- Amerika Serikat mengerahkan dua belas jet tempur siluman F-22 ke pangkalan Israel di selatan pada Selasa karena ketegangan meningkat.
- Pengerahan ini terjadi menjelang putaran baru perundingan nuklir AS-Iran serta peningkatan tekanan Presiden Trump terhadap Teheran.
- Kedutaan Besar AS di Lebanon mengevakuasi personel non-darurat sementara karena penilaian lingkungan keamanan yang berubah.
Suara.com - Amerika Serikat mengerahkan sedikitnya 12 jet tempur siluman F-22 ke Israel pada Selasa, di tengah meningkatnya ketegangan dengan Iran dan menjelang putaran baru perundingan nuklir.
Penyiaran publik Israel, KAN, melaporkan bahwa belasan pesawat tempur tersebut mendarat di salah satu pangkalan Angkatan Udara Israel di wilayah selatan.
“Dua belas jet tempur F-22 Amerika Serikat mendarat sore ini di salah satu pangkalan Angkatan Udara Israel di selatan negara itu, sebagai bagian dari penempatan militer Amerika di Timur Tengah,” demikian laporan KAN seperti dikutip Anadolu.
KAN menambahkan, pesawat tersebut merupakan salah satu jet tempur paling canggih di dunia yang hanya dimiliki Amerika Serikat. Di antara tugasnya adalah “menembus wilayah musuh dan melumpuhkan sistem pertahanan udara serta instalasi radar.”
Pengerahan ini berlangsung saat Presiden AS Donald Trump meningkatkan tekanan terhadap Teheran. Trump sebelumnya mengancam akan mengambil tindakan militer jika negosiasi nuklir yang sedang berlangsung tidak menghasilkan kesepakatan.
Pada Senin, Trump mendesak Iran agar segera mencapai kesepakatan dengan Washington dan memperingatkan adanya konsekuensi serius jika upaya diplomasi gagal.
“Saya yang membuat keputusan, saya lebih memilih ada kesepakatan daripada tidak, tetapi jika kita tidak mencapai kesepakatan, itu akan menjadi hari yang sangat buruk bagi negara itu,” tulis Trump di Truth Social.
Ia juga mengungkapkan penyesalannya terhadap kondisi rakyat Iran yang menurutnya tidak layak menghadapi situasi tersebut. Trump turut membantah laporan yang menyebut adanya perbedaan pandangan internal terkait opsi perang.
“Semua yang telah ditulis tentang potensi perang dengan Iran telah ditulis secara tidak benar, dan memang sengaja demikian,” imbuh Trump.
Baca Juga: Timur Tengah Membara, Harga Minyak 'Terbang' Dekati Level Tertinggi 7 Bulan
Sebelumnya, laporan Axios dan The Washington Post menyebut Ketua Kepala Staf Gabungan AS, Jenderal Dan Caine, telah memperingatkan Presiden tentang risiko besar operasi militer terhadap Iran, termasuk potensi korban jiwa di pihak AS serta kemungkinan konflik berkepanjangan.
Di tengah eskalasi keamanan, Kedutaan Besar AS di Lebanon mengevakuasi puluhan personel non-darurat melalui Bandara Internasional Rafic Hariri International Airport pada Senin (23/2). Seorang pejabat Departemen Luar Negeri AS menegaskan pengurangan staf tersebut bersifat sementara.
“Secara berkelanjutan kami terus menilai lingkungan keamanan, dan berdasarkan tinjauan terbaru, kami memutuskan langkah paling bijak adalah mengurangi kehadiran menjadi personel esensial,” ujar pejabat tersebut.
“Kedutaan tetap beroperasi dengan staf inti yang bertugas. Ini merupakan langkah sementara untuk memastikan keselamatan personel kami sekaligus mempertahankan kemampuan untuk beroperasi dan membantu warga negara AS,” tambahnya.
Dalam pernyataan di platform X, kedutaan juga menyebut bahwa personelnya “dibatasi untuk melakukan perjalanan pribadi tanpa izin terlebih dahulu,” serta membuka kemungkinan pembatasan tambahan sesuai perkembangan ancaman keamanan.
Iran dan Amerika Serikat dijadwalkan kembali bertemu di Jenewa, Swiss, pada Kamis (26/2) untuk melanjutkan pembahasan kemungkinan kesepakatan nuklir. Putaran baru ini berlangsung di tengah peningkatan signifikan kekuatan militer AS di Teluk Persia serta rangkaian latihan militer Korps Garda Revolusi Islam Iran dalam beberapa hari terakhir.
Trump bahkan memberi tenggat waktu 10 hingga 15 hari bagi tercapainya kesepakatan, seraya menegaskan bahwa opsi militer tetap berada di atas meja apabila diplomasi menemui jalan buntu.