- Pemprov DKI Jakarta mengaktifkan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) jika BMKG memprediksi curah hujan melebihi 200 mm.
- OMC diterapkan untuk menjaga mobilitas warga serta meminimalisir kerugian ekonomi akibat potensi dampak hidrometeorologi.
- Evaluasi menunjukkan OMC berhasil menurunkan curah hujan di Jakarta sekitar 23,85 persen sejak Januari.
Suara.com - Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta mengambil langkah proaktif dalam menghadapi ancaman cuaca ekstrem yang berpotensi melanda ibu kota.
Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung Wibowo, menegaskan bahwa pihaknya telah menyiapkan skenario Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) sebagai instrumen utama pengendalian dampak hidrometeorologi.
Langkah ini menjadi krusial mengingat karakteristik Jakarta yang sangat rentan terhadap genangan dan banjir saat intensitas hujan meningkat tajam di atas rata-rata normal.
Penerapan teknologi modifikasi cuaca ini tidak dilakukan secara sembarangan, melainkan berdasarkan parameter teknis yang ketat.
Pemprov DKI Jakarta menetapkan ambang batas curah hujan sebagai indikator utama untuk mengaktifkan operasi tersebut.
Fokus utama dari kebijakan ini adalah memastikan mobilitas warga di kota besar tetap terjaga dan meminimalisir kerugian ekonomi akibat bencana banjir yang seringkali melumpuhkan aktivitas bisnis dan transportasi.
Syarat Aktivasi Operasi Modifikasi Cuaca
Gubernur Pramono Anung menjelaskan bahwa keputusan untuk melakukan penyemaian awan atau modifikasi cuaca sangat bergantung pada data riil yang diterima dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
Pemprov DKI Jakarta tetap melakukan operasi modifikasi cuaca (OMC) jika curah hujan lebih dari 200 milimeter (mm). Angka 200 mm ini dikategorikan sebagai curah hujan sangat ekstrem yang dapat melampaui kapasitas drainase kota.
Dalam keterangannya di Jakarta Selatan, Pramono menekankan bahwa koordinasi dengan lembaga teknis dilakukan secara berkelanjutan setiap hari.
Strategi ini diambil agar penanganan cuaca tidak bersifat reaktif, melainkan terukur berdasarkan prediksi sains.
“Yang jelas Pemerintah DKI Jakarta mengantisipasi segala kemungkinan. Karena data dari BMKG itu setiap hari kita terima. Kami nggak perlu lagi menyampaikan bahwa perlu dilakukan,” kata Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung Wibowo di Jakarta Selatan, sebagaimana dilansir Antara, Jumat (20/2/2026).
Pramono mengatakan, saat ini cuaca di ibu kota dan sekitarnya terus dipantau. Jika curah hujannya tidak di atas 200 mm, maka OMC tak akan dilakukan.
Hal ini menunjukkan adanya efisiensi dalam penggunaan sumber daya teknologi, di mana modifikasi cuaca hanya akan menjadi opsi terakhir jika ancaman banjir besar benar-benar nyata di depan mata.
Kolaborasi Lintas Wilayah dan Lembaga