- Rismon Sianipar mengundang Roy Suryo untuk edukasi terbuka guna membuktikan keaslian ijazah Presiden dan Wakil Presiden menggunakan data digital forensik.
- Rismon mendemonstrasikan rekonstruksi teknis menemukan *watermarks* dan *emboss* yang konsisten pada ijazah setelah kajian mendalam tiga bulan.
- Setelah temuan baru, Rismon meminta maaf kepada publik dan berencana menerbitkan buku baru sebagai antitesis karya sebelumnya.
Suara.com - Peneliti dan ahli digital forensik Rismon Sianipar secara resmi mengundang praktisi bidang serupa, Roy Suryo beserta timnya, untuk melakukan sesi edukasi terbuka.
Undangan ini bertujuan untuk membuktikan keaslian ijazah Presiden Ke-7 RI Joko Widodo serta Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka melalui pendekatan sains dan data digital.
Langkah ini diambil guna mengakhiri polemik panjang yang selama ini bergulir di ruang publik mengenai keabsahan dokumen pendidikan tersebut.
Rismon Sianipar mengajak Roy Suryo dan pihak-pihak lain yang sebelumnya vokal mempertanyakan keaslian ijazah tersebut, termasuk Tifauzia Tyassuma atau yang akrab disapa Dokter Tifa.
Dalam agenda edukasi terbuka ini, Rismon berencana mendemonstrasikan rekonstruksi teknis serta kajian mendalam terhadap objek-objek spesifik yang terdapat pada lembar ijazah, seperti watermarks (tanda air), emboss (tulisan timbul), hingga stempel resmi universitas.
"Saya undang Pak Roy Suryo atau yang lainnya, ayo kita secara terbuka, saya akan mendemonstrasikan metode bagaimana pencahayaan dengan sudut tertentu bisa menghilangkan warna tertentu, contohnya stempel yang kita analisa (sebelumnya) tidak ada," kata Rismon saat memberikan keterangan pers di Istana Wakil Presiden, Jakarta, Jumat (13/3/2026).
Pernyataan tersebut disampaikan Rismon usai dirinya melakukan pertemuan langsung dengan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka di Istana Wakil Presiden.
Rismon menegaskan kesiapannya, baik secara terbuka di hadapan publik maupun dalam diskusi pribadi, untuk memaparkan metode penelitian terbaru yang ia kembangkan.
Metode ini diklaim berbeda dan belum pernah digunakan dalam penyusunan dua buku sebelumnya yang berjudul "Jokowi's White Paper" dan "Gibran End Game".
Berdasarkan hasil kajian intensif yang dilakukan selama tiga bulan terakhir, Rismon mengungkapkan adanya fakta-fakta baru mengenai keaslian ijazah Joko Widodo.
Ia menemukan bukti keberadaan watermarks dan emboss yang konsisten. Temuan ini diperoleh setelah melakukan perbandingan mendalam dengan foto ijazah yang diunggah oleh Dian Sandi Utama, yang kemudian diuji melalui perangkat digital forensik.
Dalam penelitian terbarunya, Rismon mengakui adanya variabel teknis yang sebelumnya terlewatkan, terutama mengenai jejak stempel yang sempat dianggap tidak ada pada foto ijazah.
Penemuan jejak stempel tersebut berhasil diidentifikasi dengan memasukkan variabel geometri pencahayaan, intensitas cahaya, serta konklusi dari jenis lensa yang digunakan dalam proses rekonstruksi dokumen.
"Saya sampaikan ada tiga hal utama, emboss ada di pojok kiri bawah, watermark ada, dan fitur itu konsisten dengan apa yang di-upload dengan Dian Sandi Utama. Jangan bilang tidak ada, sedih saya," kata Rismon sebagaimana dilansir Antara.
Melalui temuan ilmiah ini, Rismon Sianipar secara terbuka meminta Roy Suryo dan rekan-rekannya untuk menyampaikan fakta mengenai keaslian ijazah Joko Widodo dan Gibran Rakabuming Raka secara adil kepada masyarakat.
Ia menekankan pentingnya kejujuran akademik dan profesionalisme dalam bidang digital forensik agar tidak menimbulkan kegaduhan yang tidak berdasar di tengah masyarakat.
Selain memberikan penjelasan teknis, Rismon juga menyampaikan komitmennya kepada Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka untuk menulis buku baru.
Buku tersebut akan menjadi antitesis dari karya sebelumnya, "Jokowi's White Paper" dan "Gibran End Game", yang bertujuan untuk membantah tudingan-tudingan yang pernah ia sampaikan di masa lalu.
"Saya telah menemukan kebenaran itu dengan rekonstruksi, dengan uji coba yang sudah saya lakukan tiga bulan ini dan akan saya tuliskan dalam buku. Bukan dengan cuap-cuap, saya akan menuliskan. 2026 semoga (buku itu) bisa selesai. Saya katakan tadi kepada Mas Wapres, penebusan saya atas semua hiruk-pikuk ini, baik disebabkan oleh saya maupun yang lain, itu akan saya tebus kepada keluarga Mas Wapres dan terutama kepada Pak Joko Widodo," katanya.
Rismon Sianipar juga secara terbuka menyampaikan permohonan maaf kepada Joko Widodo dan masyarakat luas terkait temuan terbarunya.
Ia menyatakan bahwa permohonan maaf ini adalah bentuk tanggung jawab moral dan profesional sebagai seorang peneliti setelah menemukan adanya perubahan data dan fakta yang lebih akurat mengenai ijazah tersebut melalui metode yang lebih sempurna.
Merespons permohonan maaf dan perkembangan terbaru ini, Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka memberikan tanggapan melalui keterangan tertulis.
Gibran menekankan pentingnya semangat persaudaraan, terlebih momentum ini bertepatan dengan bulan suci bagi umat Islam.
"Bulan Ramadan adalah bulan yang sangat baik untuk saling memaafkan dan kembali merajut tali persaudaraan," ujar Gibran.