. Dengan memangkas biaya bahan baku secara drastis, para pedagang nakal bisa menjual siomay dengan harga sangat terjangkau, namun tetap mengantongi margin keuntungan yang melimpah.

Ketersediaan ikan ini pun sangat melimpah karena sifatnya sebagai spesies invasif yang mampu bertahan hidup di perairan yang sangat tercemar. Mereka sering ditemukan berkembang biak secara masif di sungai-sungai besar perkotaan, yang bahkan memiliki kadar oksigen sangat rendah. Bagi para oknum tersebut, kondisi lingkungan yang kotor justru menjadi gudang pasokan bahan baku yang stabil dan mudah diakses setiap hari.

Dari sisi pengolahan, daging ikan sapu-sapu ternyata memiliki karakteristik yang cukup padat dan kenyal saat sudah dicampur dengan tepung tapioka. Perbedaan rasa dengan ikan berkualitas tinggi berhasil disamarkan melalui penggunaan bawang putih serta penyedap rasa yang kuat dalam adonannya.

Dan pada akhirnya, siraman bumbu kacang yang kental membuat para konsumen sulit mengenali bahan baku aslinya sehingga mereka tetap menikmati hidangan tersebut tanpa rasa curiga.

Fatal Bagi Kesehatan Konsumen

Ikan sapu-sapu sering kali terlihat bertahan hidup di aliran sungai perkotaan yang kondisinya kotor dan penuh limbah. Meski secara teknis dagingnya bisa dimakan, mengonsumsi ikan dari perairan tercemar ini membawa risiko kesehatan yang sangat fatal bagi manusia.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (KPKP) DKI Jakarta, Hasudungan A. Sidabalok menegaskan bahwa ikan hasil tangkapan liar tidak dapat dipastikan aman untuk dikonsumsi, dan tidak memenuhi standar keamanan serta standar mutu pangan.

Sebagai ikan penyaring di dasar sungai, tubuh mereka menyerap tumpukan limbah pabrik serta rumah tangga yang mengendap di dalam lumpur. Berbagai unsur kimia beracun masuk ke dalam jaringan daging ikan tersebut melalui proses akumulasi yang berlangsung terus-menerus.

"Dapat mengandung berbagai logam berat seperti arsen (As), kadmium (Cd), timbal (Pb), merkuri (Hg), dan lainnya. Meningkatkan risiko keracunan kronis jika dikonsumsi rutin," lanjut Hasudungan.

Selain ancaman zat kimia, habitat air yang buruk membuat ikan sapu-sapu sangat rentan membawa berbagai jenis bakteri patogen. Bakteri berbahaya seperti E. coli dan Salmonella menempel pada tubuh serta organ dalam ikan yang hidup di lingkungan dengan sanitasi rendah.

"Yang bisa menyebabkan gangguan pencernaan atau infeksi jika tidak dimasak dengan benar," kata Hasudungan.

Infografis Rahasia Siomay Berbahan Ikan Sapu-Sapu. (Suara.com)
Infografis Rahasia Siomay Berbahan Ikan Sapu-Sapu. (Suara.com)

Beda Siomay Tenggiri dan Sapu-Sapu

Sule, seorang penjual, berbagi tips tentang bagaimana membedakan siomay yang dicampur daging sapu-sapu. Warna kudapan tersebut cenderung lebih gelap dan kusam, bahkan mengarah ke abu-abu kehitaman.

Tampilan ini sangat berbeda dengan siomay ikan tenggiri asli yang biasanya berwarna putih pucat atau abu-abu cerah alami.

"Kayak yang punya saya ini," klaim Sule, yang mengaku selalu memakai daging tenggiri asli untuk berjualan.

Saat uap panas mengepul, tercium juga aroma amis yang sangat tajam dan menusuk hidung. Bau tanah atau lumpur yang menyengat tetap terasa kuat, meskipun siomay sudah dikukus dalam waktu yang lama. Aroma yang tidak lazim ini menjadi pertanda kuat adanya campuran bahan yang tidak seharusnya digunakan dalam adonan.

Harga jual siomay juga sangat tidak masuk akal murahnya. Dibandingkan dengan harga pasaran ikan tenggiri yang tinggi, banderol harga di pedagang nakal yang memakai daging sapu-sapu terbilang mencurigakan.

"Kalau di saya, satu porsi enam biji (siomay) saya jualnya Rp15 ribu," jelas Sule.

Aroma gurih siomay yang mengepul di pinggir jalan seringkali menggoda selera, namun kita dituntut untuk selalu waspada terhadap kemungkinan adanya pedagang nakal yang menggunakan daging ikan sapu-sapu liar.

Konsumen harus memiliki keberanian untuk bertanya langsung mengenai asal-usul bahan ikan yang digunakan atau lebih selektif dalam memilih pedagang yang telah memiliki reputasi serta jaminan mutu yang jelas.

Langkah sederhana ini menjadi benteng pertama agar kita tidak terjebak pada produk pangan yang tidak higienis dan berisiko membahayakan kesehatan di masa depan.

Upaya pencegahan ini sejalan dengan langkah pemerintah yang terus menggencarkan peringatan mengenai bahaya mengonsumsi ikan dari lingkungan yang tidak sehat.

Kepala Dinas KPKP DKI Jakarta, Hasudungan A. Sidabalok memberikan arahan tegas dalam upaya perlindungan konsumen.

"Edukasi melalui medsos atau poster-poster peringatan kepada masyarakat untuk tidak mengkonsumsi ikan dari perairan yang tercemar, yang tidak memiliki jaminan mutu serta menjelaskan dampak dari mengkonsumsi ikan yang tercemar logam berat," kata dia.

Melalui imbauan tersebut, masyarakat diharapkan semakin paham bahwa kualitas bahan baku merupakan kunci utama dalam menjaga keamanan pangan keluarga.
Kesadaran ini pada akhirnya membawa kita pada pentingnya menghargai tubuh sendiri dengan tidak memasukkan 'sampah sungai' ke dalam sistem pencernaan hanya demi mengejar harga yang murah.

Memilih makanan yang terjamin kualitasnya bukan sekadar soal rasa, melainkan sebuah bentuk investasi jangka panjang untuk menjaga kesehatan organ tubuh dari ancaman polutan berbahaya. Jangan sampai keinginan untuk berhemat membuat kita abai terhadap kesehatan diri yang nilainya jauh lebih mahal daripada sepiring siomay dengan bahan baku yang mencurigakan.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Jangka Panjang, Kemenkes Ingatkan Risiko Konsumsi Ikan Sapu-sapu dari Sungai Tercemar

Jangka Panjang, Kemenkes Ingatkan Risiko Konsumsi Ikan Sapu-sapu dari Sungai Tercemar

Video | Selasa, 27 Januari 2026 | 21:35 WIB

Perangi Invasi Ikan Sapu-Sapu, Misi Arief Selamatkan Ciliwung dari 'Penjajah Sunyi' Asal Amazon

Perangi Invasi Ikan Sapu-Sapu, Misi Arief Selamatkan Ciliwung dari 'Penjajah Sunyi' Asal Amazon

News | Selasa, 27 Januari 2026 | 17:15 WIB

Kemenkes Ingatkan Risiko Jangka Panjang Konsumsi Ikan Sapu-sapu dari Sungai Tercemar

Kemenkes Ingatkan Risiko Jangka Panjang Konsumsi Ikan Sapu-sapu dari Sungai Tercemar

News | Selasa, 27 Januari 2026 | 16:58 WIB

Terkini

Hari Pertama BTN JAKIM 2026 Meriah, Ribuan Pelari Padati Kawasan GBK

Hari Pertama BTN JAKIM 2026 Meriah, Ribuan Pelari Padati Kawasan GBK

News | Sabtu, 13 Juni 2026 | 07:33 WIB

Di Balik Narasi 'BBM Non-Subsidi': Mengapa Rakyat Kecil Tetap Tercekik Kenaikan Harga Pertamax?

Di Balik Narasi 'BBM Non-Subsidi': Mengapa Rakyat Kecil Tetap Tercekik Kenaikan Harga Pertamax?

News | Sabtu, 13 Juni 2026 | 07:15 WIB

Sidang Blueray Cargo, Jaksa KPK Ungkap Dugaan Aliran Rp21 Miliar ke Djaka Budi Utama

Sidang Blueray Cargo, Jaksa KPK Ungkap Dugaan Aliran Rp21 Miliar ke Djaka Budi Utama

News | Jum'at, 12 Juni 2026 | 23:00 WIB

Imbau Daerah Gelar Nobar Piala Dunia 2026, Mendagri Optimistis Bakal Gerakkan Perekonomian

Imbau Daerah Gelar Nobar Piala Dunia 2026, Mendagri Optimistis Bakal Gerakkan Perekonomian

News | Jum'at, 12 Juni 2026 | 22:23 WIB

'Tak Ada Penangkapan!' Kapolres Jaksel Bantah Tudingan Represif di Aksi Mahasiswa GMNI Pancoran

'Tak Ada Penangkapan!' Kapolres Jaksel Bantah Tudingan Represif di Aksi Mahasiswa GMNI Pancoran

News | Jum'at, 12 Juni 2026 | 22:22 WIB

Gangguan Akses CCTV Publik Saat Aksi Unjuk Rasa di Sudirman Bukan dari Sistem Pemprov DKI

Gangguan Akses CCTV Publik Saat Aksi Unjuk Rasa di Sudirman Bukan dari Sistem Pemprov DKI

News | Jum'at, 12 Juni 2026 | 22:18 WIB

Massa di Sudirman Bubar: Mahasiswa Mundur Pertama, Disusul Kelompok 'Baju Hitam'

Massa di Sudirman Bubar: Mahasiswa Mundur Pertama, Disusul Kelompok 'Baju Hitam'

News | Jum'at, 12 Juni 2026 | 21:21 WIB

Mahasiswa Sudah Pergi, Siapa Massa Berbaju Hitam yang Masih Bertahan di Sudirman?

Mahasiswa Sudah Pergi, Siapa Massa Berbaju Hitam yang Masih Bertahan di Sudirman?

News | Jum'at, 12 Juni 2026 | 21:12 WIB

Mendagri Tito Dorong DKPP Tingkatkan Integritas Penyelenggara Pemilu

Mendagri Tito Dorong DKPP Tingkatkan Integritas Penyelenggara Pemilu

News | Jum'at, 12 Juni 2026 | 20:56 WIB

KPK Selidiki Dugaan Perintangan Penyidikan Kasus Bea Cukai, Pendiri IAW Diperiksa

KPK Selidiki Dugaan Perintangan Penyidikan Kasus Bea Cukai, Pendiri IAW Diperiksa

News | Jum'at, 12 Juni 2026 | 20:54 WIB