- Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, wafat akibat serangan gabungan AS dan Israel pada Sabtu (28/2/2026).
- Putra keduanya, Seyyed Mojtaba Hosseini Khamenei, muncul kandidat kuat suksesi karena pengaruhnya di militer dan Garda Revolusi.
- Mojtaba memiliki reputasi garis keras, pernah disanksi AS, dan tantangan suksesi muncul karena ia bukan Ayatollah.
Reputasi Garis Keras dan Sanksi Internasional
Nama Mojtaba mulai menjadi sorotan global saat gelombang protes Pilpres 2009 (Gerakan Hijau) meletus. Ia dituding sebagai arsitek di balik represi milisi Basij terhadap demonstran oposisi.
Namanya kembali digaungkan dalam protes besar 2022 pasca-kematian Mahsa Amini. Di jalanan, sebagian demonstran menyebutnya sebagai simbol represi elit penguasa.
Pada 2019, Amerika Serikat menjatuhkan sanksi terhadap Mojtaba atas dugaan pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM).
Selain dukungan militer, ia juga disebut memiliki pengaruh besar atas aset yang dikelola Setad, lembaga semi-negara Iran dengan nilai kekayaan mencapai puluhan miliar dolar.
Dinasti Baru atau Stabilitas Negara?
Meski memiliki jaringan kekuatan yang solid, jalan Mojtaba menjadi Rahbar (Pemimpin Tertinggi) tidak sepenuhnya mulus.
Secara keagamaan, ia menyandang gelar Hojjatoleslam—tingkat ulama menengah—bukan Ayatollah yang selama ini menjadi syarat tak tertulis bagi pemimpin tertinggi. Namun, akselerasi gelar dinilai bukan hal mustahil dalam sistem politik Iran.
Tantangan terbesar justru bersumber dari ideologi negara. Republik Islam Iran lahir dari semangat anti-monarki. Suksesi dari ayah ke anak berpotensi memicu resistensi publik dan penolakan ulama moderat karena dianggap sebagai bentuk monarki terselubung.
Baca Juga: Selain Serangan Amerika-Israel, Viral 'Ramalan' Cak Nun Soal Tahun 2029: Semua Berjatuhan
Namun, isu suksesi ini disebut bukan perkara mendadak. Majelis Ahli—badan beranggotakan 88 ulama yang berwenang memilih Pemimpin Tertinggi—dikabarkan telah menggelar pertemuan rahasia pada September 2024 atas permintaan Ali Khamenei untuk membahas skenario pasca-wafatnya Presiden Ebrahim Raisi.
Kini, dengan militer berada di garis depan menghadapi konflik dengan Israel dan Amerika Serikat, stabilitas negara menjadi prioritas utama. IRGC diprediksi tidak akan mengambil risiko dengan figur yang belum teruji loyalitasnya.
Apakah Mojtaba Khamenei akan keluar dari bayang-bayang dan resmi memegang tampuk kekuasaan tertinggi Iran?
Keputusan Majelis Ahli dalam waktu dekat akan menentukan arah sejarah baru Republik Islam Iran.
Reporter: Tsabita Aulia