- Polri di bawah Jenderal Listyo Sigit dinilai humanis, profesional, dan mendukung program pemerintah, khususnya selama Ramadan 2026.
- Polri bersinergi lintas kementerian untuk menjaga kondusivitas, ketahanan pangan, dan pengendalian harga bahan pokok masyarakat.
- Transformasi Polri menghasilkan penurunan signifikan kasus kekerasan 80% dan penyalahgunaan wewenang 83% dalam empat tahun.
Dalam kurun empat tahun, kasus kekerasan turun hingga 80 persen dan penyalahgunaan wewenang turun 83 persen. Hal tersebut, kata dia, merupakan luar biasa yang mencerminkan komitmen reformasi yang sungguh-sungguh.
"Penurunan signifikan berbagai kasus pelanggaran mencerminkan keberhasilan reformasi internal yang konsisten dan berani," pungkasnya.
Transformasi Polri bukan sekadar perubahan prosedur administratif, melainkan sebuah revolusi paradigma yang menyentuh akar budaya organisasi kepolisian. Di bawah kepemimpinan Kapolri Jenderal Listyo Sigit, Polri mengadopsi pendekatan baru yang menempatkan masyarakat sebagai pusat dari seluruh kebijakan dan tindakan kepolisian.
Salah satu indikator keberhasilan reformasi Polri yang paling terlihat adalah penurunan signifikan angka penangkapan terkait unjuk rasa dan demonstrasi.
Perubahan ini mencerminkan pergeseran paradigma dari pendekatan represif menuju pendekatan yang lebih humanis, dialogis, dan menghormati hak-hak sipil masyarakat.
Perjalanan transformasi itu, lanjut dia, masih berlanjut dengan komitmen yang semakin kuat untuk menghadirkan keadilan dan keamanan bagi seluruh rakyat Indonesia.
"Polri bukan hanya penegak hukum — Polri adalah bagian dari keluarga besar Indonesia, yang hadir untuk melayani, melindungi, dan mengayomi setiap warga negara dari Sabang sampai Merauke," pungkasnya.