Saat 16 Ormas Sepakat RI Gabung BoP, Israel Masih Terus Serang Palestina

M Nurhadi Suara.Com
Rabu, 04 Februari 2026 | 20:29 WIB
Saat 16 Ormas Sepakat RI Gabung BoP, Israel Masih Terus Serang Palestina
Tentara Israel pada pertengahan tahun lalu, mengeluarkan perintah pengusiran terhadap warga Palestina. (ist)
Baca 10 detik
  • Sebanyak 16 Ormas Islam dan tokoh pesantren sepakat dukung perjuangan kedaulatan Palestina oleh Pemerintah Indonesia.
  • Dukungan ini disampaikan usai audiensi tertutup Presiden Prabowo dengan PBNU membahas peran Indonesia di Board of Peace.
  • Netanyahu menolak keras Otoritas Palestina berperan pasca-konflik, memperumit gencatan senjata dan memunculkan tantangan diplomasi.

Suara.com - Sebanyak 16 Organisasi Kemasyarakatan (Ormas) Islam, didampingi sejumlah tokoh pondok pesantren dari Jawa Barat dan Jawa Timur, secara resmi menyatakan kesepakatan untuk menyokong langkah strategis Pemerintah Indonesia dalam memperjuangkan kedaulatan Palestina.

Pernyataan dukungan ini disampaikan langsung oleh Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya), setelah melakukan audiensi tertutup dengan Presiden Prabowo Subianto di Istana Negara, Jakarta.

Gus Yahya memaparkan bahwa pertemuan tersebut memberikan perspektif yang mendalam mengenai manuver Indonesia di panggung internasional.

Terdapat tiga poin kesepakatan utama yang dijalin antara ulama dan pemerintah guna memastikan peran Indonesia tetap relevan dan memberikan dampak riil bagi warga Palestina, baik di Jalur Gaza maupun Tepi Barat.

Salah satu isu sentral yang dibahas adalah posisi Indonesia dalam Board of Peace (Dewan Perdamaian), sebuah inisiatif internasional yang digagas oleh Amerika Serikat.

Presiden Prabowo memberikan penjelasan mendalam mengenai landasan realistis di balik keterlibatan Indonesia dalam dewan tersebut.

Menurut Gus Yahya, keterlibatan Indonesia bertujuan agar gerakan pembelaan terhadap Palestina menjadi lebih terkonsolidasi dan terukur. Meski demikian, langkah ini tidak lepas dari tantangan besar di lapangan yang kian memanas.

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya di Gedung PBNU, Senen, Jakarta Pusat, Kamis (15/1/2026). (Suara.com/Adiyoga Priyambodo)
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya. (Suara.com/Adiyoga Priyambodo)

Tantangan Diplomasi: Penolakan Keras Netanyahu

Di saat Indonesia berupaya menempuh jalur diplomasi melalui Board of Peace, situasi di lapangan justru menunjukkan kontradiksi yang tajam. Serangan militer Israel masih terus berlangsung dan merenggut puluhan nyawa warga sipil.

Baca Juga: Wamen Stella Christie: Indonesia Punya Kesempatan Pimpin Pendidikan Dunia

Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, secara tegas menyatakan penolakannya terhadap keterlibatan Otoritas Palestina dalam pemerintahan Jalur Gaza pasca-konflik.

"Perdana menteri mempertegas bahwa Otoritas Palestina tidak akan diberikan peran apa pun dalam pengelolaan Jalur Gaza," bunyi pernyataan resmi dari Kantor PM Israel melalui AFP pada Rabu (4/2/2026).

Sikap keras ini memperumit rencana gencatan senjata yang diusulkan Presiden AS Donald Trump.

Dalam skema tersebut, posisi politik bangsa Palestina tampak masih abu-abu, sementara fokus utama lebih ditekankan pada demiliterisasi total kelompok perlawanan di Gaza.

Rencana AS untuk "Gaza Baru" dipresentasikan di Forum Ekonomi Dunia di Davos
Rencana AS untuk "Gaza Baru" dipresentasikan di Forum Ekonomi Dunia di Davos

Hingga kini, Palestina belum termasuk dalam BoP dan justru Israel yang tergabung di dalamnya. 

Sebagai bagian dari struktur di bawah Board of Peace, telah dibentuk Komite Nasional Administrasi Gaza (NCAG) yang dipimpin oleh Ali Shaath. Komite ini diisi oleh 15 teknokrat Palestina dengan tugas-tugas spesifik seperti:

Pemulihan layanan dasar (air, listrik, kesehatan, dan pendidikan).

Pengawasan keamanan sipil dan penegakan satu komando hukum.

Proses verifikasi serta pembubaran kelompok bersenjata.

NCAG dirancang untuk menggantikan struktur pemerintahan sebelumnya dengan sistem teknokratis.

Namun, bagi Indonesia, tantangan utamanya adalah keberadaan Israel di dalam Board of Peace, sementara perwakilan resmi Negara Palestina masih dipertanyakan posisinya.

Hal ini memicu kekhawatiran akan munculnya konflik yang lebih panjang jika kedaulatan politik Palestina dikesampingkan.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Cek Chemistry, Kalian Tipe Pasangan Apa dan Cocoknya Kencan di Mana Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Cek Jodoh Motor, Kuda Besi Mana yang Paling Pas Buat Gaya Hidup Lo?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Jika Kamu adalah Mobil, Kepribadianmu seperti Merek Apa?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Love Language Apa yang Paling Menggambarkan Dirimu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Tahu Kalian Tentang Game of Thrones? Ada Karakter Kejutan dari Prekuelnya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kalau Masalah Hidupmu Diangkat Jadi Film Indonesia, Judul Apa Paling Cocok?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Satu Frekuensi Selera Musikmu dengan Pasangan?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA Kelas 12 SMA Soal Matematika dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 15 Soal Bahasa Inggris Kelas 9 SMP dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kamu Beneran Orang Solo Apa Bukan?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pemula atau Suhu, Seberapa Tahu Kamu soal Skincare?
Ikuti Kuisnya ➔
×
Zoomed

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

TERKINI