Boni Hargens: Ide Polri di Bawah Kementerian Melemahkan Presiden

Galih Prasetyo | Suara.com

Sabtu, 07 Februari 2026 | 18:00 WIB
Boni Hargens: Ide Polri di Bawah Kementerian Melemahkan Presiden
Pengamat politik, Boni Hargens usai menghadiri sebuah diskusi di Jakarta. (ist)
  • Analis Boni Hargens menilai penempatan Polri di bawah kementerian merupakan kemunduran sistem presidensial dan mengancam independensi institusi.
  • Struktur kementerian berpotensi menimbulkan intervensi politik partisan serta memperlambat respons Polri dalam situasi krisis keamanan nasional.
  • Polri wajib bertanggung jawab langsung kepada presiden demi menjaga integritas institusional dan supremasi hukum sesuai konstitusi.

Suara.com - Analis politik dan isu intelijen Boni Hargens menilai wacana penempatan Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) di bawah struktur kementerian sebagai langkah mundur yang berpotensi melemahkan sistem presidensial Indonesia.

Menurutnya, gagasan tersebut tidak hanya mengancam independensi Polri, tetapi juga dapat mereduksi kewenangan konstitusional presiden sebagai kepala negara.

Boni menegaskan, Polri yang berada di bawah kementerian rentan terhadap intervensi politik partisan. Menteri, sebagai figur politik yang lahir dari kompromi koalisi, dinilai memiliki potensi menggunakan kewenangan atas Polri untuk kepentingan politik tertentu.

“Ide penempatan Polri di bawah kementerian bakal mengancam independensi Polri oleh kepentingan politik partisan. Ini berbahaya bagi penegakan hukum yang objektif dan adil,” ujar Boni.

Menurut Boni, struktur kementerian akan menciptakan lapisan birokrasi tambahan yang justru menghambat efektivitas dan kecepatan respons Polri, terutama dalam situasi darurat atau krisis keamanan nasional.

Dalam kondisi genting, kata dia, Polri membutuhkan jalur komando langsung kepada presiden sebagai kepala negara, bukan melalui birokrasi kementerian yang cenderung lambat dan terfragmentasi.

“Penempatan Polri di bawah kementerian dapat menciptakan konflik kepentingan saat penegakan hukum bersinggungan dengan kepentingan politik menteri atau koalisi pemerintah. Ini akan merusak integritas dan kredibilitas Polri di mata publik,” tegasnya.

Boni menilai diskursus tersebut patut dicurigai sebagai agenda terselubung untuk melemahkan posisi presiden. Dalam praktiknya, Polri di bawah kementerian berpotensi membatasi akses langsung presiden terhadap informasi strategis dan kendali atas institusi penegakan hukum.

Ia mengingatkan, hilangnya akses langsung presiden kepada Polri dapat berdampak serius dalam penanganan terorisme, krisis keamanan, hingga ancaman terhadap stabilitas nasional.

“Ketika presiden kehilangan akses langsung kepada Polri, kemampuan kepala negara merespons krisis keamanan akan terhambat oleh birokrasi kementerian yang tidak dirancang untuk pengambilan keputusan strategis cepat,” jelasnya.

Boni menegaskan, akuntabilitas langsung Polri kepada presiden memiliki dasar konstitusional yang kuat, sebagaimana diatur dalam Pasal 30 ayat (4) UUD 1945. Menurutnya, hal tersebut merupakan pilar penting dalam arsitektur demokrasi presidensial Indonesia.

Karena itu, ia mengapresiasi sikap Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo yang menolak gagasan penempatan Polri di bawah kementerian, sebagaimana disampaikan dalam rapat bersama Komisi III DPR RI pada 26 Januari 2026.

“Penolakan Kapolri patut dipahami dan diapresiasi setinggi-tingginya karena sejalan dengan prinsip konstitusi,” kata Boni.

Boni memaparkan setidaknya tiga alasan utama Polri harus tetap bertanggung jawab langsung kepada presiden:

  • Menjaga integritas institusional, agar Polri tetap profesional, objektif, dan bebas dari politisasi.
  • Menjamin efektivitas operasional, melalui jalur komando langsung tanpa hambatan birokrasi.
  • Meningkatkan kepercayaan publik, dengan struktur akuntabilitas yang jelas dan independen.

Menurut Boni, struktur tersebut sangat menentukan kualitas demokrasi Indonesia dalam jangka panjang.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Sudah Cair? Ungkap Karakter Asli Keuangan Kamu
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pecahkan 10 Kasus Misterius Ini, Kamu Detektif atau Cuma Amatir?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA SD: 15 Soal Matematika Materi Pecahan Senilai Beserta Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Beserta Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Berapa Life Path Number Kamu? Hitung Sekarang dan Lihat Rahasia Kepribadianmu
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Mantan Menlu hingga Akademisi Kumpul, Apa yang Dibahas Intensif dengan Presiden Prabowo?

Mantan Menlu hingga Akademisi Kumpul, Apa yang Dibahas Intensif dengan Presiden Prabowo?

Video | Sabtu, 07 Februari 2026 | 19:00 WIB

Yudi Purnomo Soal Wacana Polri di Bawah Kementerian: Ingat Pengalaman KPK

Yudi Purnomo Soal Wacana Polri di Bawah Kementerian: Ingat Pengalaman KPK

News | Jum'at, 06 Februari 2026 | 23:18 WIB

Habiburokhman Sebut Pernyataan Abraham Samad Soal Reformasi Polri Salah Kaprah

Habiburokhman Sebut Pernyataan Abraham Samad Soal Reformasi Polri Salah Kaprah

News | Jum'at, 06 Februari 2026 | 23:01 WIB

IPW Nilai Polri Bisa Mudah Dipengaruhi Kepentingan Politik Jika di Bawah Kementerian

IPW Nilai Polri Bisa Mudah Dipengaruhi Kepentingan Politik Jika di Bawah Kementerian

News | Jum'at, 06 Februari 2026 | 22:19 WIB

Terkini

Cerita Arus Balik: Syamsudin Trauma Macet 27 Jam di Jalan, Derris Pilih War Tiket Sejak H-45

Cerita Arus Balik: Syamsudin Trauma Macet 27 Jam di Jalan, Derris Pilih War Tiket Sejak H-45

News | Rabu, 25 Maret 2026 | 22:13 WIB

Anak Durhaka! Kata-kata Sadis Remaja 18 Tahun Usai Bunuh Ibu Kandung

Anak Durhaka! Kata-kata Sadis Remaja 18 Tahun Usai Bunuh Ibu Kandung

News | Rabu, 25 Maret 2026 | 22:00 WIB

Akal Bulus Model Cantik Tipu Pria Kaya, Korban Merugi Sampai Rp3 Miliar

Akal Bulus Model Cantik Tipu Pria Kaya, Korban Merugi Sampai Rp3 Miliar

News | Rabu, 25 Maret 2026 | 21:30 WIB

Dear Donald Trump! Ini Ada Ejekan dari Jubir Iran: Malu yah Kalah Perang

Dear Donald Trump! Ini Ada Ejekan dari Jubir Iran: Malu yah Kalah Perang

News | Rabu, 25 Maret 2026 | 21:00 WIB

Kabais Dicopot Buntut Aksi Penyiraman Air Keras Terhadap Andrie Yunus

Kabais Dicopot Buntut Aksi Penyiraman Air Keras Terhadap Andrie Yunus

News | Rabu, 25 Maret 2026 | 20:32 WIB

AS-Israel Lakukan Kejahatan Perang: 600 Sekolah Hancur, 66 Balita Iran Tewas

AS-Israel Lakukan Kejahatan Perang: 600 Sekolah Hancur, 66 Balita Iran Tewas

News | Rabu, 25 Maret 2026 | 20:30 WIB

Dicari CIA dan Mossad, Teka-teki Keberadaan Ayatollah Mojtaba Khamenei

Dicari CIA dan Mossad, Teka-teki Keberadaan Ayatollah Mojtaba Khamenei

News | Rabu, 25 Maret 2026 | 20:11 WIB

Geger! Trader Misterius Raup Jutaan Dolar dalam 15 Menit Sebelum Klaim Damai Trump

Geger! Trader Misterius Raup Jutaan Dolar dalam 15 Menit Sebelum Klaim Damai Trump

News | Rabu, 25 Maret 2026 | 20:04 WIB

Tak Sekedar Bicara, PM Spanyol Embargo Senjata dan Bongkar Niat Jahat Israel ke Lebanon

Tak Sekedar Bicara, PM Spanyol Embargo Senjata dan Bongkar Niat Jahat Israel ke Lebanon

News | Rabu, 25 Maret 2026 | 20:00 WIB

Menakar Posisi Tawar Iran: Benarkah Makin Kuat Usai Digempur AS dan Israel?

Menakar Posisi Tawar Iran: Benarkah Makin Kuat Usai Digempur AS dan Israel?

News | Rabu, 25 Maret 2026 | 19:18 WIB